
Menjadi Ibu Bukanlah Hal Mudah
Bab 2
Aku hanya tersenyum dan tidak menghiraukan mereka.
Aku tidak perlu membuktikan kebenaran. Sekalipun aku membuktikan, orang yang tidak mau percaya, juga tidak akan percaya.
Ada kakak baik hati yang memberikan dana kepada ibuku.
Ibuku bertanya, "Dari mana kamu punya uang? Mungkinkah kamu melakukan hal yang aneh-aneh? Aku nggak butuh uang kotor ini."
Meski berkata demikian, ibuku enggan melepaskan uangnya.
Dari kakak baik hati itu, ibuku baru tahu bahwa hanya mereka yang punya kualifikasi pendidikan yang bisa memperoleh pekerjaan yang lebih baik dan punya peluang lebih besar untuk menghasilkan banyak uang.
Setelah mempertimbangkannya, ibuku mengizinkanku bersekolah keesokan harinya.
Dia bahkan menangis keras di kantor kepala sekolah. "Meski aku miskin dan harus mengemis, aku juga harus membiarkan putriku bersekolah."
Penonton langsung terharu.
Aku hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa.
Penonton mulai berdiskusi. "Aku juga pernah memukul putriku sebelumnya, tapi itu semua karena tekanan finansial dan ketidakberdayaan."
"Si ibu tanggap juga. Setelah tahu pentingnya belajar, dia langsung membiarkan putrinya bersekolah."
"Apa susahnya belajar? Kalau aku punya orang tua yang memperlakukanku dengan baik, aku pasti akan bekerja keras."
Dari layar, terlihat kehidupan Nomor 1 dan ibunya terus berlanjut.
Di hari pertama sekolah, tepat pada upacara pengibaran bendera, ibuku menangis dan berlutut di lapangan. Dia bilang kondisi yang dimiliki putrinya kurang baik dan memohon kepada guru agar lebih menjaganya.
Nomor 1 berdiri di samping. Ibunya berlutut, dia pun ikut berlutut.
Ibu memegang celana guru dan tidak melepaskannya. Dia juga ikut memegang celana guru dan tidak melepaskannya.
Siswa lain langsung memandang ibuku dan Nomor 1.
Ibu baru mau berdiri setelah semua guru memberikan sumbangan.
Ibu menepuk punggung Nomor 1. "Ibu rela kehilangan harga diri hari ini, bersedia menanggung semua kesulitan agar kamu bisa bersekolah. Kamu harus ingat dengan kebaikan ibumu."
Penonton yang menyaksikan adegan itu terdiam.
Setelah beberapa saat, barulah ada yang berbicara. "Sebenarnya, orang-orang yang seperti ini baru bisa melangkah lebih jauh. Banyak orang yang disandera secara langsung, tapi masih bersikeras menyelamatkan harga diri."
"Tonton terus saja. Aku yakin gadis kecil ini juga bisa mengubah takdirnya dengan belajar."
Tidak banyak yang menanggapi perkataan itu.
Banyak orang yang memandangiku dengan simpati.
Aku teringat dengan masa kecilku. Ibuku selalu bilang, dia telah bekerja keras. Jadi, aku harus belajar giat agar ibuku bisa tinggal di rumah besar dan menjalani kehidupan yang lebih baik.
Saat itu, aku masih belum memahami apa itu hikmat duniawi. Aku tidak mengerti mengapa guruku tidak menyukaiku dan teman sekelasku juga membenciku.
Di saat aku duduk di bangku SMP, harga diriku baru muncul. Saat itulah, rasa sakit yang sesungguhnya dimulai.
Kehidupan dalam SD Perdana terlintas di layar.
Setiap semester, kakak baik hati akan memberikan uang kepada Nomor 1. Pihak sekolah juga mengatur pekerjaan bersih-bersih untuk ibuku. Dengan begitu, ibuku memiliki sumber penghasilan tetap.
Walau sikap guru terhadap Nomor 1 agak dingin, juga tidak ada teman sekelas yang mau berteman dengannya.
Namun, Nomor 1 lulus dari SD Perdana dengan nilai bagus dan berhasil masuk kelas penting di daerah tersebut.
Banyak penonton yang menghela napas lega.
"Nggak peduli seperti apa lingkungannya, nggak akan menghalanginya menjadi orang berbakat."
"Nomor 1 sangat giat belajar."
"Kalau terus seperti ini, Nomor 1 pasti akan lebih sukses dari putrinya."
"Benar. Nomor 1 terlihat seperti orang berkemauan keras dan nggak akan terpengaruh oleh orang lain."
Suamiku memandangku dengan pandangan meremehkan. "Andai aku tahu kondisi keluargamu yang sesungguhnya, aku juga nggak akan menikahimu."
Putraku juga menutupi hidungnya. "Memalukan sekali punya ibu sepertimu. Masa kecilmu begitu miskin. Kamu masih ingin aku menjadi miskin sepertimu."
"Akan ada giliran kalian nantinya," kataku dengan acuh tak acuh.
Dari layar, siaran langsung masih terus berlanjut. Kehidupan seperti apa yang bisa dicapai ibuku jika dia berada dalam situasiku.
Iuran sekolah tidak dipungut. Aku hanya membutuhkan buku, akomodasi, dan biaya hidup bulanan selama duduk di bangku SMP.
Namun, ibuku sempat ragu karena ada yang berniat menjodohkanku.
Hal ini juga berarti ibuku akan menerima mahar dalam jumlah besar.
Anda Mungkin Juga Suka





