
Menjadi Bayang Cinta Pertamanya
Bab 3
Aku masih ingat saat awal kami bersama. Pernah suatu kali, saat pertemuan dengan teman-temannya, aku tidak sengaja terjatuh ke sungai.
Meski Jasper tidak bisa berenang, dia tetap nekat mengambil pelampung dan melompat ke sungai untuk menyelamatkanku. Dia memelukku erat dan kami bersama-sama berjuang menuju tepian.
Saat itu, aku merasa kami seperti keluar dari kegelapan bersama. Sejak saat itu, aku yakin dialah orang yang tepat untukku. Kemudian, kami saling mencintai dan menikah.
Mereka selalu berkata, jangan pernah menjalin hubungan dengan seseorang dari teman dekat. Dulu aku tidak percaya dan berpikir bahwa Jasper benar-benar mencintaiku. Namun, setelah Viola muncul kembali, aku akhirnya tersadar.
Viola adalah cinta pertama Jasper. Semua pemahamannya tentang cinta berasal darinya. Aku yang terbutakan oleh cinta, belajar berenang agar Jasper tidak khawatir, bahkan mengiriminya foto setelah berhasil menyelam.
Saat dia memujiku, aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari kemampuan ini akan menjadi senjata yang digunakan untuk melukaiku.
Dalam mimpiku, aku kembali menghadapi ketidakberdayaan saat didorong ke laut .... Namun, suara dokter menarikku kembali ke kenyataan. "Sudah sadar, nggak perlu lagi infus glukosa," katanya lembut.
Aku membuka mata dan melihat dokter berdiri di sampingku. Dia tersenyum kecil, lalu berkata,
"Bu Theresia, tubuhmu sudah nggak bisa menahan tekanan lagi. Harap jaga emosimu." Setelah berkata demikian, dia memberikan segelas air padaku.
Pikiranku masih buram, tapi perlahan aku sadar akan situasi ini .... "Terima kasih," jawabku pelan.
Bahkan dokter di kota asing ini saja menunjukkan kebaikan padaku. Namun, suamiku sendiri malah ....
Drrtt … drrt ….
Ponselku bergetar, menarik perhatianku sepenuhnya. Nama Jasper muncul di layar.
Aku mengangkat panggilan itu. "Kenapa lama sekali menjawab?" adalah kalimat pertama yang keluar dengan penuh teguran.
"Aku di rumah sakit," jawabku pelan. Dia terdiam sejenak, lalu suaranya terdengar serak. "Ada masalah dengan anak kita?"
Saat dia menyebut anak, hidungku mulai terasa perih karena menahan isak tangis yang ingin pecah. Keheningan meliputi kami selama dua detik.
Akhirnya aku menarik napas dan menjawab, "Aku terluka."
Namun sebelum aku selesai berbicara, dia sudah memotong dengan suara penuh tuduhan, "Cuma luka bakar kecil, perlu sampai ke rumah sakit? Apa nggak terlalu berlebihan?"
"Kita sudah menikah, uangmu adalah uangku. Apa kamu nggak tahu cara berhemat sedikit? Gunakan saja salep luka bakar, selesai masalahnya."
Aku memejamkan mata, tapi tidak bisa menghentikan gelombang kesedihan yang melanda.
Viola yang hanya memiliki luka kecil di lengannya, layak mendapatkan perhatian dan perawatan di rumah sakit. Sementara aku, dengan luka bakar besar di betisku hingga muncul lepuhan, dianggap sebagai pemborosan.
Kenapa aku tidak menyadari wajah aslinya yang menjijikkan ini sebelumnya?
"Baik," jawabku dingin.
Jasper terdengar tidak puas. "Kami akan segera pulang. Pastikan kamu kembali lebih dulu dan siapkan makan malam untuk kami."
"Kenapa harus begitu?" Aku tidak lagi membiarkannya memperlakukanku seperti dulu.
Jasper tampaknya tidak menyangka ak, yang biasanya menurut, berani melawannya kali ini. Dia langsung marah.
"Jessy, jangan lupa kamu masih mengandung anakku! Kalau kamu mau keras kepala seperti ini, pikirkan baik-baik bagaimana kamu dan anakmu akan bertahan tanpaku!"
Kata-katanya membuat amarahnya mereda. Dalam pikirannya, aku tidak mungkin meninggalkannya karena aku mengandung anaknya.
"Tut ... Tut ... Tut ...." Nada sambungan telepon yang terputus terasa menusuk telingaku.
Tubuhku bergetar karena emosi yang meluap. Aku mengingat kembali kata-kata dokter tadi, bahwa aku tidak boleh membiarkan emosi mendominasi.
Aku memejamkan mata dan air mata mengalir jatuh membasahi pipiku. Aku memendam semua perasaan kesepian selama bertahun-tahun ini.
Setelah keluar dari rumah sakit, aku memutuskan untuk lebih dulu naik mobil pulang ke rumah sebelum mereka. Di perjalanan, tanpa sadar aku membuka ponsel dan melihat postingan Viola di media sosial.
Dua puluh tahun bersamanya ....
Dalam postingan itu, beberapa orang menangkap adanya keintiman yang aneh antara Viola dan Jasper. Banyak komentar di bawahnya yang memberikan ucapan selamat atas hubungan mereka. Termasuk orang-orang yang baru saja ikut liburan bersama kami, semuanya mendukung mereka, seolah melupakan fakta bahwa Jasper sudah menikah.
Aku juga meninggalkan komentar di bawahnya, hanya dua kata.
Terkunci.
Setibanya di rumah yang telah kutinggali bersama Jasper selama bertahun-tahun, aku langsung mulai mengemasi barang-barangku. Butuh waktu sekitar dua jam bagiku untuk menyelesaikan semuanya. Hanya satu koper yang kubawa.
Aku melepaskan cincin dari jariku dan meletakkannya di atas meja. Di sana juga terdapat satu surat perceraian dan laporan keguguran dari rumah sakit.
Aku mengelilingi ruangan, melihat sekeliling rumah ini untuk terakhir kalinya. Dapur penuh dengan peralatan masak yang kubeli sendiri. Kamar tidur dilengkapi jendela duduk dan lemari yang kurancang sendiri.
Jasper pernah berkata, hal yang paling dia rindukan dariku adalah keahlianku memasak. Teman-temannya juga sering memanfaatkan statusku sebagai "kakak ipar" dan memintaku memasak karena katanya masakanku sangat enak. Saat itu, aku menikmati kebahagiaan dari perasaan dibutuhkan oleh Jasper.
Namun sekarang, aku akhirnya melihat semuanya dengan jelas. Itu bukan kebutuhan, hanya karena aku mudah dimanfaatkan.
Aku menutup pintu rumah itu, membuka ponselku, dan menghubungi ayahku. "Ayah, aku memutuskan untuk bercerai."
Orang tuaku memang tidak setuju dengan hubungan kami sejak awal. Pesan balasan dari ayah datang segera.
Kembalilah, kebetulan kami baru membuka restoran kecil. Kami membutuhkanmu di sini.
Saldo rekening bankku tidak bisa diandalkan setelah perceraian ini. Satu-satunya cara adalah bekerja keras lagi untuk mendapatkan penghasilan sendiri.
Setelah memblokir semua kontak Jasper, aku pulang ke rumah orang tuaku.
Anda Mungkin Juga Suka





