Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikahi Suami Sahabatku

Menikahi Suami Sahabatku

Azriya Aurora terpaksa menikahi Gavriel Erlando demi memenuhi wasiat Kartika, sahabatnya yang telah tiada. Selain mengasuh dua putra sambung yang membencinya karena tuduhan pembunuhan, ia harus menghadapi mertua yang licik. Setelah terusir akibat fitnah kejam, Azriya menyadari adanya keterlibatan kakak iparnya dalam konspirasi ini. Di tengah misteri gelap Keluarga Erlando, mampukah Azriya bertahan, ataukah ia akan menyerah pada nasib rumah tangganya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Mansion Erlando

"Daddy ...!" pekik Austin.

"Halo, Boy. Kenapa mukamu begitu?" tanya Gavriel saat melihat raut putranya sembab.

"Kata orang-orang Mommy akan pulang, tapi kenapa aku tidak melihatnya?"

Glek!

Gavriel tersentak dan tak ayal kesusahan menelan salivanya.

"Sayang, eum ... nanti kita bicarakan ini lagi, ya. Lebih baik sekarang kamu bermain dengan Adolf. Ngomong-ngomong, ke mana dia?"

"Adolf sedang ada di kamarnya. Dia bilang rindu dengan Mommy, Dad. Baiklah, kalau begitu aku akan ke kamar saja."

Gavriel mengangguk dan lantas menurunkan tubuh mungil itu dari gendongannya. Tanpa ia sadari, sedari tadi Azriya turut memperhatikan semua interaksi tersebut. Ada perasaan tidak nyaman di hatinya, terlebih saat mengingat mendiang Kartika.

Tiba-tiba bayangan beberapa jam lalu terputar kembali di dalam benak Azriya, sebuah pesan terakhir dari mendiang sahabatnya tersebut.

"Ada yang tidak menginginkan keberadaan anak-anakku di rumah itu, Azriya. Tolong kamu lindungi Austin dan Adolf, dan kamu cari tahu siapa orangnya. Karena ... karena aku curiga dia juga yang sudah berniat membunuhku," ucap Kartika di detik terakhir hidupnya.

'Siapa kira-kira?' batin Azriya.

Gavriel sudah menuju ruang tengah, sehingga Azriya pun turut mengekor ke sana. Ternyata di ruangan yang sangat luas mirip seperti ballroom itu sudah ada banyak orang yang duduk di sebuah kursi melingkar dengan meja besar di tengahnya.

"Jadi kamu?! Kamu Dokter yang tidak becus dan sudah menyebabkan menantuku meninggal?!" teriak seorang wanita paruh baya.

Azriya hanya menatap heran. Sungguh! Ia bahkan tidak mengenal wanita itu.

"Mom, sudahlah. Percuma saja kita memarahinya. Kartika tidak akan kembali meskipun Mommy marah-marah."

"Jadi kamu membelanya, Gavriel?! Atau memang ada hubungan spesial diantara kalian?"

"Hubungan apa, sih, Mom? Sudahlah ... aku lelah. Aku mau ke kamar dulu."

"Gavriel ...!"

Sosok yang baru diketahui Azriya sebagai Mertuanya itu terus saja berteriak walaupun Gavriel tidak menghiraukan. Hingga akhirnya mata keriputnya mengalihkan pandangan kepada Azriya. Perlahan, wanita paruh baya itu berjalan mendekati Azriya yang masih berdiri mematung.

"Puas kamu sudah membunuh menantuku?" ucapnya dengan suara lirih.

Sedangkan wanita cantik itu hanya diam dan tidak bergeming. Sementara wanita paruh baya tersebut mulai mendekatkan bibirnya pada daun telinga menantu barunya itu.

"Selanjutnya giliranmu!"

Deg!

Jantungnya seakan melompat keluar bersamaan dengan perginya sang Mommy Mertua. Apakah mungkin pelukannya wanita itu? Tapi, apa alasannya? Kepalanya mendadak pening dan ia lantas menuju kamar Gavriel. Dirinya berpikir, mungkin bisa menemukan teka-teki di kamar mendiang sahabatnya.

'Huh ... dia benar-benar mengerikan dan penuh keanehan. Kasihan sekali sahabatku punya mertua seperti itu,' batin Azriya.

Ceklek!

Deg!

Bola mata hitamnya langsung beradu pandang dengan Gavriel. Azriya langsung merasakan suasana yang mencekam di sekitarnya lantaran tatapan Gavriel yang langsung menghunus tajam ke dalam manik indahnya.

"Mau apa kau ke sini?"

"A-Aku ...?"

"Apa kau pikir setelah kejadian tadi kau berhak menjadi istriku?! Bahkan aku jijik melihat wajah polos mu itu!"

Azriya tidak menjawab. Wanita cantik itu hanya menatap sosok laki-laki di depannya ini dengan pandangan datar.

"Masih tidak paham?! Kau tidak paham dengan bahasaku, hah?!"

"Kau bicara bahasa manusia 'kan? Tentu saja aku paham," jawab Azriya dengan suara tenang.

Azriya mengambil kursi dan mendudukkan dirinya di sana.

"Pelankan nada bicaramu, Gav ...! Ingatlah bahwa aku menikah denganmu karena wasiat dari mendiang istrimu! Di sini bukan hanya kau yang tidak sudi menikahi ku, tapi aku juga tidak sudi menikah denganmu!"

Gavriel masih tidak bergeming.

"Andaikan kau tahu apa yang dikatakan Kartika di akhir hayatnya, kau malah akan berterima kasih kepadaku, Gav! Huh ... sayang sekali, Kartika harus mendapat suami bodoh sepertimu!"

"Kau—"

Azriya bangkit dan langsung keluar dari kamar. Niatnya berembuk tentang apa yang disampaikan Kartika ternyata tidak mendapat sambutan baik dari Gavriel.

"Dasar laki-laki bodoh! Istrinya tersiksa di rumah ini malah dia tidak tahu apa-apa," gumamnya.

Azriya terus menyusuri sudut rumah ini. Bangunan mewah bergaya klasik tersebut penuh dengan lampu kristal dan bunga hias, juga ada banyak lukisan yang terpajang di dindingnya.

"Kamu jangan dekat-dekat dengan Aunty Riya, Austin. Mereka bilang, Aunty Riya yang sudah membunuh Mommy," ucap seorang anak laki-laki dari balik kamar.

Azriya sontak mengehentikan langkah kakinya. Wanita cantik itu dengan hati-hati mulai menempelkan telinganya pada pintu kayu jati di sampingnya.

"Tapi, Adolf. Aunty Riya 'kan temannya Mommy, terus dia juga sering main sama kita dan Mommy dulu," jawab anak laki-laki yang Azriya kenal sebagai suara Austin.

"Ya sudah terserah, pokoknya aku sudah peringatkan, ya. Aunty Riya itu akan menguasai Daddy dan rumah ini, lalu dia akan membunuh kita seperti dia membunuh Mommy."

"Hah?! Nggak mungkin, Adolf!"

"Terserah kamu saja, Austin. Sudah, aku mau tidur dulu. Kamu kalau masih mau dekat sama Aunty Riya juga terserah, tapi aku nggak mau bantuin kalau ada apa-apa."

Deg!

'Apa ini? Siapa yang menghasut otak polos anak berusia lima tahun?' batin Azriya.

Wanita cantik itu gegas beranjak menuju kamar tamu yang terletak di lantai bawah. Di sepanjang jalan, ia terus memikirkan siapa yang sudah menyebabkan semua kekacauan ini. Dari kematian Kartika yang begitu mendadak, sikap Gavriel yang tidak tahu-menahu, dan Adolf yang berubah.

"Argh! Bisa-bisanya Kartika meninggalkanku dengan semua teka-teki ini. Seharusnya dia meninggalkan petunjuk kalau memang ingin aku bantu!" gerutunya.

Hingga tidak terasa Azriya sudah sampai di lantai bawah yang sudah sangat gelap. Semua lampu utama sudah mati, hanya ada beberapa lampu kecil yang diletakkan di beberapa sudut.

Saat hendak membuka pintu kamar tamu, Azriya tidak sengaja menatap pada siluet seseorang yang berjalan cepat menuju pintu dan langsung keluar rumah. Azriya sontak saja terkejut. Siapa yang keluar rumah malam-malam? Pikirnya.

Ia hendak mengikuti siluet tersebut, tetapi getaran ponsel pada saku celananya langsung mengehentikan langkahnya.

"Aduh! Siapa, sih?" gerutunya lagi.

Azriya mengambil benda pipih itu dan membawanya ke depan muka, ternyata Kakaknya yang sedang menelpon. Gegas saja Ibu jarinya menggeser tombol hijau dan mendekatkan ponsel tersebut ke daun telinga.

"Halo, Kak. Ada apa?"

"Kakak menemukan ada infeksi virus di tubuh Kartika."

Deg!

"Ja-Jadi? Bukan hanya karena keracunan makanan?"

"Riya, apa kamu nggak merasa aneh? Apa mungkin kalau hanya keracunan makanan bisa meninggal secepat itu?"

Azriya semakin membelalakkan mata. Kenapa saat itu ia tidak menyadari hal ini? Sekarang, jasad sahabatnya sudah dimakamkan, dan tidak bisa dilakukan penyidikan lebih dalam lagi.

"Kak, kalau ada perkembangan lagi tolong hubungi aku. Aku akan segera cari tahu kebenarannya."

"Yeah."

TUT!

Sambungan telepon tersebut sudah terputus, selanjutnya Azriya memilih masuk ke dalam kamar tamu tersebut. Pikirannya kacau menelaah kejadian yang menurutnya sangat memusingkan ini.

"Apa aku perlu ceritakan semuanya kepada Gavriel? Tapi dia saja menolak kehadiranku. Padahal niatku hanya membantu," gumamnya.

Banyak sekali mister di rumah ini. Belum sempat wanita cantik itu menjalankan wasiat mendiang sahabatnya, juga tentang siapa yang menghasut Adolf. Sekarang harus dihadapkan dengan fakta baru tentang kematian Kartika.

'Siapa yang sudah membencimu di rumah ini, Ka?' batinnya.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Budak Nafsu Tuan Jhon!
8.9
Kecantikan luar biasa dan bentuk tubuh ideal ternyata menjadi kutukan bagi tiga bersaudara, Sherly, Livy, dan Hanny. Meski masing-masing telah membangun rumah tangga, kehidupan pernikahan mereka justru penuh cobaan berat. Pesona fisik yang mereka miliki malah memicu berbagai konflik rumit yang mengancam keharmonisan keluarga. Mampukah kakak beradik ini bertahan menghadapi badai masalah yang terus datang menghampiri kehidupan asmara mereka?
Sampul Novel Bukan Istri Yang Lemah
7.8
Elara tidak akan menyerah pada kemewahan hidupnya dan bertekad mempertahankan status pernikahannya. Di sisi lain, Vesper justru menyusun rencana licik agar sang istri segera meminta cerai demi menikahi kekasih rahasianya. Setelah tujuh bulan membina rumah tangga, perselisihan hebat antara pasangan ini pun pecah. Mereka terjebak dalam pusaran pengkhianatan, ambisi besar, dan konflik cinta yang menguji ketahanan Elara di tengah tekanan sang suami.
Sampul Novel Dosa Berbalut Cinta
8.6
Saschya mengira pernikahannya dengan Adnan akan membawa kebahagiaan abadi, namun realitanya justru menjadi neraka penuh kekerasan. Adnan melampiaskan dendamnya terhadap mertua dengan menyiksa istrinya secara keji setiap hari. Di tengah penderitaan fisik dan batin yang mendalam, sosok dari masa lalu Saschya tiba-tiba muncul kembali. Akankah kehadiran mereka membantu Saschya lepas dari belenggu Adnan, atau justru menambah konflik baru dalam hidupnya yang hancur?
Sampul Novel Gadis 100 juta (fatamorgana)
9.6
Demi menyelamatkan adiknya yang diculik, Daiva Gayatri Maheswari terpaksa menjual kesuciannya kepada Keyko Khayang Gumelar senilai 100 juta rupiah. Namun, takdir mempertemukannya dengan Damian, seorang duda tampan, di sebuah supermarket secara tidak sengaja. Kini, Daiva terjebak dalam dilema cinta ketika kedua pria tersebut mulai mengejar hatinya. Siapakah yang akhirnya akan dipilih Daiva sebagai pendamping hidup di tengah bayang-bayang masa lalunya?
Sampul Novel Hasrat Berbahaya Sang Pewaris Duda
8.6
Dikhianati oleh Roy, suaminya sendiri, Shanty kehilangan hak asuh anak setelah rahimnya diangkat. Demi membalas dendam pada mantan mertua dan suaminya yang licik, ia nekat menyerahkan jiwanya kepada pewaris Halim Group yang dingin dan berbahaya. Menjadi nyonya muda di keluarga konglomerat ternyata penuh intrik mematikan. Di tengah rahasia gelap sang suami baru, mampukah Shanty merebut kembali kebahagiaannya atau justru hancur dalam permainan kekuasaan?
Sampul Novel Kubuat Kamu dan Selingkuhanmu Menyesal
9.7
Kesuksesan membuat Aryo lupa diri dan kehilangan rasa syukur. Ia tega mengkhianati Santi, istri setia yang mendampinginya dari nol hingga mencapai puncak karier. Kini, Aryo justru terpikat oleh godaan wanita lain yang lebih menarik secara fisik. Loyalitasnya sebagai suami dan ayah benar-benar diuji dalam prahara ini. Akankah ia tetap memprioritaskan anak serta istrinya, atau justru memilih mengejar nafsu sesaat demi wanita simpanannya?