
Menikahi Pria Angkuh
Bab 3
Han menyeringai. "Dengarkan aku nona, jika tuan Steve tidak melihat paman anda sebagai teman lama mendiang ayahnya, saya yakin wanita jalang seperti anda sudah di kirim ke Antartika oleh tuan Steve."
"Tutup mulutmu asisten brengsek! dan jaga bicaramu karena sebentar lagi Steve pasti akan bertekuk lutut padaku, dan saat itu juga aku akan merobek mulutmu!" pekik Casandra membuat Han berhenti dari langkahnya dan kembali menatapnya. Han menoleh ke arah Cassandra, ia melangkahkan kakinya kembali menuju wanita itu.
"Mimpi anda terlalu tinggi nona, ular berbisa seperti anda tidak ada pantas-pantasnya untuk tuan Steve, beruntung tuan Steve masih memberikan kesempatan anda untuk bernafas, tapi sayang..., wanita tidak tau malu seperti anda masih berani menunjukkan muka anda di depan Tuan Steve," ucap Han dengan tatapan tajamnya membuat Casandra menggigit bibirnya, benar kata orang jika asisten pribadi Steve lebih mengerikan daripada bos-nya. Han melihat reaksi wajah wanita yang ada di hadapannya, ia menyeringai dan pergi meninggalkan Cassandra.
"Sial! asisten brengsek itu selalu bisa menggertakku dan membuatku merasa takut, terbuat dari apa sebenarnya kamu ini Han, hingga bicaramu seperti makhluk asing yang membuat setiap orang bergidik ngeri," batin Cassandra sambil mengepalkan tangannya
"Selamat datang Steve, sungguh sebuah kehormatan untukku, kamu bersedia hadir di acara paman yang kecil ini," ucap pria paruh baya menghampiri Steve.
Steve menatap datar pria tersebut. "Jika aku tak mengingat paman adalah sahabat papah, mungkin aku tidak akan ada waktu dan tidak bisa menyempatkan untuk datang ke sini,"
"Paman mengerti hal itu Steve, kamu adalah anak muda yang sukses dan sibuk, mana mungkin akan sempat datang ke acara biasa seperti ini, pasti banyak hal yang lebih penting dari ini bukan?" jawab Hendarto. Steve pun hanya menyunggingkan senyumnya menanggapi ucapannya.
"Heh! kalo saja bukan karena investasinya yang cukup besar, aku pun tidak akan sudi berbicara dengan anak ingusan yang sombong ini!" gerutu Hendarto dalam hati.
Meski Hendarto sangat membenci steve, namun ia selalu berpura-pura menunjukan kepeduliannya karena tujuan tersendiri, level kekuasaannya yang jauh di bawah Steve membuatnya harus bisa bertahan atas sikap Steve, agar semua bisnisnya berjalan dengan lancar.
Cassandra membawa sebotol wine menghampiri steve dan pamannya yang sedang berbincang-bincang dengan pengusaha lainnya. "Steve ini adalah wine terkenal yang berusia lima puluh tahun lebih, tidak mudah aku mendapatkannya, ini aku khususkan untuk menjamu kedatanganmu," ucap Hendarto menunjukkan botol wine yang di pegang Cassandra.
"Wah! Pak Hendarto anda memang hebat, anda bisa memiliki wine yang istimewa tersebut," ucap salah satu pengusaha yang tau tentang kelangkaan wine tersebut.
"Tentu Tuan Sam, paman selalu me-nomor satukan orang yang spesial," Cassandra menimpali sambil tersenyum ke arah Steve. Steve hanya menatap datar Cassandra.
Sedangkan ucapan mereka membuat Han yang mendengarnya merasa gerah. "Cihhh! dasar para penjilat tidak tau diri!" batinnya.
Derrtttt, deertttt, deerrttt
Ponsel Han bergetar menandakan sebuah panggilan masuk. "Halo Nyonya? ada yang bisa saya bantu?" ucapnya menjawab panggilan dari seseorang.
Steve menghampiri Han yang tengah serius menjawab telepon. "Ada sesuatu yang serius?" tanya Steve yang dengan cepat bisa membaca keadaan.
"Nyonya tidak bisa datang kemari tuan, saya dipanggil Nyonya besar untuk datang ke mansion dan mengantar beliau ke rumah sakit menjenguk temannya yang kecelakaan."
"Teman...?"
"Beliau hanya menyuruh saya untuk segera datang."
Steve mengangguk, "Pergilah!"
"Tapi...," ucapan Han terhenti melihat Casandra menghampiri mereka.
"Kamu tidak perlu mengkhawatirkannya, aku bisa mengatasinya." Steve paham tatapan Han pada Cassandra.
"Asisten Han apa perlu kamu menatapku penuh curiga seperti itu, sejahat itu kah aku di matamu? Steve apa aku tidak boleh menyesali kesalahanku dan memperbaikinya, lihatlah cara asisten kesayanganmu ini padaku," ucap Cassandra dengan manja.
"Han Pergilah, mungkin ada hal lain kenapa mamah membutuhkanmu."
"Baik tuan Steve." jawab Han mengerti perintah bosnya. Sambil memberikan tatapan mata elangnya yang mematikan pada Casandra, Han pergi meninggalkan mereka. "Sungguh menjijikkan ucapan wanita ular itu!" gumam Han yang sudah meninggalkan mereka.
Sementara Cassandra pun tersenyum puas melihat kepergian Han, "Heh, lihatlah asisten sialan! keadaan berpihak kepadaku, bahkan sekarang Tuhan mempermudah semua rencanaku!" batinnya tertawa.
Steve melirik Casandra dan pergi berkumpul kembali dengan pengusaha-pengusaha di acara tersebut, meski sebenarnya ia sangat gerah dengan mereka, tapi demi menjaga imej dan menghormati permintaan mendiang ayahnya, yang menginginkan Steve menjaga hubungan dengan sahabat-sahabat ayahnya, dan saat ini terpaksa Steve ada di acara ini.
Cassandra menjentikkan jarinya memanggil seorang pelayan, dengan segera pelayan tersebut membawa beberapa gelas yang sudah di isi wine termahal di jagat raya itu.
"Steve minumlah wine spesial ini, setidaknya ini adalah jamuan yang disiapkan secara khusus oleh paman untukmu," ucap Cassandra mengulurkan sebuah gelas yang berisi wine. Dengan perasaan malas Steve pun terpaksa menerimanya, mereka bersulang bersama, Steve dan para pengusaha lainnya pun menenggak minuman memabukkan itu.
"Bagaimana? bukankah ini wine yang sangat berkelas?" tanya Cassandra yang hanya mendapatkan tatapan datar yang dingin oleh Steve.
Dia tahu sifat Steve hingga membuatnya tidak heran dengan tatapan datar tersebut,namun ada senyum kepuasan di wajah Casandra melihat Steve menengguk minuman yang ia berikan.
Anda Mungkin Juga Suka





