
Menikahi Gadis Polos
Bab 2
Ketika di perjalanan ke hotel tempat mereka menginap, Elif berjalan dengan kesusahan, karena gaun panjangnya itu.
"Ih, ini gaunnya kok ngeselin banget, Elif, kan jadi susah jalannya!" Elif mengeluhkan gaunnya itu, untuk kesekian kalinya.
"Biar saya bantu," Jovan berkata dengan intonasi tenang, seperti biasa. Elif memekik tertahan karena merasakan tubuhnya yang di angkat ke atas.
Baru saja Elif akan protes, Jovan menatap Elif dengan tajam. "Diam, dan jangan berontak!" ucap Jovan, lalu kembali melanjutkan langkahnya.
****
"Pelan-pelan Om, sakit." ringis Elif, memukul kecil paha Jovan.
"Makanya diem dulu, jangan banyak gerak!" balas Jovan, lalu melanjutkan aksinya.
Elif meringis menahan rasa sakit di punggungnya, yang kini tengah dipijat oleh Jovan. "Om, udah dulu aja, sakit!" Elif berucap dan menarik bajunya, agar menutupi punggung polosnya.
"Makanya, nurut sama saya. Dibilangin malah ngeyel, jatuh, kan jadinya!" Jovan mencibir Elif, yang kini tengah menelungkupkan dirinya sendiri atas kasur.
"Saya mandi dulu. Kalo ada apa-apa, berteriak saja." ucap Jovan, lalu beranjak pergi ke kamar mandi.
Selepas Jovan pergi, Elif tanpa sengaja, mengingat momen ketika dirinya jatuh dari gendongan Jovan. Karena Elif sendiri banyak bergerak, dan berontak meminta untuk dilepaskan.
Entah karena kesal, Jovan tiba-tiba melepaskan tangannya dari tubuh Elif. Dan berakhirlah dengan Elif yang jatuh sehingga pantat dan pinggangnya membentur lantai dengan keras.
Wajah putih Elif sedikit memerah, mengingat kejadian memalukan itu. "Aduh .... Elif kok bodoh banget, ya?" ucap Elif lirih.
***************
Setelah beberapa menit di kamar mandi, Jovan akhirnya keluar dengan rambut basahnya.
Elif dengan polos memperhatikan setiap lekuk tubuh Jovan, yang sekarang tengah memakai baju tidurnya, "Om Jovan, perutnya lucu banget, ada enam kotak." ucap Elif dengan nada lugu dan tatapan polosnya.
Jovan berhenti mengancingkan bajunya itu. Lalu, menatap Elif dengan tatapan datar. "Kenapa? Mau pegang?" tanya Jovan.
Elif dengan wajah panik, menggeleng dengan cepat. "Enggak mau, Elif takut." ucap Elif, disusul dengan cengiran polosnya.
Entah apa yang di pikirkan oleh Jovan, dia malah membuka kembali bajunya dan melemparkannya ke sembarang arah, membuat Elif kebingungan.
"Om, bajunya kok dibuka lagi? Nanti kedinginan, Om."
"Saya gak akan kedinginan, kok." ucap Jovan, lalu membaringkan tubuhnya sendiri, di samping kanan Elif.
"Elif, Kamu tidak Ingin tidur?" Jovan bertanya dengan nada datarnya.
"Elif susah tidur, Om." jawab Elif, "Lalu? Om sendiri gak mau tidur?" lanjut Elif.
"Saya juga susah tidur," Jawab Jovan. "Boleh bagi selimutnya gak?" Lanjutnya dengan canggung.
"Iya Om, boleh." Elif berkata, lalu menyerahkan separuh selimut besar itu kepada Jovan.
"Bagaimana .... Jika kita mengobrol? Seperti, menceritakan sedikit kehidupanmu?" tanya Jovan, dengan ragu-ragu.
"Boleh, Om." Elif menjawab, lalu menatap Jovan yang berada di sisinya.
"Siapa yang mengejarmu tadi?" tanya jovan.
Elif mengedipkan matanya polos, "Katanya Elif mau di jual sama tante Elina, tapi Elif gak mau. Elif kabur deh."
"Oh begitu. Bolehkah kamu menceritakan kehidupanmu?" Jovan tidak mendengar perkataan apapun yang keluar dari mulut Elif. "Tidak perlu malu. Ceritakanlah." ucap Jovan lembut
Elif sedikit menghela nafasnya, sebelum akhirnya mulai bercerita, "Elif sejak kecil, sudah tinggal di panti asuhan. Elif tidak tahu siapa orang tua Elif."
Jovan melihat mata Elif mulai berkaca-kaca, "Baiklah, tidak usah dilanjutkan ceritanya, kita tidur sekarang saja!" ucap Jovan. Lalu, Menarik tubuh mungil Elif, agar mendekat ke arahnya. Mendekapnya dengan lembut, menyalurkan rasa hangat kepada tubuh Elif.
"Selamat malam, semoga mimpi indah." bisik Jovan, tepat di telinga Elif.
***
"Meira Elifa, cepatlah bangun!" ujar Jovan, menepuk kecil pipi Elifa.
Elif hanya menggeliat kecil di atas kasur king size itu, membuat Jovan mendengus dengan kasar.
"Cepatlah bangun! Jika tidak, Saya akan meninggalkanmu sekarang juga!" ujar Jovan, sedikit menaikan intonasinya.
Elif masih tidak bergerak sedikitpun, membuat Jovan kembali mendengus kasar untuk kedua kalinya. Dan dengan sedikit kasar, Jovan menggendong Elif ke dalam kamar mandi, membuat Elif refleks membuka matanya dengan kaget.
"Aduh, Om, Turunin Elif! Elif janji bakal mandi sekarang." ucap Elif masih dengan ekspresi kagetnya.
Jovan hanya diam, lalu menurunkan Elif dari gendongannya ke dalam bathub yang telah diisi oleh Air hangat. "Sekarang, cepatlah mandi! Jika tidak, saya yang akan mandikan kamu!" ucap Jovan dengan nada tegasnya.
"I—iya, Om," ucap Elif dengan wajah terpaksa,
"O—Om, gak m--mau keluar?" tanya Elif dengan gugup.
"Saya gak akan keluar, sampai kamu benar-benar membuka seluruh bajumu!" Ucap Jovan disusul dengan senyuman devilnya.
Sementara itu, di lain tempat
"Alice! Kau benar-benar gila! Kau bersetubuh dengan pria ini?" ucap seorang wanita, menatap Alice dan Jack dengan tajam.
"A—apa salahnya? K—kami saling mencintai, ibu!" balas Alice dengan mata yang berkaca-kaca.
Ariana —Ibu dari Alice—hendak menampar pipi putrinya itu, namun gerakannya tertahan oleh sebuah tangan kekar yang menahannya.
"Jangan pernah sentuh Alice! Dia tidak salah apapun!" Jack berkata dengan nada tegasnya, membuat Ariana memutar bola matanya dengan malas.
"KALAU BEGITU, INI SEMUA GARA-GARA KAU, JACK!" ujar Ariana, "JIKA SAJA KAU TIDAK KEMBALI KE SINI LAGI, ALICE PASTI SUDAH MENIKAH DENGAN JOVAN." Ariana kembali berucap.
"Ibu! Cukuplah mengatur kehidupan diriku! Aku ingin hidup bersama dengan Jack! Apakah itu salah?" tanya Alice disela-sela Isak tangisnya.
"Terserah kau saja!" ucap Ariana, pergi meninggalkan ruangan bernuansa pink itu.
Isak tangisan pilu terdengar semakin kencang, Alice benar-benar kecewa kepada orang tuanya itu. Dia hanya ingin hidup bahagia, bersama Jack! Hanya itu saja. Mengapa begitu sulit?
***
"Selamat pagi, Om!" sapa Elif kepada Jovan dengan riang.
"Ya, selamat pagi." ujar Jovan, Tampa mengalihkan perhatian dari laptop miliknya itu. "Jika kamu lapar, makanlah terlebih dahulu." Jovan kembali berucap.
"Elif nunggu aja, Om. Elif 'kan gak tahu dimana tempat makannya." ucap Elif dengan polos.
"Baiklah, kita pergi sekarang saja!" ujar Jovan, lalu bangkit dari duduknya.
Setelah sekitar sepuluh menit mereka berjalan, akhirnya mereka sampai di rumah makan yang mereka tuju. Elif menatap rumah makan itu dengan tatapan berbinar.
"Rumah makannya besar banget, pasti makanannya mahal." ucapan Elif membuat Jovan mengernyit bingung.
"Lalu? Apa masalahnya jika makanannya mahal?" tanya Jovan.
"Elif miskin Om, gak punya uang." ucap Elif dengan polos, membuat Jovan membelalakkan matanya.
"Ayo, kita masuk!" ajak Jovan kepada Elif. "Saya yang bayar." lanjutnya, menarik tangan Elif dengan lembut.
"Sekarang, kau duduk dulu di sini," Jovan berkata yang dibalas angguk, kan oleh Elif.
Setelah mendapat persetujuan dari Elif, Jovan pun segera pergi memesan makanan.
Elif menatap sekelilingnya dengan mata yang terus berbinar.
Tanpa sengaja, Elif melihat kucing putih yang sangat menggemaskan, tengah berada di depan rumah makan itu.
"Woah, kucingnya lucu banget," ucap Elif, lalu menghampiri kucing putih itu. Namun sayangnya, kucing putih itu malah lari pergi ke jalanan.
"KUCING, AWAS!" Elif berlari dengan cepat menghampiri ke jalanan, ketika melihat sebuah mobil yang akan menabrak kucing putih itu. Dan akhirnya ...
'BRAK'
"A—duh, Sa—sakit banget."
Anda Mungkin Juga Suka





