
Menikahi Gadis Polos
Bab 3
""KUCING, AWAS!" Elif berlari dengan cepat menghampiri ke jalanan, ketika melihat sebuah mobil yang akan menabrak kucing putih itu. Dan akhirnya ...
'BRAK'
"A—duh, Sa—sakit banget."
***
"Ma—maafin Elif, Om." ucap Elif sembari menahan perihnya alkohol menyentuh kulitnya. Sementara itu, Jovan hanya fokus mengobati luka Elif, tanpa menjawab apapun perkataannya.
"Hiks, ja—jangan diam aja dong, Om!" tangisan Elif pun pecah, membuat Jovan menghela nafas dengan gusar.
"Diamlah! Jangan banyak berbicara!" ucap Jovan tetap fokus terhadap luka Elif, yang tengah diobatinya.
"Om, Maafin Elif, ya?" Elif kembali berucap. Membuat Jovan menghentikan pergerakan tangannya, yang kini tengah memasang perban pada lutut Elif yang terluka.
"Bukankah saya sudah bilang jangan kemana-mana? Untung saja saya datang tepat waktu. Jika tidak, bagaimana nasibmu?" ucapan Jovan, sukses membuat Elif menunduk, kan kepalanya.
"Emm, Om? Ku—kucing tadi kemana?" tanya Elif dengan takut-takut.
"Gak ada, udah mati." jawab Jovan. Dia menatap Elif yang kini kembali akan menangis. "Udah, jangan nagis! Sekarang kamu makan dulu, ya?" ucap Jovan, yang di balas angguk, kan kecil oleh Elif.
"Saya beresin barang-barang dulu."
***
"Om? Masih lama banget perjalanannya?" Elif bertanya.
"Hm, masih lama." jawab Jovan sembari fokus menatap laptopnya.
Sekitar 30 menit kemudian, mereka telah sampai di mansion megah milik Jovan. Ketika mereka keluar dari mobil, para bodyguard lantas membungkuk hormat kepada mereka. Elif yang bingung, dengan polosnya ikut membungkuk 'kan badannya.
"Jangan bertingkah seperti itu, Elifa!" Jovan menatap Elif sebentar, lalu melanjutkan langkahnya yang terhenti.
"Ya, maaf, Om ... Elif gak tau." Elif mengerucutkan bibirnya dengan lucu.
"ADUH, MENANTU MAMAH UDAH DATANG." Diana datang dengan hebohnya, lalu memeluk Elif. "Kamu sehat, Sayang? Mamah kangen banget sama kamu." ucap Diana, yang di balas angguk 'kan lucu oleh Elif.
"Kita masuk dulu, yuk!" Diana menarik Elif agar masuk kedalam mansion, melupakan Jovan yang berada di belakangnya.
"Ini anaknya mamah itu, saya? Apa anak kecil itu?" lirih Jovan menatap nanar punggung kedua wanita yang kini pergi meninggalkannya.
********
Sekarang, Elif dan seluruh keluarga Jovan tengah berkumpul ria di dalam ruang keluarga. Ada Elif, Mamah Diana, Papah Sagara, Jovan, Daffa, Alana, dan juga si kecil Alan.
Daffa Adijaya adalah anak pertama dari Diana Adijaya dan juga Sagara Adijaya, yang kini telah memegang separuh perusahaan yang telah di wariskan oleh Sagara —Ayah Jovan— kini dia telah menikah bersama Alana Smith Adijaya dan di karuniai seorang putra, yang diberi nama Alan Smith Adijaya.
"Gimana malam pertamanya? Lancar, Van?" tanya Daffa dengan wajah mesumnya, yang di hadiahi cubitan maut dari Alana.
"Kamu gak boleh gitu! Itu, kan privasi." Alana berkata dengan wajah garangnya.
"Ya, kan, penasaran." jawab Daffa dengan cengengesan.
Jovan yang mendengar perkataan dari Daffa, tidak kalah menatap Daffa dengan tajam. "Pertanyaan yang tidak sopan!" mendengar Jawaban Jovan, Daffa lantas mendengus kasar.
"Atau mungkin ... Lo belum merawanin tuh anak, ya?" tanya Daffa dengan senyuman smirknya. Daffa kembali memperhatikan anak tampannya, yang kini tengah bermain dengan istri dari Jovan.
Jovan hanya diam, enggan menjawab pertanyaan random itu dari Daffa.
"Aduh, Mamah baru inget, Jov," Diana berucap dengan wajah paniknya, "Tadi, Orang tua Alice marah-marah sama Mamah, karena anaknya gak jadi nikah." lanjut Diana, masih dengan ekspresi yang sama.
"Ah, ya, Jov. Papah juga penasaran, ceritakanlah!" ucap Sagara dengan tenang. Jovan, pun akhirnya mulai menceritakan tentang kejadian malam 'itu' kepada keluarganya.
Sementara itu, Elif yang tidak mengerti apa yang tengah Jovan dan keluarganya obrolkan, memilih diam dan bermain bersama Alan.
"Alan, makan pudingnya yang banyak! Biar cepat besar," Elif dengan antusias, kembali memberikan puding coklat untuk Alan.
"Mamam? Eyif ugha maam," Alan menyuapi Elif dengan tangan mungilnya.
"Alan makan aja, Elif makannya nanti." Elif berucap, menolak puding dari Alan. Alan dengan polosnya menatap Elif, dengan bibirnya yang mulai melengkung ke bawah, pertanda akan menangis.
"Hiks, Eyif mam ugha, Alan ndah maam." Alan sudah hampir menangis, membuat Elif dengan cepat menerima puding itu.
"Iya, Elif makan kok." ucap Elif, dengan terpaksa memakan puding itu.
Alan yang tadinya hampir menangis, kini kembali ceria dan memakan puding dengan lahap, sesekali menyuapi Elif agar memakan puding itu juga.
****
Saya mandi terlebih dahulu," ucap Jovan lalu masuk kedalam kamar mandi, yang ada di kamarnya itu.
Elif memperhatikan kamar Jovan yang bernuansa hitam itu, Elif melihat sebuah foto besar yang berada di dinding kamar Jovan, lalu mendekat untuk melihat lebih Jelas. Di foto itu, terdapat dua orang anak kecil dan juga Mamah Diana dan Papah Sagara. Lalu, pandangannya turun untuk melihat sebuah foto kecil yang berisi seorang wanita cantik, dan Jovan yang tengah saling bertatapan.
"Ini siapa? Cantik banget." ucap Elif, dengan senyuman kecilnya.
'Cklek'
Terdengar pintu kamar mandi yang tengah dibuka, Elif bergegas menyimpan foto itu, dan membalik, kan badannya.
"Om, mandinya udah?" tanya Elif dengan cengiran lucunya, membuat Jovan mengernyit heran.
"Kamu tidak lihat? Saya sudah selesai mandi?" Jovan balik bertanya.
Elif yang menyadari kebodohannya, lalu bergegas pergi kekamar mandi, meninggalkan Jovan yang tengah geleng-geleng kepala akibat tingkah lakunya.
"Bajumu sudah disiapkan oleh Mamah di sana." ucap Jovan, lalu mulai mengeringkan rambutnya.
Setelah hampir setengah jam, Jovan mulai khawatir dengan apa yang dilakukan Elif di dalam sana.
"ELIF, APAKAH KAU INGIN KEDINGINAN DI KAMAR MANDI?" tanya Jovan sedikit berteriak, agar Elif mendengarnya.
"UDAH OM, TAPI BAJUNYA ANEH. ELIF MALU KALO KELUAR." Jawab Elif dari kamar mandi.
"KELUARLAH, NANTI KAU KEDINGINAN!" Jovan berfikir mungkin baju yang dikasih ibunya itu sedikit kebesaran? Ah, entahlah.
'Cklek'
Elif keluar dari kamar mandi, dengan tangan yang menutupi dadanya, dan juga bagian Kemaluannya. Elif menatap takut-takut kepada Jovan.
"O—om jangan lihat Elif te—terus! Elif malu." Elif berucap dengan wajah yang mulai memerah.
Jovan meneguk ludahnya dengan susah payah, dan terus memperhatikan Elif dari atas sampai bawah berulangkali, membuat sesuatu di bawah sana menegang dengan sempurna.
"A—apa kau ingin menggodaku? Elifa?" tanya Jovan dengan terbata-bata.
Elif hanya diam mematung di tempatnya, tidak berani untuk bergerak karena takut akan tatapan lapar dari Jovan. Sementara itu, Jovan mulai menjilat bibirnya sendiri dengan sensual dan mulai mendekati Elif dengan wajah laparnya.
"O—om, m—mau apa?" Elif berucap, dan mulai mundur dengan perlahan. Mata polos Elif membulat kaget, ketika merasakan punggungnya membentur dinding dengan keras. Kini, Jovan berada tepat di depannya membuat tubuh kecil Elif sedikit bergetar.
'Cup'
Bibir mungil Elif bersentuhan dengan bibir tebal milik Jovan, membuat Elif melotot dengan kaget.
Anda Mungkin Juga Suka





