
MENIKAHI CEO LUMPUH
Bab 2
“Selamat pagi bapak Banyu dan ibu Nayu. Perkenalkan, saya adalah Vino, kepala pelayan dari keluarga tuan Bratha. Tentu saja, bapak Banyu dan ibu Nayi sudah mengetahui tujuan dari kedatangan saya ke sini untuk mewakili keluarga tuan Bratha untuk melamar nona Sofia.”
“Ya, kami sudah mengetahuinya. Karena semalam, saya dan tuan Bratha sudah saling berkomunikasi.”
“Ya, karena kesibukan beliau dan jadwal yang sangat padat sehingga tidak memungkin beliau untuk bertemu langsung dengan pak Banyu dan ibu Nayu untuk melamar putri kalian.”
“Ya, tidak apa-apa. Kami bisa mengerti hal itu.”
“Mengenai mahar dan persiapan pernikahan lainnya nanti, akan dibicarakan oleh nyonya Lady dengan nona Sofia langsung saat nona Sofia sudah tiba di kediaman tuan Bratha.”
“Iya.”
“Bagaimana dengan nona Sofia? Apa kami sudah bisa menjemput nona Sofia untuk diantar ke kediaman tuan Bratha?”
“Sebentar. Saya akan panggilakan putri saya terlebih dahulu.”
“Baik, bu Nayu.”
Nayu segera pergi ke kamar putrinya untuk menghampiri Sofia yang tengah berdandan atas perintahnya.
Cklek,
Begitu Nayu membuka kamar putrinya, yang dia dapati adalah Sofia yang sedang duduk di atas tempat tidur sambil memeluk boneka beruangnya dan menangis.
“Ya ampun, Sofia. Tingkah kamu masih seperti anak kecil sekali sih, nak. Coba dong bersikap lebih dewasa sedikit. Kamu kan akan bertemu dengan calon suami kamu dan juga calon ibu mertua kamu. Kalau posisi duduk kamu seperti ini, bisa-bisa baju yang kamu pakai jadi lecek. Padahal ibu sudah menyetrika baju ini sampai lima kali, biar terlihat halus dan rapi. Tapi, kamu malah bikijn baju ini jadi lecek. Padahal baju ini satu-satunya baju yang paling bagus yang kamu punya. Heuuuhhh… Sofia… Sofia…” Ibu terus mengoceh sambil menarik tangan putrinya, meminta Sofia berdiri di depan cermin, dan merapikan kembali penampilan putrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
“Dandanan kamu juga jadi luntur gara-gara kamu nangis.” Nayu terpaksa kembali mendandani ulang wajah putrinya agar terlihat cantik kembali.
“Bu, aku mau menarik jawaban aku kembali. Aku tidak jadi menerima lamaran itu. Aku benar-benar tidak mau, bu…”
“Tidak bisa, Sofia. Kamu sudah tidak bisa lagi menolak. Karena keluarga tuan Bratha sudah mendaftarkan pernikahan kamu dan Yesaya di KUA dan sedang dalam proses.”
“Baru dalam proses, kan? Masih belum jadi.”
“Jangan buat kesal ibu, Sofia. Kamu sendiri yang mengatakan kesediaan kamu semalam, kalau kalau kamu mau menikah dengan Yesaya. Setelah bapak kamu menghubungi dan memberitahu pada tuan Bratha, sekarang kamu malah mau membatalkannya. Kamu pikir, pernikahan ini hanyalah pernikahan permainan saja?”
“Tapi, aku hanya ingin mengenalnya dulu. Bukan berarti kesediaan aku menerima lamaran tersebut karena aku ingin menerima lamaran dan benar-benar mau menikah dengan Yesaya.”
“Ya sudah! Kamu katakan saja keberatan kamu untuk menolak lamaran ini dan membatalkannya saat kamu bertemu dengan tuan muda Yesaya dan nyonya Lady. Karena ibu dan bapak tidak mau mengatakan ulang tentang penolakan kamu ini kepada tuan Bratha. Ibu malu, Sofia. Dia sudah sangat baik pada keluarga kita selama ini. Kamu tahu? Setelah bapak kamu sudah tidak lagi bekerja sebagai tangan kanan tuan Bratha, tapi tuan Bratha masih rutin memberikan gaji pokok bapak setiap bulannya, sampai kami masih bisa membiayai sekolah kamu sampai tamat SMA. “ Nayu begitu jengkel dengan keputusan Sofia yang cukup plin plan.
Usai berdandan dengan rapi kembali, Nayu segera membawa keluar putrinya untuk diantar ke kediaman tuan Bratha bersama dengan beberapa pengawal.
Sofia hanya bisa pasrah saja saat ini untuk menghadapi ketidakadilan yang telah bapak dan ibunya lakukan padanya.
“Hikss…” Banyu tiba-tiba saja menangis. Dia menitikan air matanya di depan putrinya yang hendak pergi menuju kediaman Bratha.
Sofia yang melihat bapaknya menagis bukannya simpati, yang muncul di dalam dirinya justru rasa kesal.
“Untuk apa bapak menangis? Ini kan yang memang bapak inginkan.” Sofia mengatakan dengan nada sedikit kesal. Dia pun segera mencium tangan bapak dan ibunya untuk berpamitan. “Sofia berangkat dulu, pak, bu.”
Lalu, Sofia dibawa masuk ke dalam mobil sedan hitam yang sangat mewah, dengan pengawalan dari dua mobil di depan dan di belakang yang mengapit mobil yang Sofia naiki.
Sepanjang perjalanan menuju kediaman Bratha, tidak ada rasa gugup yang Sofia rasakan sedikit pun, yang ada justru rasa penolakan besar yang akan dia katakan dengan lantang di depan Yesaya dan ibunya Yesaya nanti. Sofia benar-benar sudah meneguhkan hal itu di dalam hatinya, kalau pernikahan ini tidak bisa berkompromi dengan masa depannya.
“Semangat, Sofia.” Ucapnya di dalam hati untuk menyemangati dirinya sendiri agar tidak lemah.
Setelah melakukan perjalanan selama satu jam lamanya, akhirnya Sofia tiba di kediaman tuan Bratha.
Baru sampai pintu gerbang kediaman tersebut saja, Sofia sudah dibuat takjub. Bagaimana tidak takjub. Pintu gerbang yang besar, mewah, dan seperti anti peluru itu terlihat dibuat khusus untuk kediaman rumah tuan Bratha. Tidak hanya itu, dua pengawal dengan pakaian khusus berdiri di depan pintu gerbang sambil membawa senjata api lengkap dengan topi anti peluru di kepalanya. Sudah seperti tantara saja. Begitu dia memasuki pintu gerbang nan megah tersebut, Sofia semakin dibuat lebih takjub lagi, karena rumah kediaman tersebut benar-benar sangat mewah, bak istana di negeri dongeng. “Ya Tuhan, ini aku lagi masuk ke dalam Istana tersembunyi yang tidak pernah aku ketahui kalau ternyata ada di dunia ini dan sangat dekat dengan rumah aku? atau, ini hanya mimpi?”
Sofia berkali-kali mengucek matanya, menepuk pelan kedua pipinya untuk menyadarkan dirinya kalau yang dia sedang lihat dan rasakan saat ini adalah nyata. Bak anak kecil, Sofia malah kegirangan sendirian. Tapi, lagi-lagi dia segera menyadarkan khayalannya saat ini yang dia anggap gila.
“No, Sofia. No!”
Sofia segera memposisikan duduknya normal seperti semula, dengan bersandar pada sandaran kursi dengan tenang dan berusaha untuk tidak terhanyut pada suasana indah yang ada di sekitarnya saat ini.
Iringan mobil pun berhenti di salah satu bangunan yang berada di Kawasan tersebut. Dengan pilar-pilar yang menjulang tinggi dan beberapa dinding berhiaskan emas murni, bangunan tersebut semakin terlihat mewah dan elegan.
Saat Sofia hendak menuruni mobil, seorang pelayan pria sudah membukakan pintu untuknya terlebih dahulu. Sambil menyambut kedatangan Sofia dengan senyuman ramah, pelayan itu menayapa Sofia dengan mengatakan, “Selamat pagi, nona Sofia.”
Sofia dibuat beku untuk beberapa saat lantaran dirinya yang tidak pernah mendapatkan perlakuan seistimewa ini dari siapapun sebelumnya.
“Pa- pagi…” Sofia menyapa balik dengan canggung sekaligus gugup. Tapi, dia akan berusaha untuk tetap bersikap tenang.
***
Anda Mungkin Juga Suka





