Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Menikah dengan kakak ipar

Menikah dengan kakak ipar

Hanifah yang mandul mendesak suaminya, Raihan, untuk menikahi sang adik, Nur Naila Habibah, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tak layak bagi Raihan, dosen agama yang religius, karena ia adalah mahasiswi nakal yang belum berhijab. Tanpa mereka sadari, Naila sebenarnya bukan saudara kandung Hanifah, melainkan anak sahabat ibunya. Akankah Naila menerima permintaan kakaknya itu atau justru menolak pernikahan tersebut karena merasa terlalu berbeda?
Bab
Bagikan

Bab 3

"Tadi kakak sudah bicara sama mereka kok kata mereka seterah kalian saja" jawab

Hanifah dengan senyum

"Semoga kakak bahagia jika aku menikah dengan kak Raihan" kata Naila

"Kakak akan bahagia kok" dengan memeluk adiknya itu dengan erat

"Nanti besok kita fitting baju pengantin yah kakak bakal persiapin pernikahan kalian" kata Hanifah

"Mas seterah Naila saja" Raihan aja nurut dengan permintaan istrinya dia ingin membahagiakan istrinya itu

"Kenapa saya merasa bahagia ingin menikah lagi dengan Naila apa ada perasaan suka dengan Naila apa lagi dia tersenyum bikin saya tersenyum astagfirullah maaf kan hambamu ini ya Rabb" istigfar Raihan

"Kenapa sih Raihan melihat gw segitunya sih gw gak boleh suka sama dia ingat ini demi kakak lu nai" gumam Naila

Malam ini Naila tinggal dirumah orang tuanya karena orang tuanya tadi malam dia datang menjemput Naila di rumah calon suaminya karena besok malam Naila akan dilamar oleh Raihan di rumah orang tuanya

"Akhirnya aku senang deh tinggal bareng Abi dan umi lagi" dengan bahagianya Naila bisa berkumpul dengan keluarganya lagi

"Nai nanti kamu pakai hijab besok malam kamu harus berubah penampilannya nai jangan pakai pakaian ketat lagi kamu gak kasihan sama Abi kamu harus menanggung dosa kamu nai" nasihat umi dengan mengusap kepal Naila yang terbaring di pangkuan uminya sambil menonton tv

"Naila belum bisa umi karena akhlak aku belum bisa berubah umi" kata Naila

"Nai masalah akhlak nanti juga bisa kok berubah dengan perlahan-lahan Kao kita gak berubah dan menunggu hidayah kapan hidayah itu datang nai masa kita harus tunggu sih Kao misanya kita mati disaat hidayah itu belum datang gimana kita mau bawa bekal di akhirat nanti, yang penting kamu berubah dulu dengan pakaian sopan nanti juga perlahan-lahan kamu berubah nai" nasihat umi yang paling dirindukan oleh Naila dia rindu dengan suasana ini

Pagi hari Hanifah pergi ke rumah orang tuanya untuk memberikan baju Naila yah dia memang kakak terbaik dan perhatian dengan adiknya

"Assalamu'alaikum umi" ucap salam Hanifah kemudian mencium tangan uminya

"Wa'alaikumussalam" jawab salam uminya yang membukakan pintu rumahnya

"Hani ke sini mau kasih Naila baju" kata Hanifah

"Naila lagi dikamar nya han kamu ke atas aja yah oh ya umi titip pesan sama kamu tolong rubah tuh anak umi seperti kamu Han" nasihat umi lalu Hani mengangguk sambil tertawa lalu dia ke atas menemui adiknya itu

"Assalamu'alaikum" ucap salam Hanifah yang mengetuk pintu kamar dan dibukakan oleh adiknya

"Wa'alaikumussalam kakak sama siapa ke sini" tanya Naila yang sedang mengurus tugas kuliahnya

"Tadi kakak sendiri ke sininya, kamu lagi ngerjain tugas yah maaf ganggu yah" jawab Hanifah

"Enggak kok gak cuma lagu ngerjain tugas pak Raihan aja" kata Naila yang masih mengetik laptopnya

"Ciee lagi ngerjain tugas dari calon suaminya" goda Hanifah

"Apaan sih kak ini kan tugas seorang mahasiswi yang mengerjakan tugas dari dosennya" tegas Naila sembari mengetik laptopnya

"Mas Raihan kalo di kampus gimana nai" tanya Hanifah

"Dia kalo di kampus mukanya datar kak mana dingin lagi mukanya bicara aja sedikit doang" jawab Naila

"Dia memang begitu tapi Kalo udah kenal huuu perhatian banget tau terus cerewet dan suka manjain istrinya loh" kata Hanifah

"Tapi aku gak suka sama dia kak kaya es batu sikapnya pokoknya gak suka deh" ucap Naila yang sedang menjelekkan calon suaminya tiba-tiba calon suaminya datang yang berada di depan pintu kamarnya

"Terus kenapa kamu nerima kak Raihan" tanya lelaki itu yang baru datang Naila masih fokus dengan tugasnya

"Ya karena..." Belum saja menjawab dia melihat sudah ada calon suaminya di depan pintu kamarnya

"Loh kok bapak ada disini sih katanya Kakak ke sini sendiri" kata Naila

"Kakak juga gak tau loh nai tadi kakak ke sini sendiri kok" ucap Hanifah

"Saya ke sini mau menjemput istri saya" ujar Raihan menghampiri mereka berdua "oh" jawab Naila dengan singkat

"Oh yah nai ini kakak bawain baju buat kamu nanti pas malam dipake yah buat lamaran kamu" kata Hanifah sambil memberikan plastik yang didalamnya baju kepada Naila

"Makasih loh kak ngerepotin segala" ucap terima kasih Naila

"Gak ngerepotin kok ini hanya sebagai terima kasih kakak ke kamu" Hanifah tersenyum Naila pun ikut tersenyum

"Kamu lagi ngerjain tugas apa nai" tanya Raihan yang melihat tugasnya berserakan dimana-mana

"Masih aja gak nyadar orang lagi ngerjain tugas dia juga" gumam Naila

"Tugas bapak numpuk nih" jawab Naila

"Oh lain kali tugasnya jangan ditumpuk jadi kerepotan kan" nasihat Raihan dengan dingin

"Ini kan tugas dari bapak kemarin mana banyak lagi" sinis Naila

"Mas kira-kira dong ngasih tugas ke calon istri mas" omel Hanifah

"Omel aja kak kebiasaan kalo ngasih tugas tuh banyak biar tau rasa nanti aku anggurin dia kak" kata Naila

"Benar tuh kalo mas udha nikah Naila pasti mas dianggurin Sama Naila Karena sibuk ngurusin tugas dari mas" bela Hanifah

"Syukuri emang enak di omelin" ledek Naila dengan mengeluarkan lidahnya

"Ya maaf" permintaan maaf Raihan

"Udah deh pak mending pergi deh gw mau ngurusin tugas dulu" usir Naila

"Kamu gak boleh gitu nai gak baik ngusir calon suami" nasihat Hanifah

"Udah yah mending sekarang kakak sama bapak pergi deh aku lagu pusing nih ngerjain tugas kuliahku" kata Naila

"Yaudah kakak tunggu dibawah yah" pamit Hanifah kemudian meninggalkan kamar

Naila sedangkan Raihan masih berada dikamar Naila

"Maaf yah gara-gara saya kamu jadi banyak tuga" maaf Raihan dengan wajah sedihnya

"Hmm" Naila hanya berdehem dia tidka perduli dengan ucapan suaminya dia masih sibuk dengan tugasnya

"Ehmm... Mau saya bantuin gak" tawaran Raihan tidak ada sahutan dari Naila dia masih berkutik dengan laptopnya

"Nai" panggil Raihan

"Hmm" deheman Naila yang fokus dnegan laptopnya

"Nai aku bicara sama kamu loh ada yang bisa saya bantu gak" tanya Raihan yang melihat Naila menghadapn ke arahnya

"Saya minta kurangi tugas saya" jawab Naila dengan sinis

"Gak bisa gitu nai kamu kan mahasiswi saya" ujar Raihan

"Yaudah kalo gak bisa lebih baik bapak keluar jangan ganggu saya" usir Naila

"Tapi nai??" Kata Raihan

"Udah pergi sana ganggu aja deh" mencoba mendorong Raihan sampai keluar kamar lalu menutup pintu kamarnya dengan keras kemudian Raihan pun ke bawah untuk menemui istrinya

"Naila kenapa" Hanifah mendengar suara bantingan pintu dari kamar Naila

"Gak tadi aku mau bantuin Naila eh malah dia marah-marah" kata Raihan

"Dia kalo lagi banyak tugas emang gitu suka pusing dan gak mau pikirin yang lain" ucap umi yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarga di ruang makan

"Naila udah makan belum umi" tanya Raihan

"Dia belum makan dari tadi tuh dia sibuk dengan tugasnya dari malam tuh" jawab uminya

"Belum makan!" Kaget Raihan mendengar perkataan uminya

"Kenapa mas kok khawatir gitu sih" tanya Hanifah

"Hmm... Gimana gak khawatir sih deh melihat adik iparnya belum makan loh" jawab

Raihan dnegan berbohong

"Oh kirain aku kamu suka sama adik aku awas yah jangan sampai suka kamu menikah dengan dia cuma karena ingin anak yah" ujar Hanifah

"Untung aja dia percaya jangan sampai Hani tau kalo saya sudah mulai suka dengan Naila" batin Raihan dengan lega

"emang kenapa Han gak salah kan kalo suami kamu suka dengan calon istrinya sendiri" tanya uminya

"Aku gak mau umi sampai mas Raihan berpaling dariku nanti kasih sayangnya ke aku hilang lagi" jawab Hanifah dengan takut

"Jangan suudzon sama adikmu dan suamimu loh" nasihat umi

"Siapa yang suudzon aku nyuruh Naila buat nikah sama mas Raihan cuma karena anak kok terus kalo Naila lahir suamiku bakal talak Naila" kata Hanifah

"Han nikah itu bukan main-main aku gak yah Sama kamu kaya gitu nikah itu hanya sekali nanti gak ada kata cerai aku masih bisa adil kok untuk kalian" ucap Raihan

"Benar kata suamimu Han nikah itu gak main-main emang kamu mau adikmu nanti jadi janda kamu itu jangan mikirin perasaan kamu aja dong pikirin adik kamu juga" ujar umi

"Aku gak mau tau setelah Naila melahirkan mas Raihan harus cerain Naila" Hanifah langsung pergi dari rumah uminya

"Aku ngejar Hani dulu Bu assalamu'alaikum" ucap salam Raihan kemudian menyusul istrinya

"Wa'alaikumussalam" jawab salam uminya

"Han tunggu" panggil Raihan yang sudah di depan rumahnya

"Ada apa lagi jangan-jangan mas suka sama naila Iyah jawab mas" kata Hanifah

"Han aku itu cuma cinta sama kamu, aku bakal turutin perintah kamu ok tapi tolong jangan ngambek lagi yah" sambil menggenggam tangan Hanifah kemudian mencium kening istrinya

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Palsu Namun Penuh Gairah
9.7
Ryan, sang idola sekolah saat SMA, kini kehilangan pesonanya akibat masalah jerawat yang parah di masa kuliah. Perubahan fisik ini membuat kekasihnya, Lala, menjauh hingga hubungan mereka berakhir karena sifat posesif Ryan. Di tengah patah hati, Ryan bertemu Ify, gadis polos yang belum pernah berpacaran. Meski tanpa rasa cinta, Ryan memanfaatkan Ify sebagai pelarian demi melupakan bayang-bayang Lala dengan mengajaknya masuk ke dunia romansa yang lebih berani.
Sampul Novel Ciuman Sang Ular: Balas Dendam Seorang Istri
9.0
Dahulu, aku percaya pada cinta palsu keluarga Adhitama hingga mereka membiarkanku terpanggang api. Di saat terakhir, hanya paman dingin bernama Gilang yang rela mati demi melindungiku. Kini, takdir memberiku kesempatan kedua seminggu sebelum tragedi itu terjadi. Untuk menguasai warisan triliunan dan membalas dendam pada tiga kakak yang berkhianat, aku menolak menikahi mereka. Di depan pengacara, aku justru memilih Gilang sebagai suamiku. Permainan dimulai.
Sampul Novel Feniks dari Abu: Cinta yang Terlahir Kembali
8.7
Demi menyelamatkan Adrian dari ledakan mobil, punggungku hancur oleh luka bakar. Selama empat tahun masa komanya, aku setia merawatnya. Namun setelah sadar, ia justru menyatakan cinta pada Stella di depan publik. Mereka menghinaku, bahkan Adrian menuduhku berbohong saat aku diserang preman. Baginya, aku hanyalah beban. Puncaknya, ia membuangku di jalan tol saat hari pernikahan demi Stella. Kini, aku memilih pergi dan meninggalkan segalanya menuju bandara.
Sampul Novel IntroGirl & EkstroBoy
8.6
Kehidupan tenang Meira di SMA mendadak terusik oleh kehadiran Deon, cowok tengil yang kerap mengganggunya. Meski awalnya sering berselisih, Meira mulai melihat sisi lain Deon yang perlahan mewarnai harinya dan menjadi penyemangat utama. Begitu pun sebaliknya, Meira berhasil meluluhkan hati Deon Arkayuda. Namun, saat perasaan makin dalam, semesta menghadirkan skenario tak terduga. Walau raga tak lagi bersama, cinta abadi mereka membuktikan bahwa perbedaan justru saling melengkapi.
Sampul Novel ISTRIKU YANG MENGGAIRAHKAN(IYM)
9.2
Isabell Fernandez, model ternama sekaligus istri CEO Damian Devardo, jatuh miskin akibat kelicikan ibu mertuanya. Setelah dilecehkan dan dibuang ke jurang, ia terbangun di New York tanpa ingatan. Kini, Isabell bekerja sebagai penari erotis di bar kasino demi bertahan hidup. Di sisi lain, Damian yang frustrasi terus mencarinya hingga seorang bawahan menemukan sosok yang sangat mirip sang istri. Akankah cinta mereka bersatu kembali saat Isabell telah berubah status?
Sampul Novel Jatuh Dalam Pesonamu (Enigma: Teka-teki)
8.9
Numa dan Afkar terikat dalam perjodohan penuh misteri yang dirancang demi menutupi rahasia besar keluarga. Tanpa kontrak formal seperti di fiksi, mereka harus bekerja sama menghadapi kerumitan hubungan yang ambigu. Afkar menekankan pentingnya aliansi nyata demi ketenangan hidup dari campur tangan pihak lain. Di tengah sikap Numa yang haus perhatian, keduanya harus menguak teka-teki mendalam yang menyelimuti takdir mereka dalam kisah romansa modern yang intens ini.