
Menghidupkan Kembali Cinta yang Hilang
Bab 3
Hal yang paling tidak ingin dilakukan Regina sekarang adalah berdebat dengan Teresa di perusahaan. Dia berbalik untuk pergi, tetapi Teresa menghalangi jalannya.
Dengan secangkir kopi di tangannya, Teresa berkata dengan sinis, "Kak Leviana sudah kembali sekarang. Apakah menurutmu Kak Malvin masih akan memedulikanmu?"
Regina memilih diam, tidak memberi tanggapan apa pun.
Beberapa detik kemudian, Teresa mengejeknya lebih jauh. "Aku dengar kamu cukup terampil di tempat tidur. Bagaimana kalau aku mengenalkanmu pada beberapa pria? Mereka bisa mencoba menggunakan layananmu nanti."
Regina mengepalkan tangannya dan berkata dengan dingin, "Nona Teresa, kita sedang berada di perusahaan, bukan di tempat hiburan. Jika kamu tertarik dengan bisnis semacam itu, kamu tahu ke mana harus pergi."
"Kamu!"
Baru saja, Regina menyindir bahwa dia adalah seorang penjual pria. Ini membuat wajah Teresa berubah.
Detik berikutnya, Teresa mengangkat tangannya dan menuangkan secangkir kopi panas ke seluruh tubuh Regina.
Regina tidak menyangka bahwa Teresa akan melakukan hal gila semacam ini. Dia mengangkat lengannya agar bisa menghalangi cairan panas dari wajahnya. Dalam waktu singkat, kopi panas tersebut membakar lengannya dan kulitnya menjadi merah.
"Aduh!" Regina mengernyit kesakitan. "Kenapa kamu melakukan itu? Apakah kamu sudah gila?"
Sekarang adalah jam istirahat makan siang dan banyak karyawan yang luang untuk menonton drama tersebut. Teresa bahkan semakin berpuas diri ketika dia melihat penonton terus bertambah.
Dia memasang wajah judesnya sambil berkata, "Apa yang membuatmu bisa bersikap begitu arogan setiap hari, hah? Apakah kamu benar-benar berpikir bahwa orang lain tidak tahu bahwa kamu hanya anak di luar nikah yang tidak memiliki orang tua? Beraninya kamu ...."
Tiba-tiba terdengar suara nyaring yang bergema ke seluruh ruangan.
Teresa bungkam karena tamparan panas yang mendarat di wajahnya.
Dia terpana sampai melongo. Dia tidak pernah menyangka Regina yang biasanya pendiam dan penakut sampai berani menamparnya.
Teresa memegangi pipinya dan menatap kosong beberapa saat. Kemudian, dia tergagap, "Kamu ... menamparku?" Beraninya kamu!"
Regina memandangnya dan menjawab, "Ya, benar! Aku sedang mengajarimu apa itu sopan santun."
Memang benar Regina kehilangan orang tuanya ketika dia masih kecil. Akan tetapi, itu tidak berarti dia akan membiarkan seseorang menghinanya karena itu.
Teresa begitu marah hingga wajahnya memucat. Sebagai sepupu Malvin, dia terbiasa dimanjakan dan dihormati oleh semua orang. Ini pertama kalinya dia diperlakukan seperti ini.
"Dasar tidak tahu malu!"
Teresa menerjang Regina seperti banteng yang mengamuk, mengangkat tangannya tinggi-tinggi untuk membalas tamparannya.
Kali ini, Regina sepenuhnya siap menghadapinya. Dia mencengkeram pergelangan tangan Teresa begitu erat sehingga Teresa tidak bisa bergerak sedikit pun.
Teresa lebih pendek dari Regina. Alhasil, Teresa meronta seperti gurita yang salah satu kakinya tersangkut di perangkap ikan.
Teresa mengumpat dengan marah, "Beraninya kamu menyentuhku dengan tangan kotormu? Kamu pikir kamu siapa? Kamu tidak lebih dari sekadar mainan Malvin. Kamu lebih buruk dari wanita yang sudah tidur dengan banyak pria!"
Perkataan kasar ini menarik lebih banyak orang ke ruang istirahat.
"Cukup!"
Tiba-tiba, suara bariton datang dari belakang. Malvin telah meninggalkan kantornya dan tidak sengaja menemui keributan ini.
Seluruh ruangan seketika sunyi.
"Kak Malvin?" Darah Teresa menjadi dingin saat melihat Malvin. Sejak dulu, dia selalu takut padanya. Ibunya juga memperingatkannya agar tidak membuatnya marah.
Namun, ketika dia ingat Regina menamparnya, dia memasang ekspresi memelas dan mulai menangis. "Kak Malvin, lihat wajahku. Dia sudah menamparku."
Sinar matahari dari luar menyinari wajah tampan Malvin.
Tiba-tiba Regina merasa sangat sedih, dan menundukkan kepalanya untuk melihat bagian belakang lengannya yang melepuh karena kopi.
Tatapan mereka sekilas bertemu di udara. Dengan kerutan dalam di wajahnya, Malvin memandang Regina dan berkata, "Regina, apakah kamu lupa peraturan perusahaan?"
Kekejaman yang dia tunjukkan membuat napas Regina terhenti. Dia tidak bisa memercayai apa yang baru saja didengarnya.
Tidak ada satu orang pun yang berani bersuara sekarang.
Regina hanya berdiri tegak di tempat.
Ketika dia dipekerjakan di sini, Malvin memberitahunya bahwa Grup Dirga bukanlah tempat baginya untuk bermain-main dan pria itu tidak akan membiarkannya melakukan kesalahan apa pun.
Regina bisa mengerti kenapa pria itu mengambil keputusan tegas ini.
Namun, saat ini, dia sangat penasaran apakah Malvin telah mendengar kata-kata ejekan yang dilontarkan yang Teresa itu atau dia hanya pura-pura tidak mendengar karena dia menyetujui kata-kata tersebut.
Apakah pria itu benar-benar melihatnya sebagai mainannya?
Anda Mungkin Juga Suka





