
Mengandung Anak Boss
Bab 2
Hari-hari pertama bekerja sebagai sekretaris sekaligus memenuhi kebutuhan medis Arga terasa berat bagi Siska. Namun, ia mencoba bertahan demi masa depan dan demi membayar hutang ibunya. Arga, meski tampan dan karismatik, menunjukkan sisi yang jauh berbeda saat berada di kantor. Sikapnya yang tegas dan terkadang kejam membuat Siska merasa tertekan.
Suatu pagi, setelah menyelesaikan tugas-tugas rutinnya, Arga memanggil Siska ke kantornya.
"Siska, ada hal penting yang perlu kita bicarakan," kata Arga dengan nada serius.
Siska memasuki ruangan dengan perasaan cemas. "Apa yang ingin dibicarakan, Pak Arga?"
Arga menatap Siska tajam. "Kondisi kesehatan saya membutuhkan ASI dalam jumlah yang lebih banyak dan lebih cepat. Karena itu, saya memutuskan untuk membawa kamu ke dokter spesialis agar bisa mempercepat produksi ASI-mu."
Siska terkejut mendengar permintaan tersebut. "Tapi, Pak Arga, saya merasa tidak nyaman dengan itu..."
Arga memotongnya dengan nada dingin. "Ini adalah bagian dari kontrak yang sudah kamu setujui. Saya tidak akan menerima penolakan."
Dengan berat hati, Siska setuju untuk mengikuti Arga ke dokter. Mereka menuju klinik spesialis yang mewah di pusat kota. Setibanya di sana, dokter menyambut mereka dengan ramah dan mulai menjelaskan prosedur yang akan dilakukan untuk mempercepat produksi ASI.
"Prosedurnya melibatkan penggunaan alat khusus yang akan merangsang payudara untuk memproduksi lebih banyak ASI. Proses ini mungkin akan terasa tidak nyaman, tapi hasilnya akan sesuai dengan harapan," jelas dokter.
Siska merasa semakin cemas, namun ia tidak memiliki pilihan lain. Ia harus menjalani prosedur tersebut demi mempertahankan pekerjaannya. Dokter kemudian memandu Siska ke sebuah ruangan khusus dan mempersiapkan alat tersebut.
Arga mengikuti mereka masuk ke ruangan dan berdiri di dekat Siska. Ia memperhatikan dengan seksama saat dokter memasang alat tersebut pada payudara Siska. Prosedur dimulai, dan Siska langsung merasakan rasa sakit yang cukup intens. Ia mencoba menahan tangisannya, tapi air mata mulai mengalir di pipinya.
Arga, yang awalnya hanya memperhatikan dengan wajah serius, tiba-tiba menunjukkan ekspresi berbeda. Matanya memperhatikan setiap gerakan dan perubahan pada tubuh Siska dengan intensitas yang berbeda. Ada sesuatu dalam dirinya yang mulai bangkit melihat payudara Siska diperlakukan dengan cara tersebut.
"Kamu baik-baik saja, Siska?" tanya Arga dengan nada yang terdengar seperti campuran kepedulian dan ketertarikan.
Siska mengangguk pelan, meski jelas terlihat kesakitan. "Saya baik-baik saja, Pak..."
Arga mendekat dan meletakkan tangan di bahu Siska. "Saya tahu ini sulit, tapi kamu harus bertahan. Ini untuk kebaikan kita berdua."
Setelah beberapa waktu, prosedur selesai. Dokter memberikan instruksi tambahan kepada Siska mengenai cara merawat payudaranya dan bagaimana memastikan produksi ASI tetap optimal. Siska mendengarkan dengan seksama, meski pikirannya masih kacau.
Saat mereka meninggalkan klinik, Arga memandang Siska dengan pandangan yang berbeda. "Saya ingin payudaramu tumbuh lebih besar, Siska. Itu akan sangat membantu."
Siska merasa tidak nyaman dengan pernyataan tersebut, tapi ia hanya bisa mengangguk. "Saya akan berusaha, Pak."
Arga tersenyum tipis. "Bagus. Saya yakin kamu bisa melakukannya."
Hari-hari berikutnya, Siska harus menyesuaikan diri dengan rutinitas baru yang melibatkan perawatan khusus untuk memperbesar dan mempercepat produksi ASI. Setiap kali ia merasa kesakitan, bayangan wajah ibunya yang kejam dan hutang yang menumpuk membuatnya bertahan.
Arga, di sisi lain, semakin sering memperhatikan Siska. Ia tampak semakin tertarik dengan tubuh Siska dan bagaimana perubahan yang terjadi padanya. Meskipun awalnya hanya demi kebutuhan medis, kini hasrat lain mulai bangkit dalam dirinya.
Suatu malam, setelah seharian bekerja keras, Siska kembali ke rumah dengan tubuh lelah dan pikiran penuh. Ia merenungkan keputusan yang telah diambil dan apa yang harus dihadapinya ke depan. Meskipun merasa tertekan, Siska bertekad untuk terus bertahan demi masa depan yang lebih baik.
Siska mulai menyadari bahwa hidupnya telah berubah secara drastis sejak menerima tawaran Arga. Tekanan dan kesakitan yang harus ia hadapi setiap hari adalah harga yang harus dibayar demi mencapai impiannya. Meski begitu, Siska tetap tegar dan berusaha menjalani setiap hari dengan penuh keberanian.
Dalam hati, Siska berharap suatu hari nanti semua perjuangannya akan terbayar. Ia berharap bisa keluar dari cengkeraman hutang dan menjalani hidup yang lebih baik. Namun, untuk saat ini, ia harus bertahan dan menghadapi segala rintangan yang ada di depannya dengan kepala tegak.
Anda Mungkin Juga Suka





