
Mengandung Anak Boss
Bab 3
Siska merasa sakit di bagian payudaranya. Rasa sakit itu datang sebagai hasil dari prosedur yang telah ia jalani beberapa hari sebelumnya. Meski begitu, ia tetap bangkit dari tempat tidur dan bersiap untuk berangkat ke kantor. Ia harus menjalani harinya dengan penuh tanggung jawab meski ada rasa sakit yang terus mengganggunya.
Sesampainya di kantor, Siska langsung menuju ruangannya dan memulai pekerjaannya seperti biasa. Namun, tidak lama setelah ia duduk, ia merasakan sesuatu yang aneh. Ia melihat ke bawah dan terkejut melihat bajunya basah oleh ASI yang merembes keluar. Siska merasa panik sejenak, mencoba mencari cara untuk menyembunyikan noda tersebut. Ia mengambil jaket dari kursinya dan menutupi dadanya, berharap itu bisa menyamarkan situasi yang memalukan ini.
Di tengah usahanya untuk tetap tenang, telepon di mejanya berdering. Suara Arga terdengar dari ujung sana.
"Siska, tolong buatkan saya kopi dan bawa ke ruang kerja saya," perintah Arga dengan nada tegas.
"Baik, Pak Arga. Segera saya buatkan," jawab Siska sambil mencoba menenangkan dirinya.
Siska berjalan menuju pantry dengan langkah cepat. Di sana, ia mulai membuat kopi untuk Arga sambil berharap bahwa bajunya tidak terlalu terlihat mencolok. Setelah selesai, ia membawa kopi tersebut ke ruang kerja Arga.
Arga menunggu di depan meja kerjanya, matanya langsung tertuju pada Siska saat ia memasuki ruangan. Mata Arga menyipit, memperhatikan dengan teliti setiap gerakan Siska. Saat Siska mendekat, Arga melihat adanya noda basah di sekitar payudara Siska yang tertutup jaket.
"Siska, ada yang tidak beres dengan bajumu," kata Arga tiba-tiba.
Siska merasa gugup dan mencoba menutupi dadanya dengan lebih rapat. "Maaf, Pak. Saya... saya mengalami kebocoran ASI."
Arga berjalan mendekat, tatapannya intens. "Itu artinya produksi ASI-mu meningkat. Bagus, tapi sepertinya kamu butuh bantuan untuk mengatasinya."
Siska hanya bisa diam, merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Arga mendekat lebih dekat lagi, hingga jarak mereka hanya beberapa inci.
"Saya ingin mencoba menyusu langsung darimu, Siska," bisik Arga dengan suara rendah namun tegas.
Siska terkejut dan mundur beberapa langkah. "Pak Arga, saya... saya tidak yakin..."
Arga tidak memberinya kesempatan untuk melanjutkan. Ia menggenggam tangan Siska dan menariknya ke kamar pribadinya yang ada di belakang ruang kerja. Siska mencoba melawan, tapi kekuatan Arga terlalu besar.
Setelah mereka berada di dalam kamar, Arga menutup pintu dan memandang Siska dengan tatapan yang penuh hasrat. "Jangan khawatir, Siska. Ini akan membantu kita berdua."
Siska merasa tidak berdaya. Arga mendekat dan mulai membuka kancing jaket serta blus Siska. Dengan lembut namun tegas, ia menyingkirkan pakaian yang menghalangi, hingga payudara Siska yang penuh dengan ASI terlihat jelas.
Arga mendekat dan mulai menyusu langsung dari payudara Siska. Siska merasa campuran rasa sakit dan aneh, tetapi ia mencoba untuk tetap tenang. Namun, tangan Arga tidak diam. Ia mulai meremas payudara Siska dengan lembut namun penuh gairah, membuat Siska mengeluarkan desahan pelan.
"Pak Arga, tolong..." bisik Siska dengan suara tertahan antara rasa sakit dan kenikmatan.
Namun, Arga tidak berhenti. Ia terus menyusu dan meremas payudara Siska dengan lebih intens, menikmati setiap tetes ASI yang keluar. Siska merasa tubuhnya bereaksi dengan cara yang tidak bisa ia kendalikan. Desahannya semakin keras, dan ia merasa campuran rasa sakit dan gairah yang membingungkan.
Arga akhirnya berhenti setelah beberapa waktu. Ia menatap Siska dengan tatapan puas dan berkata, "Kamu melakukan pekerjaan yang baik, Siska. Teruslah seperti ini, dan kita akan baik-baik saja."
Siska hanya bisa mengangguk, merasa lelah dan bingung dengan apa yang baru saja terjadi. Ia merapikan pakaiannya dan keluar dari kamar pribadi Arga, mencoba menenangkan diri.
Hari itu, Siska terus merasa tidak nyaman. Namun, ia berusaha keras untuk tetap fokus pada pekerjaannya. Meskipun mengalami rasa sakit dan tekanan yang luar biasa, Siska tahu bahwa ia harus bertahan. Ia harus menjalani hari demi hari dengan penuh keberanian demi masa depan yang lebih baik.
Setiap kali rasa sakit itu datang, Siska mengingatkan dirinya bahwa ia melakukannya demi keluarganya, demi membayar hutang ibunya yang menumpuk. Ia berusaha meyakinkan dirinya bahwa semua pengorbanannya akan terbayar suatu hari nanti.
Namun, tekanan di kantor semakin berat. Arga terus memperhatikan Siska dengan intensitas yang sama. Ia sering memanggil Siska ke ruangannya, meminta bantuan dan kadang mengulangi kejadian yang sama. Siska merasa semakin tertekan dan bingung, tetapi ia tidak memiliki pilihan lain selain bertahan.
Di tengah segala kesulitan ini, Siska mulai menyadari bahwa ia harus menemukan cara untuk keluar dari situasi ini. Ia harus menemukan kekuatan dalam dirinya untuk menghadapi Arga dan segala tekanan yang ada. Siska tahu bahwa perjalanan ini masih panjang dan penuh dengan rintangan, tetapi ia bertekad untuk tetap kuat dan tegar.
Meskipun hari-hari di kantor terasa semakin berat, Siska terus menjalani tugasnya dengan penuh tanggung jawab. Ia berusaha sebaik mungkin untuk menyeimbangkan antara pekerjaannya sebagai sekretaris dan kebutuhan medis Arga. Di balik semua tekanan dan rasa sakit, Siska tahu bahwa ia harus bertahan demi masa depan yang lebih baik.
Dalam hati, Siska berharap suatu hari nanti ia bisa keluar dari cengkeraman Arga dan hidup dengan bebas. Namun, untuk saat ini, ia harus bertahan dan menghadapi segala rintangan dengan kepala tegak. Ia harus menemukan kekuatan dalam dirinya untuk terus maju, meskipun perjalanan ini penuh dengan kesulitan dan tantangan.
Setiap hari adalah perjuangan, tetapi Siska bertekad untuk tidak menyerah. Ia tahu bahwa hidupnya telah berubah secara drastis, tetapi ia percaya bahwa suatu hari nanti ia akan menemukan kebahagiaan dan kedamaian yang selama ini ia cari. Hingga saat itu tiba, Siska akan terus bertahan, menghadapi setiap rintangan dengan penuh keberanian dan tekad.
Anda Mungkin Juga Suka





