Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mendarat di Hatimu yang Retak

Mendarat di Hatimu yang Retak

Liora Anindya mencintai angkasa, namun bagi Arlo Dirgantara, langit hanyalah memori pahit pengkhianatan. Sepuluh tahun berlalu, takdir mempertemukan mereka kembali. Arlo yang dulu hangat kini berubah dingin akibat luka masa lalu dari mantan tunangannya, seorang pramugari. Kehadiran Liora sebagai pramugari memicu trauma mendalam bagi Arlo. Di antara kenangan manis masa kecil dan kebencian pada seragam Liora, mampukah cinta menyembuhkan hati Arlo yang telah retak?
Bab
Bagikan

Bab 2

Ponsel di atas nakas bergetar hebat, menggeser posisinya perlahan hingga hampir jatuh ke lantai. Liora mengerang, menarik selimut lebih tinggi untuk menutupi kepalanya. Matanya masih terasa berat, sisa dari tangisan singkat semalam dan jam tidur yang berantakan karena jadwal terbang yang tidak manusiawi. Namun, getaran itu tidak berhenti. Dengan malas, ia meraba-raba permukaan meja dan menyambar benda pipih itu.

Nama "Mama" tertera di layar. Liora berdehem, mencoba menormalkan suaranya agar tidak terdengar seperti orang yang baru bangun tidur atau habis patah hati.

"Halo, Ma?"

"Liora! Kamu sudah bangun? Duh, Mama lupa kamu baru mendarat kemarin sore ya? Maaf, maaf. Tapi ini penting banget, Sayang," suara mamanya di seberang sana terdengar penuh semangat, kontras dengan suasana hati Liora yang masih mendung.

Liora duduk bersandar di kepala ranjang, memijat pangkal hidungnya. "Penting kenapa, Ma? Ada apa?"

"Ingat Tante Ratna, kan? Sahabat Mama yang dulu rumahnya di sebelah kita pas di Bandung. Tadi pagi dia telepon Mama. Ternyata mereka sudah balik ke Jakarta! Dan kamu tahu apa yang lebih luar biasa? Anaknya, Arlo, sekarang jadi arsitek sukses di sini. Mama sudah janji sama Tante Ratna kalau kita bakal makan malam bareng besok malam."

Jantung Liora seakan berhenti berdetak sesaat. Nama itu lagi. Sosok yang kemarin lusa membuatnya merasa seperti orang asing di rumah sendiri.

"Ma... Liora nggak bisa. Jadwal terbang Liora padat banget," bohong Liora. Padahal, dia punya jatah libur dua hari.

"Jangan bohongin Mama, Liora Anindya. Mama sudah tanya Siska, katanya kamu libur dua hari ke depan. Pokoknya nggak ada alasan. Tante Ratna pengen banget ketemu kamu. Arlo juga pasti senang ketemu teman kecilnya, kan?"

Liora tersenyum getir. Senang? Arlo hampir pingsan karena ketakutan dan menghinanya di depan umum. Mana mungkin dia senang. Tapi, Liora tahu sifat mamanya. Sekali bilang harus, maka tidak ada jalan keluar. Dengan berat hati, ia menyanggupi meski perutnya terasa mulas memikirkan pertemuan itu.

Sisa hari itu dihabiskan Liora dengan rasa gelisah yang tidak menentu. Dia mencoba mencari tahu tentang Arlo melalui media sosial. Tidak sulit menemukannya. Arlo Dirgantara, pemilik firma arsitektur Lazuardi Design. Fotonya terpampang di sebuah majalah bisnis digital. Wajahnya masih sama, tapi sorot matanya yang dulu jenaka kini berubah menjadi sangat dingin dan waspada.

Liora memberanikan diri. Dia mencari nomor telepon Arlo melalui kontak lama yang mungkin masih aktif, atau setidaknya mencoba mengirim pesan lewat media sosial. Ia hanya ingin meluruskan kejadian di bandara. Ia tidak mau pertemuan besok malam menjadi bencana nasional.

"Arlo, ini Liora. Aku tahu kejadian kemarin mungkin bikin kamu nggak nyaman. Aku nggak tahu apa yang salah, tapi aku minta maaf kalau kehadiranku ganggu kamu. Besok mama kita mau ketemuan, aku harap kita bisa bersikap biasa saja."

Liora menekan tombol kirim. Lima menit, sepuluh menit, satu jam. Tidak ada balasan. Centang satu. Liora mencoba menelepon, namun yang terdengar hanyalah suara operator yang memberitahu bahwa nomor tersebut tidak dapat dihubungi.

"Dia beneran blokir aku?" gumam Liora tak percaya.

Rasa kesal mulai merayap di dadanya. Apa salahnya menjadi seorang pramugari? Pekerjaan ini halal, sulit didapatkan, dan dia bekerja keras untuk itu. Kenapa Arlo menatapnya seolah-olah dia adalah sampah masyarakat?

Malam harinya, Liora sulit memejamkan mata. Dia teringat masa kecil mereka. Arlo adalah orang yang selalu membelanya saat dia diejek karena terlalu kurus. Arlo yang mengajarinya cara tidak takut gelap. Sekarang, keadaan berbalik. Arlo yang tampak seperti orang yang hidup di dalam kegelapan yang ia buat sendiri.

Keesokan malamnya, dengan perasaan seperti tawanan yang menuju tiang gantungan, Liora bersiap-siap. Mamanya mewanti-wanti agar dia tampil cantik. Liora memilih terusan sederhana berwarna pastel, riasannya tipis, dan rambutnya dibiarkan tergerai-sangat berbeda dengan penampilannya saat bertugas. Dia berharap dengan tidak terlihat seperti "pramugari", Arlo tidak akan menyerangnya lagi.

Sesampainya di restoran, Tante Ratna sudah menunggu bersama seorang pria yang duduk membelakangi pintu masuk. Begitu Liora dan mamanya mendekat, pria itu berdiri. Itu Arlo. Dia tampak sangat rapi dengan kemeja putih yang pas di badannya.

"Liora! Ya ampun, cantik banget kamu sekarang!" Tante Ratna memeluk Liora erat.

Liora tersenyum ramah, lalu matanya beralih ke Arlo. Pria itu diam, wajahnya datar tanpa ekspresi. Tidak ada sapaan, tidak ada senyum.

"Arlo, kok diem aja? Ini Liora, masa lupa?" tegur Tante Ratna sambil menyenggol lengan anaknya.

Arlo hanya mengangguk singkat. "Malam," ucapnya pendek, nyaris tidak terdengar.

Makan malam itu terasa seperti penyiksaan bagi Liora. Kedua ibu mereka sibuk mengenang masa lalu, tertawa-tawa tentang betapa lucunya Arlo dan Liora dulu yang sering dibilang jodoh. Setiap kali kata "jodoh" keluar, Liora bisa merasakan aura dingin yang memancar dari sisi meja Arlo.

Arlo sama sekali tidak menyentuh pembicaraan. Dia lebih banyak menunduk atau sesekali memainkan ponselnya. Saat pelayan datang membawa menu, tanpa sengaja Liora bergerak untuk membantu merapikan gelas yang menghalangi jalan pelayan tersebut-sebuah kebiasaan refleks seorang pramugari yang selalu ingin melayani.

Melihat gerakan itu, mata Arlo tiba-tiba menajam. "Bisa nggak, kebiasaan 'melayani' itu ditinggal di pesawat aja?" ucap Arlo tiba-tiba, suaranya dingin dan menusuk.

Meja mendadak sunyi. Mama Liora dan Tante Ratna saling pandang dengan bingung.

"Arlo! Apa-apaan kamu ngomong begitu?" bentak Tante Ratna malu.

Arlo meletakkan sendoknya dengan denting yang cukup keras di atas piring porselen. "Aku cuma kenyang sama kepura-puraan, Ma. Maaf, aku ada urusan mendadak."

Arlo berdiri, menarik jasnya yang tersampir di kursi, dan berjalan pergi tanpa menoleh lagi. Liora terpaku, rasa malu dan marah bercampur jadi satu. Air matanya sudah di ujung mata, tapi dia sekuat tenaga menahannya.

"Liora, Maafkan Arlo ya... Tante nggak tahu kenapa dia jadi kasar begitu," Tante Ratna memegang tangan Liora dengan rasa bersalah yang mendalam.

Liora hanya bisa tersenyum paksa, meski hatinya hancur. Dia tahu ini bukan sekadar masalah benci profesi. Ada sesuatu yang jauh lebih rusak di dalam diri Arlo, dan sayangnya, kehadirannya justru menjadi garam di atas luka pria itu.

Setelah acara makan malam yang berantakan itu, Liora berdiri di parkiran restoran, menghirup udara malam yang dingin. Dia melihat mobil Arlo masih di sana, pria itu duduk di kursi kemudi dengan kepala bersandar pada setir. Liora mendekat, mengetuk kaca jendela dengan berani.

Arlo menurunkan kaca mobilnya sedikit. Matanya terlihat merah, entah karena marah atau menahan emosi lain.

"Kenapa kamu benci banget sama aku, Arlo? Apa salahku? Kalau soal seragam itu, aku kerja buat hidup, aku bukan orang jahat!" seru Liora, suaranya bergetar.

Arlo menatapnya lurus-lurus, senyum sinis tersungging di bibirnya. "Kamu nggak salah, Liora. Profesi kamu yang salah. Kamu cuma versi lain dari orang yang pernah menghancurkan hidupku. Jadi tolong, jangan pernah muncul lagi di depanku, apalagi dengan wajah sok polos itu."

Kaca mobil kembali tertutup rapat. Arlo menginjak gas dan meninggalkan Liora yang berdiri terpaku di bawah lampu jalan yang temaram. Liora mengepalkan tinjunya. Dia tidak pernah menyangka, teman masa kecil yang paling dia rindukan justru menjadi orang yang paling ingin menghapus keberadaannya.

Malam itu, di dalam kamarnya, Liora tidak menangis. Dia justru merasa tertantang. Ada rasa penasaran yang besar bercampur dengan keinginan untuk membuktikan bahwa Arlo salah. Dia ingin tahu, siapa wanita yang sudah membuat Arlo menjadi "monster" dingin seperti itu, dan dia bersumpah, dia tidak akan membiarkan Arlo menghina profesinya lagi.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Aliansi, Cinta Transaksional
8.6
Pernikahan aliansi di kalangan elite memiliki aturan unik: suami boleh memiliki kekasih asal memberi kompensasi setara kepada istri sah. Dean Ramosh memegang teguh prinsip ini dengan memberi Calista Syahrina nafkah seratus kali lipat dari selingkuhannya, bahkan setelah keluarga Calista bangkrut. Saat sang kekasih mendapat rumah murah, Calista dihadiahi Vila Northcoast No. 1 yang mewah. Di tengah desakan sosial agar ia bersyukur, Calista justru meminta cerai karena merasa bosan.
Sampul Novel Cinta Sejatimu Kembali
8.7
Empat tahun membina rumah tangga dan dikaruniai seorang anak ternyata tidak cukup bagi Lina untuk memenangkan hati Rian. Meski kasih sayangnya begitu tulus, Rian tetap terjebak dalam bayang-bayang masa lalu yang tak pernah pudar. Keadaan kian menyakitkan saat cinta pertama suaminya itu muncul kembali ke permukaan. Menyadari dirinya tak pernah dicintai, Lina kini dihadapkan pada pilihan pahit untuk melepaskan Rian demi kebahagiaan pria tersebut.
Sampul Novel Garwo, Satu Hati Sampai Nanti
8.4
Dalam filosofi Jawa, garwa bermakna belahan jiwa yang tercipta dari satu kesatuan utuh. Namun, realita pahit menghampiri saat pengabdian tulus dari titik nol justru dibalas dengan pengkhianatan. Meski kesetiaan diharapkan menjadi muara, badai perselingkuhan dan kehadiran orang ketiga justru terus mengguncang fondasi rumah tangga. Akankah ikatan suci ini tetap dipertahankan saat rasa hormat telah sirna? Ikuti kisah perjuangan batin yang penuh emosi ini.
Sampul Novel Godaan kakak iparku
9.5
Terjebak dalam situasi pelik, aku merasa tercekik oleh sikap kakak iparku yang posesif layaknya seorang kekasih. Perhatian yang ia curahkan kepadaku justru jauh lebih besar dibandingkan kepada istrinya sendiri. Namun, di balik perlakuan janggal yang melampaui batas tersebut, tersimpan sebuah rahasia gelap yang menyelimuti hubungan kami. Kini aku berdiri di tengah misteri besar yang membuatku ragu harus percaya atau tidak pada kenyataan yang ada.
Sampul Novel Janji yang Dikhianati, Cinta yang Terluka
9.1
Setelah mengetahui tunangannya berselingkuh dengan cinta pertamanya, seorang wanita diam-diam menggugurkan kandungan yang belum genap tiga bulan. Penderitaannya kian berat saat dipaksa mengosongkan kamar utama demi wanita itu. Puncaknya, pesta pertunangan mereka diubah menjadi acara penyambutan sang cinta pertama hingga dirinya dipermalukan di depan umum. Enggan bertahan dalam kehinaan, ia memotong gaun pertunangannya dan memilih menikahi pria dari kencan buta.
Sampul Novel PACAR SEWAAN UNTUK SEPEKAN
8.2
Demi menghapus citra gadis culun saat reuni SMA, Anggia nekat mengubah penampilannya secara drastis. Tak ingin datang sendirian, ia pun menyewa kekasih lewat biro jodoh demi memukau teman-temannya. Axel, pria yang menjadi pacar sewaannya, justru terpikat oleh kepribadian polos Anggia yang unik. Ketertarikan itu membuat Axel memilih berhenti dari pekerjaannya di biro jodoh dan bertekad mengejar cinta Anggia untuk menjadi pasangan yang sesungguhnya.