Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku

Mendadak Jadi Ibu Susu Anak Atasanku

Hidup Mariana hancur setelah dikhianati suami dan kehilangan bayinya. Di tengah duka, atasannya yang baru saja kehilangan istri meminta Mariana menjadi ibu susu bagi anaknya. Meski awalnya ragu, tugas ini membawa Mariana terjebak dalam dilema emosional. Kehangatan tak terduga mulai tumbuh di antara mereka, menciptakan benih cinta yang muncul di waktu yang salah. Bisakah perasaan tersebut bertahan di atas luka masa lalu dan situasi yang tidak semestinya?
Bab
Bagikan

Bab 1

“Astaghfirullah! Apa yang kalian berdua lakukan?!”

Suara jeritan Mariana menggema di kamar tidur yang dulu menjadi saksi cintanya dengan sang suami. Namun kini, pemandangan di hadapannya menghancurkan segalanya.

Tubuh Mariana limbung, tapi ia memaksa dirinya tetap berdiri. Napasnya tersengal sementara dadanya mulai terasa sesak.

Di atas ranjang mereka, suaminya berbaring tanpa busana. Dan yang lebih menghancurkan hatinya, wanita yang bersamanya adalah Bianca—adik kandung Mariana sendiri.

Mariana menatap mereka dengan mata yang bergetar, berusaha mencari penjelasan yang sebenarnya tak lagi diperlukan. Segala sesuatu sudah terpampang jelas di hadapannya.

“Kalian … bagaimana bisa?” suaranya nyaris tak terdengar.

Darah di tubuhnya terasa beku. Kepalanya berdenyut hebat, seolah-olah dunia yang selama ini ia kenal runtuh begitu saja. Air mata menggenang di pelupuk matanya dan mengaburkan pandangannya.

“Ka-kak ….” Bia tergagap, wajahnya pucat pasi saat buru-buru meraih selimut untuk menutupi tubuhnya.

Di samping Bianca, Bara tersentak kaget. Dengan gerakan tergesa-gesa, pria itu meraih celananya yang tergeletak di lantai lalu berlari menghampiri Mariana.

“Sayang, aku bisa jelaskan—”

“Jelaskan apa lagi, Bara?!” Mariana menyela dengan suara bergetar. “Aku melihat semuanya dengan mataku sendiri! Kalian berdua—!”

Kata-katanya terhenti di ujung lidah. Dadanya naik turun, dipenuhi rasa sesak yang tak tertahankan. Amarah bercampur dengan kepedihan mengoyak dada Mariana seperti sembilu.

Matanya kembali menatap ranjang yang berantakan. Selimut kusut, aroma tubuh mereka masih terasa di udara. Benar-benar menjijikan!

Tubuh Mariana melemah, seolah beban yang menyesakkan dadanya kini juga melumpuhkan seluruh dirinya. Lalu, tiba-tiba—

Rasa sakit luar biasa menusuk perutnya.

Mariana tersentak. Tangannya refleks mencengkeram perutnya yang membuncit. Rasa nyeri itu datang begitu kuat hingga kakinya bergetar hebat. Dan seketika itu juga, sesuatu yang hangat mengalir di antara kedua pahanya.

Darah.

Tarikan napasnya melemah sebelum akhirnya tubuhnya ambruk ke lantai.

“Kak Mariana!” Bianca menjerit panik sementara matanya membelalak sempurna.

“Sayang!” Bara hendak meraih tangannya, tetapi Mariana menepisnya dengan tatapan penuh kebencian.

“Ja-jangan sentuh aku …,” suaranya begitu lemah.

Bianca dan Bara seketika kelimpungan. Wajah mereka sama-sama dipenuhi kepanikan.

“Cepat panggil ambulans!” seru Bara pada Bianca.

Bianca segera meraih ponselnya dan menghubungi layanan darurat.

Sementara itu, Mariana menggigit bibirnya seraya menahan rasa sakit yang semakin tak tertahankan. Air mata terus mengalir dari sudut matanya, bukan hanya karena rasa sakit pada perutnya, tetapi juga luka yang jauh lebih dalam di hatinya.

Semua ini terasa seperti mimpi buruk. Mimpi buruk yang menjadi kenyataan.

***

Suara sirene ambulans memecah keheningan malam, menggantikan jeritan panik Bianca dan suara Bara yang terbata-bata menjelaskan situasi kepada operator darurat. Tubuh Mariana sudah hampir kehilangan seluruh tenaganya. Napasnya memburu, keringat dingin membasahi pelipisnya, dan nyeri di perutnya semakin menjadi-jadi.

Dalam pandangannya yang semakin kabur, Mariana merasakan tubuhnya diangkat ke atas tandu. Suara-suara di sekelilingnya terdengar samar, tetapi ia masih bisa merasakan dinginnya udara malam menyentuh kulitnya saat mereka membawanya keluar.

Seorang petugas medis dengan sigap memasangkan masker oksigen di wajahnya, sementara yang lain bergerak cepat memeriksa tekanan darahnya.

“Tekanan darahnya turun drastis!” suara paramedis itu terdengar tegang. “Detak jantung janin juga melemah. Kita harus bergerak cepat!”

Kata-kata itu menghantam kesadaran Mariana seperti tamparan keras.

Tidak. Tidak mungkin.

Kepanikannya bercampur dengan ketakutan yang mencekam. Rasa sakit di perutnya semakin menjadi, tetapi lebih dari itu, ada sesuatu yang jauh lebih menakutkan menghantui pikiran Mariana.

Tidak boleh terjadi apa-apa pada bayinya.

Mariana berusaha mengangkat tangannya, ingin menggenggam perutnya yang terasa semakin berat. Tapi tubuhnya terlalu lemah.

Bara naik ke dalam ambulans, wajahnya tampak begitu cemas. “Sayang, bertahanlah! Aku ikut denganmu,” suaranya bergetar.

Mariana ingin menjerit, ingin menolak kehadiran pria itu. Tapi yang keluar dari bibirnya hanyalah isakan lirih. Mariana terlalu lemah untuk mengusir pria itu.

Sesampainya di rumah sakit, Mariana segera dibawa ke ruang gawat darurat. Seorang dokter perempuan datang tergesa-gesa memeriksa kondisinya.

“Kita harus segera lakukan operasi. Pasien mengalami solusio plasenta—”

Mariana tak bisa memahami sepenuhnya istilah medis yang digunakan dokter, tetapi ia tahu satu hal. Saat ini bayinya dalam bahaya.

“Kumohon … selamatkan bayiku,” Mariana berbisik lemah, air matanya mengalir membasahi pipi.

“Tim segera bersiap. Kita ke ruang operasi sekarang!”

Para perawat mendorong ranjang Mariana dengan cepat. Langit-langit rumah sakit tampak berputar dalam pandangannya yang semakin mengabur. Suara-suara mulai terdengar jauh seperti berada di ujung terowongan.

Sebelum semuanya menjadi gelap, Mariana hanya bisa berdoa.

‘Ya Allah, selamatkan bayiku.’

***

Beberapa jam kemudian,

Suara monitor detak jantung berdengung samar di ruangan serba putih itu. Aroma khas antiseptik menusuk hidung, bercampur dengan hawa dingin yang terasa menusuk hingga ke tulang.

Mariana membuka matanya perlahan. Pandangannya buram, tubuhnya terasa lemah, sementara nyeri masih berdenyut di perutnya.

Ada sesuatu yang hilang. Perasaan kosong itu mencengkeram hatinya sebelum pikirannya bisa sepenuhnya sadar.

“B-bayi … bayiku …,” suaranya serak, hampir tak terdengar.

Seorang perawat yang berjaga segera menghampiri. Tatapan wanita itu penuh belas kasihan, dan itu sudah cukup bagi Mariana untuk memahami segalanya.

Tidak—

Pintu kamar terbuka, seorang dokter masuk dengan ekspresi tenang namun penuh simpati. Ia berhenti di samping ranjang, lalu menatap Mariana sejenak sebelum berbicara,

“Nyonya Mariana Cempaka, kami sudah berusaha semampu kami.”

Napas Mariana tercekat. Tangannya mencengkeram selimut erat. “B-bayi saya. Bagaimana bayi saya, Dok?”

Dokter menghela napas. “Pendarahan yang terjadi terlalu banyak. Saat tiba di rumah sakit, kondisi janin sudah sangat lemah.”

Mariana menggeleng pelan, matanya mulai basah. “Tidak ….”

Dokter melanjutkan dengan suara lembut. “Kami sudah mencoba segalanya, tapi kami tidak bisa menyelamatkannya. Saya turut berduka.”

Dunia Mariana terasa runtuh. Air matanya jatuh tanpa suara sementara tangannya meraba perutnya yang kini kosong.

Tidak ada lagi kehidupan di sana.

Bayi yang selama ini ia nantikan, yang tinggal dua minggu lagi seharusnya ia lahirkan—hilang dalam semalam. Semua harapan yang ia bangun runtuh begitu saja.

Suara pintu terbuka di sampingnya. Langkah kaki terdengar mendekat.

Mariana tak perlu menoleh untuk tahu siapa yang datang.

Bara.

Pria itu berdiri di ambang pintu dengan wajah penuh penyesalan, tetapi Mariana tak ingin melihatnya. Tak ingin mendengar satu kata pun dari pria itu.

“Sayang, aku—”

“Keluar.” Suara Mariana begitu lirih tetapi juga tajam.

Bara terdiam.

“Keluar dari hidupku, Bara!” Mariana mengulangi, kali ini suaranya pecah bersama isak tangis yang tak bisa lagi ia tahan. “Kamu membunuh anak kita. Aku nggak mau melihatmu lagi.”

Isakan pilu itu memenuhi seluruh ruangan kamar. Untuk pertama kalinya, Mariana membenci Bara lebih dari apa pun.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Broken home
9.2
Dalam balutan genre romansa modern yang menyentuh, kisah ini menyoroti dinamika pahit sebuah keluarga yang mengalami keretakan. Di tengah konflik internal dan luka emosional yang mendalam akibat kondisi broken home, para karakter berjuang menemukan arti cinta dan kedamaian. Narasi ini mengeksplorasi bagaimana hubungan antarmanusia diuji saat fondasi rumah tangga mulai hancur, memaksa setiap individu untuk menghadapi kenyataan sulit dalam pencarian kebahagiaan mereka.
Sampul Novel Cinta  Sang Dokter Untuk Gadis Nakal
8.5
Hidup Ayyara hancur setelah menjadi korban pelecehan oleh kekasihnya sendiri. Ia hamil tanpa tahu siapa ayah bayinya karena telah dijadikan bahan taruhan. Di tengah keputusasaan untuk mengakhiri hidup, seorang dokter tampan dan istrinya datang menyelamatkan nyawanya. Secara mengejutkan, sang istri justru memintanya untuk menikah dengan suaminya karena alasan tertentu. Kini Ayyara terjebak dalam dilema besar atas tawaran pernikahan yang tak terduga tersebut.
Sampul Novel Gadis Penghibur Tuan CEO
8.5
Ajeng Kirei Aswari dijual ayahnya ke tempat prostitusi saat berusia 18 tahun. Selama sepuluh tahun, ia menjalin hubungan dengan Reynold Bill Timur, CEO sukses yang menjadi tumpuan hidupnya. Namun, keluarga Bill menentang status Ajeng dan menjodohkan Bill dengan wanita sederajat. Tak mampu menolak, Bill tetap membawa Ajeng ke dalam skandal di tengah pernikahannya. Mampukah Ajeng bertahan bersama Bill meski harus menyakiti perasaan wanita lain yang tak bersalah?
Sampul Novel Ketika Karma Berbicara
8.5
Setelah delapan tahun menempuh pendidikan di Jerman, kepulanganku untuk memimpin Cakra Group justru disambut kekacauan. Di lobi perusahaan keluarga, seorang wanita tiba-tiba menyerangku secara fisik dan menuduhku menggoda kekasihnya, Bakti Rahadi, yang kini menjabat sebagai direktur di sana. Tak hanya mempermalukanku di depan umum, ia bahkan merusak tas edisi terbatas serta segel berharga dari ayahku, sambil meremehkan barang-barangku sebagai barang palsu. Mereka tidak menyadari bahwa ganti rugi atas seluruh barang asli milikku itu tak akan pernah sanggup mereka bayar seumur hidup.
Sampul Novel Mencintai Gadis Amnesia
8.5
Waktu belasan tahun bersama Amelia tak mampu menumbuhkan rasa di hati Adib. Ia justru jatuh hati pada Adiba, gadis amnesia yang ditolongnya enam bulan lalu. Meski ditentang orang tua dan ditekan keluarga Amelia, Adib tetap ingin menikahi Adiba. Sang ibu memberi syarat: Adib harus menemukan keluarga kandung Adiba dan siap menanggung segala risiko. Mampukah Adib memperjuangkan cintanya dan bertahan saat badai besar mulai mengancam kebahagiaan mereka?
Sampul Novel Menjadi Ibu Untuk Anak Pelakor
7.9
Niat awal hanya ingin menuruti keinginan cucu laki-lakinya yang berusia empat tahun untuk bermain game di komputer. Namun, sebuah klik tidak sengaja justru membuka rekaman video yang sangat mengejutkan. Di layar, terlihat adegan intim yang panas. Setelah bergegas menutup mata sang cucu, wanita ini menyadari kenyataan pahit. Pria di video itu adalah suaminya sendiri, yang selama ini mengaku impoten, sedang bermesraan dengan cinta pertamanya.