Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mendadak Dinikahi Om-Om

Mendadak Dinikahi Om-Om

Pasca kecelakaan hebat, Nala terjebak dalam pernikahan darurat demi membiayai pengobatan ibunya. Ia terpaksa menikahi Bastian Wilantara, pria asing yang menjadi satu-satunya penolong. Meski awalnya hambar, benih cinta mulai tumbuh di antara mereka. Namun, Nala mencium kejanggalan pada rahasia yang disembunyikan sang suami. Saat kebenaran pahit di balik alasan Bastian menikahinya terungkap, Nala pun bimbang apakah harus mengakhiri rumah tangga mereka.
Bab
Bagikan

Bab 2

Senyuman Nala sama sekali tak indah dipandang, karena ia memberikan senyuman kaku, sementara tangannya digenggam lembut oleh laki-laki yang Nala yakini bernama Pak Muh. Langkah kakinya mengayun pelan sesuai dengan irama musik yang mengiringi, di sana ada sosok laki-laki gagah nan tampan yang tengah menunggu kedatangannya.

"Iya sih masih kelihatan oke, ganteng juga. Tapi, Ya Lord, masak jodoh gue seumuran bapak-bapak gini sih, pasti nggak worth it buat diajak ngewe."

Nala ingin sekali muntah, melihat laki-laki itu tersenyum lembut kearahnya seolah menerimanya dengan sepenuh jiwa. Tangannya dilepas lembut oleh Pak Muh dan dialihkan pada pengantin laki-laki bernama Bastian Wilantara. Entah bagaimana latar belakang laki-laki itu, Nala sendiri tak tau sama sekali, karena satu-satunya hal yang dirinya ketahui adalah usia laki-laki itu yang sepantaran dengan mamanya.

Bastian dan Nala mengucapkan janji suci pernikahan dihadapan pendeta dan para saksi, sebelum akhirnya bibir keduanya dipertemukan untuk pertama kali. Bayangan mamanya memberi nasihat untuk berbakti pada suaminya, membuat Nala lekas mengalungkan kedua tangannya sebelum ciuman itu berakhir. Akhirnya, ciuman yang hendak terlepas itu dapat beratahan sedikit lebih lama saat Nala juga membalas ciuman suaminya.

Prok ... prok ... prokk

Piwittt

"Kebablasan ya, Bas. Awas jangan lama-lama, lanjut nanti malam ajaa!"

Entah suara lantang siapa itu, yang jelas setelahnya sorakan para undangan semakin riuh terdengar. "Bangsat! Congor siapa sih itu, nggak sopan banget." Nala memberikan tatapan yang ramai disebut Bombastic Side Eye pada laki-laki yang duduk dibangku paling depan dan kini tengah tertawa lebar tanpa beban.

"Akh!" Nala memekik pelan saat tiba-tiba saja pinggangnya dirangkul posesif. Saat ia menoleh, yang didapatinya adalah senyuman manis Bastian.

Mudah bagi Bastian untuk membaca raut wajah kesal Nala. Ia memajukan wajahnya agar lebih dekat dengan telinga istrinya dan berbisik, "Udah, nggak usah diladenin."

Ah, kini Nala tau jika laki-laki yang baru saja resmi berstatus sebagai Suami yang sah dimata agama, negara, dan Tuhan ini adalah tipikal orang yang peka dengan keadaan sekitar. Nala membalas lembut senyuman itu sembari melepaskan dengan perlahan tangan yang masih melilit pinggangnya.

Pesta pun terus berlanjut hingga malam hari, kedua pengantin tampak sibuk memberikan senyuman hangat-- ralat, hanya berpura-pura memberikan senyuman hangat sebagai balasan dari do'a yang dilontarkan para tamu undangan. Menyalami satu per satu tamu yang datang benar-benar terasa menguras semua tenaga yang ada.

Sorot mata Nala langsung membola saat melihat kehadiran kawan-kawannya yang tampak tersenyum ke arahnya. Seketika saja rasa lelahnya hilang.

"Nala cantik banget sih hari ini, suaminya juga ganteng banget," ucap Vivi dengan senyuman lebar, garis senyum itu tercetak dengan jelas.

Diana yang berada tepat di belakang Vivi lekas mendorong pelan wanita itu, membuat langkah kakinya yang tadi sempat macet kembali berjalan mulus. "Maaf baru dateng, tadi kita musti nenangin orang yang mau bun--"

Hepppp

Tiba-tiba saja tangan besar Argi langsung membekap mulut Diana begitu saja, membuat Diana tak bisa melanjutkan ucapannya. Tangannya menepuk heboh lengan Argi, meminta untuk segera dilepaskan. Nafasnya terasa sesak.

Kening Nala berkerut melihat reaksi teman-temannya yang langsung memberikan tatapan heran untuk Diana yang sudah bebas dari bekapan tangan besar Argi. "Kenapa?" tanyanya dengan raut wajah penasaran. "Dewa mana? Kok nggak bareng kalian?" Temannya kurang satu, apakah yang dimaksud Diana tadi adalah Dewa?

"Oh--Dewa? Anu dia lagi mencret, Nal. Semalem abis ditraktir Teguh makan ceker mercon yang di perempatan jalan deket lampu merah itu loh," sahut Argi dengan cepat yang lekas mendapat anggukan kepala dari yang lainnya. "tenang aja, Nal. Si Dewa juga udah nitip amplop kok sama gue."

Teman-teman Nala bukan tak tau bagaimana latar belakang pernikahan sahabatnya itu. Meskipun sedih tapi juga tak bisa membantu apapun, selain do'a supaya Nala diberi ketabahan dalam menjalani pernikahan tak diharapkan tersebut. Setelah berfoto memasang wajah ria dengan teman-temannya dan melupakan sosok suaminya dalam waktu kurang lebih lima menit, kening Nala kembali dibuat berkerut melihat interaksi antara Argi dan laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut.

"Tenang aja, Om. Ini obat ampuh banget biar nggak cepet loyo, bukannya mau ngeremehin Om nih ya, tapi umur emang nggak bisa dibohongin, Om." Tangan Argi bergerak pelan memasukkan sesuatu ke dalam kantung kemeja yang diguanakan Bastian. Bastian sendiri tampak menaikkan kedua alisnya dan membiarkan benda asing itu tersimpan masuk ke dalam sakunya, sebelum akhirnya Argi menepuk pelan pundaknya dua kali. "semoga sukses, Brother." Setelahnya Argi lekas berlalu pergi. Sok akrab memang.

Nala menghembuskan nafas kesal saat melihat gerombolan temannya itu malah asik memakan berbagai macam hidangan yang tersedia. Memang, soal makanan tidak akan dilewatkan oleh mereka. Otak teman-temannya itu bisa dibaca dengan mudah, kaum mendang mending dan tak mau rugi seperti dirinya sendiri.

Melihat arah pandang Nala, Bastian pun sedikit mencondongkan tubuhnya agar bisa menjangkau Nala. "Laper? Mau aku ambilin makan dulu?"

Bisikan itu begitu dekat di telinga Nala, membuatnya terkejut karena tiba-tiba ada angin berhembus. Buru-buru ia menggelengkan kepalanya. "Nggak usah, nanti aja makannya."

"Yakin? Masih sekitar satu jam lagi acaranya."

Nala memutar bola matanya malas. Memangnya siapa lagi sih tamu yang belum datang? Kok banyak banget perasaan. Itu saja tidak ada yang dirinya kenal selain teman-temannya. "Iya, nanti aja. Tanggung. Udah deh, jangan bawel." Bastian menganggukkan kepalanya, tak berniat memaksa jika si pemilik tubuh tak mau.

Satu jam setelahnya acara yang teramat panjang itupun benar-benar berakhir. Orang pertama yang merasa lega tentu saja Nala, karena secepatnya ia bisa melepaskan gaun yang berat ini dari tubuhnya.

"Biar saya bantu."

Kening Nala langsung berkerut saat melihat laki-laki yang usianya lebih cocok sebagai papanya itu melangkah mendekat ke arahnya, tangannya terulur untuk membuka resleting gaun yang dikenakannya. Tentu saja Nala sendiri tak bisa menolaknya, sebab tangannya tak mampu menjangkau bagian belakang tubuhnya.

Huh--Memang gaun pernikahan di-design seperti ini kah? Dibuat sulit membuka resleting seorang diri agar pengantin wanita meminta bantuan pada suaminya untuk membukanya?

Nala menahan napas saat merasakan hembusan hangat itu menerpa punggungnya yang begitu polos. Bulu kuduknya merinding seketika, sebelum akhirnya ia memejamkan mata. Tiba-tiba saja otaknya malah membayangkan dirinya bersenggama dengan laki-laki tua membuatnya terasa ingin muntah, palingan rasanya cuma kaya digelitiki capung, nggak bakalan berasa.

"Om, kalau mau minta malam ini, mendingan obat dari temen gue diminum dulu deh, Om. Gue nggak mau ya Om kalau tiba-tiba Om loyo pas gue belum selesai. Nggak berharap Om bakalan puasin gue juga kok, gue sadar diri juga gimana kondisi partner-nya."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel AYO, Kawin Kontrak!
8.2
Chilla adalah wanita karier sukses yang mapan, namun nasib asmaranya tak seindah pekerjaannya. Trauma melihat kegagalan pernikahan sang kakak membuatnya pesimis akan cinta. Meski begitu, keinginan kuat memiliki anak mendorongnya mencari pria berkualitas untuk menjalani pernikahan kontrak. Rencana yang semula murni demi keturunan ini berubah rumit saat nafsu dan perasaan cinta mulai tumbuh, membawa Chilla ke dalam pusaran emosi yang tak terduga dalam hidupnya.
Sampul Novel Hitungan Mundur Di Atas Kepala
8.1
Kemampuan melihat angka kematian di atas kepala orang terdekat membuatku dicap pembawa sial. Ketiga kakak laki-lakiku membenciku setelah kakek, ayah, dan ibu tewas dalam sehari sesuai ramalanku. Anehnya, adik perempuan kami yang kelahirannya merenggut nyawa ibu justru dipuja sebagai pembawa berkah. Di hari ulang tahunku yang kedelapan belas, cermin menunjukkan hitungan mundur ajalku sendiri. Usai membeli kotak abu, aku memasak hidangan terakhir untuk berkumpul bersama kakak-kakakku. Namun, hingga waktu itu habis, tak ada satu pun dari mereka yang datang menemui diriku.
Sampul Novel Istri Bodoh Yang Terlalu Percaya Suaminya
8.0
Risa adalah istri muda yang pemalu dan menjalani hidup sederhana bersama Dika di desa. Namun, ketenangan itu terusik saat Hardiman, tetangga licik di balik topeng ramahnya, mulai masuk ke kehidupannya. Lewat ancaman halus dan permainan terlarang, Risa terjebak dalam dunia kenikmatan yang belum pernah ia kenal. Meski awalnya merasa terpaksa, ia justru tenggelam dalam candu hasrat yang membara. Batas moral pun hancur, dan kini Risa tidak akan pernah bisa kembali lagi.
Sampul Novel Kebahagiaan setelah Badai
8.6
Pernikahan Rachel Sonya dengan Zack Gundam hancur setelah rahasia kelam terungkap. Rachel tidak sengaja mendengar Zack mengakui bahwa dialah dalang di balik cedera lengannya, demi memajukan karier Selvia sebagai pelukis terkenal. Meski lengan Rachel kini terancam nekrosis, Zack sengaja membiarkannya demi ambisi tersebut. Sadar pria yang dianggap penyelamatnya telah menipu dirinya selama tiga tahun, Rachel memutuskan untuk pergi dan meninggalkan cinta palsu itu.
Sampul Novel Kejutan Untuk Pengkhianat Cinta
9.4
Adele mengambil keputusan nekat untuk tetap melangsungkan pernikahan yang dijadwalkan setengah bulan lagi, tetapi dengan satu perubahan besar: mengganti calon suaminya. Tanpa ragu, ia meminta staf pernikahan merahasiakan rencana ini dari Darren, pasangannya yang sibuk. Bagi Adele, pergantian pengantin di menit-menit terakhir ini adalah sebuah kejutan sekaligus hadiah pemungkas yang ia siapkan khusus untuk membalas pengkhianatan sang kekasih.
Sampul Novel Kini Aku Melupakanmu
9.8
Demi mewujudkan pernikahan impian Clara, cinta pertamanya yang divonis kanker, Ryan Badawi mendesak Mona untuk meminum obat amnesia sementara selama tiga hari. Ryan berjanji akan memberikan penawar dan menikahinya kembali setelah urusan itu selesai. Tanpa ragu, Mona menelan obat tersebut di hadapan Ryan. Namun, Ryan tidak menyadari bahwa formula amnesia itu adalah hasil riset pribadi Mona yang sebenarnya sama sekali tidak memiliki obat penawar. Dalam tiga hari, ingatan Mona tentang Ryan akan terhapus selamanya.