
Mencintai Anak Kakakku
Bab 3
Chandra dan Ara sudah memasuki halaman mansion, dengan melewati gerbang tinggi dan mewah. Baru melihat gerbangnya saja pasti orang sudah dapat menebak jika pemilik mansion itu bukanlah orang sembarangan.
Mansion yang tidak pernah sedikitpun berubah dari waktu ke waktu, hanya perubahan pada cat dindingnya saja. Sang pemilik rumah memang tidak ingin sedikitpun mengubah mansion itu, sebab mansion miliknya itu begitu banyak kenangan dari anak-anak mereka kecil, hingga anak-anak mereka sudah tumbuh besar bahkan memiliki keluarga masing-masing. Hanya si bungsu saja yang belum menikah.
Mobil yang dikendarai Chandra sudah berhenti tepat di depan mansion. Pria remaja itu keluar terlebih dahulu tanpa memperdulikan Ara yang masih berada di dalam mobilnya.
Baru beberapa langkah, Chandra sudah menghentikan langkahnya, Chandra berdecak dan kembali menghampiri ke arah mobilnya karena terdengar Ara mengetuk-ngetuk kaca mobil.
Dengan malas Chandra membukakan pintu mobil. “Ada apa Ara?” katanya.
“Kenapa meninggalkan aku? kan kening Ara sedang sakit,” sahut Ara beralasan.
“Yang sakit itu keningmu bukan tangan dan kakimu, kamu bisa membuka pintu mobil sendiri dan kakimu juga mampu untuk berjalan,” pungkas Chandra.
Ara cemberut. “Ya sudah sana, kenapa Andra harus kembali lagi.”
Chandra sudah merasa pusing, belum apa-apa Ara tinggal di sini, sudah membuat Chandra menjadi repot.
“Ya sudah sekarang mau apa? mau digendong atau mau berjalan sendiri?” tanya Chandra.
“Aku bisa sendiri,” ketus Ara dan berjalan terlebih dahulu masuk ke dalam Mansion.
Candra mendengus kesal namun pria remaja itu juga ikut masuk ke dalam mansion. Jika ingin masuk kenapa harus merepotkannya untuk membukakan pintu, pikir Chandra.
“Assalamualaikum oma, opa, aku datang,” panggil Ara penuh dengan semangat.
Tidak lama sepasang suami istri itu keluar dar salah satu ruangan yang tak lain adalah ruang keluarga. Oma Cyra dan opa Chaka sejak tadi memang sudah menunggu kedatangannya.
“Waalaikum salam,” sahut Cyra.
Ara segera berhambur memeluk wanita paruh baya itu. “Oma aku rindu.”
“Iya Oma juga merindukanmu? apa kabar kamu sekarang?” tanya Oma Cyra lembut.
“Alhamdulilah Oma aku dalam keadaan baik, Oma sendiri bagaimana?”
“Oma dan opa juga baik.”
“Alhamdulilah Oma kalau begitu.”
Ara beralih memeluk opa Chaka. “Opa.”
“Ara kenapa baru datang? seharusnya kamu datang sejak empat puluh lima menit yang lalu,” tanya Opa Chaka.
Gadis Remaja itu hanya menyengir kuda, Chandra menghampiri kedua orang tuanya mencium punggung tangan sepasang suami istri itu.
“Bagaimana kami tidak telat Dad, Ara dengan seenaknya berhenti di taman untuk sekedar bermain,”sindir Chandra.
Ara mendelik ke arah Chandra. “Dasar pengadu.”
Pria remaja itu tidak peduli dengan perkataan Ara, Chandra merasa memang yang dikatakannya benar adanya.
“Oh ternyata cucu oma mau main dulu,” ucap oma Cyra.
“Hehehe iya oma, habis taman bermain yang di ujung sana selalu menarik perhatianku,” kata Ara.
“Ya sudah Bun, Dad, aku pergi ke kamar dulu ya,” kata Chandra yang sudah ingin segera melarikan diri dari obrolan yang membosankan menurut Chandra.
“Andra tunggu,” panggil Cyra lembut.
“Iya Bun,” sahut Chandra.
“Sekalian kamu antarkan Ara ke kamarnya pasti ia sudah merasa lelah, secara Ara menempuh perjalanan jauh.”
“Kenapa harus diantar Bun? Ara juga tahu kan kamarnya berada di sebelah mana.”
Ara juga mengangguk untuk membenarkan perkataan dari Chandra.
“Ara tidak menempati kamar yang biasa dia tempati, bunda menyiapkan kamar baru yang lebih besar untuknya. Kan mulai saat ini Ara akan tinggal bersama kita jadi Menurut Bunda kamar yang biasa Ara tempati kurang begitu nyaman untuknya,” jelas Bunda Cyra.
“Sebenarnya tidak perlu harus ganti kamar Oma, kamar yang biasa Ara tempati juga sudah sangat nyaman kok,” sahut Ara.
“Tidak Sayang menurut Oma kamar itu kurang begitu nyaman untukmu, jadi setelah Oma mendengar kamu ingin tinggal bersama dengan kami, oma sangat antusias mempersiapkan semuanya.”
Ara kembali memeluk oma Cyra. “Aaahh oma terima kasih, dan maaf telah membuat Oma menjadi repot karena Ara tingggal di sini.”
“Tidak Ara, oma tidak sama sekali direpotkan, yang ada oma sangat senang sekali kamu bisa tinggal di sini dan menemani oma dan opa.”
Ara mengangguk dengan tersenyum ke arah kedua orang tua itu.
“Iya yang dikatakan oleh oma mu benar, kami sangat senang saat mendengar kabar Jika kamu ingin tinggal bersama kami di sini,” ucap opa Chaka menimpali.
“Memang itu tujuan Ara berada di sini oma, opa,”sahut Ara.
‘Dan tentunya ingin selalu dekat dengan Andra.’
“Ya sudah cepat antarkan Ara ke kamar yang baru, kamar yang kemarin Andra lihat bunda keluar itu,” kata oma Cyra lagi.
“Iya Bun,” sahut Chandra.
Chandra melirik ke arah Ara. “Ayo,” katanya sebal.
“Oma, Opa Ara pergi ke kamar dulu ya.”
Oma Cyra dan opa Chaka menganggukkan kepalanya. “Ya sudah selamat istirahat Ara.”
Candra berjalan terlebih dahulu meninggalkan gadis itu di belakangnya, Ara terlihat berlari kecil untuk mengejar langkah kaki dari pria remaja itu, Chandra sengaja memilih menggunakan tangga dari pada harus menggunakan lift.
“Andra tunggu, Kenapa cepat sekali sih!” ucap Ara.
“Cepatlah kau berjalan seperti keong,” sahut Chandra tanpa menoleh ke belakang.
Ara cemberut dan semakin mempercepat langkahnya. Setelah berada di lantai tiga, Chandra berhenti di depan pintu salah satu kamar yang letaknya tidak jauh dari kamar miliknya.
“Ini kamarmu,” ucap Chandra datar.
“Kamar ini?” tunjuk Ara.
“Ya.”
“Kenapa tidak bilang dari tadi, bilang aja kalau kamar Ara berada di samping kamar Andra. Ara kan tidak usah cape-cape berjalan cepat.”
“ Ya sudah sana masuk,” ucap Chandra tanpa ingin menjawab perkataan Ara.
Ara menahan tangan Chandra agar pria remaja itu tidak meninggalkannya.
Candra menghela nafas panjang, belum selesai Ara membuatnya susah.
“Apa lagi? tugasku sudah selesai mengantarkanmu.”
“Kata siapa udah selesai, Ara masih butuh bantuan Andra.”
“Apa?” katanya malas.
“Apa di dalam kamar ini sudah aman?”
Chandra mengerutkan keningnya. “Aman?” ulangnya.
Ara mengangguk. “Di dalam sana sudah aman dari kecoa kan? Ara takut jika binatang itu sampai ada di kamar Ara.”
“Ada, bahkan sangat banyak,” sahut Chandra asal, ia ingin mengerjai Ara.
“Iih Andra, kalau begitu Ara tidak mau masuk, Ara tinggal di kamar Chandra saja,” ucap Ara.
Dan tanpa permisi lagi ia berjalan menuju kamar milik Chandra.
“Ara mau ke mana kamu!” tanya Chandra, dan segera menyusul langkah kaki Ara.
“Mau istirahat, Ara sudah capek,” sahutnya tanpa menoleh ke arah Chandra.
Ara masuk begitu saja ke kamar Chandra tanpa meminta izin terlebih dahulu kepada sang pemilik kamar. Chandra mendengus kesal dan segera ikut masuk ke dalam kamarnya, ia melihat Ara sedang berbaring di atas tempat tidur miliknya.
“Ara jika ingin beristirahat, sana pergi ke kamarmu,” usir Candra.
“Tidak mau, Ara ingin di sini saja, jika mau Chandra saja yang di kamar sana, Ara tidak mau tidur bersama kecoa,” sahutnya.
“Aku hanya bercanda, tidak ada kecoa di kamarmu. Mana mungkin ada kecoa bersarang di mansion ini, banyak pelayan yang akan membersihkan kamar-kamar di Mansion.”
“Tidak mau.” Ara kekeh tidak mau berpindah kamar.
“Ara,” ucap Candra menekan perkataannya.
Gadis remaja itu bergeming di tempatnya, Ara malah memejamkan mata dengan menyilangkan kedua tangannya di perut.
“Pindah ke kamarmu atau ...” ucap Chandra menggantungkan perkataannya.
Ara merubah posisinya menjadi duduk. “Atau apa?
Chandra merasa sudah habis kesabarannya, Ara terus-terusan membuat Kepalanya pusing.
“Kenapa diam?” ucap Ara lagi.
Chandra berjalan mendekati Ara menarik tangan gadis itu agar ia turun dari tempat tidurnya. “Turun Ara, cepat pergi ke kamarmu.”
“Tidak mau, Ara sudah bilang jika Ara di sini dan kita bertukar kamar.”
Chandra menarik tangan Ara untuk keluar dari kamarnya namun gadis itu berhasil lepas dan kembali berbaring di atas tempat tidur milik Chandra lagi.
Chandra lagi dan lagi ingin mengeluarkan Ara dari kamarnya, namun baru ingin membuka handle pintu, Ara sudah berlari kembali ke atas tempat tidur.
Karena kesal Chandra mengangkat tubuh Ara, namun Ara tidak menyerah ia menggigit bahu Andra, dan karena Andra merasa sakit ia melepaskan tangannya pada tubuh Ara, gadis itu terjatuh ke atas tempat tidur dan karena Chandra kurang seimbang untuk berdiri, ia ikut terjatuh dan menindih tubuh Ara.
Pandangan mereka bertemu satu sama lain.
Bersambung ....
Anda Mungkin Juga Suka





