Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mencari Cinta Sejati

Mencari Cinta Sejati

Anggita Anggraini mendambakan sosok yang mampu mencintai dirinya apa adanya tanpa syarat. Namun, rentetan kegagalan dalam asmara justru membuat Gita kian menutup diri dan membangun tembok perlindungan demi menghindari luka baru. Di tengah rasa trauma yang mendalam, ia harus berjuang menghadapi keraguan hatinya sendiri. Akankah Gita berhasil meruntuhkan benteng tersebut dan menemukan seseorang yang tulus? Ikuti perjalanan emosional Gita dalam menjemput cinta sejati.
Bab
Bagikan

Bab 3

Klunting!

Pak Dion

[Mbak, tidak jadi berangkat minggu depan. Nunggu teman dulu, biar sekalian.]

Satu pesan masuk yang ternyata dari pemimpin LPK. Sedih, karena kepergianku harus tertunda padahal aku sudah tidak sabar untuk pergi dari rumah. Segera aku balas untuk menanyakan kepastian kapan berangkat. Buat antisipasi, jika memang tidak jadi aku akan mencari pekerjaan lain. 

Gita

[Baik Pak, terus diundur sampai kapan Pak?] tanyaku sedikit takut, tapi untung saja uang pendaftaran belum aku berikan. 

Pak Dion

[Habis lebaran mbak, biar sekalian. Nanti saya kabari lagi.]

Gita

[Baik Pak. Saya tunggu kabar baiknya.] 

Tapi kalau aku pikir-pikir ada baiknya juga, dengan begitu aku masih bisa menjalani bulan  Ramadhan di rumah bersama keluarga. Ku letakkan ponsel di atas meja belajar lagi dan kembali ku teruskan beberes rumah. 

Baru saja aku selesai membersihkan diri terdengar suara motor yang berhenti di depan rumah. Dan benar saja tidak lama kemudian terdengar ucapan salam. Tapi tunggu siapa yang sebenarnya datang? Kok suara cowok. 

"Assalamu'alaikum," ucap orang itu yang terdengar asing. Padahal semalam yang mau kerumah itu Yeni, biarlah paling tamunya bapak. 

"Waalaikumsalam, cari siapa nak?" jawab Ibu yang terdengar dari kamar, aku masih saja berganti baju sambil menunggu Yeni datang. 

"Gita ada bu?" saut orang tapi yang ini aku kenal suaranya, dia Yeni temanku. Aku jadi penasaran sama suara cowok tadi dan segera aku bergegas keluar untuk melihat siapa yang datang. 

"Nak Yeni, Fia, ayo masuk. Ayo nak silahkan masuk, duduk dulu Gita ada di kamar," ujar Ibu menyuruh mereka untuk masuk. "Nah itu Gita," tambah Ibu saat melihat aku keluar dari kamar. 

Semakin langkah ini mendekat ke mereka semakin berdebar jantung ini. Tapi aku coba tepis dan bersikap biasa saja. Ku berikan senyum termanis pada Yeni dan Fia, tapi saat melihat seorang cowok yang sedari tadi melihat ke arahku rasanya pipi ini menjadi merah, apalagi dia juga membalas senyumku. Rasanya aku ingin terbang ke langit ke tujuh. 

Apa ini cinta? Apa aku sedang jatuh cinta? Baru diberi senyum begitu saja hati ini sudah berbunga-bunga. Jangan Gita, jangan mudah kau memberikan hatimu. Ingat dulu saat kamu dekat dengan Adi, dia juga sama kan hanya karena salah paham kini dia membenci kamu. Jangan sampai kamu sakit hati lagi, anggap semua cowok itu sama. 

"Sudah sampai saja, gimana mau langsung pergi?" tanyaku ke Yeni karena memang kami janjian untuk pergi hari ini. 

"Tunggu bentar, nunggu Mas Agus sebentar lagi dia sampai!" saut Fia yang ternyata juga mau ikut aku dan Yeni pergi. Kalau Fia pergi paling mau kencan sama Mas Agus. Apalagi dia sudah jarang bertemu, kesempatan buat melepas rindu. 

Benar saja baru saja Fia selesai bicara ada motor yang berhenti di depan rumah dan tentunya itu Mas Agus. Setelah mengucapkan salam, Mas Agus duduk di sebelah Fia dan lagi lagi duduknya tepat di depanku. 

"Lho.. ada tamu lagi kok nggak bilang?" ucap Ibu saat memberikan minuman untuk kami. 

"Sudah bu nggak apa-apa, malah merepotkan!" jawab Mas Agus dengan ramah dan santun. 

"Bu, saya mau minta izin. Mau ngajak Gita buat…" ucap Tyo. 

"Mau melamar kerja!" sahutku cepat sebelum Tyo bilang sebenarnya. 

Bapak, Ibuku orang yang sangat disiplin. Jarang sekali mereka memberi izin untuk aku keluar rumah kalau tidak ada hal penting. Apalagi pergi sama cowok, sangat tidak boleh. 

"Iya Bu, mau melamar kerja di tempat kenalan saya. Kebetulan perusahaannya lagi ada lowongan mungkin saja mereka bisa diterima," tambah Mas Agus menyakinkan Ibu. 

"Oh… begitu, lho berarti nak.."

"Agus! Panggil saja Agus bu," suat Mas Agus saat Ibu kebingungan karena memang tidak pernah kenal dia. 

"Berarti nak Agus sudah bekerja? Ibu kira tadi masih kuliah. Ya sudah, tapi nanti pulangnya jangan sore sore!" kata Ibu memberikan izin dan hanya dijawab anggukan oleh pacarnya Fia. 

Dari tadi aku melihat ke arah Tyo, dia terus saja melihat ke arah cowok yang duduk di sebelah Fia dengan tatapan yang sangat tajam. Tyo sangat tidak suka apalagi saat Mas Agus memberi senyum ke arahku. Apa mungkin Tyo cemburu? 

Tidak ingin berlama-lama aku pun segera mengambil tas dan juga berkas untuk melamar kerja. Dan kami sekarang siap untuk pergi. Tidak ingin membuat Ibu curiga aku putuskan untuk membonceng Yeni. 

"Git, tanganku lagi sakit kamu bonceng sama Tyo ya…" ucap Yeni saat aku mengarah ke motornya. 

"Apa aku saja yang boncengin kamu?" tanyaku merasa tak enak jika harus bonceng Tyo. 

"Nggak usah, kamu bareng Tyo saja ya… lagian ini motor habis turun mesin jadi tidak boleh buat boncengan dulu!" kilah Yeni masih kekeh ingin aku bareng Tyo. 

Dengan langkah yang terasa berat dan jantung seakan ingin copot aku melangkah ke arah Tyo, dan ternyata dia sudah menyiapkan helm untukku. Dia pun memasangkan helm itu untuk aku pakai. 

Romantis…ya, apalagi senyuman manis yang ia beri serasa buat hati ini meleleh. 

Yeni sudah pergi duluan disusul Fia juga Mas Agus sedang aku dan Tyo ada di belakang mereka. Aku duduk tanpa berpegangan,sedang tasku taruh di tengah-tengah antara aku dan dia. Bukan tidak ingin berpegangan tapi kami masih ada di dalam desa, ditambah aku juga malu dan grogi. 

"Jauh amat duduknya? Aku bukan tukang ojek!" kata Tyo saat motor yang ia lajukan sudah keluar dari desa. 

"Aku juga tahu kalau kamu bukan tukang ojek! Tapi aku nggak terbiasa?" kataku sambil menunduk, karena aku yakin pipiku sekarang tambah merah. 

"Serius? Aku yang pertama berarti?" katanya dengan tersenyum saat aku lihat dari kaca spion. "Sini! jangan jauh-jauh!" katanya lagi sambil menarik tanganku agar duduk lebih dekat. Dan menaruh tanganku pada perutnya.

Selama perjalanan kami selalu berbincang, bahkan sesekali tangannya ia taruh diatas tanganku dan mengusapnya dengan lembut. Satu jam perjalanan akhirnya kami sampai, sebuah tempat wisata lokal yang ada di daerah pegunungan. Sebuah waduk yang dibuat sebagai tempat wisata. 

Saat kami sampai ternyata Yeni ditunggu seorang cowok mereka terlihat sangat akrab. Setelah melihat kami sampai Yeni dan cowok itu pergi entah kemana, tinggal aku, Tyo, Fia dan Mas Agus. Kami berempat berjalan menyusuri jalan sambil melihat pemandangan. Tyo pun menggandeng tanganku dengan sangat erat. 

Apa ini orang yang lagi pacaran? Seakan dunia milik berdua saja? Iya, Tyo tidak memperdulikan Fia dan Mas Agus yang berjalan dibelakang kami. Tyo masih tetap menggenggam erat tanganku dan kami menuju di tengah tengah bendungan. Melihat keindahan bendungan yang indah. 

"Kalian sudah pacaran?" celetuk Fia saat kita berhenti diatas jembatan. 

"Doakan saja yang terbaik," jawab Tyo yang masih setia menggenggam erat tanganku. 

"Serius? Wih selamat ya… akhirnya Gita punya cowok juga. Sekarang kan aku nggak khawatir lagi," kata Fia yang membuat aku bingung. 

"Maksudnya?" sahutku tidak suka. Dan saat aku melihat ke arah mereka lagi-lagi Mas Agus melihat kearah ku, bahkan dia terlihat tidak suka. Tapi kenapa Fia bilang seperti itu?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel 12 Wasiat Dari Ayah
8.6
Dira terjebak dalam hubungan toksik dengan ibunya, seorang wanita penghibur yang mengalami gangguan mental. Di tengah kebencian yang mendalam, Dira mendambakan sosok ayah yang telah lama menghilang. Namun, berita kematian sang ayah membawa kebenaran pahit: Dira bukanlah anak kandungnya. Melalui buku merah berisi dua belas wasiat peninggalan almarhum, Dira harus menuntaskan misi terakhir. Akankah wasiat ini memperbaiki ikatan dengan ibunya atau justru mengungkap rahasia lain?
Sampul Novel Dive In You
9.2
Maryam dan Alaska terjebak dalam dilema cinta beda agama yang menguras emosi. Meski perasaan mereka begitu kuat, perbedaan iman menjadi penghalang besar yang menyesakkan dada. Saat dipaksa menuruti perjodohan pilihan orang tua masing-masing, mereka mencoba patuh pada takdir. Namun, simbol keyakinan mereka tak mampu menghapus rasa yang tetap hidup. Di tengah konflik batin dan kepatuhan, mungkinkah ada jalan bagi cinta mereka untuk bersatu kembali?
Sampul Novel Foreman I Love You
8.3
Ghina mengalami pengkhianatan pahit di pabrik tempatnya bekerja. Namun, kejadian itu justru membawanya bertemu Arie, sang foreman. Untuk membalas rasa sakit hati pada sang mantan, Ghina nekat menikahi Arie secara rahasia. Kini mereka harus bersembunyi demi mematuhi aturan perusahaan. Akankah pernikahan ini bertahan saat rahasia terungkap? Ghina pun dihadapkan pada pilihan sulit antara tetap bekerja atau pindah demi mendukung karier suaminya.
Sampul Novel Godaan Maut Ipar dan Mertua
8.9
Nikmati rangkaian kisah menarik yang dirancang khusus untuk menghibur dan membawa pembaca hanyut dalam alur tanpa beban konflik yang rumit. Narasi ini hadir sebagai pelipur lara dan teman istirahat di tengah padatnya rutinitas harian. Sangat ideal bagi pembaca dewasa yang mencari penyegaran agar terhindar dari stres, karya ini menawarkan kesenangan murni yang membuat siapa pun ketagihan. Temukan kedamaian lewat cerita yang ringan namun tetap penuh makna mendalam.
Sampul Novel Impian untuk Rian
9.5
Anara adalah sosok gadis ceria yang selalu hadir dengan senyum lebar dan binar mata tulus untuk Rian. Bagi Anara, Rian adalah pusat kebahagiaan terbesarnya, sementara Rian sendiri merasa hidupnya kini sangat bergantung pada kehadiran gadis itu. Namun, sebuah tanda tanya besar muncul mengenai masa depan mereka. Jika suatu saat Anara pergi meninggalkannya, mampukah Rian melanjutkan hidup dengan normal atau justru selamanya terjebak dalam bayang-bayang kenangan Anara?
Sampul Novel Melepas dengan Ikhlas
8.0
Hidup Mutia hancur akibat keserakahan mantan ibu mertuanya yang terus melontarkan hinaan dan fitnah keji. Penderitaannya kian memuncak saat sang suami justru enggan memihak padanya. Muak dengan segala ketidakadilan tersebut, Mutia memutuskan pergi membawa luka mendalam. Ia bersumpah tak akan pernah sudi kembali setelah kakinya melangkah keluar. Akankah Mutia menemukan kebahagiaan baru? Simak perjalanan emosionalnya dalam menghadapi pengkhianatan ini.