
MEMBUAT AZAB
Bab 2
Nuning melihat Bu Niar keluar dengan hati yang resah dan Nuning tidak bisa menahan air matanya lagi. Nuning menangis terisak. Dia takut seandainya memang Bu Niar akan mengirim santet padanya. Nuning belum pernah tahu tentang santet sama sekali, dan tidak bisa membayangkan seperti apa rasanya kalau dikirimi santet. Jantung Nuning berdebar tak menentu, kekhawatiran dan ketakutan merenggut jiwa Nuning.
Nuning beritighfar berulang kali agar hatinya tenang, tetapi yang ada malah hati Nuning semakin takut dan semakin risau. Nuning segera mengambil air wudhu dan mengambil Al quran. Nuning bertilawah dengan pelan di kamar, air matanya masih bercucuran perlahan.
"Ya Allah ampunilah aku. Ampunilah aku yang takut dan khawatir pada kehidupan duniawiku. Ampunilah Nuning, ya, Allah," bisik Nuning pelan, Nuning mengusap air mata yang terus bercucuran di pipi, dan ketenangan itu mulai melingkupi hatinya. Nuning mulai merasa yakin bahwa Allah pasti akan melindunginya. Bukankah Nuning selalu mengikuti kajian dengan Ustadz Irfan tentang akidah.
Ah, setelah Nuning pindah ke sini, Nuning sudah lama sekali tidak ikut kajian di pesantren ruqyah di Karang Pandan lagi. Rindu juga rasa hati ini. Rindu dengan kelembutan nasihat Ustadz Irfan dan Pak Sapto. Nuning tersenyum dan berencana akan mengajak Edwin ke Karang Pandan sebentar saja. Pasti menyenangkan sekali.
Karang Pandan adalah kota asal Edwin, Nuning dari Karang Sari. Tidak jauh memang, tetapi mereka bertemu di ibukota dan setelah menikah Nuning resign dari pekerjaannyasebagai HRD di sebuah perusahaan asing besar yang begerak di bidang kosmetik, dari sana juga Nuning juga memiliki banyak rekan bisnis yang menyemangati Nuning untuk membuka bisnis kosmetik alami rumahan, dan dengan modal nekad, maka lahirlah Lembayung Senja. Brand kosmetik milik Nuning, yang berinti pada kosmetik berbahan alami dan kosmetik aman untuk siapa saja.
Alhamdulillah Lembayung Senja bisa melesat sukses dengan cepat karena banyak sekali artis yang mampir ke salon Mak Ci dan mencoba kosmetik tersebut dan cocok, bahkan kemudian menjadi pemakai tetap Lembayung Senja. Nuning tetap konsisten dengan kata 'rumahan' sehingga Lembayung Senja menjadi sebuah brand kosmetik yang eksklusif dan tidak pernah diproduksi secara massal.
Nuning mendesah.
Nuning diminta Edwin untuk di rumah saja, menjadi ibu rumah tangga. Edwin sama sekali tidak keberatan Nuning berbisnis Lembayung Senja, asalkan tidak meninggalkan kewajiban Nuning sebagai seorang istri. Nuning mengigit bibir dan berpikir, kenapa masalah itu malah muncul di sekitar rumahnya sendiri? Rasanya hati Nuning sedih dan merana. Padahal yang menyebabkan Nuning sedih, ya, hanya satu orang, tetapi kenapa semua jadi kena imbasnya, ya?
"Astaghfirullah! Aku malah lupa lagi, ya, Allah. Semua rasa ini berasal dariMu, seharusnya kukembalikan semuanya kepadaMu, Ya Allah," bisik Nuning lirih dan Nuning bertilawah lagi.
Ah, rasa hati ini semakin lega sekarang. Nuning tahu Allah maha mengetahui apa yang dibutuhkan hambaNya. Nuning berharap rasa risau ini tidak datang lagi suatu saat nanti.
**
Sore itu Nuning sedang membersihkan rumput liar di halaman depan, ketika Nuning mendengar sebuah mobil berhenti di depan gerbang rumahnya. Nuning mendongak dan melihat Edwin keluar dari dalam rumah dengan wajah cerah.
"Pak Dimas, Ning," kata Edwin.
Nuning melongo. Pak Dimas bossnya Mas Edwin? Saking terkejutnya Nuning malah hanya bisa berdiri tegak melihat Dimas Setiawan, salah satu milyuner Indonesia, mengunjungi rumahnya di desa ini. Nuning melihat Pak Dimas menyalami Edwin dan berpelukan. Kemudian Pak Dimas membukakan pintu samping mobilnya dan keluarlah wanita tercantik yang pernah dilihat Nuning. Oh, itu kan Lintang, istri Dimas Setiawan!
Nuning benar-benar hanya bisa berkedip dan tidak benar-benar sadar ketika wanita cantik itu mendekatinya dan tersenyum manis.
"Mbak Nuning, ya?" tanya Lintang dengan lembut. Nuning tersadar dari lamunannya. Nuning memandang Lintang tak percaya.
"Bu Lintang?" tanya Nuning dengan terpesona memandang wajah Lintang yang putih bersih, glowing bagaikan transparan, kecantikan Lintang benar-benar muncul dari dalam.
"Ya, saya Lintang. Salam kenal," jawab Lintang sambil tersenyum manis. Dia mengulurkan tangannya pada Nuning. Dengan ragu Nuning menjabat tangan lembut itu.
"Salam kenal juga, saya Nuning, Bu Lintang," jawab Nuning dengan agak gemetaran. Dimas menghampiri mereka dan juga memerkenalkan diri dan berbasa-basi sebentar. Membuat Nuning semakin grogi.
"Ning, kok diam saja!" tegur Edwin. Nuning tersadar, dan segera meminta tamunya untuk masuk.
"Saya nggak mau kalau ngerepotin, lo, Bu Nuning. Saya hanya mau nanya tentang Lembayung Senja," bisik Lintang pada Nuning. Nuning terkejut, Lintang tersenyum dan mengangguk.
"Beneran nggak usah repot, ya, Mbak?" bisik Lintang lagi, Nuning mengangguk dan tersenyum mengiyakan.
**
Nuning tidak tahu di luar pagar, Bu Niar tersenyum mengejek.
"Sombong sekali kamu, Ning! Tunggu saja pembalasanku!" desis Bu Niar dengan wajah merah membara, "tunggu pembalasanku!"
Bu Niar menyebarkan bubuk hitam dan air di kebun Nuning dari balik pagar rumah Nuning. Bu Niar tersenyum puas.
"Kutunggu kebangkrutanmu, Ning!" seru Bu Niar dengan wajah sangat puas.
**
Anda Mungkin Juga Suka





