
MEMBUAT AZAB
Bab 3
Kedatangan Dimas dan Lintang ke rumah Nuning membuat Nuning begitu bahagia. Dia melupakan sejenak kekhawatirannya tentang santet yang akan diberikan Bu Niar padanya. Nuning juga terpesona pada Lintang yang sangat cantik jelita dan istri orang kaya raya, bahkan kalau tidak salah Dimas pernah menjadi orang kaya ketiga di Indonesia, dan tetap masih mau berbisnis. Konon Lintang sudah memakai Lembayung Senja dan cocok, dan sekarang dia berjualan Lembayung Senja di kelompok pengajiannya.
"Awalnya saya pakai lulurnya, Mbak. Harumnya enak banget, lembut, nggak menyengat dan modern. Kemudian pas sabun cuci muka saya habis, saya ditawari Maharani sabun cuci muka Lembayung Senja. Qadarullah, cocok banget, Mbak. Seneng banget. Setelah itu saya tidak ragu lagi, saya beli paket untuk kulit normal. Alhamdulillah sampai sekarang saya sudah empat kali repeat order di Maharani," cerita Lintang.
Ah, Nuning hampir menangis mendengar testimoni Lintang.
"Mbak Maharani yang jadi wedding organizer, kan, Bu?" tanya Nuning.
Lintang mengangguk.
"Ya, Mbak. Maharani itu teman saya SMP dan SMA," jawab Lintang, "terus Maharani merekomendasikan alamat panjenengan, dia bilang harusnya saya jadi reseller saja. Eh, nggak tahunya Mbak Nuning istrinya Pak Edwin. Kalau Pak Edwin saya sudah kenal sejak dulu," kata Lintang sambil tertawa geli.
Nuning tersenyum bahagia. Rezeki memang tidak akan ke mana, dan kebanyakan manusia terlalu mengkhawatirkan hal yang belum pasti dan belum dijalaninya.
Sore itu Lintang memborong semua paket yang ada di rumah Nuning, bahkan karena ada yang kurang, Nuning pun harus mengambil beberapa paket dari rumah Bu Imas dan Bu RT. Mereka semua ikut senang dan bahagia. Nuning pun merasa sangat bahagia, tidak sia-sia dia merinris bisnis kecil Lembayung Senja, hingga menjadi besar ini.
Bu Imas histeris melihat Lintang dan Dimas. Dia gugup dan ujung-ujungnya minta foto bersama.
"Ya Allah, mimpi apa saya semalam? Hari ini rumah saya didatangi selebritas Indonesia!" seru Bu Imas. Tetangga-tetangga yang lain berdatangan dan ikut berfoto dengan Lintang yang memang cantik jelita. Termasuk Bu Niar. Bu Niar dengan kejulidannya, benar-benar keheranan, kenapa kompleksnya begitu ramai sore itu. Ternyata ada milyuner Indonesia yang mampir ke rumah Nuning. Jiwa kebencian Bu Niar semakin meronta-ronta, dia menyesal tadi tidak langsung frontal menghadapi Dimas dan Lintang, kan, lumayan, dia bisa menaklukkan milyuner Indonesia, pasti dia akan terkenal.
Bu Niar benar-benar gugup ketika dia minta foto dengan Lintang. Semua kalimat julidnya yang akan disampaikan pada Lintang benar-benar menguap ketika mereka bersalaman. Aduh, jadi begitu, ya, kalau orang kaya. Wanginya lembut, bersih, glowing, bajunya branded, semua barangnya branded, tetapi sama sekali tidak menonjol, berbeda sekali dengan Bu Niar kalau mau kondangan dan memakai baju, tas dan perlengkapan yang menunjukkan merek, tetapi jelas palsu. Ah, Bu Niar benar-benar grogi, dan dia malah ingin memiliki niat buruk lain pada Lintang.
Tak lama kemudian Dimas Setiawan memohon maaf kepada semua karena dia akan segera pulang dan segera berpamitan kepada semuanya dan menggandeng tangan Lintang untuk segera meninggalkan tempat itu. Semua terpesona pada kemesraan Dimas pada Lintang.
Bu Niar panik. Dia belum mendapatkan apa yang didapatnya dari Lintang. Oh ... tetapi ada foto itu! Oh, ya dia bisa menggunakan foto Lintang.
**
Semenjak foto Lintang yang memborong produk Lembayung Senja, rumah Nuning tidak pernah sepi. Banyak sekali wanita-wanita kelas atas, teman Lintang, yang datang langsung ke rumah Nuning dan membeli Lembayung Senja lansung dari Nuning. Mereka berfoto dan meng-upload foto mereka di media sosial mereka, membuat Lembayung Senja semakin terkenal.
Bu Niar nyaris murka.
Rencananya membuat bangkrut Nuning malah gagal, dan yang terjadi adalah sebaliknya. Bisnis Nuning malah semakin sukses, dan kabarnya Nuning sudah mengirimkan barang sampai ke manca negara juga.
Dengan kemarahan yang berdentam-dentam di dada, Bu Niar mendatangi dukun yang kemarin dimintai tolong olehnya. Dukun itu memandang Bu Niar sinis.
"Yang kemarin saja belum ada tumbalnya, sekarang malah minta yang baru lagi!" teriak dukun itu kesal. Dia melotot ke arah Bu Niar.
Bu Niar tidak takut, dia bahkan juga ikut melotot kepada dukun itu.
"Pokoknya saya mau yang satu ini saja! Yang pertama itu digagalkan saja!" Bu Niar balas berteriak.
Dukun itu menjengit.
"Tidak bisa, dong! Enak saja! Kalau mau dibatalkan kamu harus memberiku tumbal dulu!"
Bu Niar mencebik, dia merengut maksimal.
"Baiklah! Baiklah! Apa tumbal untuk santetnya?" tanya Bu Niar tidak sabar.
Dukun itu tersenyum licik.
"Nyawa!"
Bu Niar tidak terkejut. Pastilah korban santetnya nyawa. Bu Niar mengambil foto yang telah disiapkannya dari rumah.
"Ini tumbalnya! Ini yang mau saya pelet," kata Bu Niar sambil menunjukkan foto itu pada dukun tua di depannya.
Dukun itu mengangguk. Dia memberi tanda silang merah di pipi Lintang dan menusuk jarum pentul kecil di foto korban tumbal. Bu Niar tersenyum puas.
"Puasa lagi, ya! Puasa mutih empat puluh hari dan hapalkan mantra ini : Niat ingsun amatek ajiku si semar mèsem... mut-mutanku inten... cahyané manjing pilinganku kiwa lan tengen... sing nyawang kegiwang... apa manèh yèn sing nyawang kang tumancep kumanthil ing telenging sanubariku... ya iku si jabang bayi lalu kamu sebut namanya sebut namanya. Dibaca petang menjelang gelap tiga kali, dan disembur pakai air ini. Pasti manjur!"
Bu Niar mengangguk dan menerima sebotol air mineral dengan penuh kelegaan.
"Lima juta!" seru dukun itu. Bu Niar menjengit.
"Mahal sekali, Mbah," protes bu Niar. Dukun tua itu tertawa jahat.
"Itu biaya pembatalan santetnya juga."
"Oh, ya tumbalnya kapan Mbah matinya?" tanya Bu Niar dengan datar.
"Sekarang sedang proses, tenang saja. Nanti malam pasti mati," jawab dukun itu, juga dengan santai
Bu Niar mengangguk dan memberikan sejumlah uang yang diminta dukun itu. Kemudian dia berpamitan pulang.
Di perjalanan Bu Niar menikmati pemandangan alam di sekelilingnya. Angin semilir melewati tubuhnya. Ah, semua masalah ini akan berjalan lancar, dia akan memelet Lintang dan akan meminta semua barang-barang branded milik Lintang. Lumayan.
Bu Niar berfokus di jalan di depannya, tetapi tiba-tiba dari belakang ada bunyi klakson keras sekali. Bu Niar terlonjak kaget, motornya oleng dan kemudian kendaraan besar itu menyerempet motor matik Bu Niar, membuat motor Bu Niar terguling dan terjatuh di jurang ....
**
Anda Mungkin Juga Suka





