
Membalas Penkhianatan Istriku
Bab 3
Kepala Jannah terangguk-angguk seirama dengan kocokan pada batang berurat tersebut. Lidah Jannah pun juga sangat aktif menggelitiki kepala jamurnya, membuat Thalib makin melayang dibuatnya. Tangan kanan Jannah memijat lembut dua testis yang menggantung, memberikan efek etkasi bagi Thalib. Jannah tak perlu diajari lagi untuk hal-hal seperti ini. Jam terbangnya sudah tinggi, dia tahu titik sensitif lelaki ada di sebelah mana. Inilah yang membuat Thalib tergila-gila kepadanya.
"Sudah sayang, gantian!" kata Thalib. Dia tahu kalau ini diteruskan, bisa-bisa dia sudah keluar lebih dulu. Jannah menghentikan aktifitas blowjobnya. Thalib pun mendorongnya, hingga perempuan itu terlentang di atas ranjang.
Tanpa aba-aba Thalib dengan rakus langsung melumat bibir surgawinya. Jannah mengerang, serangan Thalib mendadak dan bertubi-tubi seperti retetan tembakan gutling gun. Jannah gemetar hebat saat Thalib benar-benar merangsang seluruh syaraf yang ada di tubuhnya. Permainan lidah Thalib tak bisa diragukan lagi, luar biasa. Arief saja kalah. Meskipun Arief juga pernah memberikannya kenikmatan seperti itu, tetapi sungguh tidak ada apa-apanya. Dan benar saja, Jannah orgasme. Kedua pahanya menjepit kepala Thalib dengan tubuhnya melengkung. Kedua tangannya juga meremas sprei tempat tidur, di saat yang bersamaan cairan bening muncrat keluar dari liang senggamanya.
"Aoowwh....ahh... udah maass.... nikmaat.... aahhh!" ucap Jannah.
Napasnya terengah-engah sambil memejamkan mata. Dia meletakkan lengannya ke dahi. Baru orgasme pertama saja rasanya seperti ini. Bagaimana berikutnya?
Thalib belum menuju ke menu utama. Dia masih mengambil ancang-ancang dengan melebarkan kaki Jannah. Diperhatikannya dulu bagaimana bibir surgawi perempuan yang dia cintai ini. Dulu, hampir saja dia menjebol keperawanan Jannah.
Penisnya tegak mengacung. Penis yang sudah mengobok-obok vagina Jannah ini akan sekali lagi bekerja. Penis yang dirindukan oleh Jannah. Kepalanya mulai menggeseki pintu masuk lorong kenikmatan perempuan tersebut. Dia ingin mempermainkan libido Jannah. Dia tahu Jannah sudah lama tidak berhubungan badan seperti ini. Maka dari itu agar Jannah tidak lari darinya, maka kebutuhan Jannah akan seks harus dipuaskan.
"Mas, please masukin!" pinta Jannah.
Thalib pun memasukinya. Dia menikmati setiap senti batangnya ke dalam liang surgawi Jannah. Liang surgawi yang sudah berbulan-bulan tidak dinikmati oleh suami sahnya. Thalib tidak kuasa, setiap batangnya masuk rasanya benar-benar nikmat. Tubuhnya pun kini menindih Jannah. Bibirnya sibuk menjilati ketiak Jannah yang wangi, lehernya yang jenjang dan tak ketinggalan dua payudara yang sangat menggiurkan. Biarpun sudah beranak, tapi payudara Jannah tidak ada yang menandingi bahkan istrinya sendiri.
Pinggul Thalib bergoyang naik turun mengebor kemaluan Jannah. Sementara itu kedua kaki Jannah mengunci rapat pinggul lelaki ini. Hingga akhirnya keduanya pun meraih puncak bersamaan. Siang itu sekali lagi kamar hotel telah menjadi saksi perselingkuhan mereka.
Lelehan kental sperma Thalib meleleh di liang senggama Jannah. Kedua insan ini pun akhirnya terkapar setelah pertempuran siang itu.
* * *
Arief pulang ke rumahnya dengan lesu. Seluruh bukti perselingkuhan istrinya sudah diberikan kepada hakim dan akan jadi pertimbangan nantinya. Dia hanya ingin menyelamatkan Khalil dari perempuan bejat itu. Bagaimana mungkin Khalil harus dididik oleh seorang pengkhianat?
Sebenarnya Arief sudah tahu gelagat istrinya sejak lama. Kenapa dia mendiamkan? Arief punya prinsip, seseorang yang sudah berkomitmen untuk hidup bersama berarti dia sudah tahu segala risiko. Persoalannya adalah istrinya yang tergoda dan lebih memilih untuk berselingkuh. Beda urusan jika ada lelaki lain yang menggoda istrinya, maka sudah barang tentu Arief akan melindungi istrinya.
Dengan istrinya membuka diri untuk lelaki lain, maka itu sudah jadi jawaban kalau perempuan itu telah berkhianat. Lalu, buat apa mencintai seorang pengkhianat? Kenapa harus memperjuangkan perempuan seperti itu? Itulah prinsip yang dipegang Arief.
Masih ingat bagaimana dulu ketika Jannah menerima pinangannya. Arief bertanya kepadanya, "Apakah kau yakin dengan keputusanmu? Aku bukan siapa-siapa, aku juga bukan orang yang mungkin sesuai dengan kriteramu. Aku takut kau akan kecewa."
Lalu apa jawaban Jannah, "Aku yakin, sebab kamu adalah orang yang berani sampai sejauh ini melamarku. Aku bisa melihat dari kesungguhanmu."
Dengan berbekal itulah Arief akhirnya menikahinya. Lalu kenapa sekarang Jannah mengkhianati kata-katanya sendiri? Hanya gara-gara CLBK?
"Abi, abi sudah pulang!!!" seru Khalil saat melihat ayahnya pulang. Dia langsung meminta gendong. Arief pun menggendong anaknya.
Seorang pengasuh tampak tersenyum menyambut kehadiran Arief. Dia adalah tetangganya yang dia sewa untuk menjadi pengasuh Khalil. Namanya Bu Dian.
"Makasih lho, Bu sudah menjaga Khalil," ucap Arief.
"Wah, Pak kalau saya disuruh jaga anak seperti Khalil ada sepuluh pun mau. Anaknya nggak rewel," puji Bu Dian.
Arief tersenyum mendengarnya. Dia lalu menyerahkan amplop berisi uang kepada Bu Dian atas kerja kerasnya menjaga Khalil.
"Lho, apa ini pak?" tanya Bu Dian.
"Gaji ibu. Saya berikan di awal saja langsung," kata Arief.
"Apa saya kurang baik menjaganya?"
"Bukan, bukan. Saya sepertinya akan pindah, jadi mungkin ini minggu-minggu terakhir ibu menjaga Khalil. Saya berterima kasih sekali kepada ibu yang sudah menjaga Khalil."
"Lho, bapak mau pindah kemana?"
"Mungkin kembali ke tempat asal saya. Di sana Khalil akan tinggal bersama kakek dan pamannya."
"Oh, begitu." Bu Dian pun menerima amplop tersebut dan bilang terima kasih. Setelah itu perempuan separuh baya itu pun pamit untuk pulang ke rumah.
"Khalil mau ketemu ama kakek?" tanya Arief.
Khalil mengangguk. "Iya"
"Besok kita pergi ke rumah kakek."
Khalil mengangkat tangannya gembira. "Horeee!!"
Rumah bapaknya Arief, cukup sederhana. Rumah tersebut adalah tempat dimana arief tumbuh sampai dewasa. Tidak ada yang spesial dengan bangunannya, hanya rumah berukuran 6 x 10 meter dengan halaman yang luas. Di halaman itu juga tidak ada yang spesial, hanya tanaman-tanaman terawat serta pohon mangga yang tinggi. Ayahnya Arief memang terkenal suka berkebun, sehingga dengan banyak tanaman di halaman sudah mencerminkan bagaimana wataknya.
"Kakeeek!" seru Khalil ketika melihat kakeknya sedang memotongi dahan-dahan kering di salah satu tanamannya.
"Eh, Khalil. Ada apa ke sini? Tumben sekali," ucap sang kakek. Pandangan lelaki tua itu beralih ke seorang pria yang tak lain dan tak bukan adalah anaknya. Itu bukan tatapan suka, melainkan tatapan menghakimi. Khalil langsung menggelayut manja di gendongan kakeknya. "Mau lihat ikan? Kakek punya ikan buesar."
"Mau mau!" seru Khalil.
Arief hendak mencium tangan ayahnya, tetapi lelaki itu menghindar. "Kalau bukan karena Khalil, kau sudah aku usir"
Arief mendesah. Ada perasaan menyesal kenapa dia tidak pernah menuruti nasihat orang tuanya. Namun, bagaimana dia harus menurut sedangkan siapapun yang tinggal di desa ini tahu siapa itu Rah Panji Suroso. Marga Suroso yang ada pada namanya itu bukanlah marga sembarangan di kampung kecil ini.
Mereka berjalan menuju ke samping rumah. Di sana ada kolam ikan yang berisi puluhan ikan koi. Khalil turun dari gendongan kakeknya dan langsung duduk di pinggir kolam. Dia seru sendiri dengan dunianya menjulurkan jarinya ke pinggir kolam. Beberapa ikan sampai menghampirinya dan bocah itu histeris sendiri. Suroso memberikan sebungkus makanan ikan kepada anak tersebut, lalu bocah itu dengan gembira memberi makan ikan.
"Aku mohon maaf," kata Arief. Perlahan-lahan Arief pun berlutut kepada ayahnya.
"Bangun! Kau sudah tak pantas lagi berlutut di hadapanku," kata Suroso sambil mengambil tempat duduk di pinggir kolam dengan kedua kakinya dimasukkan ke dalam air. Ikan-ikan kecil pun mulai menghampirinya.
"Seharusnya aku dengar nasihat bapak," ucap Arief.
"Apa? Kau dikhianati?"
Bersambung
Anda Mungkin Juga Suka





