
Melody Cinta Tuan Muda
Bab 3
“Ya ampun, Kakek. Istigfar…aku tahu Kakek masih terpukul dengan kehilangan Nenek Anjani, tetapi bukan berarti Kakek juga harus kehilangan akal sehat. Sudah sekarang istirahat saja di sini, besok aku pinjem motor Kang Asep kasep gumasep buat anterin Kakek pulang ke rumah.”
Mama langsung menjewer telinga Melodi, “Jangan bicara tidak sopan pada orang tua!”
“Aduh Mama, sakit tahu.”
“Awas kalau pinjam motor Kang Asep, itu motor khusus buat cowok.”
“Iya, Ma. Enggak,” jawab Melodi sambil mengusap telinganya yang memerah karena dijewer mamanya.
“Maafkan anak saya ya Pak, kalau bicara suka enggak pakai konsep, asal nyeletuk aja,” ujar Mama.
Kakek tertawa, “Maaf saya sudah merepotkan keluarga di sini. Perkenalkan nama saya Wira.”
Mama tersenyum sambil membantunya duduk bersandar pada bantal. “Tidak apa-apa. Maaafkan kalau sambutan kami kurang berkenan.”
“Ini lebih dari cukup, saya sangat berterimakasih kepada anak ibu, siapa ya namanya?”
“Melodi, Kek,” jawab Melodi yang duduk di samping dipan.
“Wah, nama yang bagus sekali,” pujinya. “Terimakasih ya, pasti tadi kamu repot sekali membawaku sampai ke sini.”
“Tidak apa-apa Kek, yang lebih repot itu kalau Kakek tadi sukses melompat ke sungai.”
Kakek Wira melotot pada gadis bermata coklat itu, tetapi beberapa saat kemudian ia tersenyum, sambil menepuk pundak Melodi.
“Untung ada kamu.”
Melodi tertawa, ia bahagia melihat wajah Kakek Wira sudah menemukan sinarnya kembali, sangat berbeda dibandingkan ketika bertemu di jembatan tadi sore.
“Senang melihat Kakek tersenyum.”
“Asal kamu tahu Melodi, salah satu yang membuat aku mempunyai semangat untuk hidup kembali adalah saat menikmati klappertart buatanmu. Aroma kayumanis itu membuatku teringat Anjani. Seperti yang kamu bilang, ia pasti tidak akan suka kalau aku ingin bertemu dengannya dengan cara yang seperti itu.”
Mama ikut duduk bersama, “Anak saya memang pintar membuat klappertart,” pujinya dengan bangga sambil mengacak-acak rambut putri semata wayangnya.
“Melodi, boleh kakek pinjam ponselmu?”
Melodi mengangguk, ia kemudian mengambil ponsel dari atas nakas dan menyerahkannya kepada Kakek Wira.
Tidak berapa lama kemudian, lelaki tua itu menelepon seseorang, entah apa yang dibicarakan karena Mama menyuruh Melodi untuk meninggalkan Kakek Wira sendirian supaya ia leluasa berbicara.
Malam telah larut, ketika pintu rumah diketuk dari luar. Melodi yang saat itu sedang mengerjakan tugas kuliahnya langsung bangkit menuju pintu.
“Selamat malam, saya datang mau menjemput Bapak Wira.”
Seorang lelaki bertubuh tinggi gagah berpakaian serba hitam berdiri di depan pintu. Melodi sedikit tengadah memandang lelaki itu. Matanya kemudian beralih pada sebuah mobil hitam mengkilat yang diparkir di halaman.
“Bapak siapa?”
“Saya orang yang diutus untuk menjemput Bapak. Tolong beliau harus segera pulang.”
Kening Melodi berkerut, ia khawatir lelaki itu berbohong, pura-pura menjemput ternyata orang yang bermaksud jahat kepada Kakek Wira. Entahlah meski baru kenal sebentar ia merasa mempunyai ikatan batin pada lelaki tua itu.
“Tolong sebutkan dulu nama Bapak, baru nanti saya bangunin Kakek Wira.”
Lelaki itu memandang Melodi dengan matanya yang tajam. “Nona tolong jangan mempersulit tugas saya.”
“Tapi Kakek Wira ada di rumahku karenanya aku bertanggung jawab melindunginya,” ujar Melodi ngotot.
Dari dalam mobil turun seorang lelaki lagi, memakai pakaian yang sama dengan lelaki yang berada di depan pintu. Mereka kemudian berbicara setengah berbisik, sehingga Melodi tidak mendengar apa yang diucapkan.
“Kami tidak bermaksud jahat kepada Kakek Wira, justru kami tadi ditelepon diminta beliau untuk menjemputnya.”
Melodi memandang mereka berdua dengan wajah tidak percaya, ia masih merasa khawatir. Tiba-tiba Kakek Wira keluar dari kamar, rupanya ia mendengar keributan di luar.
“Oh, kalian sudah datang,” ucapnya.
Melodi memandang Kakek Wira. “Kakek kenal dengan mereka?”
Kakek mengangguk.
“Melodi, Kakek pulang dulu ya, sekali lagi Kakek ucapkan terimakasih. Sampaikan salam pada mamamu, jangan bangunkan dia, kasihan pasti harus bangun pagi sekali untuk membuat kue.”
Melodi mengangguk.
Kakek Wira mengelus kepala Melodi, kemudian mengikuti kedua lelaki yang telah menunggunya di samping mobil hitam mewah itu.
Melodi melambaikan tangannya, rasanya berat juga melepas Kakek Wira pergi.
----
Pagi sekali Mama sudah heboh membangunkan Melodi, ia langsung menyeret gadis itu ke depan televisi.
“Ada apa sih Ma?” tanyanya sambil menguap.
“Coba kamu perhatikan orang yang sedang diwawancara di televisi itu.”
Melodi mengucek matanya, Kakek Wira?
“Kakek yang kamu tolong itu ternyata bukan orang sembarangan, lihat dia masuk televisi dan diwawancara masalah perusahaan gitu.”
Melodi terpaku melihatnya.
“Untung ya dia sudah pergi dari rumah kita, Mama paling takut berurusan dengan orang-orang penting.”
Melodi menatap mamanya, “Kita ternyata masih harus berurusan dengan Kakek Wira.”
“Memang ada apa?”
Gadis itu berlari menuju lemari belajarnya, lalu mengambil sebuah benda kecil berwarna hitam dan menyerahkan pada mamanya.
“Dompet Kakek Wira tertinggal di atas dipan.”
Anda Mungkin Juga Suka





