Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel MELODI MELII

MELODI MELII

Memiliki kembaran tak selalu indah bagi Melodi dan Meli. Hubungan mereka yang semula harmonis hancur akibat tragedi masa lalu. Kini, Melodi menyimpan dendam mendalam dan sengaja bersaing dengan Meli, termasuk mencintai pria yang sama. Persaingan memperebutkan hati dan peran dalam hidup ini memicu konflik yang kian meruncing. Akankah salah satu dari mereka bersedia mengalah demi ikatan darah, ataukah cinta justru akan memisahkan mereka selamanya?
Bab
Bagikan

Bab 2

Kembar, seharusnya ketika seseorang memiliki saudara kembar itu menyenangkan, tapi apa jadinya jika saudara kembar ini memiliki sifat bagaikan langit dan bumi yang satu penurut dan yang lain susah diatur. Terlebih salah satu dari mereka saling membenci. Ya, Melodi memiliki alasan untuk itu kenapa dia bersikap seakan membenci Meli. Melodi mempunyai seribu alasan untuk bersikap begitu.

"Beb, gak bosen apa gini-gini mulu?" ucap salah satu teman Melodi yang bernama Faya.

"Kalian gak ada usul tempat yang bagus dimana?" tanya Melodi sambil memainkan garpu tanpa ada minat menyantap makanan yang dipesannya.

"Len, jawab! Biasanya lo yang tau tempat bagus, "ucap Faya sambil menyedot jus milik Helen tanpa permisi.

Persahabatan mereka sudah terjalin 3 tahun lamanya mereka sudah saling mengenal sejak dibangku 1 SMA. Mereka adalah 4 orang cewek yang terbilang bandel, mereka ber 4 sering bolos disaat jam pelajaran dan juga melanggar peraturan sekolah lainnya. Alasan mereka melakukan itu karena bosan dengan kehidupannya yang rumit, mereka tidak ingin memikirkan beban dan ingin bersenang-senang.

"Kebiasaan deh! Emang duit lo habis sampai gak mampu beli minuman sendiri?" kata Helen tak terima dengan tingkah laku Faya.

"Sekali-kali sedekah sama gue," jawab Faya cuek sambil menggeser-geser layar ponselnya.

"Papa lo pelit ya? Gak ngasih duit ke anaknya sendiri?" tanya Helen sedikit mengejek Faya.

Bisa dibilang Melodi dan para sahabatnya adalah anak orang yang terpandang. Secara finasial mereka tidak kekurangan sama sekali bahkan bisnis keluarga mereka ada dimana-mana, namun sayangnya mereka semua adalah anak yang bermasalah. Beberapa dari mereka ada yang dikengkang,ada yang diatur dan lain sebagainya. Ada banyak drama didalam keluarga mereka masing-masing. Terkadang drama itu membuat mereka muak dengan kehidupan yang dijalaninya saat ini.

"Cari tau sana! Biasanya lo yang paling update dengan tempat bagus," perintah Andin sambil memasang henset ditelinganya dengan santai.

"Gak! Lo aja yang cari gue lagi males soalnya," kata Helen jengah karena dia malas harus dia terus yang mencari tempat yang bagus.

"Padahal lo itu andalan kita," kata Melodi sambil menyenggol tangan Helen sedikit keras.

"udah dibilang gue lagi males!" jawab Helen malas-malasan.

"Gak biasanya lo males kayak gini, kenapa?" tanya Melodi penasaran, Memang diantara sahabatnya Helenlah yang jarang malas. Helen tipikal orang yang aktif, dia mudah berbaur dengan orang baru. Berbanding terbalik dengan Melodi yang cuek dengan sekitarnya. Jadi ketika Helen berubah menjadi pendiam itu sudah pasti dia sedang tidak baik-baik saja.

"Natan?" tebak Andin yang berfokus pada buku yang berada di genggamannya tanpa menatap lawan bicaranya.

Meskipun Andin terlihat cuek dengan obrolan para sahabatnya bukan berarti Andin tidak perduli dengan sahabatnya. Dia hanya tak terlalu banyak bicara seperti para sahabatnya. Mungkin sesekali Andin akan ikut ngobrol untuk menghormati sahabatnya.

"Kenapa lagi tuh cowok?" tanya Faya sambil cengengesan, "mending putusin aja! Cowok diluar sana juga masih banyak."

Faya adalah tipikal playgirl jangan ditanya dia punya pacar atau tidak, jelas dia punya. Faya adalah orang yang sedikit bebas kalau menyangkut soal lawan jenis, cowoknya berada dimana-mana.

"Diem lo!" ketus Helen malas, hari ini dia badmood karena Natan. Dia tidak ingin moodnya semakin buruk karena mendengar ocehan Faya tentang Natan.

"Ck, lupakan Natan masih banyak cowok tampan diluar sana. Lo itu harus tegas, dong! Cowok kayak Natan tukang ngerayu cewek dimana-mana. Lo jangan terlalu sayang sama dia!" Faya berbicara dengan nada serius. Meskipun Faya memang sedikit ngeselin, tapi dia orang yang paling mengerti keadaan sahabatnya.

"Kalian semua, ya. Giliran urusan cowok aja kalian pada semangat," kata Andin sambil menggeleng-gelengkan kepalanya tanpa menatap lawan bicaranya.

"Sok lo! Terus gimana itu cerita lo sama si Andra?" tanya Faya yang membongkar rahasia Andin.

Andin yang mendengar nama Andra disebut dia pun mulai terpancing dan menutup bukunya seketika. Harusnya Faya tidak membeberkan masalah dirinya dan andra. Lagian hubungan mereka berdua belum tentu jelas.

"Fay! ember banget mulut lo!" kata Andin tidak terima.

"Kenapa pake rahasia-rahasiaan sih!" kata Faya santai, "lo nganggep kita semua sahabat lo bukan? Melodi sama Helen berhak tahu jugalah, dong!"

"Oh gitu, kalian main belakang sekarang?" ucap Melodi menyipitkan kedua matanya. Melodi curiga sepertinya ada kisah antara Andin dengan Andra yang tak Melodi ketahui. Selama ini mereka semua jujur dengan kisah hidupnya, tak terkecuali masalah keluarga.

"Sahabat macam apa lo?! Bisa-bisa nya gue gak tahu tentang lo sama Andra, "kata Helen sedikit marah.

"Apaan kalian, tuh! Orang gue cuman temenan doang sama Andra," elak Andin cemberut merasa bersalah karena lupa menceritakan dirinya dan Andra.

"Ndin, coba tatap mata gue kalau lo beneran cuman temenan sama Andra," tatap Helen pada Andin dengan intens nya.

"Bisa ganti topik gak?! Bosan gue dengernya!" ucap Melodi tiba-tiba merusak keseriusan Helen. Jika membahas soal cinta Melodi akan merasa muak. bukan berarti dia tidak pernah jatuh cinta tapi ada pengalaman pahit dibalik semua itu dan Melodi tidak ingin mengingatnya. Melodi ingin membuang bayangan-bayangan masa lalu.

"Oh iya, kisah cinta lo gimana?" tanya Andin menyenggol bahu Melodi pelan. Tempat duduk Melodi ada disebelah kiri Andin.

"Gak gimana-gimana, dong!" jawab Melodi santai. Sesekali, menyedot es coklat kesukaannya. Ada cerita yang tidak bisa diungkapkan. Bukan maksud tidak percaya tapi Melodi belum siap mengungkapkan jati dirinya. Belum saatnya dia bercerita siapa dia dan bagaimana hidupnya.

Jika bisa, Melodi tidak mau seperti ini. Keadaanlah yang memaksa Melodi harus berubah. Ingat! Dia hanya bisa mengandalkan dirinya sendiri dan dia mampu berdiri sendiri. Setidaknya itu yang menjadi prinsip Melodi saat ini.

Dia hanya takut jika dia bercerita semuanya akan berubah. Sahabatnya akan berpihak pada saudaranya dunianya akan direbut paksa lagi.

"Gue jadi penasaran sama tipe cowo yang lo suka," kata Faya sambil sok berpikir keras.

"Kenapa? lo mau ambil cowo yang gue suka juga?" kata Melodi to the poin.

"Gue sleding juga lo! Seburuk-buruknya seorang Faya, gue gak mungkin nikung sahabat gue sendiri," kata Faya menaikkan suaranya.

"Ya ampun, Fay. Bercanda doang kali," jawab Melodi terkekeh. Melodi sangat suka menjahili Faya.

"Kebiasaan, setiap bahas soal cinta lo selalu gak perduli. Lo gak mungkin gak pernah jatuh cinta, kan?" tanya Faya sambil memicingkan matanya.

"Gila lo! ya pernah lah," jawab Melodi menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Sebenarnya lo suka cowok yang gimana?" tanya Andin penasaran sama kisah cinta Melodi.

"Yang penting cowok!" jawab Melodi cuek.

"Jawaban macam apa itu?" protes Helen tidak terima dengan jawaban nyeleneh Melodi.

"Guekan bener yang penting dia itu cowok. Satu lagi, ini yang paling penting!" kata Melodi terlihat serius.

"Apaan?" kata Andin kepo.

Semua sahabat Melodi langsung menatap Melodi dengan serius. Selama ini, mereka tidak pernah mendengar kisah percintaan Melodi. Dan kali ini adalah momen langka bagi sahabatnya mendengarMelodi menceritakan kisah cintanya.

"Dia harus berbatang," jawab Melodi asal tanpa ada rasa bersalah sama sekali.

"Sialan lo! Gue udah serius juga!" kata Andin sambil melempar sendok kearah Melodi dengan marah.

"Untung gue sabar," kata Helen mencoba bersabar akan sikap Melodi yang menjengkelkan.

Tiba-tiba kantin berubah menjadi ramai karena datang dua cowok yang dikagumi banyak siswi di sekolah ini. Bukan hanya rupanya yang tampan tapi pikirannya juga cerdas. Semua murid disekolah ini mengidolakan cowok-cowok seperti itu. Kecuali Melodi, dia sangat membenci seorang cowok salah satu diantara mereka. Melodi bahkan muak bertemu setiap hari dengan cowok itu. bagaimana tidak, cowok itu selalu menyudutkannya setiap saat dan melukai harga dirinya sebagai seorang manusia.

Kenapa gue selalu bertatap muka dengannya, Batin Melodi benci.

Entah mengapa setiap Melodi bertemu dengan orang itu, Melodi selalu naik darah. Melodi selalu teringat patah hati yang terjadi di masa-masa dulu. Jika memang cintanya bertepuk sebelah tangan tidak masalah. Akan tetapi, tidak perlu sampai menginjak-injak harga dirinya.

"Melo, kenapa sih!? Tiba-tiba jadi diam gitu?" tanya Faya celingukan mencari tau kemana arah Melodi memandang.

"Hm, Jadi dia orangnya?" ucap Faya manggut-manggut setelah tahu objek yang dipandang Melodi.

"Apa Fay?" kata Helen ikut penasaran.

"Lihat tuh!" tunjuk Faya kearah dua cowok yang berjalan berdampingan.

"Oh, Dia bukannya Anak IPS III ya?" tebak Andin yang ikut-ikutan memerhatikan cowok itu seperti yang lainnya.

"Kalian apaan sih! Orang gue cuman ngeliat doang kok," elak Melodi berusaha terlihat cuek.

Takdir macam apa yang sedang mempermainkannya. Kenapa rasa benci yang dirasakan Melodi tidak kunjung menghilang. Padahal, sudah 3 tahun berlalu. Melodi ingin sekali menghilangkan semua ingatan sakit itu. Tapi entah mengapa Melodi selalu gagal. Apa sebenarnya yang Melodi harapkan. Melodi tidak tau apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya. Jika melodi masih mencintainya, mengapa dia merasa tidak perduli dengan kehadirannya. Tapi, jika dia sudah tidak mencintainya, mengapa ada rasa benci yang masih tertanam jelas.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Asa di Ujung Sajadah#bukuke-2
9.2
Dalam buku kedua trilogi Women Power Series, Jihan Khairiyah menghadapi kehancuran rumah tangga di tengah kehamilan tua. Reuni membawa petaka saat suaminya, Tommy Wiranata, terjerat CLBK dengan Diana, tetangga yang dianggap saudara sendiri. Meski Tommy berdalih hanya khilaf, Jihan menyadari pengkhianatan emosional tetaplah perselingkuhan. Kini Jihan harus memilih antara bertahan demi nafkah atau pergi demi harga diri dari lingkaran dusta yang menyakitkan.
Sampul Novel Cinta dan Dendam Andara
9.8
Andara meninggalkan kehidupan desa untuk merantau ke kota besar. Misi utamanya adalah menemukan sosok yang bertanggung jawab atas penderitaan sang ibu di masa lalu. Saat bekerja sebagai staf pembersih, ia justru menarik perhatian seorang CEO tampan yang menjadi pimpinannya. Benih cinta mulai tumbuh di antara mereka berdua di tengah perbedaan status sosial. Namun, ketika hubungan semakin dalam, berbagai rintangan besar muncul menguji kesetiaan mereka.
Sampul Novel Ena-Ena 21+
8.4
Ena-Ena 21+ menyajikan antologi cerita pendek romantis yang mengeksplorasi beragam dinamika hubungan dewasa. Mulai dari romansa penuh kuasa antara CEO dan pengusaha, hingga kisah emosional yang melibatkan janda, duda, serta konflik antara mertua dan menantu. Dengan latar profesi yang luas seperti tentara, dokter, hingga satpam, setiap narasi dirancang untuk memuaskan fantasi pembaca melalui alur yang memikat. Nikmati setiap jalinan kisah cinta yang unik dan mendalam.
Sampul Novel Harga Diri Seorang Wanita
8.1
Jenna Ren berdiri di tepi atap rumah sakit dengan lengan berdarah dan hati hancur. Saat nyaris melompat, ia melihat suaminya datang bersama wanita lain. Jenna sadar bahwa kematiannya hanya akan memberi mereka kebahagiaan. Setelah menderita hingga keguguran, ia bangkit untuk membalas dendam. Jenna membatalkan niat bunuh diri dan mendatangi Tuan Besar Kim. Sambil berlutut, ia memohon kekuasaan demi menghancurkan orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Hidden Baby Girl
9.1
Laras memutuskan pergi menjauh saat David menyuruhnya melenyapkan janin di rahimnya. Namun, pelarian itu tak lantas membawa ketenangan karena bayangan masa lalu terus mengejarnya. Bertahun-tahun berlalu, takdir justru mempertemukan mereka kembali dalam situasi yang telah berubah total. Akankah mereka memilih bersatu demi sang buah hati, atau justru tetap pada jalan masing-masing meski benih cinta sebenarnya masih tersimpan rapat di dalam lubuk hati mereka?
Sampul Novel Puncak Nafsu Ayah Mertua
7.9
Aku masih memandangi tubuhnya yang tegap, otot-otot dadanya bergerak naik turun seiring napasnya yang berat. Kulitnya terlihat mengilat, seolah memanggil jemariku untuk menyentuh. Rasanya tubuhku bergetar hanya dengan menatapnya. Ada sesuatu yang membuatku ingin memeluk, menciumi, bahkan menggigitnya pelan. Dia mendekat tanpa suara, aura panasnya menyapu seluruh tubuhku. Kedua tangannya menyentuh pahaku, lalu perlahan membuka kakiku. Aku menahan napas. Tubuhku sudah siap bahkan sebelum dia benar-benar menyentuhku. Saat wajahnya menunduk, bibirnya mendarat di perutku, lalu turun sedikit, menggodaku, lalu kembali naik dengan gerakan menyapu lembut. Dia sampai di dadaku. Salah satu tangannya mengusap lembut bagian kiriku, sementara bibirnya mengecup yang kanan. Ciumannya perlahan, hangat, dan basah. Dia tidak terburu-buru. Lidahnya menjilat putingku dengan lingkaran kecil, membuatku menggeliat. Aku memejamkan mata, bibirku terbuka, dan desahan pelan keluar begitu saja. Jemarinya mulai memijit lembut sisi payudaraku, lalu mencubit halus bagian paling sensitif itu. Aku mendesah lebih keras. "Aku suka ini," bisiknya, lalu menyedot putingku cukup keras sampai aku mengerang. Aku mencengkeram seprai, tubuhku menegang karena kenikmatan itu begitu dalam. Setiap tarikan dan jilatan dari mulutnya terasa seperti aliran listrik yang menyebar ke seluruh tubuhku. Dia berpindah ke sisi lain, memberikan perhatian yang sama. Putingku yang basah karena air liurnya terasa lebih sensitif, dan ketika ia meniup pelan sambil menatapku dari bawah, aku tak tahan lagi. Kakiku meremas sprei, tubuhku menegang, dan aku menggigit bibirku kuat-kuat. Aku ingin menarik kepalanya, menahannya di sana, memaksanya untuk terus melakukannya. "Jangan berhenti..." bisikku dengan napas yang nyaris tak teratur. Dia hanya tertawa pelan, lalu melanjutkan, makin dalam, makin kuat, dan makin membuatku lupa dunia.