
Melarikan Diri dari Pernikahan
Bab 2
Aku kembali ke rumahku dengan Andika. Di semua sudut rumah ini, terdapat jejak hidup kami. Bingkai foto di dinding, karpet custom, vas bunga yang kami buat bersama ....
Rumah ini pernah memberiku kebahagiaan. Setelah sadar sekarang, aku baru menyadari betapa konyolnya diriku. Meskipun semua bingkai itu adalah fotoku dengan Andika, ekspresi Andika di setiap foto sangat dingin. Hanya aku sendiri yang tersenyum gembira.
Andika mengatakan dia tidak suka tersenyum. Namun, aku jelas-jelas pernah melihat tampangnya saat menatap Nancy. Begitu melihat Nancy, dia tanpa sadar langsung tersenyum dan merasa gembira dari dalam hati. Tidak seperti saat bersamaku, dia selalu terkesan tidak sabar.
Ada banyak barang di rumah ini. Barang milikku, milik Andika, dan milik kami. Setelah melihat semuanya saksama, aku baru menyadari bahwa hampir semua barang ini adalah pilihanku. Selain kebutuhan sehari-harinya, tidak ada satu pun barang yang dipilihnya. Kenapa aku bisa merasa rumah ini merupakan simbol kebahagiaanku dengan Andika?
Rasa sedih dan benci tidak berhenti menumpuk dalam hatiku. Aku pun kehilangan kendali dan membanting semua barang-barang di rumah ini. Vas, bingkai foto, cangkir .... Aku mencari semua barang yang dulunya sangat berarti bagiku dan membuangnya ke halaman.
Aku berdiri di depan tumpukan barang itu tanpa ekspresi. Sebuah laptop tiba-tiba jatuh dari tumpukan barang itu. Aku membukanya dan melihat sebaris kalimat yang kutulis di layar.
[ Seratus hal yang ingin kulakukan bersama Andika. ]
Bermain ski, menyelam, melihat matahari terbenam ....
Satu demi satu hal itu kutulis dengan sangat serius, rinci, dan penuh harapan. Sayangnya, tidak ada satu pun hal yang terwujud dari 100 hal itu.
Aku menaruh laptop itu ke samping, lalu menyalakan mancis. Api yang berkobar makin besar melenyapkan semua bukti kami pernah bersama. Masa lalu selama 7 tahun ini juga seolah-olah berubah menjadi gelembung dan sirna sedikit demi sedikit.
Perutku terasa agak sakit. Aku melirik rumah yang berantakan ini, lalu menelepon Paman Andy.
“Paman Andy, tolong suruh orang bersihkan rumah di Vila Indah Lestari, lalu jual secepatnya.”
Setelah mengemas beberapa potong pakaian, aku pun membeli tiket pesawat dan membawa koperku meninggalkan ibu kota. Sebelum naik ke pesawat, aku menerima pesan dari sebuah nomor tak dikenal.
[ Cathy, kamu gila ya? Jangan kira aku akan mengalah padamu karena kita sudah mau nikah! Nanti, jangan sampai kamu nangis-nangis minta aku nikahi kamu lagi! Aku nggak akan peduli padamu! ]
Aku tidak membalas pesan itu dan langsung memblokir nomornya. Kemudian, aku membuka sosial media dan kebetulan melihat postingan teman Andika.
[ Waktu sudah berlalu begitu lama, tapi cinta seseorang masih belum berkurang sedikit pun. ]
Foto yang dipostingnya itu adalah foto Andika dengan Nancy. Mereka sepertinya sedang bermain sebuah permainan. Wajah Andika dipenuhi dengan notes tempel yang berwarna warni, tetapi dia hanya menatap Nancy sambil tersenyum penuh kasih sayang.
Aku teringat insiden di mana aku pernah tidak hati-hati menciprati wajah Andika dengan krim kocok. Dia langsung murka dan mendorongku hingga aku jatuh ke lantai. Sekarang, dia malah sibuk menyenangkan wanita yang dicintainya sambil mengancamku.
Aku memberi komentar di postingan itu.
[ Semoga langgeng. ]
Setelah itu, aku langsung memblokir dan menghapus semua kontak maupun akun sosial media orang yang memiliki hubungan dengan Andika.
Aku mewujudkan 100 hal yang ingin kulakukan bersama Andika seorang diri. Hanya dalam waktu sebulan, aku berhasil melakukan semua yang tidak pernah kami lakukan selama 7 tahun.
Perhentian terakhir dalam perjalanan ini adalah melihat matahari terbit di gunung es. Aku menahan rasa dingin dan haus sambil mendaki selangkah demi selangkah ke tempat yang tidak pernah kudatangi. Aku sempat berpikir untuk menyerah beberapa kali, tetapi entah kenapa aku tetap bertahan.
Begitu tiba di puncak gunung es ini, cahaya keemasan yang cemerlang muncul di langit. Ketika melihat matahari terbit yang begitu memesona dan mendengar seruan gembira orang lain di sekitarku, rasa sakit itu seolah-olah juga sudah mencair sedikit demi sedikit.
Pada saat turun gunung, aku membuang laptop itu ke tong sampah. Saat aku kembali ke ibu kota, Ayah, Ibu, dan kakak laki-lakiku yang sudah menungguku sekian lama langsung memelukku dengan erat.
“Dasar kamu ini! Akhirnya kamu pulang juga.”
“Syukurlah kamu sudah pulang,”
Anda Mungkin Juga Suka





