
Melarikan Diri dari Pernikahan
Bab 3
Luna, sahabatku itu memukul pundakku, lalu berkata menyeka air matanya, “Untung kamu tetap ada kasih kabar ke kami. Kalau nggak, kami benar-benar bisa mati saking khawatirnya.”
Tidak ada orang yang bertanya kenapa aku tiba-tiba melarikan diri dari resepsi pernikahan, atau kenapa aku berlibur seorang diri selama sebulan. Mereka semua bersikap seolah-olah semua itu tidak penting.
Dalam perjalanan pulang, kakakku berujar, “Cathy, kami itu pendukung terbesarmu. Kamu pasti akan lakukan kesalahan selama hidup, tapi kami akan selalu menoleransi semua kesalahan itu.”
Aku menahan air mataku dan tidak berhenti mengangguk.
...
Baru saja aku tiba di gerbang rumah, Paman Andy, pengurus rumah kami buru-buru berjalan keluar dan berbisik, “Tuan, Nyonya, Andika bawa orang datang kemari.”
Begitu mendengar ucapan itu, ekspresi Ibu langsung berubah.
“Dia masih berani datang? Siapa yang biarkan dia masuk?” Melihat kakakku yang hendak turun dari mobil dan sepertinya ingin menghajar Andika, aku buru-buru menghentikannya.
“Nggak usah begitu. Biar aku saja yang tangani hal ini. Kalian nggak usah khawatir.” Saat melihat tatapan mereka yang penuh kekhawatiran, aku menepuk-nepuk tangan mereka sambil menghibur, “Aku benar-benar baik-baik saja. Pikiranku sudah terbuka.”
Setelah menenangkan keluargaku, aku melirik ke arah Andika dan Nancy yang ada di sisinya. Keningku pun berkerut. “Ini bukan hal yang patut dibanggakan. Kita ganti tempat bicara saja.”
Sebelum mereka sempat merespons, aku sudah langsung berjalan ke arah paviliun di samping.
Andika buru-buru mengejarku dan bertanya dengan kesal, “Cathy, sudah cukup kamu buat onarnya? Kamu benar-benar nggak mau nikah lagi, ‘kan?”
Aku menatap Andika dengan agak lucu, lalu bertanya balik sambil memiringkan kepalaku, “Andika, seingatku, aku sudah ngomong semuanya dengan jelas. Hubungan kita sudah berakhir. Bukannya kamu bilang kamu nggak akan setuju meski ke depannya aku nangis-nangis dan minta kamu nikahi aku? Kenapa? Sekarang, kamu yang mau bersujud dan mohon padaku?”
Ucapanku jelas sudah memicu amarah Andika. Dia mencengkeram tanganku dan berseru, “Cathy, jangan keterlaluan! Jangan lupa anak dalam kandunganmu itu anakku! Apa kamu mau goda pria lain dan jebak dia jadi ayah anak ini?”
Begitu mendengar penghinaannya, aku langsung menamparnya dengan kuat. Suara tamparan yang nyaring langsung mengejutkan Nancy yang berdiri di samping.
Nancy buru-buru memeriksa wajah Andika, lalu berkata dengan sedih, “Cathy, aku tahu kamu nggak suka sama aku. Tapi, postingan itu cuma salah paham. Masih ada orang lain di samping kami. Kami bukan cuma berduaan.”
“Kalau kamu salah paham, kamu boleh pukul atau maki aku. Tapi, kamu nggak boleh pukul Andika! Kalian sudah pacaran 7 tahun. Kamu yang duluan kabur dari resepsi pernikahan kalian dan buat Andika malu. Kenapa kamu malah bersikap kayak dia yang salah?”
Setelah mendengar kata-kata munafik itu, aku langsung menampar Nancy.
“Nancy, kamu ucapkan kata-kata munafik itu pakai status apa? Mantan pacarnya atau simpanannya?”
Andika tidak menyangka aku akan tiba-tiba main tangan. Dia buru-buru memeriksa wajah Nancy, lalu mengancamku, “Cathy, sebaiknya kamu sadar diri! Kalau masalah ini bertambah besar, kamu sendiri akan malu!”
Begitu mendengar ucapan itu, aku pun merasa sangat lucu.
“Aku ini putri Keluarga Suryadi. Kelak, setengah aset Keluarga Suryadi akan jadi milikku. Kamu kira aku akan takut pada ancamanmu? Kalian mau sandiwara sampai kapan? Kalian kira orang luar nggak akan tahu hubungan kalian dari sikap kalian yang mesra? Kalian anggap aku bodoh?”
Begitu memikirkan hal ini, aku merasa hal ini makin ironi. “Asal kamu tahu, aku nggak mungkin nikah sama kamu! Mau kamu cari Nancy atau wanita lain, terserah! Itu nggak ada kaitannya denganku!”
Seusai berbicara, aku langsung berbalik dan hendak pergi. Namun, Andika malah ingin mencengkeram tanganku. Melihat hal ini, Nancy memanfaatkan kesempatan untuk menabrak Andika. Gerakan Andika yang semula hendak mencengkeram tanganku secara refleks berubah menjadi mendorongku.
Aku yang lengah pun jatuh dari tangga. Kemudian, darah mulai mengalir keluar dari bagian bawah tubuhku.
Anda Mungkin Juga Suka





