
Melarikan Diri Dari Dekapan Neraka
Bab 2
Hingga sekarang, tubuh dan gigiku masih bisa bergetar saat memikirkannya.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa dari luar bangsal. Ryder dan Wayne sama-sama memasuki bangsal.
Angel juga ada di sini. Dia berdiri di ujung ranjang sambil berujar dengan mata memerah, "Avril, aku minta maaf. Aku sudah kelewatan, tapi aku sudah bayar semua biaya pengobatanmu. Tolong jangan marah atau dendam padaku ya?"
Nada bicara Angel terdengar tulus. Ekspresinya juga lembut, seolah-olah wanita yang ada di kapal pesiar hari itu bukan dirinya.
Kepalaku seketika terasa sakit. Aku memejamkan mata untuk menahan rasa sakit itu. Namun, Ryder dan Wayne malah mengira aku membenci Angel.
Ryder berdiri di pinggir ranjang sambil menatapku dengan ekspresi datar. Meskipun aku hampir mati di depan matanya, dia sama sekali tidak merasa cemas.
Padahal, Ryder yang dulu tidak seperti ini. Ketika aku berusia 10 tahun, ayahku membawaku ke kawasan wisata malam. Dia memberiku sekuntum bunga mawar merah, lalu berpesan, "Avril, ingat. Kamu harus ikut siapa pun yang mengambil bungamu. Paham?"
Aku tidak menanyakan alasannya karena itu pertama kalinya ayahku bersikap begitu lembut padaku. Aku hanya bisa terperangah.
Saat melihatku hanya diam, ayahku panik dan meraih lenganku untuk menggoyangkan tubuhku. Seketika, aku tersadar kembali. Ini baru sifat ayahku yang sebenarnya.
Ayah tidak pernah bersikap lembut. Kerjaannya cuma minum-minum dan memukulku serta Ibu. Ibu meninggal karena dipukulnya. Kini, dia merasa aku cuma beban sehingga ingin menjualku.
Aku pernah melihat orang sepertiku. Mereka akan mengikuti orang yang mengambil bunga mawar mereka. Jika tidak, kami akan dijual ke rumah pelacuran.
Aku melewati banyak orang, tetapi tidak ada yang mengambil bungaku. Karena panik, ayahku pun memarahiku, "Dasar nggak berguna! Aku seharusnya menghabisimu sejak awal!"
Ayahku menarikku ke pintu yang terlihat seperti pintu neraka itu. Tiba-tiba, seorang pemuda mengambil bunga di tanganku.
Ekspresinya tampak sangat datar. Dia menyuruh pengawal mengobrol dengan ayahku. Aku melihat ayahku menerima setumpuk uang yang tebal. Dia membungkuk untuk memberi hormat, lalu mengantar kepergian kami.
Pemuda itu membawaku ke sebuah rumah besar. Dia menyuruh orang mengajariku berbagai hal. Namun, sejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengannya lagi.
Tiga tahun kemudian, aku yang awalnya kurus kerempeng menjadi wanita anggun dan cantik. Kami akhirnya bertemu lagi.
Seperti biasa, ekspresinya masih datar. Dia tampak agak kaget saat melihatku. Hari itu, aku baru tahu namanya adalah Ryder. Dia menyuruhku memanggilnya Kak Ryder.
Sudah sepuluh tahun aku memanggilnya kakak dan terus mengikutinya. Ryder bilang dia yang menghidupiku selama ini, jadi dia akan melindungiku untuk selamanya. Dia tidak akan membiarkan siapa pun menindasku.
Namun, sekarang Ryder melupakan semua janjinya. Dia malah memberikan perlindungan itu kepada wanita lain. Sekalipun aku hampir mati, dia tetap membela wanita lain, "Avril, Angel minum terlalu banyak, jadi mabuk. Maafkan dia."
Nada bicara Ryder dingin seperti biasa. Tidak terlihat emosi apa pun pada sorot matanya. Aku tidak bisa berkata-kata. Tenggorokanku kering.
Ryder mengernyit seperti merasa tidak puas. Saat dia memanggil namaku lagi, aku bisa mendengar kekesalannya. "Avril, jangan kekanak-kanakan."
Ternyata, penderitaan yang kualami tampak kekanak-kanakan di matanya. Aku mengepalkan kedua tanganku dengan erat. Tanganku tidak sakit, aku hanya bisa merasakan sakit pada hatiku.
Aku ingin bilang aku tidak marah dan hanya ingin putus hubungan dengannya. Namun, saat hendak berbicara, tenggorokanku terasa sakit. Aku tidak bisa mengeluarkan suara.
Wayne pun mulai kehilangan kesabaran. Dia awalnya masih merasa bersalah, tetapi sekarang tidak lagi.
"Avril, jadi orang harus murah hati. Angel sudah minta maaf. Apa begitu susah memaafkan orang? Kamu kira statusmu sangat mulia, sampai-sampai nggak bisa diajak bermain? Ryder menghidupimu selama belasan tahun. Bukannya belajar yang baik, kamu malah jadi manja begini."
Anda Mungkin Juga Suka





