
Melarikan Diri Dari Dekapan Neraka
Bab 3
Ucapan Wayne yang merendahkan ini seperti tamparan tak kasatmata. Aku pertama kali bertemu Wayne di pesta ulang tahun Ryder yang ke-18.
Hari itu, Ryder membawaku ke rumahnya dan memperkenalkanku kepada keluarganya. "Kelak Avril adalah keluarga kita. Aku akan melindunginya selama aku masih hidup."
Saat itu, Wayne sedang bermain game. Begitu mendengarnya, dia mendongak dan mengamatiku. Sesaat kemudian, dia tersenyum. "Kalau begitu, Avril juga keluargaku. Aku juga akan melindunginya."
Seketika, semua tatapan tertuju padaku, baik itu tatapan iri ataupun tatapan hina. Aku tentu panik.
Wayne langsung menyimpan ponselnya dan meraih tanganku. "Avril, aku bawa kamu jalan-jalan yuk. Supaya kita lebih dekat."
Tanpa meminta pendapatku, Wayne mendorongku ke mobil dan membawaku berkeliling. Jika Ryder tidak meneleponnya untuk membawaku pulang, Wayne masih ingin membawaku ke pantai.
Ketika turun dari mobil, Wayne mencubit pipiku dan berujar dengan tulus, "Jangan cuma main sama Ryder. Aku juga kakakmu."
Sejak saat itu, aku dan Ryder tinggal bersama. Wayne pun sering datang berkunjung. Wayne terus membawaku jalan-jalan, sampai ke luar negeri.
Saat aku tamat kuliah, Ryder dan Wayne sama-sama menghadiri acara wisudaku. Orang-orang sampai iri melihatku.
Hari itu, Wayne bahkan menyalakan kembang api di pantai dan menyatakan cinta kepadaku. Hatiku tergerak. Aku ingin menerimanya, tetapi tiba-tiba ada yang menutup mulutku.
Aku mencium aroma tubuh Ryder. Aku bisa melihat senyuman Wayne menghilang. Ryder berucap dengan suara rendah, "Avril masih terlalu muda. Dia belum ingin pacaran. Wayne, jangan merusak masa depannya."
Wayne hanya bisa menunduk dan tampak sedih. Aku merasa tidak tega, tetapi Ryder masih menutup mulutku.
Kukira Wayne akan bersikap dingin padaku sejak hari itu. Siapa sangka, keesokan harinya semua berjalan normal. Wayne masih sering datang dan membawaku jalan-jalan, sedangkan Ryder tidak melarangnya.
Hingga akhirnya Angel muncul, aku jadi jarang melihat Wayne. Ryder juga jarang pulang. Rumah itu menjadi tempat tinggalku sendirian.
....
Aku menjilat bibirku yang kering sebelum berkata, "Aku nggak marah."
Hanya kalimat pendek, tetapi tenggorokanku seperti tersayat-sayat. Suaraku benar-benar serak.
Wayne mengembuskan napas. Ekspresinya menjadi jauh lebih baik. "Baguslah kalau kamu nggak marah. Nanti aku bawa kamu jalan-jalan lagi kalau sudah sembuh."
Aku menyunggingkan bibir. Ekspresiku tampak datar. Sebenarnya sejak Wayne mengungkapkan perasaannya, dia melarangku memanggilnya kakak lagi, juga tidak menganggap dirinya sebagai kakakku lagi.
Wayne lebih suka aku memanggil namanya. Katanya, rasanya berbeda kalau aku memanggil namanya.
Namun, saat aku memanggil namanya di hadapan Angel, dia malah menegurku dengan wajah suram, "Avril, panggil aku kakak."
Sejak saat itu, aku mulai memanggilnya kakak lagi, begitu juga sebaliknya. Dadaku sesak. Banyak kenangan indah di masa lalu. Itu sebabnya, aku selalu merindukan masa-masa itu.
Namun, kenyataan selalu membangunkanku dan menyadarkanku akan posisiku.
Ryder melirik jam tangannya dan berujar dengan agak lembut, "Ya sudah. Karena nggak ada salah paham lagi, biarkan Avril istirahat. Avril, jangan pikir yang aneh-aneh. Semua akan membaik setelah kamu bangun."
Semua akan membaik setelah aku bangun? Setelah bangun, aku bisa menganggap semua ini tidak pernah terjadi? Aku tidak sependapat, tetapi tetap mengangguk.
Setelah Ryder pergi, Wayne duduk sebentar dan akhirnya pergi juga karena ada urusan di kantor. Dengan demikian, hanya tersisa aku dan Angel.
Aku cukup terkejut. Angel seharusnya tidak ingin berlama-lama di sini. Sejak Angel pulang, wanita ini selalu menunjukkan kebenciannya padaku.
Aku masih ingat seperti apa penampilannya saat itu. Angel tampak angkuh. Sorot matanya dipenuhi hinaan, persis dengan sekarang.
Ketika aku memalingkan wajahku, Angel malah ikut pindah posisi. "Avril, kamu ini beruntung sekali karena masih bisa hidup. Tapi, nggak masalah. Aku akan menunjukkan kepadamu, betapa bodohnya kamu karena ingin menggantikan posisiku."
Menggantikan posisinya? Aku tidak pernah berpikiran seperti itu.
"Kamu sudah salah paham. Aku nggak pernah berniat menggantikan posisimu."
"Oh ya? Kalau begitu, kenapa kamu nggak pergi saja dari mereka? Jangan bilang kamu ingin balas budi," cela Angel.
"Avril, sampai sekarang kamu masih merasa Ryder membelimu karena kasihan padamu? Masa kamu nggak merasa kita sangat mirip?"
Anda Mungkin Juga Suka





