
Melahirkan Anak Bos Killer
Bab 2
🏵️🏵️🏵️
Di usia yang baru memasuki delapan belas tahun, Sarah sudah menyandang status sebagai istri. Semua harapan yang dia dambakan selama ini telah sirna. Keinginan untuk mencintai lelaki lain hanya akan menjadi khayalan semata bagi dirinya.
“Ngapain duduk di situ?” Sarah dikagetkan suara Wisnu yang baru keluar dari kamar mandi. “Sekarang kamu harus tidur di ranjang yang sama dengan saya karena kamu sudah resmi menjadi istri saya!” Nada tinggi yang Wisnu keluarkan, akhirnya menyadarkan Sarah kalau laki-laki itu tetap kasar.
“Baik, Pak.” Sarah pun beranjak dari sofa lalu menghampiri Wisnu yang kini telah duduk di tempat tidur.
“Mulai sekarang, jangan panggil saya dengan sebutan itu. Saya nggak mau kalau sampai Papi dan Mami curiga. Saya terpaksa menikahimu karena desakan mereka. Kalau bukan karena perintah orang tua, saya nggak mungkin menjadikanmu sebagai istri.” Apa yang Sarah curigai ternyata benar. Dia berpikir, tidak mungkin seorang Wisnu tiba-tiba melamar dirinya kalau tidak memiliki maksud lain.
“Jadi, saya harus memanggil Bapak dengan sebutan apa?” Sarah masih tetap berusaha bersikap lembut di depan laki-laki yang kini sudah resmi berstatus sebagai suaminya.
“Panggil ‘Mas’ aja supaya terkesan seperti suami istri beneran. Jadi, Papi dan Mami nggak curiga.”
“Baik. Saya akan melakukan apa yang Mas inginkan.”
“Kamu harus ingat. Jangan pernah berharap lebih dari saya. Pernikahan kita hanya status, tanpa cinta. Saya tidak pernah mencintaimu karena cinta saya hanya untuk Sandra.” Wisnu menyebutkan nama wanita yang dia cintai.
“Jika Mas mencintai gadis lain, kenapa harus menikah dengan saya?” Sarah ingin tahu jawaban yang akan Wisnu berikan.
“Itu bukan urusanmu! Saya menikahimu karena sebuah janji dan kamu juga harus berjanji pada saya.” Wisnu justru memberikan jawaban yang tidak Sarah mengerti.
“Janji apa, Mas?” tanya Sarah penasaran.
“Berjanjilah untuk melahirkan anak saya.”
Sarah tidak pernah menyangka akan mendengar permintaan menyakitkan itu dari mulut Wisnu. Sebelumnya, dia tidak pernah tahu apa tujuan laki-laki itu menikahinya secara tiba-tiba, padahal dia sangat mengetahui bahwa seorang Wisnu tidak pernah memiliki niat untuk menjalani pernikahan.
Sarah tidak dapat mengelak, dia pun berjanji akan menuruti semua yang telah Wisnu jelaskan. Dia tetap menghargai keputusan yang diucapkan laki-laki tersebut.
Dia selalu mengingat nasihat ibunya, menjadi istri yang menghargai suami. Malam ini, dia akhirnya menyerahkan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya kepada suami yang tidak dia cintai.
Tanpa diminta, air mata Sarah telah jatuh hingga membasahi pipinya. Dia tidak rela menghadapi kenyataan ini, tetapi dia harus berusaha menerima apa yang terjadi.
“Kenapa kamu nangis?” Wisnu memegang pundak Sarah yang kini membelakangi dirinya.
🏵️🏵️🏵️
Sarah tidak kuasa menolak keinginan laki-laki yang telah menikahinya. Namun, dia juga belum mampu untuk ikhlas atas penyerahan diri kepada suaminya itu. Dia melakukan semua itu hanya karena sebuah janji yang telah mereka sepakati bersama.
Sarah harus berkorban demi keselamatan ayahnya tercinta. Dia tidak peduli dengan syarat yang diberikan Wisnu kala itu. Walaupun dengan berat hati, wanita berparas cantik itu bersedia menjadi pendamping hidup laki-laki yang tidak pernah dia cintai.
Kesepakatan itu terjadi begitu saja. Sarah dihadapkan pada situasi yang sangat berat. Dia tidak menemukan jalan keluar untuk mendapatkan biaya operasi ayahnya. Dia berusaha meminta bantuan kepada kerabat, tetapi tidak mendapatkan hasil.
Janji yang telah Sarah sepakati bersama Wisnu, akhirnya kini telah membawanya ke dalam kehidupan yang sebenarnya tidak dia harapkan. Sesuatu yang paling berharga dalam dirinya telah dia serahkan kepada laki-laki itu.
“Kamu nggak perlu nangis. Saya mendapatkannya juga nggak gratis.” Wisnu dengan tega melontarkan kalimat itu kepada Sarah.
Hati Sarah makin sakit mendengar apa yang keluar dari mulut Wisnu. Dia kembali mengingat awal pertemuan mereka beberapa bulan yang lalu saat dirinya melaksanakan praktik kerja lapangan di perusahaan pria tersebut.
Keluarga Wisnu memiliki perusahaan yang bergerak di bidang jasa penerbitan dan percetakan buku. Usaha yang sudah lama dirintis tersebut merupakan usaha yang cukup berkembang pesat di kota Surabaya.
Sarah mendapatkan kesempatan untuk melaksanakan praktik di perusahaan keluarga laki-laki yang kini resmi menjadi suaminya. Kala itu, Sarah bersekolah di salah satu SMK di kota yang sama dengan perusahaan Wisnu.
“Saya Sarah, Pak. Salah satu siswi yang magang di perusahaan ini.” Sarah memperkenalkan diri di ruangan Wisnu saat itu.
“Kamu jurusan apa?” tanya Wisnu dengan tatapan tajam dan suara tegas.
“Akuntansi, Pak.”
“Kamu bisa kerja, nggak?”
“Saya akan berusaha melakukan apa yang Bapak minta.”
“Oke. Kamu bantu karyawati bagian keuangan dalam menyiapkan pembukuan.”
“Baik, Pak.”
Perkenalan Sarah dan Wisnu terjadi begitu saja. Sarah akhirnya mengetahui seperti apa sikap pemimpin perusahaan tempatnya magang. Dia banyak mendapatkan informasi tentang Wisnu dari karyawati yang menjabat sebagai pengelola keuangan dan pembukuan.
=============
Anda Mungkin Juga Suka





