
Melahirkan Anak Bos Killer
Bab 3
🏵️🏵️🏵️
Karyawati tersebut bernama Lani. Dia menceritakan sikap dingin Wisnu yang tidak pernah dekat dengan seorang wanita. Lani bahkan pernah mendengar pengakuan Wisnu di depan ayahnya. Pria itu tidak memiliki keinginan untuk mengarungi hidup berumah tangga.
Bagi Lani, Wisnu merupakan sosok pemimpin yang sangat kasar. Sarah juga membenarkan hal tersebut. Wisnu dengan tega pernah menghardik Sarah karena kesalahpahaman yang terjadi dalam laporan keuangan yang dianggap keliru.
Sarah dengan sabar memberikan penjelasan kepada Wisnu. Laki-laki itu pun terdiam setelah mengetahui kalau dirinya yang tidak teliti dalam mengoreksi laporan yang Sarah kerjakan. Sejak kejadian itu, Wisnu lebih percaya kepada wanita yang saat ini berstatus sebagai istrinya daripada karyawati di kantornya.
“Kenapa kamu diam?” Lamunan Sarah buyar seketika setelah kembali mendengar suara Wisnu. “Apa pantas kamu menangisi apa yang terjadi di antara kita? Kamu lupa dengan uang yang saya berikan untuk menyelamatkan ayahmu?” Wisnu menarik tubuh Sarah hingga menghadap ke arahnya.
“Saya minta maaf, Mas. Saya janji akan belajar ikhlas dengan apa yang telah saya berikan pada Mas.” Sarah menangkupkan kedua telapak tangannya di depan Wisnu.
“Ikhlas nggak ikhlas, saya nggak peduli. Kamu harus tetap fokus dengan janjimu. Lahirkan anak untuk saya.” Setelah mengucapkan kalimat itu, Wisnu menggeser posisi sedikit menjauh dari Sarah lalu membelakanginya.
Sarah juga melakukan hal yang sama. Wanita pemilik rambut panjang itu kembali menumpahkan air mata yang tidak mampu untuk dibendung. Dia berjanji pada dirinya akan berusaha ikhlas menghadapi kenyataan yang telah terjadi.
🏵️🏵️🏵️
Sarah terbangun saat jarum jam menunjukkan angka lima. Dia segera menuju kamar mandi untuk membersihkan tubuh. Dia kembali mengingat apa yang telah terjadi tadi malam, hatinya tetap sakit walaupun sudah mencoba untuk ikhlas.
Air mata Sarah kembali jatuh membasahi pipi, tetapi ditutupi air yang keluar dari shower. Dia menangis sejadi-jadinya dan berharap tidak diketahui Wisnu yang masih terlelap. Sarah mengingat wajah sang ibu yang telah memberikan nasihat dan pengertian sebelum acara penikahannya dengan Wisnu berlangsung.
“Maafin Ibu, Nak. Masalah ekonomi yang kita hadapi telah membuatmu harus berkorban. Tapi Ibu minta, kamu jangan pernah mengabaikan tugasmu sebagai seorang istri terhadap suami. Walau bagaimanapun, Wisnu akan menjadi imam untukmu.” Mengingat nasihat tersebut, Sarah makin tidak kuasa.
“Iya, Buk. Sarah janji akan selalu mengingat nasihat Ibu.” Sarah pun langsung memeluk erat tubuh ibunya.
Hampir setengah jam lamanya, Sarah berada di kamar mandi. Dia pun membenahi diri, mengenakan pakaian lalu keluar dari ruangan tersebut. Dia segera melakukan kewajiban sebagai umat Islam, melaksanakan salat Subuh. Dia ingin meminta kekuatan dan petunjuk dari Yang Kuasa.
Setelah selesai salat, Sarah pun mengangkat kedua tangannya secara terbuka sambil menengadah. Dia ingin melangitkan doa kepada Sang Pencipta. Tanpa diminta, air matanya kembali jatuh membasahi pipi.
“Ya Allah Yang Mahakuasa, ampuni hamba yang belum mampu menerima apa yang telah Engkau berikan. Hamba akan berusaha berbakti kepada suami yang Kau pilihkan. Bukakan pintu hati hamba untuk menerima Mas Wisnu. Aaamiiin.”
Sarah mengusapkan kedua telapak tangan ke wajahnya. Kini, hatinya lebih tenang setelah selesai menyatakan perasaannya kepada Yang Kuasa. Dia pun segera berdiri lalu melepas mukena yang dikenakan.
Akan tetapi, sebelum Sarah membenahi perlengkapan salat tersebut, Wisnu tiba-tiba terbangun. Laki-laki itu segera turun dari ranjang lalu menghampiri sang istri. Dia meraih tangan wanita itu, kemudian mengajaknya melangkah ke tempat tidur.
“Doamu lucu.” Wisnu melontarkan kalimat itu setelah dirinya dan Sarah duduk di tepi ranjang.
Sarah hanya terdiam dan menunduk. Dia tidak ingin membalas apa yang dikatakan suaminya. Dia sekarang pasrah dengan apa yang dipikirkan laki-laki itu.
“Kenapa kamu diam? Kamu pikir saya peduli jika kamu nggak ikhlas menjadi istri saya? Saya juga nggak pernah berharap menikah denganmu. Saya melakukan semua ini hanya untuk memenuhi keinginan Papi dan Mami. Kamu harus melahirkan penerus untuk keluarga ini.” Wisnu meraih dagu Sarah lalu mengangkat wajahnya.
Apa yang terjadi tadi malam, kini terulang kembali. Hal itu tidak dapat terelakkan. Sarah hanya bisa pasrah dengan apa yang telah Wisnu lakukan pagi ini terhadap dirinya. Setelah itu, laki-laki itu pun melangkah memasuki kamar mandi. Sementara Sarah kini duduk sambil mengusap air matanya yang telah jatuh.
“Cepetan sana mandi! Saya tunggu di meja makan.” Sarah terkejut mendengar suara Wisnu setelah keluar dari kamar mandi.
Sarah tidak memberikan jawaban. Dia segera turun dari tempat tidur lalu kembali membersihkan tubuh. Kali ini, dia merasa kalau Wisnu bukan hanya kasar, tetapi juga kejam. Dia sedih karena laki-laki itu memaksakan kehendaknya.
“Istrimu mana, Wis?” tanya Bu Siska—ibu Wisnu, kepada sang putra setelah berada di dekat meja makan.
“Masih mandi, Mih.” Wisnu memberikan jawaban lalu duduk.
“Dasar pemalas. Baru jadi menantu, udah memberikan kesan nggak baik di depan keluarga suaminya.” Jessy—adik satu-satunya Wisnu, langsung melontarkan pernyataan itu.
===============
Anda Mungkin Juga Suka





