
Masih Adakah Cinta Untukku
Bab 3
"Ma-maksud Bapak?" tanya Daffin yang masih tidak mempercayai telinganya.
"Iya, syaratnya adalah kamu harus menikahi anak saya," ucap Bima dengan santainya.
"Tapi, kenapa Bapak tiba-tiba mau menikahkan saya sama anak Bapak? Bukannya apa-apa Pak, tapi saya ini kan cuma sopir Bapak, mana mungkin saya pantas buat anak Bapak."
"Saya nggak peduli tentang itu. Yang penting buat saya adalah kamu mau menerima anak saya dan bersedia menjadi ayah untuk bayi yang ada di dalam kandungannya. Setelah itu, saya akan tanggung seluruh biaya hidup kamu."
Daffin terdiam mendengar itu.
Jadi, anaknya pak Bima ini lagi hamil toh, batin Daffin.
Laki-laki itu mulai berpikir seraya menimbang-nimbang. Jika dipikir-pikir, semua ini sama sekali tidak memberatkannya dan akan banyak memberikan keuntungan untuk dirinya. Kesempatan ini tidak datang dua kali, kapan lagi dia bisa menjadi menantu seorang konglomerat dengan statusnya yang seperti sekarang?
"Jadi gimana? Kamu mau menikahi anak saya?" tanya Bima.
Setelah cukup lama berpikir dan memikirkan semuanya dengan matang, Daffin sudah mengambil keputusan.
"Saya bersedia menikahi anak Bapak," ucap laki-laki itu yang disambut senyuman oleh Bima.
"Oke, kalo gitu pernikahan kalian akan dilangsungkan sebulan dari sekarang."
***
"Apa?! Papa mau menikahkan aku sama sopir Papa?" tanya Sonya yang tidak habis pikir dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang ayah.
"Papa rasa ini adalah jalan yang terbaik," ucap Bima.
"Tapi apa Papa memikirkan gimana perasaan aku? Apa bisa aku nikah sama orang yang nggak aku cintai?"
"Apa sekarang cinta itu penting? Reputasi keluarga kita dan nasib anak dalam kandungan kamu itu jauh lebih penting, Sonya."
"Sayang, Papa kamu benar. Sekarang bukan waktunya mementingkan perasaan. Cinta itu akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Dan Mama setuju sama keputusan papa kamu. Lagi pula, Daffin itu anak yang baik dan jujur," sahut Miranda.
"Nggak, aku nggak mau nikah. Aku bisa kok ngurus anak aku sendiri," ucap Sonya dengan matanya yang berkaca-kaca.
"Mungkin kamu bisa ngurus anak sendirian, tapi suatu saat kalo anak kamu nanya sama kamu siapa ayahnya atau ayahnya ke mana kamu mau jawab apa?" tanya Bima yang berhasil membuat hati Sonya berdenyut.
Sonya terdiam mendengar kata-kata orang tuanya. Sanggupkah dia menikah dengan orang lain padahal satu-satunya laki-laki yang ada di hatinya hanyalah Ken? Apa tidak boleh jika dia berharap pada Tuhan kalau Ken akan mencarinya lalu menikahinya? Haruskah dia melupakan kisah cintanya dan membangun kisah cinta baru bersama orang lain?
Jika Sonya memikirkan itu, rasanya sakit sekali. Tetapi jika Sonya memikirkan masa depan bayinya dan sikap Ken yang memintanya untuk menyingkirkan bayi mereka, itu jauh lebih menyakitkan.
Nggak, aku nggak boleh egois. Masa depan anak aku adalah yang terpenting. Aku siap mengorbankan kebahagiaan dan hidup aku demi anak ini, batin Sonya.
"Demi bayi dalam kandungan aku, aku menerima pernikahan ini," ucap Sonya.
Miranda dan Bima tersenyum penuh kelegaan mendengar itu.
***
Satu bulan kemudian...
Acara pernikahan Sonya dan Daffin berlangsung dengan sangat mewah dan meriah. Banyak rekan bisnis dan tamu yang berdatangan untuk memberi selamat pada Sonya dan Daffin atas pernikahan mereka. Bukan hanya rekan bisnis dari Indonesia, tetapi juga ada beberapa yang dari luar negeri.
Sekarang Sonya sudah sah menjadi istri Daffin, tetapi gadis itu masih bingung dia harus bahagia atau justru bersedih dengan pernikahan ini. Laki-laki yang dia nikahi adalah laki-laki baik yang tetap mau menikahi dirinya meskipun sudah tahu bahwa dia tengah mengandung anak dari laki-laki lain.
Sonya tidak peduli apa alasan Daffin mau menikahi dirinya, apakah itu karena uang, jabatan, nama, atau memang laki-laki itu dengan ikhlas menikahinya secara sukarela. Yang jelas, Sonya akan sangat berterima kasih kepada Daffin seumur hidup.
Di atas pelaminan, memperhatikan para tamu undangan yang sibuk menyantap makanan mereka sembari sesekali bercengkrama, Sonya dan Daffin menoleh ke arah satu sama lain sambil tersenyum.
Pada saat itu Sonya bertekad, meskipun dia tidak mencintai Daffin atau bahkan mungkin tidak akan pernah bisa mencintai laki-laki itu, Sonya berjanji pada dirinya bahwa dia akan hidup dengan Daffin sebagai sahabat baik hingga nantinya mautlah yang akan memisahkan mereka berdua.
Setelah acara selesai, mereka semua kemudian beristirahat ke kamar masing-masing. Dan sekarang, Sonya dan Daffin sudah berada di kamar hotel mereka.
"Mbak, boleh nggak saya mandi duluan?" tanya Daffin dengan wajah polosnya yang membuat Sonya tergelak.
"Silakan. Oh iya, kamu jangan manggil aku Mbak, ya. Kita kan udah nikah, jadi kamu panggil aku Sonya aja," ucap Sonya yang disambut anggukkan kepala oleh Daffin.
"Kalo gitu, aku mandi duluan," ucap laki-laki itu seraya berjalan ke kamar mandi.
Setelah Daffin selesai mandi, kini giliran Sonya yang mandi untuk membersihkan tubuhnya yang sudah lengket-lengket.
Tak butuh waktu lama, Sonya pun telah selesai mandi dan bersiap untuk tidur.
"Daffin," panggil Sonya seraya duduk di sebelah Daffin yang tengah memainkan ponselnya.
Mendengar Sonya memanggil namanya, dengan cepat laki-laki itu menutup ponselnya dan bersiap mendengarkan perkataan Sonya.
"Iya, kenapa?" tanya Daffin.
"Aku mau ngucapin terima kasih sebanyak-banyaknya karena kamu udah bersedia menikahi aku secara sukarela meskipun kamu tau kalo aku sebenarnya lagi mengandung anak dari orang lain," ucap Sonya seraya menatap manik mata Daffin dalam-dalam.
Daffin tersenyum mendengar itu dan memberanikan diri untuk menggenggam tangan Sonya.
"Aku janji akan jadi ayah yang baik buat anak kamu, emm ... maksud aku anak kita. Aku janji akan jadi orang yang paling pertama melindungi dia, dan akan sayang banget sama dia," ucapnya lalu membelai lembut perut Sonya.
"Tapi kayaknya aku nggak akan bisa jatuh cinta sama kamu karena cinta aku udah jadi milik orang lain," ucap Sonya yang membuat Daffin menghentikan aktivitasnya lalu menatap wajah Sonya yang sudah berkaca-kaca.
"Cinta itu nggak bisa dipaksa. Kalo kita kuat, kalo kita bisa, aku yakin kita akan jadi partner hidup yang baik tanpa harus ada cinta di dalamnya, karena cinta itu bukan segalanya."
"Jadi, kamu rela hidup sama aku tanpa adanya rasa cinta?"
Daffin mengangguk.
"Kalo gitu mulai sekarang kita akan jadi sahabat sekaligus partner yang baik. Janji?" tanya Sonya seraya mengangkat kelingkingnya.
"Janji." Daffin menautkan kelingkingnya pada kelingking Sonya.
Dua sejoli itu tidak tahu sampai mana dan sampai kapan mereka akan bertahan dengan hubungan tersebut. Yang jelas, demi bayi yang bahkan belum lahir itu, mereka berdua siap mengarungi biduk rumah tangga pernikahan bersama-sama dengan prinsip saling menjaga satu sama lain.
Padahal, dalam hati mereka masing-masing terbersit sebuah keinginan dan harapan yang mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.
Anda Mungkin Juga Suka





