
Masa Depan Kita
Bab 2
"Mama jadi mau pergi hari ini ketemu sama sahabat Mama?" tanya Arthur pada mamanya yang baru selesai sarapan.
Mama Arthur melihat sekilas pada anaknya dan melanjutkan meminum airnya yang sisa sedikit di dalam gelas. "Iya, dong. Mama 'kan sudah janji ketemuan hari ini sama sahabat mama. Sudah hampir satu bulan mama tidak bertemu dengannya. Karena hari ini mama ada waktu senggang, makanya mama ngajakin dia ketemu hari ini. Mumpung kamu juga gak sibuk hari ini buat ngantar mama," jawab mama Arthur dengan semangatnya.
Hening sejenak. Tidak ada obrolan lagi di antara mereka. Hanya ada monolog di antara masing-masing mereka. Arthur begitu senang, karena dengan mamanya ketemuan dengan sahabatnya, Arthur secara tidak terencana juga akan bisa menatap gadis pujaan hati.
"Sebenarnya hari ini aku ada jadwal keluar kota. Terpaksa bohong pada mama supaya bisa ketemu bidadariku ... May, aku rindu padamu. Semoga kamu juga ikut dengan ibumu, agar aku bisa menatap indahnya wajahmu dan manisnya senyumanmu. Suara merdumu yang selalu membayangiku, membuat aku selalu rindu ingin mendengarnya kembali. Semoga saja kamu benar-benar ikut dengan ibumu, agar aku bisa melepas rindu walau hanya secara diam-diam," batin Arthur penuh harap.
Tidak disadari oleh Arthur, ternyata senyuman tipis tercipta di bibirnya mengantarkan raut bahagia. Mama Arthur yang melihat anaknya berbinar bahagia seperti itu, sudah bisa menebak kalau Arthur lagi bahagia karena akan bertemu Maya.
"Kapan kamu akan menyadari kalau aku sangat mencintaimu, May. Aku benar-benar pengecut untuk mengungkapkan rasa ini. Aku sadar diri, kamu tidak akan mau dengan pria jelek sepertiku. Akan tetapi, rasa ini tidak mau pergi, selalu menyiksaku untuk terus merindukanmu. Huff ... benar-benar tersiksa dalam belenggu rasa yang terus menguasai hati ini," Arthur terus membatin, menelah rasa cintanya yang kian semakin besar untuk Maya.
"Ar, mama siap-siap dulu, ya. Ini sahabat mama mengabari kalau dia sudah sampai di tempat janjian kami," ujar mama Arthur memecah lamunan anaknya.
"Berapa orang dia, Ma? Maya ikut gak?" tanya Arthur cepat yang langsung keluar pertanyaan itu dari mulutnya.
Mendengar pertanyaan anaknya, Mama Arthur tertawa meledek. Dia sudah yakin kalau Arthur sudah tidak sabar ingin bertemu Maya karena rindu. Diam-diam, mama Arthur sering membaca buku diary anaknya yang setiap lembar buku itu berisikan curhatan rasa cinta dan kerinduannya pada Maya.
"Emm, maksud aku … karena Mama melalaikan waktu ketemuannya, kalau sahabat Mama di sana sendirian 'kan bisa bosan menunggu. Akan tetapi, kalau dia bawa anaknya 'kan bisa ngobrol atau makan bareng anaknya dulu. Mama jangan ngeledekin aku begitu," ujar Arthur beralasan karena salah tingkah di tertawakan mamanya.
"Beneran hanya gara-gara itu? Apa gak ada udang di balik bakwan? Perasaan mama tadi melihat senyuman dibalik lamunanmu," selidik mama Arthur yang langsung membuat Arthur makin salah tingkah.
"Ya, memang begitu, Ma. Memangnya kalau Mama datang ke suatu tempat dan menunggu seseorang, Mama tidak bosan menunggu dalam waktu lama tanpa ada teman ngobrol?" Arthur balik bertanya yang sebetulnya hanya untuk mengelak dari ledekan mamanya.
Anggita—mama Arthur kembali tertawa. Alasan Arthur sangat pasaran untuk membohongi orang tua yang sudah menikmati asam manis percintaan seperti dirinya. "Sahabat mama 'kan bukan hanya ibunya Maya saja. Lalu kenapa kamu nanyain Maya ikut dengannya juga. Apa kamu lagi kangen sama Maya? Bisa jadi yang ketemuan sama mama hari ini sahabat mama yang lain," ujar Anggita yang terus menggoda anaknya yang salah tingkah.
"Astaga, Mama. Mulai lagi ngeledeknya. Walaupun sahabat Mama bukan ibunya Maya saja, tetapi 'kan Mama sering ketemuan sama dia saja. Mama tidak ketemuan hampir satu bulan juga hanya dengannya. Selebihnya sahabat Mama 'kan satu kantor dengan Mama," Arthur beralibi, tetapi apa yang dia jadikan alasan memang betul adanya.
"Ya, sudah. Mama siap-siap dulu. Kamu juga dandan yang keren. Biar Maya terkesima dan mau membalas cintamu." Ujar Anggita dan berlalu pergi meninggalkan Arthur.
Mendengar ucapan mamanya, Arthur melongo menatap punggung mamanya yang semakin menjauh dari pandangannya.
Sedangkan di tempat lain, Maya tersenyum bahagia di sela aktivitasnya memilih pakaian yang mau dia pakai. Dia sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Arthur. Setiap kali ibunya bertemu dengan sahabatnya, Arthur selalu ikut mengantar Anggita. Dengan begitu, secara otomatis Maya bisa bertemu dengan Arthur.
"May, kamu sudah siap?" Tanya ibunda Maya yang tiba-tiba sudah mengetuk pintu kamar Maya.
"Belum, Bu." Jawab Maya yang segera memasukkan kembali pakaian yang berserakan di tempat tidurnya ke dalam lemari.
Maya tidak mau ibunya melihat kalau dia begitu galau memilih baju hanya karena ingin bertemu Arthur. Namun, aksi Maya terlambat. Ibunya sudah dahulu masuk ke kamarnya sebelum Maya siap memasukkan bajunya ke dalam lemari.
"Kok bajunya dikeluarin semua seperti itu, May?" tanya ibunda Maya yang melihat anaknya salah tingkah ketika dia masuk.
"I—ini, Bu. Aku bingung mau pakai baju yang mana. Soalnya aku tidak mau pakai baju yang ngepas badan ketemu sama orang tua," jawab Maya beralasan.
"Owh. Kamu tinggal pakai dress yang bulan kemarin dibelikan tante Anggita," jawab ibunda Maya memberi ide.
"Biar dia senang pemberian dia kamu hargai," imbuh ibunda Maya kembali.
"Tapi bajunya—" ucapan Maya menggantung karena ibunya sudah menyodorkan baju yang dia maksud.
"Pakai saja. Tidak baik pemberian orang diabaikan tanpa dihargai." Ibunda Maya memberikan baju yang dia pegang pada Maya. Sedikit memaksakan, tetapi dengan cara halus.
"Baik, Bu. Aku ganti baju dulu." Maya mengambil baju yang diberikan ibunya.
Saat ulang tahunnya yang kedua puluh tahun, Mama Arthur menghadiahkan dress yang begitu mewah pada Maya. Tidak hanya dress, dia juga memberikan Maya tas dan sepatu dengan warna senada dengan dressnya.
"Ibu tunggu kamu di luar, ya. Jangan lama-lama dandannya. Sekalian kamu pakai tas sama sepatu dari teman ibu kemarin juga. Biar sepaket pemberiannya dipakai, dia akan jauh lebih senang lagi," ujar ibunda Maya.
"Tapi Maya 'kan tidak suka penampilan yang berlebihan seperti itu, Bu. Sepatu yang diberi tante Anggita kemarin itu terlalu tinggi dan norak," bantah Maya yang lebih suka berpenampilan simple dan terkesan tomboy.
"Menghargai pemberian orang jauh lebih indah, Nak. Kamu menyenangkan hati orang juga berbalas pahala. Apalagi itu juga tidak yang menyulitkan kamu juga. Tinggal pakai dan kita berangkat. Ketemu sama Anggita, dia akan bahagia melihat kamu memakai pemberiannya. Coba bayangin, seandainya kamu memberikan sesuatu pada orang lain, tapi orang itu tidak menghargai pemberianmu, gimana perasaan kamu?" hasut ibunda Maya yang memaksa tapi secara halus.
Maya nampak berpikir sejenak, dia seakan membenarkan apa yang dikatakan ibunya. Sesuatu yang diberikan pada orang lain, tetapi tidak dihargai, rasanya akan lebih sakit dibanding jatuh dari tangga.
"Ya, sudah. Maya pakai bajunya, sekalian sama sepatu dan tas pemberian tante Anggita," jawab Maya yang memberi kelegaan pada sang ibu.
Anda Mungkin Juga Suka





