
Masa Depan Kita
Bab 3
Selesai mengompres wajah Maya beberapa menit dengan air es. MUA yang bekerja khusus untuk bagian bedak, mengeringkan wajah mulus itu sampai benar-benar tidak ada sedikitpun air yang menempel di kulit Maya. Kemudian dia melanjutkan tahap berikutnya sampai bagian bedak selesai.
Setelah bagian bedak selesai, MUA yang bekerja khusus untuk bagian eyeshadow, dan blush on, mengambil alih kendali untuk mendandani Maya hingga selesai. Wajah yang memang sudah mempunyai kulit mulus itu, sangatlah mudah bagi para MUA profesional untuk meriasnya. Didandani oleh MUA terbaik, yang dipilihkan langsung oleh calon Anggita—mama mertuanya. Terlihat jelas, raut kebahagiaan terpancar dari wajah cantik bak bidadari yang sedang duduk di depan kaca rias itu.
"Waw… cantiknya menantu mama." Mama Arthur memandang takjub penampilan Maya yang sungguh tidak ada saingannya di mata mama Arthur.
"Terima kasih, Ma," ucap Maya tersipu mendapat pujian dari orang yang sebentar lagi akan menjadi mama mertuanya.
"Mama tidak salah pilih dalam mencari menantu. Kamu memang benar-benar sangat sempurna," puji mama Arthur dengan semangat dan rasa bangganya.
"Ah, Mama. Jangan berlebihan begitu, aku jadi malu," jawab Maya yang bersemu karena tersanjung dipuji oleh mama Arthur.
"Ya, sudah. Mama ke bawah dulu. Mama mau ngabarin ke Arthur dan Penghulu Kalau menantu mama sudah siap dandan," ucap Mama Arthur, kemudian beranjak pergi dari ruangan itu dengan senyum sumringah yang mengambang di bibirnya.
Impian Maya yang selama ini hanya berada dalam angan-angan, dalam hitungan jam semuanya akan segera menjadi nyata. Sebentar lagi, acara ijab kabul Maya dengan Arthur akan di langsungkan. Acara itu terlaksana di rumah Arthur, rumah yang sengaja dibeli oleh Arthur dua bulan lalu. Arthur membeli rumah itu untuk dia tempati bersama Maya. Dia dan Maya sengaja mengadakan acara sakral itu di rumah baru yang akan mereka tempati, nanti. Supaya, rumah yang sengaja dibeli untuk mereka tempati itu, punya sejarah dan kenangan besar untuk mereka berdua.
Dengan senyum yang terus mengambang, Maya memandang penampilannya yang sungguh sangat menawan dari pantulan cermin besar di hadapannya. Tidak bisa munafik, dia juga sangat kagum dengan pantulan bayangan yang dia lihat dalam kaca besar di hadapannya. Tubuh yang mempunyai lekuk idaman bagi seluruh insan itu, terbalut oleh gaun pengantin berwarna putih yang menambah aura keanggunannya.
Setelah puas memandang dirinya dari pantulan cermin itu, Maya mengambil ponselnya di atas meja rias, dan membawanya berjalan pelan sambil mencari nama kontak seseorang yang dia simpan di dalam benda pipih itu. Maya menghenyakkan bokongnya di atas sofa dengan ibu jarinya yang masih men-scroll layar ponselnya.
"Kemana anak itu? kenapa dari tadi dia tidak muncul kesini? Padahal kemarin sudah ku bilang kalau dia harus menemani aku disini," decak Maya kesal.
Semenjak pagi, sahabat yang biasa bersamanya setiap saat belum juga datang menemuinya. Padahal Maya mau, saat dia di dandani oleh MUA di rumah Arthur, sahabatnya itu ada menemaninya. Supaya Maya tidak merasa canggung berada di ruangan itu sendirian saat para MUA mendandaninya.
"Ada apa sih, dengan dia? sudah ku telepon berkali-kali, tetap tidak dijawab panggilan teleponnya," sungut Maya yang kesal karena panggilan teleponnya diabaikan oleh sahabat satu-satunya yang Maya punya.
Maya terus menggerutu dan mengumpati sahabatnya. Dia merasa sangat kesal kepada sahabatnya itu. Selama ini, baru kali ini dia ingkar janji kepada Maya. Dia sudah berjanji akan menemani Maya seharian penuh di hari spesial Maya. Tapi, buktinya, sampai saat ini dia belum juga menampakkan batang hidungnya. Di telepon Maya, dia juga tidak memberi respon sama sekali. Itu membuat Maya semakin kesal dan selalu menggerutu, merutuki sahabatnya.
"Sayang ... kamu cantik sekali, Nak," ucap ibunda Maya yang baru saja memasuki ruangan tempat Maya di rias. Air mata haru jatuh di pipi ibunda Maya.
"Ibu." Maya berdiri dari duduknya dan menghampiri ibunya.
"Maya, mohon Doa dari ibu! Semoga, pernikahan Maya bahagia selalu." Maya merangkul ibunya kedalam pelukan hangat seorang anak, yang sebentar lagi akan melepas masa lajangnya.
"Iya, Sayang. Ibu selalu mendoakan yang terbaik untukmu," jawab ibunda Maya mencium pucuk kepala anaknya.
"Maafkan semua kesalahan dan kekhilafan Maya selama ini ya, Bu! Maafkan Maya yang belum bisa jadi anak baik untuk Ibu," ucap Maya yang masih memeluk ibunya.
"Iya, Sayang. Jadilah istri yang baik, dan patuh kepada suami! jangan sekali-kali menjadi istri yang durhaka!" pesan ibunda Maya kepada anaknya.
"Iya, Bu." Maya mengangguk mengerti menerima pesan dari ibunya.
"Apakah Sella sudah sampai, Bu?" Maya mengurai pelukan dari ibunya. Dia masih kesal kepada Sella karena telah mengabaikannya.
"Sepertinya belum, coba kamu telpon dia!" jawab ibunda Maya.
"Sudah aku telpon. Tapi, gak diangkat." Maya kembali duduk ke tempatnya semula dengan kecewa.
"Sudah aku telpon dan aku chat. Tapi, tidak ada balasan satupun dari dia," gerutu Maya, dia meletakkan ponselnya asal diatas sofa dekat dia duduk dengan hati yang semakin kesal kepada sahabatnya.
"Haaai... pengantin baru, sudah siap dandannya?" ucap seseorang yang baru saja masuk kedalam ruangan itu, membuat Maya menoleh kebelakang mendengar suara yang tidak asing bagi telinganya.
"Kamu kemana saja? aku telepon, gak diangkat. Aku chat, gak dibales," cecar Maya yang langsung berdiri, kemudian memonyongkan bibirnya merajuk seperti anak kecil yang tidak dapat minta dibelikan mainan oleh ibunya.
"Sorry, tadi aku sibuk banget. Aku ngurusin catering dan penataannya buat acara spesial kamu nanti." Sella memeluk sahabatnya yang masih duduk dengan bibir monyongnya.
"Sudah, jangan merajuk lagi! senyum donk, masa pengantin baru cemberut." Sella mencoba mengembalikan lagi mood sahabatnya yang terlihat sangat berantakan.
"Kan aku sudah bilang dari jauh-jauh hari, jangan terlalu sibuk! kamu gak usah ikut mengurus apapun. Kamu itu cukup mendampingi aku saja, yang mengurus itu semua 'kan ada orang-orangnya," ucap Maya sambil melepaskan pelukan dari Sella. Maya masih sangat kesal kepada sahabatnya itu.
"Iya, Maaf! Aku gak mau hari spesial sahabatku berantakan. Aku mau semuanya berjalan dengan lancar dan sesuai dengan keinginanku. Makanya aku memastikan segala sesuatunya terlebih dahulu," ucap Sella sambil tersenyum, membuat hati Maya luluh.
Mendengar penuturan dari Sella yang menurut Maya sangat menyentuh hati seorang sahabat, Mood Maya kembali pulih. Rasa kesalnya yang tadi sudah menggunung, dengan sekejap mencair begitu saja. Dia juga ikut tersenyum membalas senyuman manis dari orang yang dia anggap sebagai sahabat baik selama ini.
"Gitu, donk. Jangan cemberut. Ntar, cantiknya hilang digondol monyet," goda Sella yang melihat Maya tidak lagi kesal kepada dirinya.
"Terima kasih ya, Sel. Selama ini kamu telah mau jadi sahabat yang selalu aku repotkan, kamu juga mau capek-capek mengurusi hari pernikahanku," ucap Maya terharu, karena merasa telah dihadiahi oleh Tuhan seorang sahabat yang begitu baik untuk dirinya.
"Gak cukup dengan terima kasih saja, kamu juga harus berkorban untuk aku," jawab Sella menatap Maya sebentar dengan licik. Lalu memanipulasi niat hatinya dengan senyum yang menipu.
"Baik, aku juga akan mengurusi acara pernikahanmu nanti. Tapi, kapan?" jawab Maya sambil menyenggol lengan sahabatnya.
Mendapat pertanyaan seperti itu, membuat Sella terperangah. Dia tidak bisa menjawabnya, karena saat ini dia sedang putus asa dengan impiannya selama ini. Impiannya untuk dinikahi oleh orang yang sangat dia puja akan menjadikan dia sebagai seorang istri. Impian Sella selama ini bagaikan pungguk merindukan bulan. Sehingga dia hanya bisa menelan pil kepahitan dengan mimpi-mimpi yang terus dia rangkai.
"Yuk, keluar! Penghulu dan calon imam kamu sudah menunggu lama. Nanti calon imamnya, kawinin yang lain karena kelamaan menunggu kamu," ucap Sella mengalihkan pembicaraan yang sangat menyudutkan dirinya.
Anda Mungkin Juga Suka





