Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantanku, Kakak Iparku

Mantanku, Kakak Iparku

Hati Deo hancur saat Freya memutuskan hubungan demi menikah dengan kakak kandungnya sendiri. Di tengah luka itu, ia bertemu Veren, gadis yang nyaris mengakhiri hidup akibat patah hati. Sebuah kesalahpahaman besar justru menyeret keduanya ke dalam pernikahan di usia muda. Kini, mereka terjebak dalam komitmen yang tak terduga. Mampukah Veren dan Deo saling menyembuhkan luka masa lalu dan menemukan kebahagiaan sejati dalam rumah tangga mereka?
Bab
Bagikan

Bab 2

Deo tertidur sampai adzan ashar berkumandang. Dia bangun, mengucek-ucek matanya dan bersyukur masih bisa hidup tanpa mantan pacarnya.

Sore itu mama heboh sendiri mempersiapkan barang-barang yang akan dibawanya untuk melamar calon menantunya nanti. Setelah Deo mandi sore pun keribetan mamanya belum selesai juga.

“Ma?” panggil Deo dengan handuk yang melingkar di lehernya. Kepalanya celingukan ke sana kemari mencari seseorang.

“Apa sih?” sahut mama sambil lalu.

“Itu yang mau ngelamar mama apa anak mama?”

“Ya anak mama lah, kakak kamu!” sergah mama sambil merapikan barang-barang yang berserakan di meja.

“Terus orangnya mana, perasaan nggak kelihatan dari tadi?” komentar Deo. “Yang mau nikah siapa, yang ribet siapa.”

“Yang namanya calon pengantin emang harus diistimewakan, Yo. Dia cukup nyiapin mental buat ijab qobul, selebihnya keluarga yang ngurusin segala macem keperluan pernikahannya,” kata mama menjelaskan.

Deo mengangguk-angguk paham.

“Enak ya jadi calon manten, tinggal ongkang-ongkang kaki doang. Selebihnya anggota keluarga yang ribet ngurus ini ngurus itu.”

“Kamu kepingin kayak kakak kamu?” seloroh mama sambil memandang anak bungsunya.

“Enggak lah. Nanti tau-tau aku bawa calon mantu juga, mama yang ketiban pusing,” sahut Deo sambil melangkah pergi meninggalkan mamanya.

“Hustt, hati-hati ngomongnya. Bisa jadi doa loh itu!”

Deo masih sempat mendengar suara mamanya berseru menanggapi candaannya. Cowok itu mana mungkin siap untuk menikah di umur yang masih labil seperti sekarang.

Mendadak pintu kamar di sebelah kamar Deo terbuka, dan seorang laki-laki dewasa muncul keluar.

Dia adalah kakak kandung Deo sekaligus anak sulung mama, namanya Gennaro Silva.

“Baru pulang kuliah, Yo?” sapanya datar.

“Udah dari tadi kok, Kak.” Deo menjawab sungkan.

Umur mereka yang terpaut lumayan jauh serta pembawaan Gennaro yang begitu tenang, kalem dan tidak banyak omong ini seakan menciptakan jarak yang cukup lebar di antara mereka berdua.

“Nanti ikut, ya?” kata Gennaro lagi.

Sebelum Deo sempat menjawab, Gennaro sudah melangkah pergi meninggalkannya di depan kamar.

Menjelang pukul empat sore, ketika semua anggota keluarga sudah siap berangkat, Deo yang terakhir kali keluar kamar menatap heran mamanya.

“Dari tadi ribet nyiapin ini itu, yang pergi ke sana cuma empat orang doang, Ma?” komentarnya.

“Emang mau ngajak siapa lagi?” tukas mamanya sambil sesekali meratakan bedak di kedua pipinya.

“Kirain mau ngajak warga sekampung,” ceplos Deo.

Mama berbisik tepat di telinga Deo.

“Ini cuma mau melamar anak orang, bukan bikin acara sunatan.”

Deo terbahak, untung Gennaro tidak mendengar guyonan yang diucapkan mama mereka.

Papa yang sudah tidak sabar bergegas menyuruh mereka semua untuk masuk ke dalam mobil.

Deo menurut, dia segera masuk dan duduk di belakang, bersebelahan dengan Gennaro. Di sepanjang perjalanan, Deo dan kakaknya sama sekali tidak mengobrol. Deo sendiri sungkan jika harus membuka obrolan lebih dulu.

Perjalanan mereka membutuhkan waktu sekitar empat puluh lima menit menggunakan mobil, sampai kemudian papa membelokkan kendaraannya di gang besar sebuah perumahan elit di pusat kota.

Deo tidak memiliki firasat apa pun ketika ayahnya menepikan mobilnya di salah satu rumah. Dia bahkan masih anteng-anteng saja saat salah satu penghuni rumah menyambut kedatangan keluarganya dengan sangat ramah.

Baru setelah calon pengantin perempuan keluar untuk menyambut pihak keluarga calon pengantin laki-laki, Deo terkejut bukan main.

“Ini yang namanya Freya?” sapa mama sambil berdiri untuk cipika cipiki dengan calon menantunya. “Cantiknya ...”

Deo mengedipkan matanya beberapa kali, berharap sosok yang sedang dirangkul oleh mamanya akan berubah menjadi orang asing yang sama sekali tidak dikenalnya. Tetapi kenyataan kadang selalu lebih menyakitkan daripada ekspektasi.

Calon menantu mamanya adalah Freya Arabelle, mantan pacarnya sendiri yang secara sepihak telah memutuskan hubungan dengannya tadi siang.

Deo mengelus dadanya dengan nelangsa, dia harus kuat. Hatinya memang sempat rapuh, tapi hati ini bukanlah kaleng-kaleng. Dia harus menunjukkan kepada dunia, khususnya Freya, bahwa dia memiliki hati yang kokoh dan tak tertandingi.

Freya sendiri ekspresinya sulit ditebak, beberapa kali dia mencuri pandang ke arah Deo seolah ingin meyakinkan dirinya sendiri bahwa adik dari calon suaminya ini adalah mantan pacarnya.

Acara lamaran sore itu tetap berlangsung lancar seperti rencana, tanpa memedulikan perasaan Deo yang menyaksikan dengan mata kepala sendiri saat Gennaro menyematkan cincin lamaran ke jari tangan Freya.

“Ma, acaranya udah selesai, kan?” tanya Deo ketika Gennaro dan Freya sudah duduk lagi di tempatnya masing-masing.

“Udah sih, kenapa?” tanya mama balik.

“Aku pulang duluan, ya?” kata Deo. “Aku kebelet, nih.”

“Bentar lagi, nunggu bubaran. Kamu nggak sopan kalau pulang duluan. Mau naik apa kamu?” bisik mama.

“Ojek online kan banyak,” bisik Deo mengimbangi mamanya. “Beneran kebelet ini, Ma. Udah di ujung, daripada aku kebablasan di sini gimana? Tambah nggak sopan, kan? Malu lagi ...”

“Apaan sih kamu? Ya udah sana, tapi pamit dulu.” Mama tak kuasa lagi mencegah keinginan anak bungsunya.

Deo berdehem agak keras.

“Tante, Om, Kakak, mohon maaf sebesar-besarnya! Saya izin pulang duluan, ada panggilan mendadak!” katanya dengan wajah meringis.

Mama Freya tertawa melihat ekspresi wajah Deo.

“Adiknya Aro, ya? Lucunya ...”

“Saya permisi!” Deo cepat-cepat pergi meninggalkan rumah Freya sambil membawa semua sakit hatinya yang masih tersisa.

Deo menelusuri jalanan tanpa arah tujuan yang jelas. Dia ikut saja ke mana kedua kakinya ini membawanya pergi, yang jelas dia tidak mau berlama-lama menyaksikan lamaran kakaknya dengan mantan pacarnya sendiri.

Mendung mulai menggelayut di langit, menambah kesuraman di hidup Deo menjadi semakin sempurna. Tidak dipedulikannya satu-dua tetesan air yang mulai turun menitik di ujung hidungnya.

Deo keluar dari gang perumahan elit tadi, dan meneruskan pengembaraannya ke pinggir jalan besar. Walaupun tadi dia sempat bilang mau pakai ojek online, nyata-nyatanya Deo tidak memesan ojek satupun. Dia lebih memilih menyusuri jalanan dengan kedua kakinya. Tidak peduli risiko hujan, petir, bahkan masuk angin yang mengancamnya jika dia sampai kehujanan.

Namun ada satu hal yang membuatnya tiba-tiba peduli pada sekitarnya. Dari sudut matanya, Deo melihat seseorang sedang berdiri di tengah jalanan yang ramai kendaraan. Masalahnya orang itu tidak kelihatan sedang menyeberang.

Deo melihatnya dengan jelas saat orang itu membentangkan kedua tangannya, sengaja tidak mau menggeser posisinya saat truk besar tengah melaju kencang ke arahnya.

TIINNN! TIINN! TIIINNNNNN!

Suara klakson saling bersahutan dengan keras, memperingatkan seseorang yang dengan warasnya berdiri di tengah jalanan sambil membentangkan kedua tangannya lebar-lebar.

Deo mengamati orang itu dengan heran. Ada ya manusia yang nyalinya segede itu, pikirnya.

Beberapa orang yang sedang berdiri di tepi jalan mulai menunjuk-nunjuk sambil berkomentar macam-macam.

“Eh, itu dia mau mati apa gimana?”

“Dia pikir ini jalan punya moyangnya ...”

“Jangan-jangan mau bunuh diri!”

Bersambung—

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Belaian Cinta
9.6
Ratih harus menjalani hubungan jarak jauh setelah suaminya, Prima, bekerja di Kalimantan demi masa depan putri mereka, Chika. Meski awalnya tampak baik-baik saja, perpisahan ini memicu konsekuensi tak terduga. Pesona Ratih menarik perhatian Wira sang duda, Heru tetangga depan rumah, hingga Derry yang masih sekolah. Tanpa perlindungan suami, Ratih terjerat dalam godaan mereka hingga hamil. Kini, ia harus menghadapi kehancuran rumah tangganya dan misteri ayah janin tersebut.
Sampul Novel Dunia Mimpi Para Jomblo
8.1
Rino Rahman, seorang pemuda yang baru menyelesaikan studinya di Bandung, mendambakan pengalaman asmara yang selama ini belum pernah ia rasakan. Di tengah kesendiriannya, sosok misterius hadir menawarkan bantuan untuk mewujudkan keinginan Rino melalui alam mimpi. Akankah janji pria tersebut menjadi kenyataan indah bagi Rino, ataukah tawaran itu hanyalah bualan kosong belaka? Ikuti perjalanan unik Rino dalam mencari cinta di antara realita dan imajinasi.
Sampul Novel Godaan Saat Salah Masuk Ruangan
8.2
Kisah dalam novel modern ini bermula ketika seorang pria keliru memasuki sebuah bangsal perawatan. Di sana, seorang wanita menawan yang sedang berbaring langsung memintanya melakukan pemeriksaan medis terkait masalah kecanduan yang dideritanya. Meski berniat menolak karena dirinya bukanlah seorang dokter, sang pria mendadak kehilangan kata-kata saat wanita tersebut mulai menanggalkan pakaiannya. Godaan visual yang begitu intim dan tak terduga ini seketika menguji batas pertahanan dirinya.
Sampul Novel Identitas Asliku Menghancurkan Pacarku
9.1
Di hari pertama kuliah, Xander Harris mengantarku ke asrama, namun sambutan teman sekamarku sungguh buruk. Dia memuji kedewasaan Xander sembari menghinaku karena dianggap memakai barang mewah palsu. Ia terus menyindirku sebagai wanita materialistis yang bergantung pada pria tua demi kemewahan. Padahal, sosok pria kaya yang dia bicarakan sebenarnya adalah ayah kandungku sendiri. Sementara itu, Xander yang ingin kunikahi hanyalah putra dari sopir ayahku.
Sampul Novel Imperium Rahasia Miliaran Dolar Penggantinya
9.0
Lima tahun Anya menyamar jadi wanita miskin demi mendanai kesuksesan Bima sebagai CEO teknologi. Namun, Bima justru membawa Katrina dan mengkhianati Anya. Setelah dipermalukan di lelang bawah tanah agar tunduk, Anya mendengar pengakuan kejam bahwa dirinya hanyalah pengganti Katrina. Bima tak sadar bahwa Anya adalah investor rahasia di balik kekayaannya. Saat hubungan mereka hancur, Anya memutuskan menghubungi Kian untuk segera menikah dan meninggalkan Bima selamanya.
Sampul Novel Kakak Ipar
9.2
Hanifah yang mandul memaksa adiknya, Nur Naila Habibah, untuk menikahi suaminya, Raihan, demi mendapatkan keturunan. Naila merasa tidak pantas bagi dosen agama itu karena ia dikenal sebagai mahasiswi nakal yang belum berhijab. Namun, sebuah rahasia besar tersembunyi bahwa Naila sebenarnya bukan adik kandung Hanifah, melainkan putri dari Azizah. Akankah Naila menerima permintaan sang kakak untuk menjadi istri kedua iparnya sendiri?