
Mantan Kekasihku Menjadi Bosku
Bab 3
Setelah pertemuan yang penuh emosi dengan Nina, Leo merasa seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Meskipun ia berusaha untuk tampak tegar, perasaan sesak yang menghimpit dadanya tak bisa ia pungkiri. Selama ini, ia merasa begitu yakin bahwa Nina masih menyimpan perasaan padanya, bahwa ada kemungkinan untuk mereka kembali bersama. Tapi kenyataan yang ada sekarang... berbeda. Nina sudah berubah. Dia bukan Nina yang dulu.
Malam itu, Leo tidak bisa tidur. Pikirannya terus berputar, tak bisa menghindari bayangan wajah Nina yang penuh amarah dan kekecewaan. Setiap kali matanya terpejam, wajah Nina selalu muncul, diiringi kata-kata yang masih terngiang di telinganya. "Kamu meninggalkan aku tanpa penjelasan, tanpa mencoba untuk memperbaiki apa yang salah di antara kita."
Perasaan bersalah yang telah lama terkubur mulai muncul kembali. Tetapi, di balik rasa itu, ada satu hal yang mengganggu Leo lebih dari apapun. Nina... dia sudah memiliki seseorang dalam hidupnya.
Leo bertekad untuk mencari tahu lebih banyak. Pagi-pagi sekali, sebelum kantor mulai sibuk, Leo duduk di ruang kerjanya, membuka komputer dan mulai mengetikkan nama Nina di mesin pencari. Hatinya berdebar, seolah mengetahui bahwa ia akan menemukan sesuatu yang tak ingin ia dengar.
Hasil pencarian pertama hanya menunjukkan informasi dasar mengenai Nina: tempat dia bekerja, alamat rumah, dan beberapa artikel tentang kehidupan pribadinya yang pernah dipublikasikan. Namun, semakin dalam Leo menggali, semakin jelas ia menemukan sesuatu yang membuat hatinya tersentak.
Di sebuah artikel yang diposting beberapa bulan lalu, ada sebuah foto Nina sedang tersenyum bahagia di samping seorang pria. Leo bisa melihat dengan jelas bahwa mereka berdua tampak sangat dekat, seolah tidak ada yang bisa memisahkan mereka. Pria itu memeluk Nina dengan penuh kasih, dan Nina membalasnya dengan senyuman yang tidak pernah ia lihat sebelumnya. Leo merasa matanya mulai kabur, dan jantungnya berdegup semakin kencang.
Nina sudah memiliki kekasih.
Leo menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan amarah yang mulai meluap. "Siapa dia?" gumamnya pelan. Nama pria itu tercetak di bawah foto: Ardan Pratama. Tidak ada yang Leo kenal. Tidak ada yang Leo ingin kenal.
Dengan tangan yang gemetar, Leo membuka halaman profil Ardan. Pria itu tampaknya seorang pengusaha muda yang cukup sukses, dengan banyak foto perjalanan, acara-acara sosial, dan tentu saja, gambar-gambar bersama Nina. Hati Leo semakin teriris. Nina... sudah ada yang memiliki. Dan lebih parahnya, pria itu terlihat seperti seseorang yang bisa memberikan Nina kebahagiaan yang selama ini Leo tidak bisa beri.
Leo bangkit dari kursinya dan berjalan mondar-mandir di ruangannya. Pikirannya berkecamuk. Kenapa dia merasa begitu cemburu? Kenapa dia merasa seperti ada yang diambil darinya?
Nina, yang dulu begitu berarti baginya, kini bahkan tidak pernah meliriknya lagi. Ia menginginkan Nina kembali, tapi sekarang, Nina sudah berjalan bersama pria lain. Apa yang harus ia lakukan? Akankah ia membiarkan Nina bahagia dengan orang lain, atau akankah ia berjuang untuk mendapatkan kembali apa yang dulu ia miliki?
"Tidak!" Leo hampir berteriak. "Aku tidak bisa biarkan itu terjadi."
Dia mengerutkan keningnya, mencoba mencari alasan rasional. Tetapi tidak ada yang masuk akal. Dia hanya ingin Nina kembali, meskipun ia tahu itu tidak akan mudah.
Kemudian, terlintas dalam benaknya sebuah pemikiran. Apa yang akan terjadi jika ia bisa memisahkan Nina dan Ardan? Jika ia bisa mengungkapkan sesuatu yang bisa merusak hubungan mereka, mungkin saja Nina akan kembali padanya.
Leo menarik napas panjang, mencoba menenangkan dirinya. "Aku harus tahu lebih banyak tentang Ardan. Aku harus cari tahu apa yang bisa aku manfaatkan."
Tanpa menunggu lebih lama, Leo mulai mencari informasi tentang Ardan, berharap menemukan celah, apapun itu, yang bisa digunakan untuk menjauhkan Nina dari pria itu. Entah itu kesalahan, kebohongan, atau apapun yang bisa ia jadikan senjata. Tidak ada yang akan menghalangi jalan untuk mendapatkan Nina kembali.
Namun, semakin dia mencari, semakin Leo menyadari satu hal yang menyakitkan. Sepertinya, semakin banyak usaha yang ia lakukan untuk mendapatkan Nina kembali, semakin ia merasa seperti orang asing yang berusaha mengubah takdir, tanpa memikirkan apa yang Nina inginkan.
Akhirnya, setelah beberapa jam mencari, Leo menatap layar komputernya, dan untuk pertama kalinya, dia merasakan ketidakberdayaan yang besar. Apa yang dia lakukan ini bukan hanya untuk dirinya sendiri, tetapi juga untuk Nina. Ia merasa seolah sedang berjuang dengan bayangannya sendiri, berusaha memperbaiki sesuatu yang sudah rusak tanpa tahu bagaimana cara melakukannya. Dan meskipun ia terus berusaha, seolah-olah Nina semakin jauh darinya.
"Aku harus mendapatkan Nina kembali," bisiknya pada dirinya sendiri, suara penuh tekad. "Aku tidak akan menyerah."
Tetapi, di dalam hatinya, Leo mulai meragukan segalanya.
Anda Mungkin Juga Suka





