Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru

Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru

Demi melindungi Meisya dari skandal hotel, Galvin memaksa Indri bercerai dan menjadi kambing hitam. Di kehidupan lalu, penolakan Indri berakhir tragis; ia difitnah, dihujat publik, hingga tewas kecelakaan. Kini Indri terbangun di masa lalu saat surat cerai disodorkan. Tak lagi menangis, ia justru tenang menyambut perpisahan itu. Namun, kebebasannya tidaklah gratis. Indri menuntut seluruh aset dan saham Galvin sebagai harga yang harus dibayar pria itu.
Bab
Bagikan

Bab 2

Indriani POV:

Di kehidupan lampau, setelah Galvin memfitnahku, namaku hancur dalam semalam. Media sosial menjadi medan perang. Aku dicap sebagai istri jahat, gila harta, dan penipu. Sementara Meisya, dia dipoles menjadi korban tak berdosa, seorang gadis rapuh yang membutuhkan perlindungan dari semua orang. Ironisnya, kini aku memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.

"Semua aset, atas namaku," kataku lagi, memastikan Galvin mendengarnya dengan jelas. "Termasuk saham perusahaan. Dan ya, rumah ini juga."

Galvin menatapku, ekspresinya campur aduk antara terkejut dan sedikit geli. Mungkin dia berpikir aku masih wanita yang sama, yang bisa dibujuk kembali dengan janji-janji manis.

"Kau serius? Semua?" Dia bertanya, seolah itu adalah permintaan yang sangat berlebihan.

"Tentu saja," jawabku. "Ini adalah harga 'perceraian palsu' yang kau inginkan. Atau kau bisa memilih jalur yang sebenarnya. Biarkan aku menuntutmu di pengadilan atas perselingkuhan dan penipuan publik."

Dia mengeraskan rahangnya. Dia tahu aku tidak main-main. Reputasi sebagai CEO yang ceroboh dan selingkuh, itu akan jauh lebih buruk daripada mengorbankan aset untuk "istri gila harta".

"Baiklah. Aku setuju," katanya akhirnya, setelah beberapa saat hening. Ada nada meremehkan dalam suaranya, seolah dia yakin aku akan kembali padanya dan aset-aset itu hanya akan kembali ke tangannya.

Aku mengambil pulpen. Tanganku tidak gemetar. Bahkan sedikit pun. Dengan satu gerakan cepat dan tegas, aku membubuhkan tanda tanganku di atas kertas. Surat cerai ini, yang dulu akan merenggut jiwaku, kini terasa seperti tiket kebebasan.

Galvin menatap tanda tanganku, lalu menatapku. Matanya mencari jejak kesedihan, kemarahan, atau putus asa. Tapi dia hanya menemukan ketenangan yang aneh.

"Kau... tidak ingin membacanya dulu?" Dia bertanya, menunjuk dokumen itu.

Aku menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Aku tahu apa yang kubutuhkan."

Ada sesuatu yang aneh di matanya. Mungkin sedikit ketakutan, sedikit kebingungan. Tapi itu bukan urusanku lagi. Dia tidak pernah mempedulikan apa yang kubutuhkan selama ini.

Aku ingat bagaimana dia dulu selalu membela Meisya. Bahkan sebelum skandal ini meledak, Meisya adalah prioritasnya. Aku pernah bertanya kepadanya, "Siapa yang lebih penting bagimu, Galvin? Aku atau dia?" Dia hanya menjawab, "Meisya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Indri. Kau punya aku." Dia melihatku sebagai wanita yang kuat, yang bisa mengerti dan berkorban. Dia melihat Meisya sebagai wanita rapuh yang harus dilindungi.

Betapa naifnya aku dulu, mempercayai kata-katanya. Dia selalu menganggap cintaku padanya mutlak, tidak akan pernah hilang. Dia menganggap aku akan selalu ada.

"Kapan kita bisa mengurus sisanya?" Aku bertanya, memecah keheningan. "Aku ingin ini selesai secepat mungkin."

Galvin mengangguk kaku. "Asistenku akan menghubungimu besok untuk mengatur jadwalnya."

"Bagus," kataku. Aku melepas cincin kawinku, yang dulu kusebut sebagai simbol keabadian. Kulemparkan cincin itu ke meja, tepat di samping surat cerai yang sudah kutandatangani. Cincin itu berputar beberapa kali sebelum berhenti, kilaunya terasa dingin dan asing.

Galvin menatap cincin itu, lalu menatapku. Tatapannya kosong.

"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi," kataku.

Galvin tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berdiri, dengan langkah berat ia berjalan keluar ruangan. Meisya, yang tadinya terdiam di pelukannya, kini mengangkat kepalanya, menatapku dengan senyum tipis. Senyum kemenangan.

"Semoga berbahagia, Kak Indri," katanya, suaranya manis, tapi matanya memancarkan ejekan.

Aku hanya membalas senyumnya. Bukan senyum manis, tapi senyum yang berjanji akan memberikan neraka.

Aku tahu dia berpikir dia menang. Tapi dia tidak tahu, di kehidupan ini, aku tidak lagi bermain sebagai korban. Aku adalah pemain. Dan kali ini, aku akan menulis ulang semua aturan.

Beberapa jam kemudian, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Dari Meisya. Dia mengirimkan foto. Foto dirinya sedang duduk di sofa mewah di apartemen kami, mengenakan kemeja Galvin yang terlalu besar untuknya. Senyumnya lebar, matanya berbinar penuh kemenangan.

Aku harap Kak Indri baik-baik saja. Kak Galvin sangat mengkhawatirkanku sampai tidak bisa tidur. Aku harus menemaninya di sini.

Aku membaca pesan itu. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi cemburu. Hanya rasa geli yang dingin. Dia begitu yakin dia bisa memprovokasiku. Dia begitu yakin aku akan menangis dan meratap seperti dulu.

Aku hanya tersenyum. Aku menyimpan tangkapan layar pesan itu. Bukti. Bukti yang akan berguna nanti.

Dulu, pesan seperti ini akan membuatku gila. Aku akan membalasnya dengan amarah, menuduhnya, dan melemparkan kata-kata pedas. Tapi itu adalah Indriani yang lama. Indriani yang mudah diprovokasi. Indriani yang naif.

Aku ingat saat teman-teman Meisya datang kepadaku di kehidupan lampau, setelah perceraian "palsu" itu meledak. Mereka berpura-pura iba, tapi sebenarnya menyudutkanku.

"Indri, kau harus mengerti Galvin," kata salah satu temannya. "Dia melakukan ini demi Meisya. Meisya sangat rapuh. Dia pernah mencoba bunuh diri beberapa kali."

"Dan aku?" Aku bertanya, air mataku mengalir. "Aku tidak rapuh? Aku tidak kesepian?"

"Kau kuat, Indri," kata yang lain, dengan nada yang terdengar seperti penghinaan. "Galvin butuh pahlawan. Meisya butuh pahlawan. Kau hanya seorang istri."

Mereka mengatakan Galvin menceraikanku karena ia harus melindungi Meisya, yang katanya di ambang kehancuran mental. Mereka bilang Galvin berhutang nyawa pada ayah Meisya, dan inilah cara dia melunasinya. Aku mencoba menjelaskan bahwa Meisya manipulatif, tapi mereka hanya menganggapku cemburu dan gila.

Di kehidupan ini, aku tahu persis bagaimana permainan mereka bekerja. Aku tahu Meisya bukan korban, tapi dalang. Aku tahu Galvin bukan pahlawan, tapi boneka yang mudah dimanipulasi.

Aku menghembuskan napas perlahan. Aku punya kesempatan kedua. Kesempatan untuk tidak lagi menjadi korban. Kesempatan untuk mengambil kembali hidupku.

Keesokan harinya, asisten Galvin menghubungiku. Dia terkejut saat aku mengiyakan setiap permintaannya tanpa protes. Termasuk kehadiran wajibku di konferensi pers yang akan diselenggarakan Galvin.

"Nyonya Indri, Tuan Galvin berharap Anda bisa hadir. Ini untuk menunjukkan bahwa perpisahan ini adalah kesepakatan bersama."

Aku tersenyum tipis. "Tentu saja. Aku akan hadir."

Dia mungkin berpikir aku bodoh, atau masih berharap Galvin akan berubah pikiran. Biarkan saja. Mereka tidak tahu apa yang sedang kurencanakan.

"Baiklah, Nyonya. Kami akan kirimkan detail acara dan busana yang perlu Anda kenakan."

Aku menutup telepon. Jadi, mereka ingin aku menjadi bagian dari drama mereka, ya? Mengikuti skenario mereka? Baiklah. Aku akan melakukannya. Tapi dengan sentuhan pribadiku.

Beberapa hari kemudian, aku tiba di lokasi konferensi pers. Ruangan itu penuh sesak dengan wartawan dan kamera. Lampu-lampu sorot menyilaukan mata, tapi aku tetap tenang. Aku mengenakan gaun yang mereka pilihkan, gaun sederhana berwarna pastel yang membuatku terlihat polos dan sedikit patah hati. Sempurna.

Tak lama kemudian, Galvin muncul dari balik panggung. Di sisinya, Meisya clingy seperti biasa. Meisya mengenakan gaun putih bersih, tampak pucat dan rapuh, bahkan memakai perban tipis di pergelangan tangannya. Drama queen.

Galvin segera mengapit Meisya, melindungi wanita itu dari kilatan kamera yang membabi buta. Dia berbicara dengan nada lembut kepada Meisya, seolah mengusirnya dari kerumunan, menenangkan. Mereka berdua memainkan peran mereka dengan sangat baik.

Galvin sejenak melihat ke arahku, matanya bertemu dengan mataku. Ada sedikit kekhawatiran di sana, mungkin juga sedikit rasa bersalah. Tapi itu bukan cinta. Itu hanya ketakutan. Ketakutan bahwa aku akan merusak permainannya.

Aku hanya membalas tatapannya dengan senyum tipis. Senyum yang tidak menunjukkan rasa sakit, tidak menunjukkan amarah. Hanya kekosongan.

Dalam benakku, aku masih memiliki setitik harapan yang bodoh. Berharap dia akan datang kepadaku, mengatakan semua ini adalah kesalahan, bahwa dia memilihku. Tapi itu hanya bisikan kecil dari Indriani yang lama. Indriani yang baru tahu dia harus membunuh harapan itu dengan tangannya sendiri.

Aku memejamkan mata sesaat. Ketika aku membukanya, harapan itu sudah mati.

Galvin dan Meisya telah naik ke podium. Waktunya pertunjukan. Bagiku, ini juga waktunya panggung. Panggung untuk kebebasanku.

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Grafiti Dinding Hati
8.4
Citta Buwana menghadapi masa magang yang berat sebagai sekretaris William Rustenburg. Bagi William, Citta hanyalah bawahan tidak kompeten yang selalu menjadi pelampiasan emosinya. Ketegangan memuncak saat William mengetahui rencana perjodohan mereka yang diatur sang ayah, Johan. Meski William terus memberontak dan mempermalukan Citta, Johan tetap teguh pada pilihannya. Mampukah pengabdian dan pengorbanan mengubah kebencian menjadi cinta dalam ikatan paksa ini?
Sampul Novel Ketika Karma Berbicara
8.5
Setelah delapan tahun menempuh pendidikan di Jerman, kepulanganku untuk memimpin Cakra Group justru disambut kekacauan. Di lobi perusahaan keluarga, seorang wanita tiba-tiba menyerangku secara fisik dan menuduhku menggoda kekasihnya, Bakti Rahadi, yang kini menjabat sebagai direktur di sana. Tak hanya mempermalukanku di depan umum, ia bahkan merusak tas edisi terbatas serta segel berharga dari ayahku, sambil meremehkan barang-barangku sebagai barang palsu. Mereka tidak menyadari bahwa ganti rugi atas seluruh barang asli milikku itu tak akan pernah sanggup mereka bayar seumur hidup.
Sampul Novel Kubeli Kesombongan, Gundik Suamiku
8.7
Keysa adalah istri dari seorang abdi negara yang juga berprofesi sebagai dosen serta influencer. Namun, kehidupannya terusik saat ia harus berhadapan dengan Risa, seorang wanita kaya raya yang diduga menjadi selingkuhan suaminya. Meski Risa sangat sombong dengan kekayaannya, Keysa justru bangkit menjadi sosok yang jauh lebih tangguh. Mampukah Keysa membungkam kesombongan Risa dan memenangkan persaingan ini? Simak perjuangan Keysa yang penuh emosi.
Sampul Novel Love After Marriage
8.9
Alesya terjebak dalam pernikahan tanpa cinta dengan Victor, seorang CEO dingin yang hanya menginginkan balas dendam atas kematian adiknya. Alih-alih menemukan kebahagiaan, Alesya justru dihina sebagai wanita murahan dan hanya dijadikan pelampiasan kebencian. Victor bersumpah akan membuat hidup istrinya menderita selamanya. Di tengah perlakuan kejam dan trauma masa lalu, mampukah cinta tumbuh di hati pria yang tidak pernah menganggap keberadaan Alesya?
Sampul Novel Membalas Para Pengkhianat
8.4
Aira Maheswari, putri pengusaha kaya yang tulus, menyerahkan takhta perusahaan kepada suaminya, Andra, sebagai bukti cinta. Namun, setelah berkuasa, Andra justru berselingkuh dengan sekretarisnya, Tiara. Ironisnya, ibu mertua Aira mendukung pengkhianatan ini demi menyingkirkannya. Enggan terus ditindas, Aira bangkit untuk melawan balik. Ia bertekad merebut kembali harta warisannya sekaligus menghancurkan rencana busuk orang-orang yang telah mengkhianatinya.
Sampul Novel Sang Mantan Kembali
7.8
Dituduh mandul, Aruna diceraikan Revan akibat tekanan mertua. Namun, insiden satu malam dengan pria misterius di hotel mengubah segalanya. Tiga tahun kemudian, ia kembali ke Canberra membawa seorang putra. Tak disangka, Presdir Dion Alverado mengklaim anak itu sebagai darah dagingnya. Di saat bersamaan, Revan datang memohon kesempatan kedua untuk menebus dosa masa lalu. Aruna kini terjepit di antara ayah biologis anaknya atau cinta lama yang ingin kembali.