
Mantan Istri, Ratu Kekayaan Baru
Bab 2
Indriani POV:
Di kehidupan lampau, setelah Galvin memfitnahku, namaku hancur dalam semalam. Media sosial menjadi medan perang. Aku dicap sebagai istri jahat, gila harta, dan penipu. Sementara Meisya, dia dipoles menjadi korban tak berdosa, seorang gadis rapuh yang membutuhkan perlindungan dari semua orang. Ironisnya, kini aku memiliki kesempatan untuk membalikkan keadaan.
"Semua aset, atas namaku," kataku lagi, memastikan Galvin mendengarnya dengan jelas. "Termasuk saham perusahaan. Dan ya, rumah ini juga."
Galvin menatapku, ekspresinya campur aduk antara terkejut dan sedikit geli. Mungkin dia berpikir aku masih wanita yang sama, yang bisa dibujuk kembali dengan janji-janji manis.
"Kau serius? Semua?" Dia bertanya, seolah itu adalah permintaan yang sangat berlebihan.
"Tentu saja," jawabku. "Ini adalah harga 'perceraian palsu' yang kau inginkan. Atau kau bisa memilih jalur yang sebenarnya. Biarkan aku menuntutmu di pengadilan atas perselingkuhan dan penipuan publik."
Dia mengeraskan rahangnya. Dia tahu aku tidak main-main. Reputasi sebagai CEO yang ceroboh dan selingkuh, itu akan jauh lebih buruk daripada mengorbankan aset untuk "istri gila harta".
"Baiklah. Aku setuju," katanya akhirnya, setelah beberapa saat hening. Ada nada meremehkan dalam suaranya, seolah dia yakin aku akan kembali padanya dan aset-aset itu hanya akan kembali ke tangannya.
Aku mengambil pulpen. Tanganku tidak gemetar. Bahkan sedikit pun. Dengan satu gerakan cepat dan tegas, aku membubuhkan tanda tanganku di atas kertas. Surat cerai ini, yang dulu akan merenggut jiwaku, kini terasa seperti tiket kebebasan.
Galvin menatap tanda tanganku, lalu menatapku. Matanya mencari jejak kesedihan, kemarahan, atau putus asa. Tapi dia hanya menemukan ketenangan yang aneh.
"Kau... tidak ingin membacanya dulu?" Dia bertanya, menunjuk dokumen itu.
Aku menggelengkan kepala. "Tidak perlu. Aku tahu apa yang kubutuhkan."
Ada sesuatu yang aneh di matanya. Mungkin sedikit ketakutan, sedikit kebingungan. Tapi itu bukan urusanku lagi. Dia tidak pernah mempedulikan apa yang kubutuhkan selama ini.
Aku ingat bagaimana dia dulu selalu membela Meisya. Bahkan sebelum skandal ini meledak, Meisya adalah prioritasnya. Aku pernah bertanya kepadanya, "Siapa yang lebih penting bagimu, Galvin? Aku atau dia?" Dia hanya menjawab, "Meisya tidak punya siapa-siapa lagi di dunia ini, Indri. Kau punya aku." Dia melihatku sebagai wanita yang kuat, yang bisa mengerti dan berkorban. Dia melihat Meisya sebagai wanita rapuh yang harus dilindungi.
Betapa naifnya aku dulu, mempercayai kata-katanya. Dia selalu menganggap cintaku padanya mutlak, tidak akan pernah hilang. Dia menganggap aku akan selalu ada.
"Kapan kita bisa mengurus sisanya?" Aku bertanya, memecah keheningan. "Aku ingin ini selesai secepat mungkin."
Galvin mengangguk kaku. "Asistenku akan menghubungimu besok untuk mengatur jadwalnya."
"Bagus," kataku. Aku melepas cincin kawinku, yang dulu kusebut sebagai simbol keabadian. Kulemparkan cincin itu ke meja, tepat di samping surat cerai yang sudah kutandatangani. Cincin itu berputar beberapa kali sebelum berhenti, kilaunya terasa dingin dan asing.
Galvin menatap cincin itu, lalu menatapku. Tatapannya kosong.
"Aku sudah tidak membutuhkannya lagi," kataku.
Galvin tidak mengatakan apa-apa lagi. Dia berdiri, dengan langkah berat ia berjalan keluar ruangan. Meisya, yang tadinya terdiam di pelukannya, kini mengangkat kepalanya, menatapku dengan senyum tipis. Senyum kemenangan.
"Semoga berbahagia, Kak Indri," katanya, suaranya manis, tapi matanya memancarkan ejekan.
Aku hanya membalas senyumnya. Bukan senyum manis, tapi senyum yang berjanji akan memberikan neraka.
Aku tahu dia berpikir dia menang. Tapi dia tidak tahu, di kehidupan ini, aku tidak lagi bermain sebagai korban. Aku adalah pemain. Dan kali ini, aku akan menulis ulang semua aturan.
Beberapa jam kemudian, ponselku bergetar. Sebuah pesan dari nomor tak dikenal. Dari Meisya. Dia mengirimkan foto. Foto dirinya sedang duduk di sofa mewah di apartemen kami, mengenakan kemeja Galvin yang terlalu besar untuknya. Senyumnya lebar, matanya berbinar penuh kemenangan.
Aku harap Kak Indri baik-baik saja. Kak Galvin sangat mengkhawatirkanku sampai tidak bisa tidur. Aku harus menemaninya di sini.
Aku membaca pesan itu. Tidak ada lagi rasa sakit, tidak ada lagi cemburu. Hanya rasa geli yang dingin. Dia begitu yakin dia bisa memprovokasiku. Dia begitu yakin aku akan menangis dan meratap seperti dulu.
Aku hanya tersenyum. Aku menyimpan tangkapan layar pesan itu. Bukti. Bukti yang akan berguna nanti.
Dulu, pesan seperti ini akan membuatku gila. Aku akan membalasnya dengan amarah, menuduhnya, dan melemparkan kata-kata pedas. Tapi itu adalah Indriani yang lama. Indriani yang mudah diprovokasi. Indriani yang naif.
Aku ingat saat teman-teman Meisya datang kepadaku di kehidupan lampau, setelah perceraian "palsu" itu meledak. Mereka berpura-pura iba, tapi sebenarnya menyudutkanku.
"Indri, kau harus mengerti Galvin," kata salah satu temannya. "Dia melakukan ini demi Meisya. Meisya sangat rapuh. Dia pernah mencoba bunuh diri beberapa kali."
"Dan aku?" Aku bertanya, air mataku mengalir. "Aku tidak rapuh? Aku tidak kesepian?"
"Kau kuat, Indri," kata yang lain, dengan nada yang terdengar seperti penghinaan. "Galvin butuh pahlawan. Meisya butuh pahlawan. Kau hanya seorang istri."
Mereka mengatakan Galvin menceraikanku karena ia harus melindungi Meisya, yang katanya di ambang kehancuran mental. Mereka bilang Galvin berhutang nyawa pada ayah Meisya, dan inilah cara dia melunasinya. Aku mencoba menjelaskan bahwa Meisya manipulatif, tapi mereka hanya menganggapku cemburu dan gila.
Di kehidupan ini, aku tahu persis bagaimana permainan mereka bekerja. Aku tahu Meisya bukan korban, tapi dalang. Aku tahu Galvin bukan pahlawan, tapi boneka yang mudah dimanipulasi.
Aku menghembuskan napas perlahan. Aku punya kesempatan kedua. Kesempatan untuk tidak lagi menjadi korban. Kesempatan untuk mengambil kembali hidupku.
Keesokan harinya, asisten Galvin menghubungiku. Dia terkejut saat aku mengiyakan setiap permintaannya tanpa protes. Termasuk kehadiran wajibku di konferensi pers yang akan diselenggarakan Galvin.
"Nyonya Indri, Tuan Galvin berharap Anda bisa hadir. Ini untuk menunjukkan bahwa perpisahan ini adalah kesepakatan bersama."
Aku tersenyum tipis. "Tentu saja. Aku akan hadir."
Dia mungkin berpikir aku bodoh, atau masih berharap Galvin akan berubah pikiran. Biarkan saja. Mereka tidak tahu apa yang sedang kurencanakan.
"Baiklah, Nyonya. Kami akan kirimkan detail acara dan busana yang perlu Anda kenakan."
Aku menutup telepon. Jadi, mereka ingin aku menjadi bagian dari drama mereka, ya? Mengikuti skenario mereka? Baiklah. Aku akan melakukannya. Tapi dengan sentuhan pribadiku.
Beberapa hari kemudian, aku tiba di lokasi konferensi pers. Ruangan itu penuh sesak dengan wartawan dan kamera. Lampu-lampu sorot menyilaukan mata, tapi aku tetap tenang. Aku mengenakan gaun yang mereka pilihkan, gaun sederhana berwarna pastel yang membuatku terlihat polos dan sedikit patah hati. Sempurna.
Tak lama kemudian, Galvin muncul dari balik panggung. Di sisinya, Meisya clingy seperti biasa. Meisya mengenakan gaun putih bersih, tampak pucat dan rapuh, bahkan memakai perban tipis di pergelangan tangannya. Drama queen.
Galvin segera mengapit Meisya, melindungi wanita itu dari kilatan kamera yang membabi buta. Dia berbicara dengan nada lembut kepada Meisya, seolah mengusirnya dari kerumunan, menenangkan. Mereka berdua memainkan peran mereka dengan sangat baik.
Galvin sejenak melihat ke arahku, matanya bertemu dengan mataku. Ada sedikit kekhawatiran di sana, mungkin juga sedikit rasa bersalah. Tapi itu bukan cinta. Itu hanya ketakutan. Ketakutan bahwa aku akan merusak permainannya.
Aku hanya membalas tatapannya dengan senyum tipis. Senyum yang tidak menunjukkan rasa sakit, tidak menunjukkan amarah. Hanya kekosongan.
Dalam benakku, aku masih memiliki setitik harapan yang bodoh. Berharap dia akan datang kepadaku, mengatakan semua ini adalah kesalahan, bahwa dia memilihku. Tapi itu hanya bisikan kecil dari Indriani yang lama. Indriani yang baru tahu dia harus membunuh harapan itu dengan tangannya sendiri.
Aku memejamkan mata sesaat. Ketika aku membukanya, harapan itu sudah mati.
Galvin dan Meisya telah naik ke podium. Waktunya pertunjukan. Bagiku, ini juga waktunya panggung. Panggung untuk kebebasanku.
Anda Mungkin Juga Suka





