
Malam Panjang di Bus Terakhir
Bab 2
Malam mulai larut, para penumpang di dalam bus turun satu per satu.
Lokasi proyek adalah tujuan terakhir, jadi di dalam bus hanya tersisa aku dan empat rekan kerja suamiku.
Mereka pun tampak kelelahan karena perjalanan jauh, lalu bersandar di kursi dan mulai mendengkur halus.
Aku juga memejamkan mata untuk menghemat tenaga, supaya nanti saat sampai di asrama, aku bisa menguras habis semua "simpanan bibit" suamiku selama beberapa hari ini.
Entah sudah berapa lama berlalu, dalam keadaan setengah sadar aku mendengar para rekan kerja itu berbicara.
Suaranya terdengar sangat pelan. "Sst! Dia sudah tidur belum?"
"Nggak tahu, coba Arga kamu cek ke sana," sahut salah satu temannya sambil mendorong.
Aku merasakan sebuah tangan perlahan mendekat ke arah dadaku.
Namun, rekan kerja ketiga segera menghalanginya. "Kamu bodoh, ya? Kalau perempuan ini belum tidur dan kamu ketahuan, habis kamu."
"Sialan, aku benar-benar ingin menyikat perempuan gatal ini. Waktu main ke rumah Rendy dulu, aku sempat mencuri stokingnya, aromanya bikin nagih." Arga terus berdecak lidah.
Pantas saja waktu itu aku merasa kehilangan sepasang stoking, ternyata dia yang mencurinya.
Tiba-tiba Arga berseru kaget, "Waduh, Steve, Leon, Yanto, kalian lihat apa yang ada di paha dia?"
"Itu celana dalam, 'kan? Gatal banget ya, masa tidur saja celana dalamnya dilepas?"
"Makanya, barusan waktu kita lepas baju, cewek ini melototin kita terus, pasti dalam hatinya pengen."
Sambil bicara, mereka mendekat ke arah bawahku dan perlahan mengaitkan celana dalamku hingga merosot.
"Lihat, celana dalamnya basah kuyup. Perempuan ini pasti sudah nggak tahan makanya nekat mencari suaminya."
Dibicarakan oleh mereka berempat seperti itu justru membuatku merasa sangat bergairah.
Aku sengaja pura-pura tidur. Aku ingin melihat apa sebenarnya yang akan mereka lakukan.
Saat ini mainan di bawah sana masih bergetar, gawat kalau sampai ketahuan.
Arga berkata, "Dia nggak bereaksi sama sekali, pasti sudah tidur lelap. Aku coba raba dulu sedikit."
Sambil berkata begitu, dia menjulurkan tangan dan meraba bagian lembut di dadaku.
Telapak tangannya yang lebar dan kasar seketika membuat bulu kudukku berdiri.
Seumur hidup, bagian itu belum pernah disentuh pria selain suamiku. Ternyata rasanya begitu nikmat.
Arga berkata dengan nada bersemangat, "Beneran sudah tidur, nggak ada reaksi sama sekali. Rasanya enak banget, lembut dan mulus."
Setelah itu, tiga orang lainnya ikut penasaran dan mengulurkan tangan ke arahku.
Tubuhku disentuh oleh empat tangan sekaligus, sensasinya benar-benar menggairahkan.
Aku berusaha keras menahan diri agar tidak mengeluarkan suara dari tenggorokan, meski rasanya kerongkonganku sudah sangat gatal.
"Perempuan ini benar-benar kualitas super, diraba saja sudah enak banget. Sial, aku nggak tahan lagi."
Keempat orang itu menatapku dengan saksama.
"Kira-kira keberuntungan apa yang didapat Rendy sampai bisa punya istri secantik ini? Ukurannya pasti 36D, kulitnya juga mulus dan kenyal."
"Dengan badan Rendy yang kayak gitu, dia pasti nggak bakal kuat ngadepin perempuan seistimewa ini. Begitu sampai di asrama, bisa-bisa dia mati kering diperas. Gimana kalau kita bantu si Rendy sedikit?"
Apa mereka benar-benar berani melakukan hal semacam itu di dalam bus? Ini kan masyarakat beradab, bukan di negara rendahan.
Tapi, memang benar kalau Rendy agak kewalahan menghadapiku. Selama beberapa tahun pernikahan kami, dia jarang sekali bisa memuaskanku.
Aku bahkan curiga dia sengaja menghindariku dengan cara bekerja di lokasi proyek.
Arga lalu berkata, "Perempuan ini lepas celana dalam waktu tidur dan cuma pakai rok, jangan-jangan di dalamnya kosong melompong!"
Selesai bicara, dia perlahan menyingkap rok pendekku.
Begitu melihat apa yang ada di baliknya, matanya langsung terbelalak dan dia tidak bisa menahan diri untuk berseru, "Gila, parah banget ini!"
Temannya yang di samping segera mengingatkan, "Sst! Kecilkan suaramu, berengsek! Gimana kalau dia bangun?"
Arga yang sudah tidak tahan lagi berkata dengan penuh gairah, "Dia ini benar-benar perempuan gatal, di dalamnya malah disumbat mainan kecil."
Begitu kata-kata itu terucap, rekan kerja yang lain tidak bisa menahan rasa penasaran mereka dan beramai-ramai mengintip ke balik rokku.
"Ternyata beneran ada. Dia sehaus ini, sepertinya kita memang harus turun tangan buat bantuin dia."
Anda Mungkin Juga Suka





