
Malam Panjang di Bus Terakhir
Bab 3
Selesai bicara, Arga menjulurkan tangan dan mengambil mainan kecil itu.
"Kalian lihat, masih basah begini, cairannya sampai lengket."
Aku refleks merapatkan kedua kakiku. Saat benda itu ditarik keluar tadi, rasanya seperti ada aliran listrik yang menyambar tubuhku. Aku hampir saja tidak kuat menahan teriakan.
Namun, gerakan itu tertangkap mata Arga. Dia langsung menunjuk ke arahku.
"Gawat, perempuan ini pura-pura tidur, kakinya barusan gerak!"
"Serius? Jangan nakut-nakutin kita." Tiga rekan kerja lainnya tampak panik, takut aksi bejat mereka ketahuan.
"Pasti benar, tadi waktu diraba dia nggak bereaksi sama sekali, itu pasti akting. Jangan-jangan dia malah menikmatinya."
......
Mendengar mereka sibuk berdebat, jantungku berdegup kencang karena merasa sangat tegang.
Mereka semua adalah rekan kerja suamiku. Kalau sampai terjadi sesuatu, bagaimana aku bisa mempertanggungjawabkannya pada suamiku?
Akhirnya Arga mengertakkan gigi dan menghasut yang lain.
"Nggak usah peduli dia akting atau nggak. Kalau dia pura-pura, berarti dalam hatinya setuju. Kalau dia beneran tidur, kita pakai pun dia nggak bakal tahu."
Setelah hasutan itu, tiga orang lainnya langsung dikuasai nafsu buas.
Mereka menyikap rok pendekku dengan kasar, membuat area pribadiku terlihat jelas tanpa penghalang.
Seluruh tubuhku bergetar, aku langsung membuka mata.
Dengan tatapan yang tampak lemah, aku melihat ke arah mereka. "Ka ... kalian mau apa?"
Mereka sempat terpaku sejenak begitu melihatku membuka mata. Namun, kemudian mereka tersenyum licik seolah baru menyadari sesuatu.
"Ternyata kamu memang pura-pura tidur ya. Tadi waktu kami raba, kamu pasti merasa enak banget, 'kan?"
Sensasi itu memang sangat menggairahkan, tapi aku tidak boleh biarkan mereka tahu. Aku pun berakting seolah tidak tahu apa-apa.
"A ... apa? Aku tadi ketiduran. Kalian ngomong apa sih?"
"Nggak usah akting lagi, mana ada orang tidur tapi sengaja nyelipin mainan."
"Waktu tubuhmu diraba tadi, badanmu gemetaran semua. Kamu pikir kami nggak lihat?"
"Kamu sekarang pasti lagi gatal banget, 'kan? Lihat celana dalammu sampai basah kuyup begini. Tenang saja, kami bakal puasin kamu."
Selesai bicara, mereka berempat langsung menerjang ke arahku.
Mereka membagi tugas di sisi kiri dan kanan, lalu mengangkat kedua kakiku tinggi-tinggi sampai bagian itu terekspos sepenuhnya.
Aku tidak menyangka mereka sebegitu beraninya, sampai melakukan hal seperti ini di dalam bus!
Aku berteriak panik, "Kalian ini melakukan kejahatan! Nggak takut apa kalau sopirnya lihat?"
Sopir di depan tetap fokus menyetir, sama sekali tidak memedulikan apa yang terjadi di belakang.
Arga meraba pahaku dengan ekspresi penuh kenikmatan.
"Teriak aja. Sopir itu orang kami. Sekencang apa pun kamu teriak, nggak bakal ada yang nolong."
Aku benar-benar putus asa, mataku mulai berkaca-kaca menatap mereka.
Rekan kerjanya yang lain menatap bagian pribadiku dengan liar, sementara empat pasang tangan mereka nyaris meraba seluruh tubuhku tanpa sisa.
Bahkan mereka membukanya untuk melihat lebih jelas.
"Cantik banget, masih merah muda dan kenyal. Lihatnya saja sudah bikin pengen."
"Aku beneran mau coba rasanya, pasti sempit dan licin banget."
Dipermainkan secara kasar oleh mereka membuat tubuhku terasa gatal sekaligus linu, hingga tanpa sadar ada cairan hangat yang mengalir pelan dari sana.
Semuanya terlihat jelas oleh mereka, rasanya benar-benar memalukan.
Arga berkata kepada teman di sampingnya, "Begini aja udah basah banget. Kita nggak usah nahan diri lagi, ayo sikat bareng-bareng!"
"Ayo!"
Sambil berseru, mereka merobek celana dalamku hingga hancur dan menarik kedua kaki mulusku sekuat tenaga sampai terbuka maksimal.
Aku sangat panik dan hampir menangis, mulutku terus meracau.
"Nggak, jangan! Empat orang terlalu banyak, nanti bisa rusak!"
Arga melepas ikat pinggangnya, lalu menyabetkan benda itu dengan keras ke pantatku yang sedang terangkat.
Rasa pedas dan sakit itu merangsang sarafku. Anehnya malah memunculkan sebuah dambaan di dalam hati.
"Perempuan segatal kamu masih takut rusak? Jangan-jangan malah kamu yang bikin kami habis."
"Angkat pantatmu lebih tinggi! Biar aku bisa memuaskanmu dengan benar." Dia menyabetkan ikat pinggangnya sekali lagi.
Entah kenapa tubuhku seperti lepas kendali. Pantatku terangkat, kedua kakiku terbuka lebar, sepenuhnya memperlihatkan bagian itu.
Arga antusias melepas celananya, lalu mengeluarkan miliknya yang berukuran sangat besar.
Ukuran itu ... pasti bakal membuatku hancur!
"Tahan ya, awalnya bakal agak sakit."
Dia mencengkeram kakiku untuk mencari tumpuan, mengarahkannya tepat ke lubang itu, lalu menyentakkan pinggangnya ke depan dengan kuat ....
Anda Mungkin Juga Suka





