
Malam Jahanam
Bab 3
Sebagai tanggapan ucapan gagapku, Mami bergerak ke atas dadaku. Menghimpitku sambil mendekatkan wajahnya ke wajahku. Lalu… Mamie memagut bibirku ke dalam ciumannya yang harum penyegar mulut. Membuatku tidak tahu lagi apa yang harus kulakukan, selain mendekap pinggangnya erat - erat.
Tapi aku tahu benar bahwa penisku langsung ngaceng berat ketika sedang berpelukan dan berciuman ini. Dan… Mamie juga tahu hal ini, karena tangannya merayap ke balik celana pendekku. Lalu tersentak kaget, “Punyamu luar biasa gedenya… Punya Papa juga kalah… tidak sepanjang dan segede ini …” ucapnya setengah berbisik.
Aku terdiam sambil berharap semoga Mamie kasihan padaku dan memberikan sesuatu yang kudambakan selama ini.
Tapi Mamie malah menghela nafas. Lalu menelentang di sampingku sambil mengusap - usap dahinya, seolah tengah memikirkan sesuatu.
“Kamu tau apotek yang buka duapuluhempat jam kan?” tanyanya.
“Tau Mam. Ada dua apotek yang buka duapuluhempat jam.”
“Beliin pil anti hamil gih.”
“Iya Mam,” sahutku sambil duduk, “Sekarang?”
“Iya. Ambil aja duitnya di laci meja rias mamie. Beli satu strip aja,” ucap Mamie.
Seperti biasa, aku tak pernah bertanya dan membantah kalau Mamie sudah menyuruhku.
Kemudian aku turun dan mengambil jaket kulitku yang tergantung di kapstok. Dan melangkah ke luar sambil mengenakan jaket kulit ini.
Sebenarnya aku heran juga kenapa Mamie menyuruhku membeli obat anti hamil. Apakah dengan berciuman saja bisa menyebabkan kehamilan? Tapi bukankah Mamie itu mandul sehingga sampai sekian lamanya jadi istri Papa tidak bisa hamil- hamil juga? Lalu buat apa pil anti hamil itu?
Entahlah. Yang jelas aku harus mengikuti perintahnya.
Beberapa saat kemudian aku sudah melarikan motorku di saat jam di handphoneku sudah menunjukkan pukul satu pagi.
Jalanan yang sudah lengang membuatku bisa bergerak cepat. Sehingga tak lama kemudian aku sudah pulang sambil membawa pil yang Mamie suruh beli itu.
Mamie tampak sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati segelas coffee late.
“Cepat sekali… ngebut barusan?” tanyanya sambil memperhatikan bagian belakang strip pil kontrasepsi itu. Mungkin sedang membaca aturan pakainya.
“Nggak Mam. Kebetulan aja jalannya sedang kosong,” sahutku sambil duduk di samping Mamie di atas sofa.
Lalu Mamie menatapku dengan senyum. “Chepi… kamu sudah pernah menggauli perempuan? Ngomong aja terus terang, jangan bohong ya.”
“Belum pernah Mam. Disumpah dengan kitab suci juga aku mau.”
“Kalau ngocok aja sih suka kan?”
“Nggak Mam. Tapi me… meletus sendiri di celana sih sering.”
“Tiap kali mimpiin mamie kamu suka basah?”
“Iya Mam.”
“Kasihan anak mamie…” ucap Mamie sambil memijat hidungku. Lalu mengecup bibirku. “Sering nonton video porno?”
“Jarang sekali Mam. Paling juga baru tiga kali. Soalnya kalau sudah nonton bokep, aku suka tersiksa sendiri.”
“Iya… memang jangan sering - sering nonton bokep. Karena kamu masih sangat muda. Bokep sih untuk perangsang manusia yang sudah tua.”
“Iya Mam.”
“Kamu pernah melihat mamie telanjang?”
“Pernah, cuma satu kali. Itu juga pada waktu aku masih kecil, kalau gak salah waktu baru kelas satu SMP. Waktu itu aku mau minta uang untuk bayaran sekolah. Aku masuk ke kamar Mamie, tapi Mamie sedang mandi. Dinding kamar mandi Mamie kan terbuat dari kaca blur. Jadi kelihatan Mamie lagi mandi. Tapi samar - samar, karena kacanya blur.
“Belum pernah melihatnya secara jelas?”
“Belum.”
“Kamu ingin melihat mamie telanjang secara jelas?”
“Ka… kalau Mamie gak keberatan… mau banget…”
“Terus… kalau mamie udah telanjang mau diapain?”
“Ng… nggak tau… mungkin mamie bisa ngajarin aku, karena aku belum pernah merasakan begituan sama perempuan. Ciuman pun baru merasakan dengan Mamie tadi.”
“”Sebenarnya di usiamu sekarang ini, normal - normal aja kamu merasakan hubungan sex dengan perempuan. Yang gak normal adalah… mamie ini istri papamu Chep. Jadi kalau kita sampai melakukan hubungan badan, berarti kita menghianati Papa.”
“Iya Mam. Aku terima salah. Mohon Mamie maafkan aku yang gak tau diri ini.”
“Kamu tidak salah juga Chep. Mungkin mimpi - mimpimu itu yang bersalah. Padahal kamu tidak pernag mengundang mimpi - mimpi itu kan?”
“Iya Mam…”
Ucapanku terputus karena Mamie menyelinapkan tangannya ke celana pendek yang biasa kupakai tidur atau olah raga ini. Mamie langsung memegang kontolku yang memang tidak bercelana dalam ini. “Kontolmu ini sudah ngaceng sekali. Coba buka celanamu Chep. Mamie ingin lihat secara jelas,” kata Mamie sambil mengeluarkan tangannya dari balik celana pendek putihku.
Kuturuti perintah ibu tiriku yang cantik itu. Kupelorotkan celana pendekku sampai terlepas di kedua kakiku. Sehingga aku tidak bisa menyembunyikan lagi kontolku yang sudah ngaceng sekali ini.
Mamie spontan menangkap kontolku sambil menatapnya dengan mata terbelalak, “Wooow… kontolmu ini luar biasa gede dan panjangnya Chep. Ereksinya pun sempurna, keras sekali. Tidak seperti punya papamu yang ereksinya setengah - setengah.”
Kubiarkan saja Mamie memegang kontol ngacengku, seperti anak kecil yang punya mainan baru. Bukan cuma dipegang. Mamie pun menciumi kepala kontolku. Bahkan juga menjilatinya, sehingga nafasku mulai tidak beraturan.
Sambil menciumi dan menjilati moncong kontolku, Mamie pun menarik tanganku ke balik kimononya. Lalu meletakkannya di antara kedua pangkal pahanya.
“Mam… iii… ini punya Mamie?” tanyaku gugup.
“Iya… tapi memek mamie harus dijilatin dulu sampai basah. Karena kontolmu terlelu gede. Pasti sakit dan susah masuknya kalau tidak dijilatin dulu.”
Aku yang pernah melihat bokep cowok menjilati vagina cerweknya, spontan menyahut. “Iya Mam… aku siap untuk menjilati memek Mamie sampai basah.”
Mamie melepaskan kontolku dari genggamannya. “Ayo di kamarmu aja, biar lebih leluasa.”
Aku pun mengambil celana pendekku yang tergeletak di sofa, tapi tidak mengenakannya lagi karena tiada perintah dari Mamie. Setibanya di dalam kamar, Mamie menyambutku dengan pegangan di kedua tanganku. “Kamu mau melihat mamie telanjang kan?”
“Iiii… iya Mam,” sahutku tergagap dalam semangat yang berkobar.
“Chepi, mamie sangat sayang padamu. Karena itu mamie akan mengabulkan apa pun yang diinginkan pada ulang tahunmu yang kedelapanbelas ini,” ucap Mamie sambil melepaskan kimonoputihnya. Dan… sekujur tubuh Mamie langsung terbuka, karena tiada apa - apa lagi di balik kimono itu selain tubuh Mamie yang aduhai…
Inilah untuk pertama kalinya aku menyaksikan Mamie telanjang secara jelas. Tanpa terhalang kaca blur. Dan aku terkagum - kagum menyaksikan tubuh indah dan putih mulus itu, seolah menyaksikan keelokan bidadari yang baru turun dari langit.
“Kok malah bengong?” tanya Mamie sambil menarik pergelangan tanganku, sehingga aku terhempas ke atas dadanya yang dihiasi bukit kembar yang benar - benar seimbang dengan bentuk badannya. tidak terlalu besar namun juga tidak terlalu kecil.
Mamie melepaskan kaus oblongku sambil berkata, “Kamu juga harus telanjang. Supaya kulit bertemu kulit…”
Setelah kaus oblong meninggalkan badanku, Mamie berkata lagi, “Sekarang lakukanlah apa pun yang kamu inginkan pada diri mamie…”
“Aku belum punya pengalaman, jadi… aku tidak tau harus mulai dari mana… karena takut salah…” sahutku sambil meraba - raba toket Mamie dengan tangan gemetaran.
“Kamu mau menyetubuhi mamie kan? “tanya Mamie sambil mencolek bibirku dengan telunjuknya.
Aku amati wajah cantik Mamie yang tengah tersenyum yang sangat menggoda itu. Lalu menyahut, “Mau sekali… tapi kalau ada yang salah mohon dibetulkan ya Mam.”
“Iya… nanti mamie ajarin. Sekarang jilatin dulu memek mamie sampai benar - benar basah oleh air liurmu ya.”
“Siap Mam…” sahutku sambil melorot turun, sehingga wajahku berada di atas memek Mamie yang begitu bersihnya, tiada jembutnya selembar pun. Hanya ada yang baru mau tumbuh di bagian atasnya.
Aku pernah memperhatikan foto - foto wanita telanjang. Pernah juga beberapa kali nonton bokep. Tapi baru sekali inilah aku menyaksikan kemaluan wanita dalam kenyataan, dalam jarak yang sangat dekat pula dengan mataku.
Kemudian Mamie merentangkan sepasang paha mulusnya sambil menunjuk ke arah memeknya yang sudah dingangakan. “Nih bagian - bagian ini yang harus dijilati. Ini kan bibir dalam, ini liang kecil untuk masuknya kontolmu nanti. Terus ini namanya clitoris, dalam bahasa kita biasa disebut kelentit atau itil.
“Iiii… iya Mam…” sahutku tersendat, karena nafasku semakin sulit diatur. Karena membayangkan kontolku akan dimasukkan ke lubang sekecil itu.
Lalu Mamie memberi petunjuk - petunjuk lain, agar aku mulai tahu bagaimana cara memperlakukan kemaluan perempuan.
Lalu aku pun mulai menjilati kemaluan Mamie. Mulai dari bagian dalam yang berwarna pink itu, sambil berusaha mengalirkan air liurku sebanyak mungkin, seperti petunjuk dari Mamie barusan. Begitu pula clitorisnya kujilati segencar mungkin.
Sementara itu Mamie mulai menggeliat - geliat sambil meremas - remas rambutku yang berada di bawah perutnya. “Iya Chep… iyaaaaa… itilnya jilatin lagi Chep… itilnya… iyaaaaa… iyaaaaa… iyaaaaa… aaaaaaaah… aaaaah… enak sekali Chepiiii… iyaaaa… iyaaaaa… itilnya jilatin terus Cheeepiii…
Cukup lama aku melakukan semuanya ini, sementara nafsuku semakin menggebu - gebu.
Sampai akhirnya Mamie mengepit kepalaku dengan kedua tangannya, sambil berkata terengah, “Su… sudah cukup Sayang. Sekarang masukin kontolmu…”
Dengan perasaan masih bingung, aku menjauhkan mulutku dari memek Mamie. Kemudian mendekatkan kontolku ke memek Mamie.
Pada saat itulah Mamie memegang leher kontolku, kemudian mengarahkan kepalanya ke mulut memeknya. Mungkin sedang diarahkan ke mulut liang yang tadi Mamie tunjukkan dan tampak kecil itu.
Ketika amukan birahiku semakin menggila, terdengar suara Mamie, “Ayo dorong… !”
Aku pun mendorong kontolku yang lehernya masih dipegang oleh Mamie.
Perlahan - lahan zakarku melesak ke dalam liang memek Mamie yang rasanya aduhai… luar biasa enaknya…!
Mamie pun merengkuh leherku ke dalam pelukannya sambil berdesah… “Sudah masuk sayang… Sekarang mamie bukan hanya punya Papa, tapi juga punya Chepi…”
Entah kenapa, ucapan Mamie itu membuatku tersentuh… sangat tersentuh. Tapi aku tidak bisa menjawabnya, karena mulai melaksanakan petunjuk Mamie.
Ya, atas petunjuk Mamie, aku pun mulai mengayun kontolku dengan hati - hati di dalam jepitan liang memeknya yang begini uniknya buatku yang masih pemula. Terasa benar dinding liang memek Mamie ini bergerinjal - gerinjal lunak, seperti dilapisi bentuk seperti telur ayam yang masih berderet di dalam perutnya.
“Ayo… sekarang cepatin entotannya. Tapi jangan sampai lepas dari dalam memek Mamie ya …“bisik Mamie.
Aku menyahut terengah - engah, “Iiii… iyaaaa… duuuh… Mam… me… memek Mamie ini luar biasa enaknya.”
“Kontolmu juga luar biasa enaknya Sayaaaang,” ucap Mamie yang dilanjutkan dengan kecupan hangat di bibirku.
Aku merasa bangga mendengar ucapan Mamie itu. Tapi mungkin aku terlalu menikmati semuanya ini. Maklum, inilah untuk pertama kalinya aku merasakan berhubungan sex.
Sehingga tak lama kemudian aku menggelepar di atas perut Mamie, sambil membenamkan kontolku sedalam mungkin, disusul dengan berlompatannya lendir kenikmatan dari moncong penisku.
Lalu aku terkulai di dalam dekapan Mamie.
Mamie tersenyum dan mengecup bibirku. Lalu bertanya perlahan, “Udah ejakulasi?”
“Iya Mam… ternyata aku gak kuat lama - lama,” sahutku bernada kecewa.
“Nggak apa - apa. Biasanya memang begitu kalau baru pertama kali sih. Sebentar lagi juga pasti kontolmu ngaceng lagi,” sahut Mamie sambil mempererat dekapannya.
Bersambung...
Anda Mungkin Juga Suka





