
Malaikat dalam Gaun Baru
Bab 3
Suasana hening yang mencekam menyelimuti kamar itu; tidak ada yang berani menghembuskan napas.
Para asisten Frans tahu bahwa kata-kata Cathy telah membuat bos mereka marah.
Ekspresi wajah Frans menjadi muram; ia menatap Cathy dengan tajam.
Tatapannya yang tajam membuat Cathy merinding hingga terasa ke tulang punggungnya. Cathy menggigit bibirnya untuk menyembunyikan ketakutannya. 'Oh Tuhan! Kenapa dia menatapku seolah ingin memakanku hidup-hidup?'
Kepanikan serasa menjalar di pembuluh darahnya bersamaan dengan sebuah pikiran muncul di benaknya. 'Apakah dia tahu bahwa aku bukan Catherine Lahari? Bliss memanggil pria itu Tuan Mustafa. Jadi dia suami dari wanita yang mereka pikir adalah aku. Ya Tuhan! Aku tidak pernah berniat berubah untuk menjadi istrinya. Apakah dia akan membunuhku?'
Cathy membenci dirinya yang selalu mendapat masalah. Ia melihat ke arah pria yang sedang menatap dirinya dengan tatapan mengancam. 'Sial! Aku ingin kembali ke tubuhku sendiri. Aku tidak ingin menjadi Catherine.'
Saat Cathy sedang sibuk berdoa agar ada keajaiban yang terjadi, Frans mendorongnya menjauh.
"Aduh!" Cathy menjerit kesakitan saat kepalanya terbentur ke meja samping tempat tidur.
Ia mengusap dahinya yang perih dan menatap kesal pada Frans.
Frans tampak mengernyitkan dahirnya. Ia mengerutkan alisnya dan mengamati Catherine. Ia merasa ada yang tidak beres.
"Panggil dokter!" Ia merasa istrinya bertingkah aneh sejak ia sadar.
"Baik, Tuan Mustafa. Saya akan memanggilnya sekarang." Bliss mengangguk dengan hormat dan pergi.
"Jangan..." Cathy mengulurkan tangannya untuk menghentikan Bliss, tetapi wanita itu menghilang dari bangsal dalam sekejap.
Satu-satunya orang yang Cathy kenal setelah ia bangun, telah meninggalkannya sendirian di kamar yang dipenuhi dengan pria yang menatapnya dengan ganas, seperti predator yang sedang menunggu untuk menerkam mangsanya.
Cathy panik dan beribu pikiran memenuhi benaknya. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
Dua pria kekar sedang berdiri di dekat pintu, jadi dia tidak mungkin bisa melarikan diri.
Ekspresi bersalah di wajah Cathy semakin membingungkan Frans.
Keduanya tenggelam dalam pikiran masing-masing. Tak satu pun dari mereka berbicara.
Beberapa saat kemudian, Bliss kembali dengan dokter bersamanya.
Cathy pun mengerutkan kening saat melihat dokter itu.
'Apakah dia akan tahu bahwa aku bukan Catherine?'
Sang dokter melihat sekilas ke arah Cathy sebelum ia tersenyum hangat pada Frans. "Halo, Tuan Mustafa. Saya senang dapat menyambut Anda di rumah sakit kami."
Cathy mengatupkan mulutnya dan terkikik. Wajah dokter itu memerah karena malu saat menyadari keanehan dari pernyataannya.
Siapa yang mau datang ke rumah sakit jika tidak sakit?
Dokter mengamati wajah Frans untuk melihat apakah dirinya telah menyinggung perasaannya.
Untungnya, tidak ada tanggapan apa-apa dari Frans dan ia terlihat tenang. Sang dokter pun menghela napas lega.
Frans menyadari sang dokter sedang menatapnya. Ia menjentikkan jarinya untuk menyadarkan sang dokter dari lamunannya.
"Kenapa menatapku? Periksa kondisi istriku dan lihat apakah dia baik-baik saja."
"Apa?" Sang dokter berkedip saat ia tersadar dari pikirannya. "Oh iya. Baik."
Ia mengangguk dan berjalan ke arah Cathy.
"Nyonya Mustafa, Anda baik-baik saja? Apakah Anda merasakan ketidaknyamanan?" tanyanya.
Cathy menatap sang dokter dan menggelengkan kepalanya. Ia merasa kondisinya baik-baik saja.
"Apakah Anda mengalami pusing atau mual?"
Cathy menggelengkan kepalanya lagi.
"Bagus. Apakah merasa detak jantung Anda berdegup kencang?"
Cathy menunjuk ke arah Frans saat mendengar pertanyaan itu dan mengangguk.
"Dia membuatku takut. Itulah yang menyebabkan jantungku berdegup kencang. Bisakah Anda memintanya pergi?" pintanya.
'Astaga! Aku benar-benar tidak tahan lagi dengan pria ini. Hanya saat pria itu pergi, aku bisa melarikan diri,' pikirnya.
Dokter itu pun tersentak kaget.
"Anda memiliki selera humor yang bagus, Nyonya Mustafa," ucapnya dengan memaksakan senyum di wajahnya.
Cathy mengerutkan kening; tatapannya beralih dari Frans ke dokter itu. 'Memangnya aku mengatakan sesuatu yang lucu?'
Rahang Frans menegang begitu ia mendekati Cathy.
Bayangan dari tubuhnya yang tinggi menyelimuti Cathy, lagi-lagi membuatnya tidak bisa beranjak dari tempat tidur. Cathy bergidik dan menatapnya. 'Apa lagi yang dia inginkan?'
Senyum tersungging di sudut bibir Frans; ia senang melihat ketakutan di mata Cathy.
"Dokter, apakah kamu yakin dia baik-baik saja?" tanya Frans tanpa mengalihkan pandangan dari Cathy.
Dokter itu pun terkejut. Ia tidak menyangka Frans akan bertanya padanya tanpa mengalihkan pandangannya terhadap Catherine.
Ia berdeham dan mengangguk. "Ya. Nyonya Mustafa pulih dengan cukup baik."
Frans mendengus. "Bagus. Sudah waktunya untuk membawanya pulang. Bliss, urus semua keperluannya."
"Baik, Tuan Mustafa!" Bliss menjawab dengan penuh semangat. Ia lelah menghabiskan waktunya di bangsal rumah sakit sepanjang hari dan tidak sabar untuk kembali ke rumah.
Di sisi lain, kepanikan membanjiri pikiran Cathy. Ia tidak ingin pergi ke tempat Frans. Dari raut wajahnya saja, Cathy sudah bisa menebak bahwa dirinya akan berada dalam bahaya jika berada di dekatnya.
Anda Mungkin Juga Suka





