
Makmum Kedua Suamiku Sahabat Baik ku
Bab 2
Kini Aisyah melaksanakan Shalat Dzuhur bersama sang suami. Walaupun hubungan mereka sedang tidak baik-baik saja, tetap keduanya melaksanakan Shalat berjamaah seperti biasanya.
Setelah selesai Shalat, Aisyah mencium tangan suaminya dengan lembut. Setelah itu dia berdoa kepada Allah SWT, agar segala urusannya dipermudah oleh sang pencipta.
Tanpa sadar, air mata wanita muda itu mengalir deras membasahi seluruh wajahnya. Hal itu tak luput dari pandangan Putra. Namun, ia tidak bisa mengubah keputusannya.
'Ya Allah, jika memang ini yang terbaik untuk kami. Hamba ikhlas Mas Putra menikah lagi,' doa Aisyah dalam hatinya dengan lirih.
Setelah selesai berdoa, Aisyah membereskan mukenah dan sajadah yang ia pakai untuk Shalat tadi. Setelah itu, ia duduk berhadapan dengan suaminya.
Aisyah mengatur napasnya dengan perlahan. Karena, dia takut tidak bisa menahan kesedihan dan menangis di hadapan sang suami.
"Mas, aku mengizinkan kamu menikahi Difa. Mungkin ini memang yang terbaik untuk kita," ucap Aisyah dengan tutur kata yang lembut, dan bergetar menahan tangisan.
Putra langsung tersenyum. Kemudian, dia memegang tangan Aisyah dengan lembut dan mengecupnya. Sontak membuat wanita muda itu menangis tersedu-sedu.
Entah mengapa, rasanya dia sangat sedih saat melihat kebahagiaan yang terpancar dari raut wajah sang suami.
"Terima kasih Aisyah, aku sangat mencintaimu. Aku berjanji akan adil pada kalian berdua," sahut Putra lembut sambil mengecup kening Aisyah.
Aisyah hanya mengangguk pelan. Karena, hatinya sangat sakit mendengar janji yang diucapkan oleh sang suami barusan.
'Adil katanya? Sedangkan saat ini aku masih menjadi istri satu-satunya. Tetapi dia masih belum diberikan gula jiwa. Apa lagi jika Mas Putra menikahi Difa,' batin Aisyah lirih.
Putra tersenyum bahagia. Kemudian, pria itu bergegas pergi dari hadapan sang istri untuk memberikan kabar baik pada Difa. Sedangkan Aisyah masih diam di tempat dan menangis tersedu-sedu.
Hati wanita mana yang tidak sakit melihat kebahagiaan suaminya dengan wanita lain. Bukan hanya itu saja, ia juga tidak akan sanggup jika tinggal satu atap dengan sang suami dan madunya.
"Ya Allah, kuatkan hamba agar bisa melewati ujian ini." Aisyah berucap lirih sambil bergegas pergi dari sana.
***
Satu Minggu Kemudian...
Pagi ini Aisyah sudah rapi dengan pakaian syar'i serta cadar yang ia kenakan. Sebab, sang suami akan melangsungkan pernikahan di kediaman Difa yang berada di Kota Banda Aceh.
Wanita muda itu terlihat bersedih, walaupun ia menggunakan cadar. Terlihat jelas dari bola mata Aisyah yang mengeluarkan butiran kristal.
"Aisyah, jika kamu tidak bisa pergi. Jangan di paksakan! Tidak masalah Nak," ujar Maryam, ibu mertua Aisyah.
"Tidak apa Bu, Aisyah akan tetap pergi menemani Mas Putra menikah," jawab Aisyah dengan lirih.
Walaupun wanita muda itu mengucapakan dirinya kuat. Namun, terlihat jelas kalau dia bersedih dari suaranya.
Maryam membawa sang cucu bersamanya. Karena, dia tahu Aisyah pasti bersedih dan membutuhkan waktu untuk sendiri saat ini. Wanita paruh baya itu paham betul seperti apa perasaan menantunya. Sebab, dia juga merasakan hal yang sama 25 tahun silam.
Aisyah menghapus air matanya. Kemudian, dia berjalan ke luar dan masuk ke dalam mobil pengantin, duduk di samping sang suami yang terlihat sangat bahagia.
"Aisyah, kumohon jangan ada tangisan nanti ya!" pinta Putra pada Aisyah, tanpa memikirkan perasaan sang istri saat ini bagaimana.
Aisyah menganggukkan kepala. Karena, dia tidak bisa berjanji kepada suaminya kalau ia tidak akan menangis nanti.
'Ya Allah, aku pasti kuat menghadapi semua ini. Mungkin dengan Mas Putra menikah lagi, dia bisa adil kepada kedua istrinya,' batin Aisyah lirih dan penuh harapan.
Selama diperjalanan, Aisyah dan Putra hanya diam dalam pikiran masing-masing. Wanita muda itu memikirkan apakah dia sanggup hidup bertiga dalam satu atap yang sama? Sebab, suaminya yang meminta hal tersebut.
Sedangkan Putra, memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa menghabiskan malam bersama Difa tanpa memikirkan Aisyah. Wanita yang sangat ia cintai sejak dulu.
'Aku akan memikirkan cara, agar Aisyah tidak terluka dengan sikapku ini. Jujur, aku sangat mencintai dia. Tetapi aku juga ingin merasakan keperawanan,' batin Putra bingung harus berbuat apa.
Putra melirik ke arah Aisyah, terlihat wanita itu memandangi kaca mobil. Namun, ia tahu sang istri sangat sedih. Walaupun istrinya mengunakan cadar.
Putra memegang tangan Aisyah, membuat wanita muda itu langsung menoleh dan menatap mata sang suami dengan lirih.
"Aisyah, kumohon berjanjilah jangan tinggalkan aku!" pinta Putra dengan lirih.
Sontak saja membuat Aisyah sedikit kesal. Karena, pria itu meminta dia tetap bertahan. Sedangkan selama ini ia tidak pernah merasakan gula jiwa yang menjadi hak-nya.
"Mas, coba lihat burung yang ada di depan rumah orang. Apakah dia bahagia selalu dimanja oleh tuan-nya? Tidak. Sebab, ia merasa tidak bebas. Karena, dia selalu di kurung," jawab Aisyah bijak.
Putra mengerutkan keningnya. Karena, dia sama sekali tidak mengerti apa yang diucapkan oleh sang istri barusan.
"Maksudnya? Burung dan kamu tidak ada hubungannya?" tanya Putra bingung.
Aisyah tersenyum. Kemudian, dia memegang tangan Putra dengan lembut sambil mengucap tangan pria yang dicintai.
"Aku ini sama seperti burung yang ada di dalam kandang. Kami sama-sama terkurung dan tidak mendapatkan hak kami walaupun kami sering di manja," jawab Aisyah dengan tutur kata yang lembut.
Putra hanya diam. Karena, dia masih tidak mengerti dengan ucapan sang istri dan meminta Aisyah menjelaskan lebih detail lagi.
"Jika Mas masih belum bisa memberikan aku gula jiwa. Maaf, aku tidak bisa bertahan dalam pernikahan ini," jelas Aisyah lirih.
Putra terdiam. Karena, dia belum sanggup menyentuh Aisyah. Sebab, bayang-bayang pria yang menyentuh sang istri masih terus berputar jelas di kepala-nya.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





