
Makmum Kedua Suamiku Sahabat Baik ku
Bab 3
Mobil pengantin yang membawa Putra sudah sampai di rumah Difa. Semua orang langsung turun dan masuk ke dalam. Terlihat semua orang sudah menunggu mereka. Namun, Aisyah masih di dalam mobil.
Wanita muda itu bingung harus berbuat apa dan bersikap seperti apa. Sebab, hati-nya sangat kacau tidak menentu saat ini.
'Ya Allah, semoga aku bisa menyaksikan pernikahan Mas Putra dan Difa,' batin Aisyah lirih.
Aisyah mengatur napasnya dengan perlahan. Setelah itu turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam. Kemudian, ia duduk di samping ibu mertua-nya yang tengah menggendong Muzammil.
"Aisyah, semua akan baik-baik saja! Kamu jangan menangis. Sebab, rencana Allah lebih indah dari rencana yang kita inginkan," ujar Maryam lembut, sambil memegang tangan sang menantu.
Aisyah tersenyum. Kemudian, memeluk ibu mertua yang sudah dia anggap sebagai ibu kandung-nya sendiri. Sebab, ia sangat menyayangi wanita paruh baya itu.
Hati Aisyah berdenyut, saat melihat Difa yang terlihat sangat cantik menggunakan kebaya berwarna putih menghampiri suami-nya. Wanita muda itu juga melihat sang suami tersenyum manis melihat Difa.
"Pak Putra, di mana istri pertama Bapak?" tanya Pak Penghulu pada Putra.
"Ada di sana Pak, yang memakai cadar itu," jawab Putra sambil menunjuk ke arah Aisyah.
Pak Penghulu itu melirik ke arah Aisyah. Kemudian, tersenyum sambil menyiapkan berkas-berkas yang diperlukan. Setelah itu, Ayah kandung Difa mulai menjabat tangan Putra dengan lembut, sesuai arahan dari Penghulu.
"Ananda Anggara Syahputra," ucap Pak Toyib lembut.
"Saya Pak," jawab Putra gugup, dengan derai keringat yang mulai membasahi kepala-nya.
"Aku nikahkan engkau Ananda Anggara Syahputra bin, Abdul Syahputra dengan anak kandungku yang bernama Difa Salsabila dengan maskawin berupa emas 30 gram tunai!"
"Aku terima nikahnya Difa Salsabila dengan maskawin emas 30 gram tunai!"
Semua orang menatap ke arah Putra yang terlihat sangat gugup, sampai pria itu mengeluarkan keringat.
"Bagaimana para saksi, Sah?" tanya Pak Penghulu.
"Sah!" teriak semua orang yang ada di sana dengan serempak, termaksuk Aisyah.
Sontak, Aisyah langsung meneteskan air mata. Sebab, sang suami sudah menjadi milik wanita lain. Yang artinya ia harus bisa berbagi suami dengan sahabat baiknya.
Wanita muda itu cepat-cepat menghapus air matanya. Karena, tidak ingin orang lain melihat dia menangis. Jujur, hati Aisyah sangat sakit melihat Difa mencium tangan Putra di hadapan-nya.
'Ya Allah, aku kuat menjalani semua ini. Aku pasti bisa berbagi suami,' batin Aisyah lirih.
Putra dan Difa meminta izin kepada orang tua mereka masing-masing. Setelah itu, semuanya makan bersama yang sudah disiapkan oleh keluarga Difa.
Selama acara berlangsung, Aisyah sama sekali tidak mengucapkan apa-apa. Sebab, dia menahan bulir-bulir bening yang menghiasi kelopak matanya yang indah agar tidak tumpah.
Tidak sanggup lagi melihat sang suami bersama wanita lain. Aisyah bergegas pergi dari sana tanpa berpamitan kepada siapa pun.
Wanita muda itu berlari tanpa tujuan. Karena, hati Aisyah sangat sakit mengingat kembali suami yang sangat dia cintai menikah dengan wanita lain, yang selama ini menjadi sahabat baiknya.
"Ya Allah kuatkan aku menjalani semua ini. Aku ikhlas kalau mas Putra menikah lagi. Karena, semua ini memang yang terbaik untuk kami," ucap Aisyah dengan lirih.
Wanita itu menangis tersedu-sedu. Kemudian, dia terdiam dan melihat ada panggilan masuk dari Putra. Namun, Aisyah tidak menjawab. Karena, ia tidak ingin diganggu siapa pun saat ini.
Aisyah memilih pergi dari sana menuju masjid terdekat dan melaksanakan Shalat Duha. Setelah selesai Shalat, ia berdoa kepada Allah SWT, agar mempermudah segala urusannya.
Tidak sadar waktu sudah siang. Adzan Dzuhur sudah berkumandang, Aisyah pun bersiap-siap melaksanakan Shalat Dzuhur setelah itu baru ia pulang. Sebab, sudah merasa jauh lebih baik lagi dari sebelumnya.
Sesampainya di rumah, Aisyah melihat semua orang ada di teras. Kemudian, melihat kedatangannya.
"Aisyah," panggil Maryam lembut.
Aisyah tersenyum. Kemudian, dia menghampiri ibu mertuanya. Sedangkan Putra hanya diam sambil menggendong putra semata wayang mereka.
"Kamu dari mana saja, Nak? Kami semua cemas memikirkan kamu?" tanya Maryam cemas, dengan tutur kata yang lembut.
"Tidak usah cemas Bu! Aisyah cuma Shalat di masjid tadi. Maaf tidak memberitahu siapa pun," sahut Aisyah lirih.
Maryam memeluk Aisyah dengan lembut. Karena, dia tahu menantunya sangat terpukul atas pernikahan sang putra untuk yang kedua kalinya.
"Maaf Mbak Asiyah, apa aku bisa berbicara padamu sebentar?" tanya Difa ragu-ragu.
Aisyah menoleh. Kemudian, menganggukkan kepala. Sebab, dia belum sempat berbicara dengan Difa tentang hubungannya dan Putra selama ini.
Aisyah berjalan dengan perlahan menuju kamar utama. Kemudian, duduk di sofa bersama dengan Difa.
"Difa, aku minta padamu jaga mas Putra. Aku tidak bisa mempertahankan pernikahan kami. Sebab, kamu tahu apa permasalahan selama ini, 'kan?" terang Aisyah dengan lembut sambil membuka cadar yang dikenakan.
"Maksudnya Mbak, tentang keperawanan Mbak yang terenggut itu?" jawab Difa dengan pertanyaan.
Aisyah tidak menjawab, dia hanya menganggukkan kepala. Kemudian, menangis tersedu-sedu di hadapan madunya.
Bersambung.
Anda Mungkin Juga Suka





