
Mahkota Sang Dewi
Bab 2
Entah mengapa, jantung Husein berdebar lebih cepat dari biasanya ketika mendengarkan sebuah nama yang disebutkan bundanya. Dia tidak tahu, apakah perempuan pilihan bundanya adalah yang terbaik. Namun, untuk saat ini Husein ingin mencari informasi tentangnya terlebih dahulu.
Setelah mendapat alamat pastinya, dia akan melakukan salat istikharah untuk meyakinkan diri dan memohon petunjuk kepada Allah apakah perempuan itu adalah jodoh terbaik untuknya.
"Bunda tahu, Bunda hanya akan menyakiti kamu kalau memaksakan hak kamu. Bunda cuma mau yang terbaik untuk kamu, kalau memang perempuan itu bukan yang terbaik, nggak pa-pa, Sein. Tapi, Bunda tetap berharap kamu mau mempertimbangkan." Rara mengelus tangan sang anak yang masih menggenggam hangat tangannya.
Wanita itu tahu betul seperti apa anaknya, itu pasti bukanlah keputusan yang mudah. Namun, secercah harapan muncul ketika Husein mengangguk dan memberikan senyuman hangat.
"Dia putri bungsu Pak Yuda Wiranata dan Bu Diva Winarsih. Kamu masih ingat?" tanya Rara.
Husein tampak mengingat-ingat. Namun, pria itu sudah lama lupa tentang siapa saja tetangganya di rumah yang lama.
"Kalau tidak salah, dia punya kakak laki-laki dan perempuan. Tapi, Bunda lupa namanya." Rara mencoba memeras lagi ingatan di masa lalu.
Husein menatap dalam iris mata bundanya. "Husein akan cari tahu."
***
[Myboyfie Aku udah di pos ronda. Kamu udah siap?]
[Me Udah, kok. Ini mau ke luar rumah.]
Mutia menegakkan tubuhnya, memasukkan semua keperluan ke dalam tas. Mulai dari dompet, ponsel, power bank, earphone, pembalut, dan lipblam. Dia menatap pantulan dirinya lagi di cermin. Sudah lama tidak menghabiskan waktu bersama Yusuf karena kesibukan sang pacar sebelum penobatan duta sekolah. Rambutnya yang sengaja dibuat sedikit bergelombang membuatnya tampil lebih feminim dari biasanya.
Meninggalkan sebuah senyuman pada cermin sebelum pergi, dia menarik napas dalam-dalam. Tidak tahu ada firasat apa, tetapi gadis periang itu merasa hari-hari bahagia akan segera menjumpainya. Dia jadi tidak sabar menanti.
"Fina, kayaknya Mas nggak bisa nemenin kamu kontrol. Maaf, ya? Mas ada rapat besar soal akuisisi perusahaan. Jadi, gimana, dong? Mau di-cancel ke hari lain?" Ucapan Umar di meja makan terdengar sampai ke tangga. Sepertinya abangnya tidak bisa menemani sang istri kontrol kandungan. Pasti karena kesibukannya di kantor.
"Aku nggak pa-pa, kok, Mas. Nggak perlu di-cancel, aku bisa berangkat sendiri," jawab Fina, mengerti dengan kesibukan suaminya.
Umar menggenggam erat tangan Fina. "Jangan, Mas khawatir. Usia kandungan kamu udah lumayan besar. Jangan sendirian. Kamu minta temenin ...." Ucapan Umar menggantung, masih berpikir harus minta bantuan siapa untuk menemani istrinya.
Lantas ketika tidak sengaja melihat Mutia berjalan melewatinya, Umar pun memanggilnya. "Tia!"
Mutia menghentikan langkah. Dia menghampiri pria yang duduk di meja makan bersama kakak iparnya. "What?"
"Temenin teteh kamu kontrol, ya? Abang ada rapat, tapi nggak bisa kalau biarin istri Abang yang lagi hamil besar berangkat sendirian. Kamu lagi kosong, 'kan? Pengangguran pasti di rumah aja, 'kan?" ucap Umar tanpa dosa.
"Heh, walaupun aku pengangguran, aku juga ada kegiatan, Bang. Sorry-sorry banget, nih! Aku udah ada janji sama temen," jawab Mutia dengan tegas. Tidak tahu apa, kalau Mutia sudah dandan cantik begini?
"Mana kerudung kamu? Terus apa ini? Celana cuma sampai selutut kayak pakai boxer. Mending lepas aja kalau bajumu kayak orang telanjang." Penolakan Mutia untuk membantu abangnya, malah menjadi sesi ceramah ke sekian.
"Kenapa jadi ceramah, sih? Udah, ya, aku udah telat. Bye!" Mutia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tangannya. Dia merasa gelisah karena Yusuf pasti sudah lama menunggu.
"Tia, selagi Abang sudah minta baik-baik—"
Fina menyikut lengan sang suami agar tidak bersikap keras pada adiknya. Lama-lama gadis itu pasti akan stres kalau selalu mendapatkan tekanan. Apalagi yang membutuhkan bantuan adalah Umar, harusnya dia bisa meminta tolong dengan lebih baik.
"Tiga novel, deh. Teteh beliin tiga di Gramedia. Gimana?" Fina tahu betul apa kesukaan adik iparnya. Kalau sudah disogok pakai novel, apa saja pasti akan dilakukan.
"Teteh pikir, aku kutu buku banget, apa? Cuma karena tiga novel ... Teteh serius?" Ucapan Mutia membuat Fina terkekeh. Di awal-awal dia bersikap seolah menolak, padahal aslinya mau.
Fina mengangguk. "Serius, tapi kamu ganti baju dulu. Pakai celana panjang."
"Pokoknya Teteh nggak boleh bohong, ya! Teteh janji dulu kalau tiga novel. Beneran tiga novel?" kata Mutia sambil berjalan mundur untuk kembali menaiki anak tangga menuju kamarnya.
"Iya, Cantik. Teteh janji, tiga novel." Fina menunjukkan ketiga jarinya agar Mutia percaya dan bergegas ganti baju. Setelah mendengar janji itu, gadis yang beranjak dewasa itu berlari naik ke kamarnya.
Umar menatap istrinya yang tersenyum senang, cerdas sekali memenangkan hati adiknya. "Pinter banget, sih, Istriku."
Fina melirik Umar yang baru saja memujinya. "Kalau aku nggak kayak gitu, Mutia pasti nggak bakal mau. Anak itu harus diturutin dulu apa maunya kalau mau dibimbing ke jalan yang bener. Jangan dimarahin terus, nanti malah makin memberontak."
Umar mengelus puncak kepala Fina yang tertutup kerudung, kemudian mengecupnya hangat. "Iya, Sayang."
Pipi Fina spontan memerah kala dipanggil seperti itu. Dia menyikut perut Umar agar tidak sembarangan menyebutnya. Siapa tahu ada Umi dan Abi yang lewat, pasti akan sangat malu. "Apa, sih!"
"Udah dua tahun nikah masih malu aja." Umar melingkarkan tangannya di pinggang Fina, hendak bermanja sebelum berangkat kerja.
"Mas, berangkat sana. Nanti telat." Bukannya risi, dia hanya geli kalau Umar bertingkah seperti anak kecil ketika mereka berduaan seperti ini. Dia juga malu kalau tidak bisa menyembunyikan rona pipinya dari pandangan Umar. Suaminya itu selalu suka menggoda.
"Seneng, ya, aku kayak gini? Pipimu merah gitu."
Tuh, kan. Baru saja dibicarakan dalam hati, Umar sudah menggodanya. Fina pun segera mengambil tas Umar di meja makan dan menyodorkannya. Dia mendorong punggung suaminya agar segera berjalan keluar rumah. "Udah, berangkat!"
Umar terkekeh melihat tingkah Fina yang selalu salah tingkah dengan sikap romantisnya. Usia pernikahan mereka memang masih sangat muda. Apalagi keduanya baru saling kenal setelah menikah, jadi cukup wajar kalau Fina masih sering malu dan Umar yang masih bucin akut dengan istrinya. Kata orang-orang, namanya pacaran setelah menikah.
"Aku harus bilang ke Yusuf dulu. Dia pasti udah nungguin," ucap Mutia sembari menekan tombol telepon pada kontak Yusuf. Tidak menunggu lama, pemuda yang membuat janji itu pun menerima telepon dari Mutia.
"Halo, kamu di mana, Mut? Aku udah nunggu dari tadi, katanya udah mau ke luar?"
Mutia menggaruk tengkuk lehernya, kemudian mendudukkan diri di pinggir kasur. "Emm, anu. Maaf banget, ya, Suf? Kayaknya, aku nggak bisa jalan hari ini. Kita ganti lain waktu nggak pa-pa? Aku harus nemenin Teh Fina kontrol. Abang nggak bisa soalnya ada urusan kerja."
"Harus banget hari ini, ya? Kan kita udah ada janji duluan. Tetehmu bisa kontrol sendiri, 'kan? Atau minta temenin umimu."
Terdengar dari nada bicaranya, Yusuf tampak kecewa dengan keputusan Mutia yang mendadak membatalkan janji. Harusnya tidak seperti ini. Yusuf sudah mempersiapkan semuanya. Apa Mutia tidak pernah memikirkan perasaan Yusuf lebih dulu?
"Maaf banget, ya. Perut Teteh udah lumayan besar, aku juga khawatir kalau dia berangkat sendirian. Jadi—” Mutia sedikit merasa bersalah.
"Aku ngerti." Hanya itu yang diucapkan Yusuf sebelum akhirnya memutuskan sambungan secara sepihak.
Mutia terdiam, dia merasa bersalah pada Yusuf. Laki-laki itu pasti sangat kecewa dengannya. Namun, bagaimana lagi? Dari awal, Mutia memang tidak punya perasaan apa-apa pada Yusuf. Dia menerima Yusuf menjadi pacarnya karena suatu alasan. Gadis itu tidak bisa putus dari Yusuf, tidak bisa juga membalas perasaan Yusuf seperti semestinya.
Tidak ingin berlarut-larut dalam pikirannya, Mutia pun kembali berdiri untuk mengganti celananya dengan celana yang lebih panjang. Bertepatan dengan itu, dia melihat Fina yang sudah berdiri di tengah pintu. "Teteh?"
Mutia terkejut dengan keberadaan kakak iparnya. “Apa dia mendengar percakapan tadi? Semoga tidak.”
"Teteh sejak kapan berdiri di situ?"
"Pacar kamu?" Itu yang malah dikatakan Fina.
Jantung Mutia semakin mencelos kala mendengarnya. Apa yang harus dia katakan? Kakak iparnya sudah memergoki, dia bingung harus menjawab apa. Kalau sampai Umar tahu, tamat riwayatnya.
"Anu, Teh. Dia ...."
"Aku dengar, Mut. Dia pacarmu, 'kan?" Fina berjalan masuk dan duduk di tepi kasur.
"Mati, udah," gumamnya sembari memejamkan mata sebentar. "Iya, Pacar Mutia."
"Dan kamu tahu, kan, apa yang akan terjadi kalau abangmu tau?" kata Fina tanpa perlu menjelaskan lagi. Mutia pasti mengerti apa yang akan terjadi.
"Tau, Teh. Teteh ... jangan bilang Abang, ya? Please ...," ucap Mutia memohon pada Fina.
"Kamu sayang sama dia?" tanya Fina dengan ekspresi yang tidak bisa dibaca Mutia.
Dia tidak bisa menebak apakah Fina marah atau tidak padanya yang paling penting, Mutia juga tidak bisa menjawab pertanyaannya.
"Enggak?" Fina bertanya lagi.
Sementara Mutia hanya menunduk, memperhatikan celana pendeknya yang mau dia lipat untuk dikembalikan ke lemari.
"Kalau kamu bahkan nggak ada perasaan ke dia, buat apa kamu pacaran, Mut? Cuma nimbun dosa aja. Segera putusin dia," kata Fina secara final. Dia kembali menegakkan tubuhnya. "Teteh tunggu di bawah, taxi onlinenya udah dateng."
Setelah kepergian Fina, tubuh Mutia ambruk di atas lantai. Dia terduduk sambil mengelus dadanya. "Sumpah, kalau sampai Abi sama Abang tau, gue nggak ngerti lagi apa masih bisa hidup lebih lama."
***
"Udah?" Fina menghampiri Mutia yang dari tadi berkeliling untuk mencari satu novel untuk dibeli.
Gadis itu sudah mendekap dua novel, jadi sisa satu novel lagi seperti janji Fina pagi tadi.
"Belum, Teh. Aku masih bingung mau beli yang mana."
Fina juga sedikit tertarik dengan buku, seperti Mutia. Namun, bedanya, Fina lebih tertarik ke novel-novel religi, sedangkan Mutia tertarik ke romance-romance ala remaja. "Beli aja yang kamu suka."
"Banyak!"
Fina menggelengkan kepalanya, merasa heran. Di balik tingkah liar gadis ini, dia punya hobi membaca yang langka dimiliki anak-anak zaman sekarang. Setidaknya itu yang membuat Mutia berbeda. "Novel apa aja yang udah kamu gendong itu?"
"Oh, ini? Ini Novel If You Know Why sama If You Know Who karya Kak Itsmeindriya. Aku suka banget karya dia. Soalnya nggak cuma fokus ke konflik romantis, tapi juga soal psikis." Mutia mengatakan itu sambil menunjukkan sampul kedua bukunya di hadapan Fina. Lantas, Fina menerima dua buku itu, lalu membaliknya, membaca blurb yang ada di belakang buku.
"Bagus, nanti Teteh boleh pinjem? Kayaknya menarik."
Mutia mengangguk dengan semangat. "Nanti kita review bareng-bareng, ya!"
"Kamu mau Teteh rekomendasiin cerita bagus, nggak?" tanya Fina.
"Pasti tentang agama, 'kan? Itu, kan, novel-novel kesukaan Teh Fina. Aku nggak suka yang kayak gitu. Terlalu flat dan banyak batasan. Di dalam Islam nggak boleh pacar-pacaran. Nggak asyik, nggak bisa romantis," jawab Mutia langsung, tanpa perlu berpikir lagi.
Itu sudah pendapatnya sejak lama. Orang-orang yang terlalu alim tidak bisa hidup asyik karena semuanya berlandaskan agama. Mutia jadi enggan untuk sekadar menyinggungnya.
Fina terkekeh mendengarnya. "Di dalam Islam boleh pacaran, kok, dengan satu syarat."
Mutia membelalakkan kedua matanya. Fina mengatakan itu dengan suara yang cukup keras, memancing perhatian beberapa orang karena kalimatnya yang sedikit melenceng. "Sejak kapan di dalam Islam boleh pacaran? Terus, memangnya apa syaratnya?"
"Sudah menikah, wkwk." Orang-orang yang mendengarnya pun sontak ikut tertawa kala melihat muka cengo Mutia.
"Mana bisa gitu, ish!"
"Ya, bisalah. Mau ngapain aja udah halal. Nggak ada batasan norma atau agama. Mau mesra-mesraan dapet pahala." Fina menarik Mutia, mengajaknya ke salah satu rak buku yang ingin dia tunjukkan pada Mutia, sedangkan gadis itu hanya mengekor saja karena masih fokus dengan percakapan mereka.
"Emang iya? Kalau udah suami istri, mesra-mesraan dapet pahala?"
Fina menoleh. "Kamu baru tau?"
Mutia mengangguk. Dia sedikit tertarik untuk mendengar lebih jauh.
"Menikah itu, kan, ibadah. Semuanya dilakukan karena Allah. Mencintai karena Allah, menyayangi karena Allah. Tentu saja dapat pahala. Senyum ke pasangan, romantis ke pasangan, perhatian ke pasangan, dapet pahala. Kalau pacaran? Malah sebaliknya. Senyum ke pacar, romantis ke pacar, perhatian ke pacar, sama aja nimbun dosa," kata Fina seperti bercerita, bukan menceramahi seperti Umar.
Fina menjelaskan dengan sabar karena dia tahu betul bahwa wawasan Mutia mengenai Islam sangatlah minim. Selama ini gadis itu terlalu fokus dengan urusan dunia dan kebebasan masa muda. Dia tidak terlalu tertarik dengan hal-hal mengenai agama. Seperti dirinya dulu, saat masih duduk di bangku sekolah menengah pertama.
"Nih, novel yang menurutku cocok sama kamu. Kamu suka yang romantis-romantis, ‘kan? Coba sekali aja baca novel yang kayak gini. Aku jamin, kamu bakal ketagihan." Fina menyodorkan sebuah novel ke Mutia.
Mutia menerimanya lalu membaca judul yang tertera di sana: Pelengkap Imanku. Gadis itu mengangkat kedua alisnya.
***
Anda Mungkin Juga Suka





