
Mahkota Sang Dewi
Bab 3
"Asalamualaikum, Bun," ucap Husein kala memasuki ruangan Rara. Dia meletakkan tasnya di atas sofa dan mendekat ke brankar. Tak lupa memeriksa suhu Rara melalui kening atau pipinya.
"Wa'alaikumus-salam, sudah makan, Sein?" tanya Rara. Terkadang dia juga merasa cemas dengan kondisi kesehatan anaknya.
Sepulang kerja harus merawat dirinya, lalu pulang ke rumah dan mengajar ngaji di pondok pesantren ayahnya. Aktivitas itu selalu dia lakukan tanpa henti. Setiap Rara bertanya apakah Husein tidak lelah, pria itu selalu menjawab bahwa semuanya adalah proses dalam mengejar dunia dan akhirat.
"Nanti aja, Bun. Masih belum laper. Oh, iya, Husein mau ketemu dokter dulu, ya." Husein beranjak dari kursi, tetapi ditahan oleh Rara.
"Bunda ikut, ya? Mau cari angin, bosen di sini terus."
Husein tampak enggan karena khawatir terjadi sesuatu apabila bundanya berinteraksi dengan orang luar, tetapi Husein tidak punya pilihan lain selain mengangguk setuju. Dia pun mendekat untuk menggendong bundanya, memindahkan ke kursi roda yang tadinya terlipat di sebelah tiang infus. Setelah itu, dia mulai mendorong gagang kursi roda dari belakang.
"Udah lama Bunda nggak lihat orang-orang," ucapnya. Dari raut wajahnya, dia senang bisa bertemu orang-orang dan saling melemparkan senyuman.
"Bu Rara, gimana kabarnya?" sapa salah seorang pasien yang juga merupakan pasien lama di rumah sakit ini. Sehingga sudah kenal akrab dengan Rara dan Husein.
"Alhamdulillah, baik, Bu. Bu Yani sekeluarga bagaimana?" tanya Rara.
"Alhamdulillah, Bu. Sudah ada perkembangan. Insyaallah, minggu depan saya operasi. Minta doanya, ya, Bu Rara, Nak Husein, semoga bisa sembuh dan segera pulang ke rumah. Saya sudah bosan di sini, kangen suasana rumah."
"Amin," ucap Rara dan Husein serempak. Lantas Rara menggenggam tangan Yani. "Syafakillah, Bu Yani," ucapnya.
Setelah mengatakan itu, suster yang menjaga Bu Yani pun mengatakan bahwa pasiennya sudah ditunggu dokter untuk pemeriksaan bagian dalam. Jadi, harus segera menuju ruangannya. Hal itu terpaksa membuat Yani dan Rara berpamitan, sedangkan Husein lanjut mendorong kursi roda bundanya menuju bagian administrasi.
"Dengan walinya Ibu Raniah Muyassarah?" panggil seorang suster yang mendekat ke arah Husein.
Husein mengangguk, walau sedikit bingung karena dia baru saja ingin menuju administrasi untuk membereskan beberapa hal mengenai biaya sang bunda selama di rumah sakit.
"Iya, saya sendiri. Ada apa, ya, Sus?" tanya Husein.
"Mari ikut saya sebentar, Pak."
Husein pun kembali mengangguk, lalu menggeser kursi roda bundanya agar berada di sebelah bangku tunggu dan tidak lagi berada di tengah jalan. "Bunda tunggu di sini sebentar, ya. Husein ikut suster dulu."
"Iya, kamu tenang aja."
***
"Pelengkap Imanku," ucap Mutia kala membaca judul dari novel yang kini berada dalam genggamannya.
"Jangan lupa dibaca nanti," kata Fina yang juga duduk di sebelahnya. Dia memperhatikan raut Mutia yang termenung sejak dari mal.
Tidak menjawab, Mutia hanya mengangguk. Dia mengeluarkan bolpoin yang ada di tas, lalu menuliskan namanya di setiap halaman pertama buku.
"Kamu kenapa diem aja dari tadi?"
Mutia mendongak. Entah kenapa dia juga baru sadar kalau tidak berbicara sejak dari mal sampai rumah sakit. Padahal berbicara adalah salah satu hobinya. Kenapa dia diam saja? Apa mungkin karena masih kepikiran dengan perkataan Fina di Gramedia tadi?
"Gak pa-pa, Teh. Males ngomong aja." Mutia mengedarkan pandangan, memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang di lorong rumah sakit. Bau obat-obatan yang menyeruak membuat Mutia menggosok pangkal hidungnya.
"Teteh, masih lama, ya? Aku laper," rengek Mutia. Mereka memang sedang mengantre untuk dipanggil gilirannya.
"Bentar lagi. Sabar, ya."
"Kita makan dulu aja gimana? Tadi aku lihat orang jualan mi ayam di depan rumah sakit. Kayaknya enak." Mutia jadi membayangkan sedapnya kuah mie di dalam mulut sambil mengusap perutnya yang datar, berbeda dengan perut Fina yang besar.
"Nanti kalau kita ke depan terus ternyata udah dipanggil, malah antre lagi." Fina tidak sepemikiran dengan adik iparnya.
“Iya juga,” pikir Mutia sambil menghela napas pasrah.
"Kalo gitu, aku ke toilet dulu, ya." Mutia mendekap ketiga bukunya, lalu berjalan ke toilet.
Sampai di dalam, dia baru sadar membawa semua buku yang baru dia beli harusnya tadi dititipkan Fina saja agar tidak perlu repot membawa buku ke toilet. “Astaga, namanya juga nggak kepikiran. Ya, sudahlah.”
Keluar dari bilik toilet, dia mencuci kedua tangan sampaibersih. Sabun toilet di rumah sakit itu selalu bersih dan wangi. Dia suka sekali dengan aromanya. Itu sebabnya dia sengaja menggunakan lebih banyak cairan itu.
"Hehe, lumayan," gumamnya.
Setelah selesai, dia kembali menggendong bukunya keluar toilet. Dia mengedarkan pandang ke seluruh penjuru. Rasanya Mutia mendadak bingung berada di mana?
Kakinya pun berbelok ke lorong lain, tetapi hal itu malah semakin jauh dari posisi kakak iparnya.
“Astaga, di mana sih ruangan dokter kandungan tadi?” Gadis itu mulai cemas.
Sampai kakinya berhenti karena merasa lelah, dia pun memutuskan berjongkok sebentar. Menengok ruangan apa yang ada di dekatnya. Di sana, dia melihat tulisan, 'Ruang Mayat'. Sontak kedua matanya membulat dan segera beranjak dari ruangan itu. Membacanya saja sudah merinding.
"Bisa-bisanya gue kesasar di rumah sakit. Nggak lucu banget. Iya kalo masih bocah, ini udah segede gaban," gumamnya mulai panik karena semua tempat terlihat sama.
Mau belok ke kanan, ternyata itu tempat pembuangan akhir rumah sakit. Mau belok ke kiri, ternyata menuju lapangan rumah sakit. Lalu, dia harus belok ke mana?
Dia sendiri merasa tidak enak untuk bertanya pada orang-orang yang lewat karena semuanya tampak sibuk dengan urusan masing-masing. Gadis itu berpikir malah akan mengganggu aktivitas orang-orang yang lalu-lalang.
"Dahlah, jalan aja dulu. Siapa tahu ketemu," ucap Mutia akhirnya.
Dia memilih berjalan sambil menunduk. Sebenarnya sudah tidak ada tenaga untuk lanjut berjalan karena perutnya yang kosong sejak dari rumah. Namun, dirinya tidak mungkin hanya diam di satu tempat yang sama tanpa berusaha kembali. Bisa-bisa Fina panik dan menghubungi Umar, lalu dia akan kena marah lagi. Membayangkannya saja sudah malas.
Di perjalanan mencari ruangan dokter kandungan, perhatiannya tak sengaja menangkap seorang laki-laki asing yang hendak melakukan perbuatan buruk pada seorang wanita paruh baya. Awalnya, Mutia tidak ingin berprasangka buruk lebih dulu. Dia hanya diam memperhatikan apa yang dilakukan pria itu. Menarik dompet dan ponsel sang ibu diam-diam, sedangkan ibu tersebut sibuk menggerakkan kursi rodanya dengan kesusahan. Padahal di belakangnya ada selokan yang cukup dalam.
Ternyata benar, dia mau berbuat buruk. Mutia pun berjalan mendekat. "Lo ngapain?"
Merasa perbuatannya ketahuan, laki-laki itu segera kabur sambil memeluk dompet dan menggenggam ponsel milik ibu yang duduk di kursi roda itu.
"Jangan lari, lo!" Mutia sudah tidak peduli dirinya menjadi pusat perhatian karena berteriak dan mengatakan kata kasar.
Dia hanya fokus mengejar pencuri itu. Untung saja dia ingat sedang membawa novel yang ukurannya juga tebal. Tanpa menunggu lama, gadis itu segera melempar novel itu sambil berlari.
Satu novel terlempar, tetapi lemparannya meleset. Dia merasa sangat kesal.
"Sialan!"
Mutia pun berusaha melemparnya lagi. "Yes!" Akhirnya dapat.
Novel itu menghantam tengkuk leher bapak itu sampai dia terhuyung ke depan. Tubuhnya pun jatuh tengkurap. Dia mengusap dagunya yang terbentur lantai dengan keras.
"Ketangkep, kan, lo!"
Pria itu berusaha kabur lagi. Namun, Mutia berhasil mencegahnya dengan menendang keras perutnya. “Berani kabur lagi, gue tebas lo!”
"Maaf, Teh. Ada apa, ya? Mohon jangan membuat keributan," kata seorang dokter yang hendak menengahi Mutia dengan pencuri itu.
"Tolong jangan menimbulkan keributan di sini, Teh. Ini rumah sakit," kata satpam yang berniat menyeret Mutia keluar.
“Emang siapa yang bilang rumah makan?” pikir Mutia kesal.
"Saya juga nggak tau, Pak. Teteh ini tiba-tiba ngejar saya, terus maki-maki saya, ngelemparin buku ke kepala dan nendang perut saya. Padahal saya aja nggak kenal dia siapa."
“Lah, Kutu Kupret!” umpat Mutia dalam hati.
"Bapak jangan playing victim, ya. Jelas-jelas saya tau kalau Bapak mau mencuri dan melukai ibu tadi. Sebaiknya Bapak ngaku biar hukumannya di kantor polisi nggak terlalu berat!" ucap Mutia dengan berani. Padahal sebagian orang di sana terlihat lebih mempercayai ucapan pencuri itu.
"Teteh yakin kalau bapak ini mencuri? Teteh punya bukti?" kata dokter yang berdiri di sebelah satpam.
Mutia melipat kedua tangannya di depan dada. "Saya ini berakal dan punya mata untuk melihat, Dok. Saya juga nggak mungkin iseng nuduh bapak ini gitu aja. Saya udah punya KTP juga, jadi kesaksian di dalam pengadilan pun pasti bakal diterima, 'kan?"
Mutia menoleh ke belakang, melihat ibu yang tadi menjadi korban masih diam dan kebingungan di tempat. "Ibu juga tahu, ‘kan, kalau saya ini berniat nolong Ibu dari bapak ini?"
Ibu itu hanya diam. Sepertinya dia juga tidak menyadari kalau dompet dan ponselnya akan dicuri, atau lebih tepatnya tidak tahu. Karena kejadian itu dilakukan tanpa sepengetahuannya ketika dia sendiri sibuk untuk menggerakkan kursi roda.
“Kenapa ibu ini diem aja, sih? Dia nggak mau bantu bela gue atau emang nggak tau kalau barangnya dicuri?” pikir Mutia dengan alis yang bertautan.
"Sudah jelas, 'kan? Saya bukan pencu—"
"CCTV!" tukas Mutia, menatap dalam pencuri dan satpam di depannya. "Rumah sakit ini pasti punya banyak CCTV, ‘kan?"
"Saya sudah bilang, saya nggak bersalah!" kata lelaki itu bersikeras.
"Kalau Bapak nggak bersalah, harusnya nggak panik, dong, kalau CCTV-nya diperiksa!" tegas Mutia dengan amarah yang sudah berkumpul di puncak kepala.
Mutia menoleh pada satpam yang masih bergeming di tempat yang sama. "Boleh periksa CCTV-nya, Pak? Buat jadi bukti biar hal kayak gini nggak terulang lagi."
"Mari saya antar."
Ternyata benar seperti yang dikatakan Mutia, bapak itu berniat jahat pada ibu yang ada di kursi roda. Bahkan, hal itu bisa dijadikan bukti untuk kejahatan merencanakan pembunuhan karena posisi ibu itu hampir jatuh ke selokan yang dalamnya cukup untuk membuat kepala wanita itu terbentur.
"Baik, saya mengaku bersalah. Tolong jangan laporkan saya ke polisi, Pak! Teteh! Dok! Saya janji tidak akan mencuri lagi. Saya melakukan ini ada alasannya!" ucapnya sembari bersujud di kaki Mutia.
"Semua penjahat juga punya alasan, Pak, kenapa mereka jahat. Tapi, alasan itu nggak bisa dijadikan pembelaan buat berlindung dan nggak bertanggung jawab atas apa yang sudah Anda perbuat." Ucapan Mutia membuat dokter, satpam dan ibu yang menjadi korban terdiam kagum.
Anak muda yang masih berusia belasan itu sanggup menyelesaikan kejadian ini dengan berani dan dewasa. Mereka salut melihatnya.
"Saya mohon!"
Mutia melirik korban yang mendekat dengan kursi rodanya.
"Apa alasannya, Pak? Saya ada salah sama Bapak?" tanyanya dengan nada yang begitu tenang dan hangat.
Mutia sempat tertegun karena raut wajah sang ibu menunjukkan betapa baik dan sabarnya beliau.
"Bukan begitu, Bu. Saya ... saya nggak punya uang untuk membayar biaya persalinan istri saya. Saya takut anak saya menjadi jaminan dan tidak bisa pulang bersama kami. Saya kerja siang malam jadi tukang becak, masih belum bisa melunasi biayanya. Anak saya terpaksa harus lahir dengan cara operasi karena dokter baru menyadari kalau istri saya memiliki pinggul sempit di tengah-tengah pembukaan. Jadi, anak saya tidak bisa dilahirkan dengan cara normal."
Mutia terdiam, tiba-tiba merasa tidak enak dengan bapak itu. Walaupun memang perbuatannya tetap tidak bisa dibenarkan.
"Saya maafkan."
Kedua mata Mutia terbelalak. Dia memandang ibu itu begitu dalam, tidak percaya masih ada seorang manusia yang memiliki hati begitu lapang. Sementara bapak yang telah mencuri itu segera mengembalikan barang-barang sang ibu dan bersujud di kakinya. Dia menangis tersedu-sedu dan memohon maaf dengan tulus.
"Iya, Pak. Saya mengerti kenapa Bapak rela melakukan apa saja demi keluarga Bapak. Saya juga seorang ibu, saya selalu mau yang terbaik untuk anak saya. Kalau boleh, siapa nama istri Bapak dan dia berada di ruangan mana? Saya ada sedikit rezeki yang mudah-mudahan bisa membantu." Wanita itu terlalu baik. Saat dirinya telah menjadi korban kejahatan, tetapi masih sanggup memaafkan, bahkan berniat memberikan bantuan pada orang yang bisa saja mengancam nyawanya.
Mutia semakin tidak mengerti, ada malaikat berwujud manusia di sampingnya, membuatnya kehabisan kata-kata untuk bicara.
***
Anda Mungkin Juga Suka





