Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

Don Arkhan, bos mafia yang dingin dan ditakuti, mendapati hidupnya jungkir balik setelah menikahi Yara. Gadis itu sangat konyol dan penuh tingkah ajaib yang menguji kesabaran Arkhan. Namun di balik keceriaannya, Yara menyimpan trauma kelam yang membuatnya selalu menghindar dari keintiman. Di tengah ancaman rival dan konflik organisasi, Arkhan harus meruntuhkan tembok masa lalu Yara. Inilah kisah cinta absurd nan emosional antara sang predator dan istri uniknya.
Bab
Bagikan

Bab 3

"Yara, jangan bikin kekacauan di sini, ya. Kita semua tahu kamu spesialis bikin rusuh."

Rendra melontarkan kalimat itu dengan nada setengah bercanda, tapi matanya serius. Yara yang tadinya sudah bersiap melangkah maju, tiba-tiba berhenti. Ia berbalik perlahan, menatap Rendra dengan alis terangkat.

"Mas Rendra, maksudnya apa, sih? Aku kan cuma mau istirahat, ya kali aku bikin rusuh sambil tidur," jawab Yara dengan ekspresi polos, meskipun dalam hatinya ia mengakui bahwa reputasinya sebagai "ratu kekacauan" memang sudah terlalu melekat.

Rendra hanya menghela napas panjang sambil menatap Arkhan yang berdiri tak jauh dari mereka. "Ayang"-ya, hanya Yara yang berani memanggil bos mafia itu dengan panggilan menggelikan-"Tolong, deh. Kasih tahu istri kamu buat nggak bikin masalah di sini. Tempat ini serius banget, bukan taman bermain."

Arkhan menatap Rendra sekilas, lalu mengalihkan pandangannya ke Yara. Wajahnya tetap dingin, seperti biasa, tapi ada sedikit kerutan di keningnya. Ia tahu, benar-benar tahu, bahwa Yara tidak pernah sengaja bikin masalah. Tapi hasil akhirnya? Tetap saja kekacauan.

"Yara," Arkhan akhirnya membuka suara. "Dengar Rendra. Jangan macam-macam. Kita di sini bukan untuk main-main."

Yara melipat tangan di depan dada, matanya menatap Arkhan dengan tatapan penuh protes. "Aku tuh nggak pernah niat bikin masalah, Ayang. Kamu tuh kayak nggak percaya sama aku aja."

"Bukan nggak percaya," gumam Arkhan sambil mengusap pelipisnya. "Aku cuma tahu kamu terlalu kreatif."

Yara tersenyum kecil mendengar kata "kreatif". Ia tahu itu adalah cara halus Arkhan untuk menyebutnya "koplak". Tapi sebelum ia sempat membalas, pria muda yang tadi menawarkan untuk mengantar Yara kembali angkat bicara, mencoba mencairkan suasana.

"Bu Yara, ayo, saya antar ke ruang istirahat. Tempatnya nyaman kok, dan jauh dari keramaian," katanya dengan senyum ramah.

Yara mengangguk, akhirnya memutuskan untuk mengikuti pria itu. Tapi sebelum melangkah, ia sempat melirik Rendra dan Arkhan. "Aku nggak akan bikin masalah, kok. Percaya, ya."

Rendra hanya mendengus kecil, sementara Arkhan tidak menjawab. Hanya tatapan tajamnya yang mengikuti punggung kecil Yara saat ia berjalan menjauh.

♡ ♡ ♡

Begitu sampai di ruang istirahat, Yara langsung mendesah lega. Ruangan itu cukup luas, dengan sofa empuk di sudut dan jendela besar yang menghadap ke taman belakang. Matahari sore menerobos masuk, menciptakan suasana yang hangat dan nyaman.

"Ini tempatnya, Bu Yara," kata pria muda tadi. "Kalau ada yang Ibu butuhkan, tinggal panggil saja. Saya akan berjaga di luar."

"Udah, jangan terlalu formal gitu. Panggil aja aku Yara," jawab Yara sambil tersenyum manis. "Eh, nama kamu siapa?"

"Namaku Bayu, Bu-eh, Mbak Yara."

"Bayu, ya? Oke. Makasih banyak, Bayu. Kamu baik banget. Kalau aku butuh sesuatu, aku panggil, ya."

Bayu mengangguk, lalu keluar dari ruangan. Begitu pintu tertutup, Yara menghempaskan tubuhnya ke sofa. Rasanya nyaman sekali, tapi pikirannya tidak bisa diam. Ia mulai memikirkan Arkhan, Rendra, dan semua orang di rumah besar ini. Dunia mereka terasa begitu jauh dari hidupnya yang dulu. Dunia mafia-dunia yang penuh bahaya, intrik, dan... orang-orang serius.

"Kenapa sih semua orang di sini tegang banget?" gumam Yara sambil memainkan ujung rambutnya. "Kalau aku nggak ada, mereka pasti nggak pernah ketawa."

Tiba-tiba, matanya tertuju pada sebuah cangkir di meja kecil di depannya. Cangkir itu berisi kopi hitam, dan aromanya menggoda. Yara tidak tahu kopi itu milik siapa, tapi ia tetap saja mengambilnya. Ia menyeruput sedikit, lalu langsung meringis.

"Ya ampun, pahit banget! Siapa yang minum ini? Nggak ada gulanya, apa?" keluhnya sambil meletakkan cangkir itu kembali.

Tapi karena penasaran, ia mengambil cangkir itu lagi. Kali ini ia meminumnya sambil menahan napas. Entah kenapa, meskipun pahit, ada sesuatu yang membuatnya ingin mencoba lagi.

Saat ia sedang asyik dengan eksperimen "kopi pahit", tiba-tiba pintu ruangan terbuka. Bayu masuk dengan wajah panik.

"Maaf, Mbak Yara, tapi-"

Bayu belum selesai bicara ketika terdengar suara ledakan kecil dari arah taman. Yara langsung melompat dari sofa. "Astaga! Apa itu?"

Bayu tampak ragu untuk menjawab, tapi akhirnya ia berkata, "Sepertinya ada masalah kecil di luar. Mbak Yara, mohon tetap di sini. Saya akan memeriksa."

Namun, Yara tidak peduli dengan peringatan itu. Rasa penasarannya sudah menguasai dirinya. "Masalah kecil? Apa maksudnya? Aku ikut, ya!"

"Mbak Yara, ini bukan tempat untuk-"

Terlambat. Yara sudah berjalan cepat keluar ruangan, meninggalkan Bayu yang hanya bisa menghela napas pasrah.

♡ ♡ ♡

Ketika Yara sampai di taman belakang, ia langsung melihat sumber kekacauan. Sebuah mobil hitam tampak terbakar di salah satu sudut, dengan asap tebal membumbung ke udara. Beberapa anak buah Arkhan sibuk memadamkan api, sementara yang lain berjaga dengan senjata di tangan.

"Wah, seru banget!" seru Yara tanpa sadar, matanya berbinar-binar.

Rendra, yang sedang memberikan instruksi kepada anak buahnya, langsung menoleh ketika mendengar suara itu. Wajahnya seketika berubah kesal. "Yara! Aku bilang jangan bikin kekacauan, bukan malah datang ke sini!"

Yara mengangkat tangan, mencoba terlihat tak bersalah. "Aku nggak bikin apa-apa, kok. Aku cuma penasaran."

"Penasaran itu sumber masalah!" balas Rendra. Ia berjalan mendekati Yara dengan langkah cepat. "Ini tempat berbahaya. Kamu nggak boleh ada di sini."

"Tapi aku cuma mau lihat. Lagian, aku kan istri bos besar. Masa aku nggak boleh tahu apa yang terjadi di wilayah suamiku?" jawab Yara dengan nada manja.

Rendra hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Ia tahu berdebat dengan Yara sama sekali tidak ada gunanya. "Sudah, balik ke dalam sekarang, sebelum Arkhan datang dan melihat kamu di sini."

"Kenapa? Kalau Arkhan lihat, emangnya kenapa?" Yara bertanya, tapi sebelum Rendra sempat menjawab, suara familiar membuatnya terdiam.

"Yara."

Arkhan muncul dari balik kerumunan, auranya begitu dingin dan mengintimidasi. Para anak buahnya langsung memberi jalan, sementara Yara hanya bisa menelan ludah.

"Aku bilang apa tadi?" tanya Arkhan, suaranya pelan tapi penuh tekanan.

Yara mencoba tersenyum, meskipun jelas ia gugup. "Aku cuma mau lihat, Ayang. Nggak apa-apa, kan?"

Arkhan tidak menjawab. Ia hanya menatap Yara dengan mata tajam, membuat wanita itu merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah sedang mencuri kue.

"Aku udah bilang jangan macam-macam," kata Arkhan akhirnya. "Tapi kamu selalu nggak bisa diam."

"Aku nggak macam-macam kok. Serius," balas Yara, mencoba membela diri.

Arkhan menghela napas panjang, lalu mengangkat tangannya. "Rendra, bawa dia ke dalam. Jangan biarkan dia keluar lagi sampai semuanya selesai."

"Apa? Ayang, aku nggak mau dikurung di dalam!" protes Yara.

Namun, Arkhan tidak menggubrisnya. Ia sudah berbalik, kembali ke arah mobil yang terbakar. Rendra, meskipun merasa sedikit kasihan pada Yara, tetap menjalankan perintah bosnya.

"Yara, ayo," katanya, mencoba terdengar ramah.

"Tapi aku-"

"Ayo," potong Rendra, kali ini nada suaranya lebih tegas.

Dengan berat hati, Yara akhirnya menurut. Tapi dalam hatinya, ia merasa tidak adil. Ia hanya ingin membantu, atau setidaknya tahu apa yang sedang terjadi. Apa salahnya?

Lanjut Nonton!
Cerita makin seru! Buka Aplikasi untuk melanjutkan membaca
Buka Semua Episode
Cari "95KQW" di moboreader para membaca buku selengkapnya.
Salin kode dan cari di aplikasi Moboreader untuk melanjutkan membaca.
95KQW
Salin
Buka Situs Web Resmi

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku
9.7
Terjebak di pusaran mafia yang kelam, aku merindukan kehidupan damai di balik layar. Namun, segalanya berubah saat ibuku menikahi mantan bos mafia. Kaelion Verez Montefalco, pewaris takhta kejam dari Italia Selatan, kini menjadi saudara tiriku yang obsesif. Dia mengontrol setiap gerak-gerik dan napas yang kuhela. Di saat aku berjuang mempertahankan kebebasan, Kaelion justru menggunakan kekuasaannya untuk menjeratku dalam dominasi yang dingin dan tak terelakkan.
Sampul Novel Budak Nafsu 2
8.5
Kekaisaran Maxwell berada di ambang kehancuran akibat ulah putra-putra Alfons yang penuh masalah. Konflik cinta masa lalu memicu perang besar antar kelompok Mafia. Hubungan antara keluarga Maxwell dan Hansen pun terancam pecah menjadi pertumpahan darah setelah Fredrick Hansen menghirup udara bebas. Di tengah kekacauan dan dendam yang membara, hanya kekuatan cinta antara Alfons dan Ayu yang mampu meredam amarah serta menyatukan kembali faksi yang berseteru.
Sampul Novel Hati Yang Tersakiti
8.6
Linda selalu diabaikan oleh ayah dan abangnya demi kakak perempuannya, Sanny. Saat pemimpin mafia Fendi Sucipto hadir melindunginya dan menikahinya dalam pesta megah, Linda mengira telah menemukan cinta sejati. Namun, rahasia kelam terungkap saat Linda yang hamil tujuh bulan hampir tewas dalam kebakaran di pesta ulang tahun ayahnya. Di rumah sakit, Linda mendengar Fendi mengakui bahwa pernikahan mereka hanyalah rencana demi mendapatkan sumsum tulang belakang bayinya untuk menyembuhkan leukemia Sanny. Menyadari dirinya hanya dimanfaatkan oleh semua orang, Linda memilih pergi.
Sampul Novel Ibu Sambung Anak Mafia
9.2
Natalia Smith tak pernah menyangka tabrakan tidak sengaja di mall akan mengubah hidupnya. Jenifer Audey, gadis remaja berusia 17 tahun, tiba-tiba memintanya menjadi ibu sambung sebagai bentuk permohonan maaf. Natalia yang baru 23 tahun kini terjebak dalam misi Jenifer untuk menjodohkannya dengan sang ayah, Aaron Audey. Aaron adalah bos mafia asal Inggris berusia 30 tahun yang sangat ditakuti. Akankah rencana Jenifer menyatukan mereka berhasil?
Sampul Novel Kau Pilih Dia, Aku Bawa Anakmu Pergi!
9.7
Malam sebelum pernikahan megah mereka, Jeny menemukan pesan mesra dari Via di ponsel Leo, tunangannya yang merupakan pewaris Keluarga Moro. Meski Leo berjanji akan menyelesaikan masalah ini demi menghormati mendiang wakilnya, pengkhianatan nyata justru terjadi di altar. Saat telepon dari Via berdering mengancam bunuh diri, Leo pergi begitu saja meninggalkan Jeny di hadapan semua orang. Kecewa mendalam, Jeny memutuskan hubungan saat itu juga. Ia memilih menghilang sepenuhnya dari kehidupan Leo, membawa pergi rahasia besar bahwa ia sedang mengandung anak dari pria yang telah mencampakkannya.
Sampul Novel Pemilik Hati Tuan Mafia
8.7
Terlahir dalam kesengsaraan memaksa Belle menghadapi realitas yang kejam. Namun, semangatnya bangkit saat ia menemukan peluang untuk membalas dendam pada mereka yang menyakitinya. Bersama Albara, Belle mencoba berdiri kembali meski tak lagi memercayai cinta, persahabatan, ataupun keluarga. Hanya Albara, sang penyelamat, yang ia andalkan. Akankah Belle mampu menerima Albara sepenuhnya di tengah ancaman luka baru yang mungkin kembali menghampiri hidupnya?