Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

Mafia Koplak: Kekacauan Cinta Antara Don Arkhan dan Si Bebeb Gila

Don Arkhan, bos mafia yang dingin dan ditakuti, mendapati hidupnya jungkir balik setelah menikahi Yara. Gadis itu sangat konyol dan penuh tingkah ajaib yang menguji kesabaran Arkhan. Namun di balik keceriaannya, Yara menyimpan trauma kelam yang membuatnya selalu menghindar dari keintiman. Di tengah ancaman rival dan konflik organisasi, Arkhan harus meruntuhkan tembok masa lalu Yara. Inilah kisah cinta absurd nan emosional antara sang predator dan istri uniknya.
Bab
Bagikan

Bab 1

Suasana malam itu di sebuah ballroom mewah di Jakarta dipenuhi dengan kerlap-kerlip lampu kristal dan suara gelas saling berdenting. Acara amal yang diadakan oleh para sosialita ibu kota sedang berlangsung meriah. Para tamu berdandan megah dengan gaun mahal dan jas elegan, saling melempar senyum palsu sambil bertukar basa-basi. Namun di tengah kemewahan itu, seorang wanita muda bergaun merah terang dengan motif polkadot besar tampak sibuk mondar-mandir, wajahnya mencerminkan kebingungan.

Yara Avanindra, sang "bebeb koplak", jelas terlihat tak cocok dengan suasana formal ini. Dengan poni rambut yang sedikit mencuat karena salah pakai hairspray, ia tampak seperti anak ayam tersesat di kandang elang.

"Mana sih itu amplop donasi?! Kok tiba-tiba hilang gitu aja!" gumam Yara sambil menggigit kukunya. Ia baru saja ditugaskan oleh panitia untuk mengawasi amplop donasi berisi uang puluhan juta, tapi entah bagaimana, amplop itu menghilang dari meja tempat ia meletakkannya tadi.

Yara menatap sekeliling dengan gelisah. Ballroom yang luas itu penuh dengan tamu, dan semuanya tampak sibuk berbincang atau berdansa. Tidak ada yang mencurigakan. Namun, matanya tiba-tiba terpaku pada seorang pria di sudut ruangan. Pria itu mengenakan jas hitam sempurna yang membungkus tubuh atletisnya, wajahnya tajam dengan rahang tegas, dan sorot matanya dingin seperti es. Ia sedang berdiri sendirian dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celananya, terlihat seperti tidak terlalu menikmati acara ini.

"Ah! Jangan-jangan dia malingnya!" pikir Yara. Logika sederhana ala Yara langsung menghubungkan ekspresi pria itu yang tampak "mencurigakan" dengan hilangnya amplop donasi.

Tanpa berpikir panjang, Yara meraih tas kecilnya dan berjalan dengan penuh keyakinan ke arah pria itu. Langkahnya cepat dan penuh semangat, meskipun sebenarnya hatinya berdebar-debar. Ia tidak tahu siapa pria itu, tapi yang jelas, ia harus mendapatkan amplop itu kembali.

♡ ♡ ♡

Don Arkhan, pemimpin mafia paling ditakuti di Indonesia, berdiri di sudut ruangan sambil menatap bosan ke arah keramaian. Ia sebenarnya tidak ingin hadir di acara ini, tapi Rendra, tangan kanannya, bersikeras bahwa kehadiran mereka penting untuk menjaga citra organisasi. Lagipula, acara seperti ini adalah tempat yang sempurna untuk membangun koneksi dengan para "penguasa" di permukaan.

Namun, malamnya yang tenang mendadak terganggu oleh sosok wanita yang tiba-tiba muncul di hadapannya. Wanita itu berdiri dengan tangan berkacak pinggang, wajah penuh percaya diri, meskipun ada sedikit gugup di matanya.

"Hei, Mas Maling!" seru Yara dengan suara yang sedikit gemetar, tapi nada menuduhnya jelas.

Don Arkhan mengangkat alisnya, sedikit bingung. Ia tidak percaya ada seseorang yang cukup nekat untuk memanggilnya "maling" di depan umum.

"Maaf?" jawab Arkhan singkat, suaranya rendah dan penuh wibawa. Sorot matanya yang dingin membuat Yara sedikit mundur, tapi ia mencoba menguatkan diri.

"Jangan pura-pura nggak tahu, ya! Saya tahu kamu nyuri amplop donasi! Cepat balikin, deh, sebelum saya lapor ke panitia!" Yara menunjuk wajah Arkhan dengan jari telunjuknya. Gaya bicaranya penuh semangat, meskipun tubuhnya sedikit gemetar.

Arkhan menatap wanita di depannya dengan ekspresi datar. Ia mencoba mencerna situasi ini. Siapa wanita ini? Dan kenapa ia berani menuduhnya mencuri?

"Amplop donasi?" tanya Arkhan dengan nada datar, suaranya nyaris seperti bisikan. Ekspresinya tetap tenang, tapi ada sedikit kerutan di dahinya.

"Iya! Amplop donasi! Jangan pura-pura bego, Mas! Saya lihat kamu berdiri di dekat meja waktu amplop itu hilang!" balas Yara, nadanya semakin tinggi. Ia merasa bahwa pria di depannya ini terlalu santai, bahkan setelah ia menuduhnya.

Dalam hati, Arkhan merasa terhibur. Sudah lama sejak ada seseorang yang berani berbicara kepadanya dengan nada seperti ini. Biasanya, orang-orang langsung gemetar di hadapannya. Tapi wanita ini? Ia seperti tidak takut mati.

"Saya rasa kamu salah orang, Nona," jawab Arkhan akhirnya, suaranya tetap tenang. Ia melirih sedikit, seolah mencoba menahan tawa. "Saya tidak mencuri apa pun."

"Tapi... tapi muka kamu tuh kayak... ya, kayak maling!" Yara tergagap, tapi tetap mencoba mempertahankan posisinya. Dalam hati, ia mulai ragu. Pria ini memang terlihat mencurigakan, tapi ia tidak punya bukti apa-apa.

Rendra, yang sejak tadi berdiri tidak jauh dari Arkhan, akhirnya melangkah mendekat. Ia tidak bisa menahan senyum melihat situasi ini. "Bos, kayaknya kita baru ketemu orang paling berani di acara ini," gumamnya sambil melirik Yara.

Arkhan hanya menghela napas. "Sudah cukup. Aku tidak punya waktu untuk omong kosong ini."

Yara menggigit bibirnya, merasa malu tapi juga tidak ingin menyerah begitu saja. "Oke, kalau kamu nggak mau ngaku, saya panggil panitia, ya! Biar mereka yang urus!"

Arkhan menatapnya tajam. "Coba saja. Tapi aku jamin, kamu akan menyesal."

Nada suaranya yang rendah dan dingin membuat Yara merinding. Tapi sebelum ia bisa membalas, seorang petugas keamanan tiba-tiba mendekat.

"Maaf, Nona Yara. Amplop donasinya sudah ditemukan. Ternyata jatuh di bawah meja," kata petugas itu sambil menyerahkan amplop tersebut.

Wajah Yara langsung memerah. Ia menoleh ke arah Arkhan dengan canggung. "Oh... jadi nggak hilang?"

Arkhan hanya menatapnya tanpa ekspresi, tapi ada sedikit senyum di sudut bibirnya.

♡ ♡ ♡

Setelah kejadian itu, Yara mencoba menghindari Arkhan selama sisa acara. Ia merasa malu luar biasa atas tuduhannya tadi. Tapi, entah kenapa, pria itu selalu muncul di mana pun ia berada. Ketika ia pergi ke meja makanan, Arkhan ada di sana. Ketika ia berdiri di dekat panggung, Arkhan berdiri tidak jauh darinya.

"Apa dia ngikutin aku?" gumam Yara pelan sambil melirik ke arah Arkhan, yang tampak berbicara dengan beberapa tamu.

Namun, pikirannya segera teralihkan ketika panitia menghampirinya untuk memberikan tugas baru. Ia diminta untuk membagikan kupon hadiah kepada para tamu. Tugas ini cukup sederhana, tapi bagi Yara, apa pun bisa menjadi rumit.

Sambil membawa setumpuk kupon, Yara mulai membagikannya kepada para tamu. Namun, karena terlalu fokus, ia tidak melihat ke arah kakinya dan akhirnya tersandung kabel yang melintang di lantai. Tubuhnya terhuyung ke depan, dan sebelum ia menyadarinya, ia sudah menabrak seseorang.

Braak!

Kupon-kupon di tangannya beterbangan ke udara, dan tubuhnya jatuh tepat ke dada seseorang. Ketika ia mendongak, ia melihat wajah Arkhan yang dingin menatapnya.

"Masya Allah, Mas! Kenapa sih selalu ada di mana-mana?! Kamu ngikutin aku, ya?!" seru Yara dengan nada panik.

Arkhan mendesah pelan. "Kamu yang nabrak aku, Nona. Lagi pula, aku tidak punya waktu untuk mengikuti orang sepertimu."

Yara mengerutkan dahi. "Orang sepertiku? Maksud kamu apa? Jangan-jangan kamu masih dendam karena aku tuduh maling tadi, ya? Dengar ya, aku udah minta maaf dalam hati, kok!"

Rendra, yang berdiri tidak jauh, tertawa kecil mendengar percakapan mereka. "Bos, kayaknya kamu baru nemu lawan yang cocok," gumamnya pelan.

Arkhan hanya menggelengkan kepala. Ia tidak tahu apa yang membuatnya tetap sabar menghadapi wanita ini, tapi ada sesuatu tentang Yara yang membuatnya sulit untuk mengabaikannya begitu saja.

♡ ♡ ♡

Malam itu, setelah acara selesai, Yara merasa lega bisa keluar dari ballroom tanpa harus bertemu Arkhan lagi. Namun, ketika ia sedang berjalan menuju parkiran, sebuah mobil hitam berhenti di depannya. Kaca jendela mobil itu turun, dan wajah Arkhan muncul dari baliknya.

"Masuk," kata Arkhan singkat.

Yara tertegun. "Hah? Masuk ke mana? Aku nggak pesan taksi online, deh."

Arkhan menatapnya tajam. "Aku tidak suka mengulangi perintah dua kali. Masuk sekarang, atau aku yang menarikmu masuk."

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Bayangan Mafia Mengintai Setiap Nafasku
9.7
Terjebak di pusaran mafia yang kelam, aku merindukan kehidupan damai di balik layar. Namun, segalanya berubah saat ibuku menikahi mantan bos mafia. Kaelion Verez Montefalco, pewaris takhta kejam dari Italia Selatan, kini menjadi saudara tiriku yang obsesif. Dia mengontrol setiap gerak-gerik dan napas yang kuhela. Di saat aku berjuang mempertahankan kebebasan, Kaelion justru menggunakan kekuasaannya untuk menjeratku dalam dominasi yang dingin dan tak terelakkan.
Sampul Novel Budak Nafsu 2
8.5
Kekaisaran Maxwell berada di ambang kehancuran akibat ulah putra-putra Alfons yang penuh masalah. Konflik cinta masa lalu memicu perang besar antar kelompok Mafia. Hubungan antara keluarga Maxwell dan Hansen pun terancam pecah menjadi pertumpahan darah setelah Fredrick Hansen menghirup udara bebas. Di tengah kekacauan dan dendam yang membara, hanya kekuatan cinta antara Alfons dan Ayu yang mampu meredam amarah serta menyatukan kembali faksi yang berseteru.
Sampul Novel Hati Yang Tersakiti
8.6
Linda selalu diabaikan oleh ayah dan abangnya demi kakak perempuannya, Sanny. Saat pemimpin mafia Fendi Sucipto hadir melindunginya dan menikahinya dalam pesta megah, Linda mengira telah menemukan cinta sejati. Namun, rahasia kelam terungkap saat Linda yang hamil tujuh bulan hampir tewas dalam kebakaran di pesta ulang tahun ayahnya. Di rumah sakit, Linda mendengar Fendi mengakui bahwa pernikahan mereka hanyalah rencana demi mendapatkan sumsum tulang belakang bayinya untuk menyembuhkan leukemia Sanny. Menyadari dirinya hanya dimanfaatkan oleh semua orang, Linda memilih pergi.
Sampul Novel Ibu Sambung Anak Mafia
9.2
Natalia Smith tak pernah menyangka tabrakan tidak sengaja di mall akan mengubah hidupnya. Jenifer Audey, gadis remaja berusia 17 tahun, tiba-tiba memintanya menjadi ibu sambung sebagai bentuk permohonan maaf. Natalia yang baru 23 tahun kini terjebak dalam misi Jenifer untuk menjodohkannya dengan sang ayah, Aaron Audey. Aaron adalah bos mafia asal Inggris berusia 30 tahun yang sangat ditakuti. Akankah rencana Jenifer menyatukan mereka berhasil?
Sampul Novel Kau Pilih Dia, Aku Bawa Anakmu Pergi!
9.7
Malam sebelum pernikahan megah mereka, Jeny menemukan pesan mesra dari Via di ponsel Leo, tunangannya yang merupakan pewaris Keluarga Moro. Meski Leo berjanji akan menyelesaikan masalah ini demi menghormati mendiang wakilnya, pengkhianatan nyata justru terjadi di altar. Saat telepon dari Via berdering mengancam bunuh diri, Leo pergi begitu saja meninggalkan Jeny di hadapan semua orang. Kecewa mendalam, Jeny memutuskan hubungan saat itu juga. Ia memilih menghilang sepenuhnya dari kehidupan Leo, membawa pergi rahasia besar bahwa ia sedang mengandung anak dari pria yang telah mencampakkannya.
Sampul Novel Pemilik Hati Tuan Mafia
8.7
Terlahir dalam kesengsaraan memaksa Belle menghadapi realitas yang kejam. Namun, semangatnya bangkit saat ia menemukan peluang untuk membalas dendam pada mereka yang menyakitinya. Bersama Albara, Belle mencoba berdiri kembali meski tak lagi memercayai cinta, persahabatan, ataupun keluarga. Hanya Albara, sang penyelamat, yang ia andalkan. Akankah Belle mampu menerima Albara sepenuhnya di tengah ancaman luka baru yang mungkin kembali menghampiri hidupnya?