
Mafia and Me
Bab 3
Guardian Company, London.
Mike memeriksa semua file yang diberikan oleh Gina. Ekspresi wajah Mike yang dingin dan juga acuh pun membuat Gina bertanya-tanya. Ketahuilah, wajah Mike begitu menakutkan niat hati Gina ingin bertanya kenapa pun, ia urungkan. Gina tidak berani untuk menanyakan akan kenapa pada sahabatnya itu.
'Bukanya kemarin dia baru saja melamar kekasihnya itu? Tetapi kenapa wajahnya saat ini sangat menakutkan?
'Seharusnya Mike bahagia. Moodnya hari ini harusnya bagus. Tapi ini...'
Gina menggeleng pelan, lalu ia kembali fokus dengan laporan yang ia berikan pada Mike. 'Sebaiknya aku tidak usah cape-cape memikirkan Mike yang saat ini aneh,' batin Gina.
"Kemana semalam perginya jalangku itu hmm? Apa dia semalam bersama dengan kekasih cadangannya itu?" tanya Mike seolah menyentakan Gina dari lamunannya.
Sebenarnya Mike tau, kemana perginya wanita penghangat ranjangnya itu. Pergi kemana dan dengan siapa jalanganya itu semalam. Mike tau semuanya. Sikap ia yang seperti ini tentunya karena kesal. Ia kesal pada jalangnya yang selalu bermain dengan banyak pria di luaran sana. Mike bukan cinta, pada wanita jalangnya itu, melanikan Mike muak dengan tingkah wanita jalang itu yang selalu seenaknya.
"Itu bukan urusanmu! Dia mau pergi kemana dan juga dengan siapa bukan?" tanya Gina menjeda kata-katanya. Meski netranya menatap Mike yang terfokus pada beberapa file yang ia berikan.
"Kau pun sedang sibuk dengan wanita bodoh itu! Maka dia bebas bukan pergi bersama dengan pria lain yang bisa menyenangkan hatinya dia?"
MIke Menghela, ia menaikan wajahnya hingga kini netranya beradu dengan mata Gina. "Jelas itu urusanku! Dia sudah melanggar peraturanku!"
"Peraturan?"
"Jangan pernah main-main denganku. Bukannya dia tau akibatnya bila melanggar peraturanku?!" tekan Mike.
Malam yang begitu indah di mana di langit gelap sana banyak bintang yang bertaburan. Alea duduk di sana, termenung sembari memeluk kedua lututnya di balkon apartemen Tiara. Entah kenapa kini hatinya mulai meragu, ketika Alea mendapati sebuah lembar kertas kecil yang kini ia pegang.
Alea kembali melihat lembar kecil tersebut, isi kepalanya pun kembali berpikir keras akan sebuah hasil usg yang entah milik siapa. Alea menemukan hasil usg tersebut di laci meja kerja Mike.
"Sebenarnya selama ini hubungan kita itu apa? Kita bersama namun aku tidak tau akan apa yang kamu lakukan di belakangku. Apa benar kamu berselingkuh seperti apa yang Jessi katakan padaku?" batin Alea.
"Lalu apa maksudmu melamarku dengan cincin berlian yang begitu indah ini? Bila bukti yang aku lihat di depan mataku sendiri?" Alea berbicara di dalam hatinya dengan helaan napas berat.
"Sebenarnya wanita mana yang sudah kamu hamili, Mike?" sambung Alea lagi lagi netranya tak lepas menatap hasil usg tersebut.
Empat hari yang lalu...
Orchard, Singapore.
"Kamu akan berangkatkah ke London untuk menemui kekasihmu itu?" Jessi bertanya pada sahabatnya yang keras kepala itu.
Sahabatnya itu sedari tadi tengah sibuk merapihkan pakaiannya dan juga barang-barang yang hendak dia bawa. Alea, akan pergi untuk menemui kekasihnya yang sudah dua tahun ini mereka menjalin hubungan.
"Ya, aku akan ke sana untuk menemui Mike. Sudah enam bulan ini aku nggak ketemu sama Mike. Aku rindu ingin bertemu dengan Mike, nggak setiap harinya lewat telephone dan juga video call," keluh Alea.
Sejujurnya ada satu ke khawatiran Jessie yang begitu melanda kali ini. Ini sepertu sebuah firasat buruk akan sahabatnya itu.
Jessie duduk di tepi ranjang Alea, ia pun memperhatikan gerak-gerik sahabatnya yang tengah bersemangat untuk pergi bertemu dengan kekasihnya, Mike Shander.
"Biasanya Mike yang kemari untuk bertemu denganmu. Kenapa kamu yang akan pergi ke sana? Bahkan kamu tak pernah tau akan kota London! Di mana alamat Mike berada kamu tak tau itu bukan?" tanya Jessie lagi.
Hatinya kini merasa tak enak. Namun Jessie sulit untuk mengatakan yang sebenarnya kepada Alea
Alea menghela napas dengan berdiri di depan Jessie, di mana sahabatnya itu kini duduk dan menatapnya.
"Mike sudah memberiku alamatnya Jess!" Alea memberikan secari kertas pada Jessie agar sahabatnya percaya kalau di sana dia akan baik-baik saja.
"Itu alamat tinggal Mike dan sebelumnya juga aku pernah bertanya pada Jeon dan pria itu membenarkan kalau itu memang alamat rumah Mike tinggal," imbuh Alea. Lagi lagi ia meyakinkan sahabatnya agar tidak banyak bertanya.
Jessi pandangi deretan huruf yang tertera di alamat tersebut. Meski ia sedikit tidak yakin, namun alamat tempat tinggal Mike, Jessi mengetahuinya karena dulu ia pernah tinggal di London. Jessie dulu pernah berkuliah di London hingga saat ini ia masih sering pergi ke London untuk menemui saudaranya yang kini berkuliah di sana.
"Mike langsung yang akan menjemputku di bandara nanti, Jess. Jadi kamu nggak usah khawatirin aku. Bukannya Mike teman Jeon?" tanya Alea menatap sahabatnya.
Meski ya, Mike teman Jeon. Tapi kenapa hati ini rasanya begitu sulit percaya pada pria brengsek itu. Jessi pun begitu tak enak hati melepaskan sahabatnya untuk pergi bersama dengan kekasihnya itu.
"Ya sudahlah. Sebaiknya kamu minta izin pada Jeon. Aku nggak mau Jeon marah padaku karena aku membiarkanmu pergi tanpa sepengetahuianya. Apa nggak sebaiknya kamu pergi ke London sama Pak Lee? Biar dia yang mengantarkanmu ke London dengan private jat milik Jeon?"
Alea mendengus kesal, betapa rasanya ia ingin sekali marah pada Jessi. Sahabatnya itu begitu curigaan sekali pada kekasihnya itu.
"Astagaa Jess. Aku ini kan cuman mau bertemu dengan Mike dan bukan urusan bisnis! Aku cuman dua minggu di sana sampai aku merayakan tahun baru bersama dengan Mike sudah itu aku pulang lagi!" tekan Alea tidak ingin pergi membawa Pak Lee apa lagi dengan private jat milik Jeon. Tidak sama sekali.
"Baiklah jika kamu membandel! Memang susah kalo menasehati orang yang sedang jatuh cinta. Cinta itu membuat orang menjadi buta, bahkan dia tak bisa melihat mana yang tulus mana yang tidak!" sindir Jessie pada sahabatnya.
Jessie tau siapa Mike Shander yang sebenarnya. Tapi di jelaskan pada Alea pun rasanya percumah. Alea tidak akan pernah percaya padanya.
Alea mengabaikan perkataan Jessie. Sejak dulu Jessie memang tidak setuju ia berhubungan dengan Mike, mengingat ia dan Mike mengingat ia menjalani hubungan Long distance.
Jessie tidak percaya akan namanya kesetiaan dan juga ketulusan akan hubungan jarak jauh yang saat ini di jalani oleh Alea dan Mike. Meskipun Mike setiap bulannya datang kemari untuk uruasan bisnis dan juga bertemu dengan Alea. Tapi Jessie tau kalau jauh di sana Mike sudah menghianati ketulusan cinta Alea.
"Kamu masih curiga sama Gina?"
Alea menghampiri Jessi. Ia memeluk sahabatnya yang begitu cerewet padanya. "Jess. Gina itu hanya sekretarisnya Mike. Mereka nggak ada hubungan apa-apa. Percaya deh," kata Alea meyakinkan Jessie.
"Kamu ini pandai, Alea. Seharusnya kamu itu harus sedikit curiga pada Mike yang jauh di sana. Aku nggak yakin kalau Mike itu pria yang baik. Dia brengsek Alea," ungkap Jessie kembali menasehati sahabatnya yang begitu keras kepala.
Jessie mengeratkan genggaman tangan Alea yang melingkar di lehernya. "Please percaya padaku. Kalau perkataanku ini benar."
"Ya ya ya..."
Jessi menghembuskan napas pelan. "Ya sudah pergi biar rasa penasaranmu itu ilang. Besok kalau sudah sampai bandara dan Mike jemput. Kamu harus cepet-cepet hubungi aku."
Alea mengangguk. "Satu lagi aku nggak mau kamu tinggal di rumah Mike. Kamu harus tinggal bersama dengan Tiara di apartemenya. Aku sudah menelephone Tiara dia di sana yang akan menjagamu dan ada Ryander yang akan mengawasimu. Kamu harus menurut apa yang aku katakan ini Alea. Demi keselamatanmu," pinta Jessie yang dianggukan oleh Alea.
"Satu lagi."
Alea mendesah. "Jangan pernah tinggalkan ibadahmu. Kamu wanita baik yang selalu taat berbidah, sebisa mungkin kamu jangan terus berduaan dengan Mike. Ingat bukan muhrim. Kalau kamu di sana macam-macam dan sampai tidak bisa menjaga tubuhmu. Aku akan menghajar langsung Mike Shander, bila perlu aku bunuh dia!" tegas Jessie seraya ancaman bagi sahabatnya.
Alea berdiri tegap seraya menghormat pada Jessie. Alea akan mengikuti saran Jessie. Kedua sahabat itu akhirnya tersenyum lebar dan kembali berpelukan.
Alea Anjanie wanita berparas cantik, anggun dan cerdas berasal dari indonesia. Dia tinggal di Singapore karena ia bekerja di salah satu perusahan JP Crops Singapore milikl Jeon Park. Alea sudah lama tinggal di negeri singa itu dan jauh dari keluarganya yang tinggal di Indonesia. Sang ayah mempercayakan anak sulungnya pada Jeon kaka angkat Alea sekaligus sahabat Alea.
"Hai... " sapa Tiara seraya menyentakan Alea dari lamunannya.
"Kenapa kamu duduk di sini sendirian hmm? Apa kamu lagi ada masalah?"
"Tidak
Tidak Ra, aku baik-baik saja,” jawab Ale meremas hasil usg di tanganya. Tiara tak boleh tahu akan apa yang sedang aku pikirkan saat ini.
“Biasanya kau jam seginih sudah pergi bersama Mike tumben diem di rumah,” ujar Tiara duduk di samping Ale dengan memandang langit yang bertaburan bintang-bintang di atas sana.
“Mike sedang berada di Ripon ada urusan bisnis di sana makanya ia tak mengajakku keluar,” ucap Ale yang mana Mike memang mengatakan hal seperti itu kepadanya. Ia tak tahu ucapan Mike itu hanya sebuah alasan saja untuk kekasihnya itu bersama dengan selingkuhanya atau mungkin saja Mike benar sedang ke Ripon untuk masalah bisnis.
***
“Faster babby…. Please," rancunya seraya merintih nikmat.
Di mana tubuhnya berada di bawah kungkungan pria yang amat dia cintai. Ya, wanita yang mendesah nikmat itu memang sangat mencintainya. Bukan karena uang, melainkan benar adanya cinta di hatinya tumbuh pada pria yang selalu menyalurhkan hasratnya pada tubuhnya.
Saking cintanya ia bahkan rela menjadi penghangat demi tujuan agar si pria bisa jatuh cinta dan juga ia bisa menjadi Nyonya dari seorang pria kaya yang tak henti menghujam.
Pria itu bergerak cepat di dalamnya, mengerang penuh peluh menikmati gerakan yang ia hentakan menuju perlepasan.
"Honey…" lirihnya yang terdengar di telinga pria itu menggoyangkan dengan cepat hingga sesuatu yang meledak di dalam milik wanita berparas cantik bertubuh sexy yang selama ini selalu menghangatkan dirinya di setiap malamanya.
Wanita itu merebahkan diri di sampingnya dengan nafas yang masih terengah-engah menatap si pria di sampingnya dengan tubuhnya penuh peluh yang bercucuran di wajahnya dengan hembusan nafas yang cepat mencoba mengatur pernapasanya.
Ia bersandara di bidang dadanya dengan jemari lentiknya bergerak menyentuh bantalan-bantalan kotak di dada pria yang ia peluk yang tak lain Mike Shander.
"Aku harus segera pulang honey, besok pagi aku ada meeting penting dengan klien. Dan tolong besok kamu siapkan dinner untuk Alea di restoran biasa," pinta Mike santai.
Ia memungut kembali pakaiannya yang berserkan di lantai dan bersiap untuk pergi pulang ke apartemennya.
"Secinta itukah dirimu kepada kekasihmu hmm? Apa yang sudah dia berikan kepadamu honey, bahkan selama ini kau tak perah menyentuhnya!" pekiknya si wanita geram.
"Aku tak akan menyentuhnya jika aku sudah menghalalinya! Dia wanita baik jauh berbeda dari wanita yang aku kenal selama ini. Dia tidak sepertimu, murahan. Jadi kau harus ingat itu. Bukannya selama ini kaulah yang memulai? Menginginkan ini bukan? Padahal aku sudah pernah tekankan padamu kalau cintaku hanya untuk Alea seorang?"
Mike menghembuskan napas. "Kau sudah menukarkan tubuhmu ini dengan semua kemewahan yang aku berikan. Apartemen mewah ini, supercar dan uang belanja setiap bulannya? Lalu apa lagi hmm?" tanya Mike.
"Tapi kau sudah menghinatinya Mike. Kau berselingkuh dengaku selama ini. Kau sudah punya dia, tapi kau masih menginginkan tubuhku. Kau sudah melamar wanita bodoh itu dan kau kembali bercinta denganku?"
"Bukannya kau hanya jalangku?"
"Tapi aku tidak mau Mike! Aku akan katakan pada Alea siapa aku yang sebenarnya!" teriak si wanita yang tidak lain Gina Robert. Dia dalah wanita yang selalu menghangatkan ranjang Mike Shander si penguasaha muda.
Keduanya sudah berhubungan cukup lama, satu tahun sudah Gina menjadi selingkuhan Mike di mana Gina tau kalau Mike sudah memiliki kekasih bernama Alea Anjanie wanita berwarga negara Singapore.
Mike menghampiri wanita jalang di depanya mencengkram dagunya, dengan sorotan matanya yang tajam.
"Bila kau berani mengatakan semua ini pada Alea. Aku pastikan, aku sendiri yang akan membunuhmu Gina! Kau hanya wanita jalang bagiku. Bahkan kau tidak ada apa-apanya dengan Alea. Jadi bersikaplah pandai kalau kau masih mau dengan kemewahan ini!"
Mike menghempaskan tubuh Gina. "Satu lagi!"
Mike menatap Gina. "Selama Alea ada di sini. Jaga sikapmu. Aku tidak mau Alea curiga apa lagi sampai dia tau kalau kau selingkuhanku. Aku tidak mau wanita itu meninggalkanku!" tekan Mike lagi.
Mike tahu jika suatu hari kebusukannya ini dan rahasia akan dirinya pasti akan di ketahui oleh Alea suatu hari nanti. Tapi Mike benar-benar tidak ingin Alea meninggalkannya.
Mike berlalu pergi meninggalkan Gina begitu saja. Tapi di dalam sana. Gina bersikeras tidak ingin kehilangan Mike. Bagaimanapun caranya Gina harus mendapatkan pria itu.
"Kau akan menjadi miliku seorang Mike dan aku akan membalas semua kesakitan ini. Ya, suatu hari nanti akulah yang akan membunuh Alea lebih dulu agar kamu hanya milikku seorang!" gumam Gina dengan sorot mata penuh dendam pada Mike.
Anda Mungkin Juga Suka





