
Luka yang Kucinta
Bab 3
Dira menatap pria yang berdiri di hadapannya.
Reza kini bukan pria yang sama.
Matanya masih tajam seperti dulu, tapi ada sesuatu yang berbeda di sana—sesuatu yang dingin, keras, dan sulit dijangkau. Ia tidak lagi menunjukkan kehangatan yang dulu selalu membuat Dira merasa aman.
Dan yang lebih mengganggu adalah caranya berbicara.
Setiap kali Dira bertanya, Reza hanya menjawab seperlunya.
Seolah-olah ia sudah membangun dinding yang begitu tinggi di sekelilingnya, menolak siapa pun untuk masuk.
“Sejak kapan kau kembali bekerja di sini?” tanya Dira, mencoba memecah keheningan.
Reza tidak langsung menjawab. Ia hanya menyesap kopinya dengan tenang sebelum akhirnya berkata, “Baru beberapa bulan.”
Dira menunggu, berharap ada tambahan penjelasan. Tapi tidak ada.
Hanya itu.
Jawaban yang singkat dan tidak membantu.
Dira mengepalkan tangannya di bawah meja.
Dulu, Reza selalu bercerita tentang apa pun padanya. Tapi sekarang, ia seperti orang asing.
Mungkin memang sudah seharusnya seperti ini.
Toh, mereka bukan siapa-siapa lagi.
Namun, ada sesuatu yang mengganggunya.
Sesuatu yang terasa salah.
Tatapan Reza. Cara bicaranya.
Ada sesuatu yang ia sembunyikan.
Hari-hari berlalu, tapi Dira tidak bisa mengabaikan perasaan aneh yang mengusiknya setiap kali ia berada di dekat Reza.
Ada saat di mana ia menangkap pria itu sedang menatapnya.
Bukan tatapan biasa.
Tatapan itu seakan menyimpan sesuatu.
Tapi begitu mata mereka bertemu, Reza langsung mengalihkan pandangannya, berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.
Dira berusaha tidak memikirkannya, tapi semakin ia mencoba, semakin pikirannya dipenuhi oleh teka-teki yang belum terpecahkan.
Hingga suatu malam, ia menemukan jawabannya.
Saat itu sudah malam, dan kantor hampir kosong.
Dira kembali ke ruangannya untuk mengambil dokumen yang tertinggal. Tapi sebelum ia sempat membuka pintu, suara rendah Reza menarik perhatiannya.
Dira berdiri diam di balik dinding, jantungnya berdebar tanpa alasan yang jelas.
Suara Reza terdengar serius, berbeda dari biasanya.
“Kita tidak punya banyak waktu lagi,” suaranya pelan tapi tegas.
Dira menahan napas.
Apa maksudnya?
“Aku akan mengurus semuanya. Jangan bilang apa pun padanya.”
Dira mengerutkan kening.
Siapa yang ia maksud dengan 'padanya'?
Dira semakin penasaran.
Ia mengintip sedikit dari celah dinding dan melihat Reza berdiri dengan ekspresi yang sulit dibaca. Rahangnya mengeras, tangan kirinya mengepal.
Sekilas, pria itu terlihat tegang.
Terlalu tegang.
Seakan ia sedang menghadapi sesuatu yang besar… sesuatu yang berbahaya.
Dan yang lebih aneh lagi, setelah menutup teleponnya, Reza tidak langsung pergi.
Ia berdiri diam di tempatnya, menundukkan kepala, lalu mengusap wajahnya dengan kasar—seperti seseorang yang sedang berjuang melawan perasaan yang tidak bisa ia kendalikan.
Dira tidak bisa bergerak.
Ia tidak pernah melihat Reza seperti ini sebelumnya.
Dingin. Jauh. Dan… menyimpan sesuatu yang gelap.
Pikirannya dipenuhi oleh berbagai pertanyaan.
Apa yang Reza sembunyikan?
Siapa yang ia ajak bicara?
Dan yang paling penting—apa maksudnya dengan "waktu yang hampir habis"?
Sebelum Dira bisa berpikir lebih jauh, suara langkah kaki mendekat.
Ia buru-buru melangkah mundur, jantungnya berdegup kencang.
Ia harus pergi sebelum Reza menyadari keberadaannya.
Tapi satu hal yang pasti.
Reza tidak hanya berubah.
Pria itu sedang menghadapi sesuatu yang lebih besar dari yang pernah Dira bayangkan.
Dan entah bagaimana… firasatnya mengatakan bahwa ini hanya permulaan dari sesuatu yang lebih buruk.
Anda Mungkin Juga Suka





