Ikuti
Bab
Bagikan
Sampul Novel Luka Terindah

Luka Terindah

Kehancuran rumah tangga akibat pengkhianatan mendalam memaksa seorang wanita memilih antara memberi kesempatan kedua atau pergi selamanya. Meski telah mengenal pasangan sejak kecil, kenyataan pahit membuktikan bahwa kedekatan lama tidak menjamin kebahagiaan. Pria yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi sumber luka paling besar. Kini, ia terjebak dalam keraguan mendalam tentang sosok pria mana lagi yang bisa dipercaya setelah dikhianati.
Bab
Bagikan

Bab 2

Berteman sejak kecil, hingga akhirnya berakhir di atas pelaminan dengan pria yang begitu melindunginya adalah impian Nerissa sejak dulu. Bermimpi hidup bahagia di bawah atap yang sama, dan mengarungi bahtera rumah tangga, menjadi keinginan sederhana wanita itu.

Sikap manja, serudukan, dan sering merajuk, perlahan mulai ia rubah demi menjadi istri yang baik seperti yang diinginkan sang suami–yang tak lain adalah sahabat kecilnya. Berkaca dari pengalaman berumah tangga sang kakak ipar, juga nasihat-nasihat positif yang diberikan oleh orang-orang terdekatnya, membuat karakter Nerissa berubah 180 derajat.

Bak dua orang berbeda.

Nerissa yang semula memiliki karakter childish, kini benar-benar menjadi seorang wanita dewasa menarik, berwibawa, luwes, dan lembut. Bahkan, yang sebelumnya tak tahu caranya menanak nasi, kini pintar memasak segala jenis menu hidangan, terutama makanan kesukaan sang suami.

Ya, seniat itu Nerissa merubah diri demi menjadi istri terbaik. Wanita itu juga rela melepaskan segala hobbynya di dunia kecantikan, hanya karena ingin menjadi orang pertama yang menyambut sang suami ketika pulang dari bekerja. Sesederhana itu impiannya.

Namun sayangnya, semua yang dilakukan seakan tak berarti di mata Aresh. Sampai-sampai, hanya luka dan pengkhianatan saja yang Nerissa terima sebagai balasan atas semua pengorbanan yang dia lakukan selama ini.

Memperjuangkan segalanya sama hal dengan sebuah dilema. Maju melawan rasa sakit, mundur pun membawa luka serius. Bahkan, diam saja rasanya sulit. Hingga akhirnya semua rasa itu berada di titik terendah, dimana hati mulai mati rasa, dan pikiran ikut gelap tanpa setitik harapan, menyisakan kesia-siaan atas apa yang sudah dilakukan selama bertahun-tahun ke belakang.

Usai bersembunyi di dalam toilet, dan mengendap-endap keluar dari gedung perkantoran milik sang suami–ketika pria itu sibuk menghubungi seseorang–Nerissa pun akhirnya berhasil keluar dari sana melalui pintu darurat di arah timur gedung. Berjalan limbung tanpa tahu arah, sampai tibalah di sebuah taman pusat kota yang saat ini sudah sepi dari pengunjung.

Enggan untuk kembali ke apartemen, Nerissa memilih merenung di sebuah bangku taman, yang letaknya tak jauh dari kawasan gedung perkantoran. Duduk sendirian di atas kursi taman, sembari menunggu panggilan terhubung dengan seseorang di seberang telepon sana, di temani embusan angin dingin, beserta gemerisik dedaunan yang silih beradu.

“Pa ....” Serunya lirih, kala panggilan tersebut mulai tersambung. Sedangkan matanya menatap ke atas langit.

“Kamu kenapa? Ada masalah?” tanya suara bariton di seberang sana secara to the point, saat mendengar nada bicara Nerissa tidak seceria biasanya.

Alih-alih menjawab pertanyaan sang ayah, wanita cantik itu malah balik mengajukan pertanyaan. “Papa lagi apa? Kok, jam segini masih belum tidur? Mama ke mana?”

“Papa baru selesai ngurusin kerjaan. Kalau Mama kamu, lagi tidur di kamar,” jawabnya. “Nah, sekarang ... udah bisa jawab pertanyaan Papa, kan?”

Sembari menghapus air mata yang kembali menetes lebih deras di atas wajah, Nerissa menjawab, “Sasa gak kenapa-kenapa, kok, Pa. Cuma kangen sama Papa aja. Memangnya gak boleh, ya, kangenin Papa sama Mana?”

“Kamu lagi ada masalah sama Aresh? Suami kamu bikin ulah?” tebak sang ayah tanpa basa-basi, bahkan tak mengindahkan jawaban yang Nerissa berikan.

Mendengar pertanyaan seperti itu, air matanya benar-benar semakin tak dapat terbendung lagi, hingga tangan kiri wanita itu terkepal begitu erat, sementara tangan kanannya membekap mulut, agar suara isak tangis itu tertahan dan tak dapat didengar oleh ayahnya

Namun sayang, Nerissa lupa, jika feeling orang tua bahkan jauh lebih kuat dari yang dia kira. Seolah, semua yang sedang dia rasakan, ikut dirasakan pula oleh sang ayah saat ini.

“Kok gak jawab? Apa ... tebakan Papa benar?” tanyanya lagi.

“Apa, sih, Pa? Jangan ngaco, deh!” sanggah Nerissa lagi.

“Kamu di mana? Bilang sama Papa! Papa jemput kamu sekarang!” ujar pria paruh baya itu dengan nada bicara begitu tegas.

Tanpa sadar, Nerissa menggelengkan kepala. “Ngapain Papa jemput Sasa? Sasa gak kenapa-kenapa, kok. Beneran deh. Papa berlebihan, nih, tiap kali Sasa dadakan telepon Papa.” Wanita itu berkilah.

Terdengar suara helaan napas panjang dari seberang telepon sana. “Jawab Papa! Kamu di mana? Jangan nunggu Papa marah, baru kamu jujur!”

“Sasa di apart, Pa. Sasa lagi istirahat ini.” Nerissa berpura-pura menguap panjang untuk lebih meyakinkan alasannya terhadap sang ayah. “Pa, Sasa tidur dulu, ya. Udah ngantuk banget ini. Good night, Papa. Have a nice dream.”

“Papa tahu, kamu ga–”

Belum sempat sang ayah meneruskan perkataannya, Nerissa sudah lebih dulu memutuskan sambungan telepon tersebut, agar pria paruh baya itu tidak mendengar isak tangisnya. Yang mana pasti akan menimbulkan rasa bersalah, atas semua yang terjadi saat ini.

Sementara di tempat lain, tepat di dalam ruang kerja bernuansa putih terang, pria tampan berkemeja hitam, dengan raut wajah berantakan, nampak bergerak gelisah dari satu sisi ke sisi lainnya. Menempelkan ponsel yang sedari tadi dipegangnya pada telinga, dengan harapan ... ada satu panggilan darinya yang diterima oleh sang istri.

Namun sayangnya, ternyata Nerissa sudah lebih dulu memblokir semua akses komunikasi dengan Aresh–termasuk nomor kantor–hingga membuat pria itu kesulitan untuk menghubunginya.

Tak habis akal, Aresh pun mencoba menghubungi salah satu nomor lain dari kontak panggilan yang tersimpan, menunggu beberapa saat, sampai dimana suara datar dari seorang pria menyapa indera pendengaran.

“Rash! Sasa kabur!” ucapnya tanpa perlu banyak basa-basi.

Sang lawan bicaranya seketika berhenti menguap. “Ha? Kabur gimana maksud lo? Jangan ngaco, deh!” protesnya, menganggap ucapan Aresh beberapa saat lalu hanyalah gurauan semata.

“Ya Tuhan ... Gue serius, Rash. Sasa kabur,” sanggah Aresh cepat.

“Loh, kok bisa kabur? Lo apain adik ipar gue?” tanyanya, ketus.

Aresh memijat keningnya yang tiba-tiba saja berdenyut nyeri, menghela napas begitu dalam, kemudian menjawab, “Sasa mergokin gue lagi diraba-raba sama Xena di kantor, dan sekarang ... Rash, gue bener-bener gak tahu lagi harus gimana? Pikiran gue blank.”

“Diraba-raba sama sekretaris lo, dan lo diem aja? Iya?” tebak sang lawan bicara.

Tanpa sadar, Aresh mengangguk. “Gue khilaf, Rash."

"Khilaf, tuh, cuma sekali! Gak berulang kaya begini, gila!"

"Gue tahu gue salah, Rash. Harusnya, gue gak diem saat Xena mulai raba-raba gue. Harusnya, gue tepis tangan dia dari tubuh gue. Harusnya ... Ah ... Gue bener-bener bingung sekarang.”

“Penyakit lo gak pernah sembuh-sembuh dari dulu! Selalu bermasalah sama cewek-cewek gak jelas di luaran sana. Capek gue nasihatin mulu,” gerutu Arash–sang kakak, kesal.

Lagi-lagi, Aresh mendesah panjang. “Gue salah, Rash. Gue akuin itu.”

“Lo udah coba hubungin Sasa?” tanya pria di seberang telepon sana.

“Udah. Tapi, semua akses komunikasi gue di blokir sama dia. Gue udah cari ke setiap sudut gedung kantor, bahkan gue juga cari dia di gudang penyimpanan, di tempat parkir, di jalanan, di apart-pun, Sasa masih gak bisa gue temuin. Dia pergi, Rash, dia gak mau ketemu gue lagi,” jelas Aresh begitu frustasi.

“Sasa ada nge-chat lo, apa gitu, sebelum semua akses komunikasi lo, dia blokir?” tanya Arash lagi, untuk memastikan.

Karena saudara kembarnya yang bertanya ... Tanpa ragu, Aresh pun menjawab dengan jujur, “Sasa nyerah sama kelakuan gue, Rash. Sasa minta cerai.”

“Jangan bertindak gegabah, dan jangan sampai salah langkah. Tunggu di sana! Gue ke tempat lo sekarang!”

Usai mengatakan hal itu, tanpa menunggu jawaban apapun, Arash segera memutuskan panggilan secara sepihak. Sementara Aresh sendiri, dalam keadaan terduduk di sofa ruangannya, mulai tertunduk lemas, sembari menggenggam ponsel di tangannya. Teringat kata-kata terakhir dari Nerissa, sebelum semua akses komunikasi mereka diblokir oleh wanita itu.

“Maafin aku, Sa. Karena lagi-lagi ... Aku nyakitin perasaan kamu,” gumamnya sangat lirih, bahkan hampir tak terdengar.

***

Anda Mungkin Juga Suka

Sampul Novel Cinta Dan Benci
8.1
Viona Anatasya tewas tragis setelah dikhianati keluarga dan tunangannya demi mendonorkan hati secara paksa. Kini, ia terlahir kembali dengan ambisi membalas dendam dan merebut haknya yang dirampas. Namun, rencananya terusik oleh kehadiran Randy Logan, CEO angkuh nan dingin yang mendadak terobsesi padanya. Di tengah misi pembalasan, pria kaya raya itu justru mengepung Viona dengan kelembutan posesif yang membuat sang wanita merasa sangat terdesak.
Sampul Novel CRAZY RICH MENIKAHI GADIS POLOS
8.8
Havva, gadis 17 tahun asal desa kecil di Ankara, terpaksa menikahi Irlan demi membiayai pengobatan ibunya dan meringankan beban ayahnya. Irlan yang kaya raya jatuh hati pada kecantikan alami Havva saat berlibur di penginapan tempat ayah Havva bekerja. Namun, pernikahan ini menjadi mimpi buruk karena Irlan sudah beristri. Bilqis, sang istri pertama yang modis dan sinis, terus mengintimidasi Havva. Mampukah gadis polos ini bertahan di tengah tekanan istri tua?
Sampul Novel Dikejar Oleh Sang Miliarder
9.6
Kayla Herdian kembali ke masa lalu demi membalas dendam setelah dikhianati suami dan mertuanya hingga tewas mengenaskan. Dulu hidupnya hancur, namun kini ia bangkit untuk menghancurkan para musuh dan membawa bisnis keluarganya ke puncak kejayaan. Di tengah ambisinya, seorang miliarder dingin yang dulu tak terjangkau justru datang mendekat. Pria itu kini terang-terangan merayu Kayla, memohon kesempatan untuk menjadi pendamping di pernikahan keduanya.
Sampul Novel Dilema
8.5
Insiden kecelakaan yang menimpa Doni Damara mengungkap rahasia besar yang memicu konflik batin mendalam. Kini ia terjebak dalam pilihan sulit antara tetap bersama Rina, penolongnya, dan Romeo yang sudah menganggapnya ayah, atau kembali pada masa lalunya. Di sisi lain, ada Ibu Marmi, Aida sang istri setia, serta Ajeng yang merindukannya. Akankah Doni meninggalkan keluarga barunya demi mereka? Bagaimana reaksi Rina saat mengetahui kebenaran tentang identitas Doni?
Sampul Novel I Stuck On You
7.9
Pasca patah hati, penulis amatir Nadya Ivanka terpikat oleh Ethan Sullivan, pria tampan asal Australia. Nadya tak menyangka bahwa Ethan adalah bos media besar dan pemilik resor mewah. Meski trauma masa lalu menghantuinya, pesona Ethan di Bali mulai meruntuhkan pertahanan Nadya. Sementara itu, Ethan yang biasanya dingin karena luka lama justru terobsesi pada kesederhanaan Nadya. Akankah keduanya mampu melupakan pedihnya masa lalu demi memulai lembaran cinta yang baru?
Sampul Novel Jeli cinta
8.2
Aitana adalah manikuris populer di Spa Luna yang kariernya hancur setelah dituduh merebut kekasih kliennya. Skandal ini melibatkan Iker, pemilik Glow Agency yang manipulatif. Saat mencoba memulihkan reputasi, Aitana menemukan fakta bahwa banyak kliennya memiliki hubungan gelap dengan Iker. Di tengah persaingan agensi dan rahasia yang mengancam pekerjaannya, ia terjebak dalam dilema cinta segitiga. Kini Aitana harus memilih antara martabat atau perasaan yang kian rumit.