
Luka Lara
Bab 2
Pria dewasa tersebut tertegun, sedikit merasa bersalah, dan juga tidak enak hati. Namun, semua hanya sekejap saja karena setelah itu Abimana berhasil memainkan perannya kembali. "Aku juga mencintaimu, Sayang. Sangat mencintaimu." Abimana tersenyum lalu mengecup punggung tangan wanita muda yang merupakan kekasihnya.
"Maaf, Ra, aku harus balik ke kantor sekarang. Kamu juga harus balik ke resto, kan? Aku antar kamu dulu." Abimana melihat jam tangan mahal yang melingkar di tangan kanannya.
"Iya, Mas," balas Larasati dengan senyuman yang senantiasa tersungging di bibir tipisnya.
Mereka berdua lalu beranjak, meninggalkan kafe menuju ke parkiran dengan bergandengan tangan mesra. Abimana segera melajukan mobil, setelah memastikan sang kekasih duduk nyaman di sampingnya. Perjalanan yang cukup panjang, terasa sangat singkat jika hati tengah berbunga-bunga.
"Jangan lupa, bersiap yang cantik untuk nanti sore," pesan Abimana seraya tersenyum, sebelum Larasati turun dari mobil mewahnya.
Wanita muda itu pun membalasnya dengan tersenyum manis seraya menganggukkan kepala. "Mas Bima hati-hati, ya." Penuh perhatian dan kelembutan, Larasati berpesan dan dibalas Abimana dengan anggukan.
Abimana melajukan mobil kembali, setelah Larasati berjalan menjauh, dan kemudian melambaikan tangannya. Pria dewasa tersebut menyetir sambil bersenandung ria. Mengisyaratkan bahwa saat ini dia sedang sangat bahagia.
Waktu bergulir terasa begitu cepat. Tanpa disadari, senja pun datang menyapa. Abimana benar-benar memenuhi janjinya. Dia menjemput Larasati lalu dibawa ke rumah yang sudah dia beli untuk kekasihnya.
Kedatangan Abimana beserta seorang wanita muda, disambut hangat oleh kedua orang tuanya yang baru saja datang dari luar kota. Pria dewasa itu lalu mengenalkan Larasati sebagai calon istrinya. Mereka pun nampak sangat setuju dengan pilihan sang putra.
"Kalau kalian sudah saling merasa cocok, kenapa tidak langsung menikah saja?" Laki-laki paruh baya yang memiliki garis wajah mirip Abimana itu menatap sang putra dan Larasati, secara bergantian.
"Benar, Nak. Mumpung papa dan mama ada di sini karena lusa kami harus pulang," timpal sang mama dengan tidak sabar, membuat Larasati berdebar.
"Kalau Bima, sih, terserah bagaimana Dik Lara saja, Ma, Pa," balas Abimana seraya menatap dalam netra indah kekasihnya.
"Jika Dik Lara setuju, besok pun Bima siap menikahinya," lanjutnya sambil tersenyum.
Larasati menatap tidak percaya pada Abimana. Pria dewasa itu menganggukkan kepala, sebagai isyarat bahwa dia serius dengan perkataannya. Larasati kemudian mengangguk dan bersedia menikah dengan Abimana.
"Mas Bima, ayo!" Suara seorang wanita seusia Abimana yang menggendong bayi, membuyarkan lamunan panjang pria itu.
"Iya, Sayang. Tunggu sebentar," balas Abimana seraya menoleh ke arah sumber suara. Di sana, sang istri pertama yang sudah menanti sedari tadi, nampak tidak sabar.
"Ra, kamu sudah tahu semuanya, kan? Anak itu akan kami asuh. Jangan khawatir, istriku pasti akan menyayanginya." Abimana mengambil kembali lembar putih dari tangan Larasati dengan sedikit kasar. "Aku akan mengirimkan salinan surat ini ke rumahmu," lanjutnya seraya menyimpan surat penting tersebut ke dalam map, tanpa menatap wanita yang merupakan ibu dari sang putra.
"Jadi, Mas Bima menikahiku hanya untuk mendapatkan anak?" Isakan kecil Larasati, berubah menjadi tangis yang menya*yat hati.
Pria itu menghela napas panjang. "Maafkan aku, Ra. Aku terpaksa melakukannya," kata Abimana tanpa berani menatap Larasati.
Pria itu segera berlalu meninggalkan Larasati yang hanya bisa terdiam tanpa dapat melakukan perlawanan karena kondisi tubuhnya yang masih sangat lemah, pasca persalinan. Abimana segera berlalu sambil memeluk mesra pinggang sang istri yang menggendong bayi merah, yang baru saja dilahirkan. Sepasang suami-istri itu sama sekali tidak peduli meski sang bayi terus menangis, seolah mengetahui bahwa dia dan ibu kandungnya telah dipisahkan.
tbc...
Anda Mungkin Juga Suka





