
Luka & Keegoisan
Bab 2
Lina merasakan tubuhnya kaku, seolah ada batu besar yang menghimpit dadanya. Ia ingin berkata sesuatu, apapun, tetapi kata-kata itu serasa terkunci di tenggorokan. Elian tidak berubah-tampilannya tetap sempurna dengan potongan rambut yang rapi dan pakaian formal yang mengesankan kekuatan serta kedigdayaannya. Namun, ada sesuatu yang berbeda kali ini. Sesuatu yang Lina tidak bisa mengabaikan: tatapan itu. Mata Elian yang dulu penuh kasih kini terisi dengan sesuatu yang lebih gelap, lebih tajam, dan lebih menyakitkan.
"Lina, aku harap kau bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan di sini," lanjut Elian, suaranya datar, tanpa emosi. "Jangan khawatir, aku akan memastikan semua berjalan lancar untukmu."
Lina tidak tahu apa yang harus dijawab. Kembali bekerja untuk pria yang pernah menghancurkan hatinya adalah cobaan yang lebih berat daripada yang ia bayangkan. Ia hanya mengangguk pelan, berusaha menyembunyikan kegelisahannya.
Namun, saat ia melangkah lebih jauh ke dalam ruangan, Elian akhirnya menoleh, memperhatikannya dengan sorot mata yang sulit dibaca. "Aku tahu, Lina," katanya dengan nada yang entah penuh kebencian atau penyesalan. "Kau benci aku, kan?"
Pertanyaan itu mengguncang dirinya. Benci? Benci adalah kata yang ringan dibandingkan dengan apa yang Lina rasakan. Namun, apakah ia bisa mengatakannya begitu saja? Apakah itu benar-benar yang ia rasakan?
"Elian..." Lina memulai, suara itu keluar serak, tidak seperti dirinya yang biasanya tegas dan jelas. "Ini bukan soal benci."
Elian mendekat, langkahnya tegas dan pasti, seolah-olah dia tahu betul apa yang akan terjadi. "Jadi, apa, Lina? Kau pikir setelah semua yang terjadi, kita bisa kembali ke titik semula? Kita bisa memperbaiki semuanya?"
Lina menelan ludah, kata-kata itu terasa seperti api yang membakar lidahnya. Sakit. Terlalu sakit. "Aku tidak tahu, Elian. Aku hanya... aku hanya ingin melupakan semuanya."
Tapi Elian hanya tersenyum, senyum yang penuh makna. "Tidak ada yang bisa melupakan, Lina. Tidak di dunia ini."
Lina merasa dunia di sekitarnya berputar. Apakah ini saatnya untuk menghadapi kenyataan yang selama ini ia coba hindari? Ataukah ini kesempatan untuk mengakhiri segalanya dan pergi?
Anda Mungkin Juga Suka





