
Luka Cinta Dari Suami Obsesif
Bab 2
Syahira Ekaputri POV:
"Aku istrinya!" Aku berteriak, suaraku serak karena sakit. "Aku istri Simon yang sah! Aku bisa membuktikannya!"
Virginia tertawa mengejek. "Istri? Kau? Jangan bercanda!" Dia merampas ponselku dari saku. "Buka kunci ponselmu!"
Tanganku gemetar. Aku membuka kunci. Dia mencari-cari di daftar kontak, matanya membelalak saat melihat kontak 'Suami' yang Simon paksa aku simpan.
"Suami?" dia tergelak. "Kau menamai kontak 'Suami' untuk Simon? Jangan mimpi!" Dia menggelengkan kepalanya dengan jijik. "Tapi aku punya nomornya juga. Coba kita lihat apakah 'Suami' itu benar-benar Simon."
Dia menekan nomor itu dengan jempolnya yang panjang. Aku menatapnya, berharap. Ini bisa mengakhiri segalanya.
Telepon tersambung dengan cepat. "Halo," suara Simon terdengar dingin, datar, dari pengeras suara ponsel Virginia. "Aku sedang rapat. Jangan ganggu sekarang."
Hanya itu. Dua detik kemudian, telepon terputus.
Aku membeku. Itu memang suara Simon. Suara yang dulu aku kenal. Suara yang kini begitu jauh.
Virginia mencengkeram rambutku lagi, lebih kuat dari sebelumnya. "Kau dengar itu, 'istri'?" Dia memukul wajahku dengan ponselnya. Sudut bibirku robek, darah mulai merembes. "Dia bahkan tidak mau bicara padamu! Kau ini siapa, hah? Gadis panggilan yang terlalu percaya diri?"
Aku mencoba mendorong tangannya, rasa sakit di kepalaku tak tertahankan. "Dia mungkin punya banyak nomor!" semburku. "Dia punya nomor pribadi!"
"Ah, begitu?" Virginia menyeringai, pandangan matanya menunjukkan bahwa dia tidak percaya sepatah kata pun. "Jadi, kau mencoba bilang kalau Simon punya nomor lain untuk wanita simpanan seperti dirimu?"
Tiba-tiba, tiga temannya maju ke depan. Mereka mengelilingiku.
"Jangan kasar pada Virginia!" salah satu dari mereka membentakku, wajahnya penuh kemarahan yang dipaksakan. "Wanita seperti kau tidak pantas menjadi istri Tuan Simon!"
"Betul! Mengaku-aku nomor Tuan Simon? Kau pikir kami sebodoh itu?" kata yang lain, menendang kakiku.
"Hati-hati, jalang. Kebohonganmu akan terungkap, dan saat itu terjadi, kau akan menyesal."
Virginia menatapku dari atas. Matanya berkilat-kilat. "Baiklah. Mari kita buktikan. Kalau kau punya nomor pribadi Simon, sebutkan sekarang!"
Aku menatapnya. Simon memang punya nomor pribadi. Nomor yang hanya dia gunakan untukku. Dia memaksaku menyimpannya. Dia bahkan mengancam akan menghentikan perawatan kakek jika aku mengubah namanya. Dia bilang dia tidak akan pernah mematikan ponselnya, agar aku selalu bisa menghubunginya.
Aku tidak menjawab. Otakku berputar. Apa yang harus aku lakukan?
"Kenapa diam?" Virginia tertawa, suaranya menusuk. "Takut ketahuan bohong?"
Dia menekan nomor yang aku hafal di luar kepala. Nomor pribadi Simon. Dia mengaktifkan pengeras suara. Aku yakin. Simon pasti akan menjawab.
Aku menunggu. Jantungku berdebar kencang. Ini akan berakhir. Dia akan tahu. Dia akan mengerti.
Tapi yang kudengar hanyalah suara operator: "Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi..."
Duniaku berhenti. Nomor pribadi Simon tidak aktif. Tidak mungkin.
Wajah Virginia cerah. Dia menarik napas lega. "Lihat?" Dia menamparku lagi, jauh lebih keras dari sebelumnya. Kuku panjangnya menggores pipiku, meninggalkan jejak darah yang panas dan menyengat. "Kau ini pembohong gila! Kau delusi! Kau terlalu terobsesi dengan Simon sampai kehilangan akal sehat!"
"Atau mungkin," kata salah satu temannya, "dia punya kekasih lain di dalam vila ini."
"Pasti begitu!" yang lain menyahut. "Simon tidak mungkin mau dengan wanita seperti dia!"
"Kau tahu, hari ini kau benar-benar tidak beruntung, jalang." Virginia tersenyum bengis. "Teman-teman, mari kita beri pelajaran pada wanita ini."
Teman-temannya maju, mata mereka penuh niat jahat.
"Ayo, Virginia! Tunjukkan pada semua orang apa yang terjadi pada wanita yang mencoba menggaet pacar orang!"
"Rekam! Rekam ini! Kita buat dia viral!"
Salah satu dari mereka mengeluarkan ponsel, mulai merekam. Aku berusaha memalingkan wajah, tapi tangan mereka mencengkeram rambutku, memaksaku menatap kamera. Pukulan dan hinaan menghujamku dari segala arah.
"Dia ini penipu! Wanita yang menyelinap ke vila Simon, mengklaim dirinya istri, padahal hanya ingin menggodanya!"
"Dia bahkan mengotori dinding vila dengan lukisan bunga matahari konyol ini!"
"Dia pikir Simon akan terkesan? Dia tidak tahu Simon benci bunga matahari, kan? Dia bahkan pernah marah besar dulu gara-gara sebuah jepit rambut bunga matahari!"
Virginia menertawakan itu. "Wanita miskin sepertimu tidak akan mampu membayar biaya pembersihan ini. Simon pasti akan sangat marah!"
Anda Mungkin Juga Suka





