
Lovers
Bab 3
Dalam keluarganya, Kanaya merupakan anak ketiga dari tiga bersaudara. Kedua kakaknya adalah laki-laki. Mereka masing-masing sudah berkeluarga dan memiliki anak yang lucu-lucu. Damar, kakak pertamanya bekerja sebagai PNS dan Rama, kakak keduanya merupakan seorang jaksa. Maka tidak heran kalau mereka menjadi kebanggaan keluarganya. Terlihat jelas dari foto pelantikan Damar dan kelulusan Rama yang terpajang besar di ruang tamu.
Kini hanya Kanaya yang tersisa tinggal bersama kedua orang tuanya. Ayahnya merupakan purnawirawan perwira tinggi bintang dua yang pernah menjabat sebagai pimpinan kapolda. Sementara ibunya Kanaya merupakan pensiunan guru yang kini menjadi ibu rumah tangga. Di dalam foto keluarga mereka, hanya Kanaya sendiri yang tidak memiliki seragam kebanggaannya. Tapi, siapa peduli? Kanaya memang tidak tertarik untuk bekerja seperti kakak-kakaknya atau kedua orang tuanya. Ia lebih suka hidupnya seperti ini.
"Nay?" Shanti menyapa Kanaya yang baru saja sampai, meletakkan helm di atas meja.
"Bu." Kanaya mencium tangan wanita berusia 60 tahun bertubuh mungil yang merupakan ibunya. "Ayah udah tidur?"
"Baru aja masuk ke kamar."
Kanaya melirik jam dinding yang menunjukkan pukul sembilan malam.
"Gimana Cafe, Nay? Ramai?"
"Yaa ... begitu Bu. Masih sama."
Shanti hanya mengelus lengan anaknya. "Yaudah, kamu mandi dulu gih. Udah makan?"
"Udah, tadi makan nasi goreng."
Shanti mengangguk-angguk. Ia kemudian kembali ke kamarnya usai menyapa Kanaya, memastikan bahwa anaknya sudah pulang dengan kondisi baik-baik saja. Dilihatnya suaminya yang tengah berbaring miring seraya menonton video youtube.
"Naya udah pulang, Bu?" Tanya Djoko.
"Udah. Baru aja."
Djoko, pria yang seluruh rambutnya sudah hampir memutih itu lantas mematikan ponselnya. Kini dirinya sudah bisa tidur dengan tenang.
Yaa ... begitulah keluarga Kanaya. Ia beruntung berada dalam keluarga yang menyayangi dan begitu memperhatikannya. Tapi di sisi lain, sering kali Kanaya merasa perlakuan orang tuanya terkadang berlebihan. Apalagi di usia Kanaya yang sudah dewasa. Ayahnya terutama, dia begitu protektif terhadapnya. Meski tidak begitu mengekang Kanaya, namun sikap ayahnya membuat Kanaya tidak sebebas perempuan lain seusianya. Masih ada batasan-batasan yang ayahnya berikan. Mungkin, karena Kanaya masih tinggal di rumah orang tuanya sehingga ia harus tetap mengikuti aturan yang ada. Tapi sejauh ini, Kanaya menganggap sikap orang tuanya sebagai bentuk kasih sayang apalagi dirinya adalah anak perempuan satu-satunya.
***
Sesuai janjinya kemarin, Ryan kembali datang ke Hour Coffee menemui Kanaya. Ia menempati meja yang sama, duduk di bawah pohon tabebuya, pun dengan minuman yang dipesannya, yaitu hot cappucino. Keduanya mengobrol dengan akrab, seperti yang ia katakan kemarin, Ryan memberikan tips-tips kepada Kanaya agar dapat meningkatkan jumlah pelanggan Cafe-nya. Untuk hal itu, tentu saja Ryan adalah ahlinya. Dia sudah berkecimpung di dunia bisnis seperti itu selama lima tahun. Memiliki tiga club yang ada di tiga kota besar di Indonesia, ingat?
Ryan memandang fokus buku menu, sesekali ia mengisap pod vape-nya yang mengepulkan asap cukup tebal beraroma strawberry milk.
"Dari segi konsep gue rasa udah bagus, target pasar Cafe lo juga jelas, pelajar, karyawan dan anak-anak muda. Tapi, boleh nggak gue kasih saran mengenai menunya?" Ryan yang semula memandang buku menu beralih melirik Kanaya di hadapannya, menopang dagu dengan tatapan lekat, siap menyimak. Ia mengangguk antusias. Untuk sesaat Ryan hampir teralihkan oleh wajah cantik Kanaya.
"Mm ... gue rasa, lo perlu bikin menu signature deh. Entah itu minuman atau makanan. Soalnya, itu juga bisa jadi salah satu daya tarik dan membuat Cafe lo beda dari yang lain."
"Gue udah kepikiran sih soal itu, tapi sampai saat ini gue masih riset menu apa kira-kira yang harus dijadiin signature."
"Oke ...." Ryan mengangguk-angguk. "Soal promosi di media sosial gimana?"
"Beberapa kali udah pernah bikin konten video promosi, tapi ya gitu, kayaknya masih belum bisa engage banyak orang."
"Boleh gue liat kontennya?"
Kanaya mengeluarkan ponselnya dan memberikannya kepada Ryan yang memutarkan video hasil editan dirinya yang seadanya.
Ryan mengembalikan kepada Kanaya usai ia selesai menontonnya. "Gue punya kenalan videografer, dia spesialis buat konten promosi untuk cafe atau resto. Kalo lo mau, gue bisa panggil dia ke sini."
"Serius??"
Ryan mengangguk seraya tersenyum tipis. "Iya. Temen gue juga ada beberapa yang jadi selebgram dan content creator. Gue bisa ajak mereka ke sini, if you want."
Sorot mata Kanaya menjadi sangat antusias. Ia mengangguk-angguk. "Boleh! Boleh banget!!"
Melihat ekspresi Kanaya, berhasil membuat Ryan terkekeh. Ia sedikit salah tingkah karena sikap polos dan lucu perempuan di hadapannya.
"Oke."
"Terus apa lagi menurut lo yang perlu gue tingkatin?"
Ryan menghembuskan asap vape melalui sudut bibirnya. "Mm ... sebetulnya yang terpenting dari bisnis ini tuh, relasi sih Nay ... promosi dengan word of mouth juga salah satu teknik marketing inbound paling efektif menurut gue. Dengan banyaknya relasi lo, lo nggak perlu capek-capek promosi nyebar brosur atau gimana, yang penting lo fokus aja ngasih eksperiens dan pelayanan yang baik buat konsumen. Nanti, dengan sendirinya mereka pasti akan dateng lagi dengan ngajak orang-orang baru, which is calon pelanggan baru lo."
Kanaya mengangguk-angguk, tidak melewatkan satu kata pun yang Ryan katakan.
"Live music atau event juga bisa jadi salah satu teknik promosi. Tapi, kalo soal itu gampang lah, nanti kita bahas setelah realisasiin yang sebelumnya."
Kanaya tersenyum lebar. Ia masih tak menyangka, pertemuannya dengan Ryan yang konyol justru berakhir hingga seperti ini. Membicarakan soal bisnis bersama dengan akrab. Pengetahuan Ryan mengenai dunia bisnis serta marketing juga begitu luas, ia memberikan banyak pencerahan baru. Kanaya jadi penasaran apa sebenarnya pekerjaan Ryan, apakah dia bekerja di bidang marketing?
"Makasih banyak ya. Lo ngasih banyak insight baru buat gue."
Ryan tersenyum seraya mengangguk. "Weekend nanti lo free nggak?"
"Kenapa?"
"Gue mau ajak lo ke suatu tempat. Kebetulan weekend nanti ada event. Darkhole. Lo tau 'kan?"
Tentu saja Kanaya tahu. Itu adalah Cafe dan Bar yang paling hits di Ibu Kota, sering menjadi tongkrongan anak-anak hits Jakarta mulai dari selebgram sampai artis. Hampir semua temannya juga sering berkumpul di sana, sementara dirinya hanya baru datang sekali. Itu pun ketika salah satu teman kuliahnya berulang tahun.
"Tau." Kanaya mengangguk.
"Gimana? Lo bisa?"
"Sure." Kanaya tersenyum menerima ajakan Ryan dengan senang hati.
***
"Bu." Kanaya menghampiri ibunya yang tengah mencuci piring usai makan malam.
"Hm?"
"Sabtu nanti Naya nginep di apartemen Thea, ya?"
"Mau ngapain emang Nay? Kemarin kamu sama Thea 'kan abis liburan ke Bali satu minggu."
Kanaya menunduk menatap jari-jari tangannya yang saling bertaut. "Yaa mau nginep aja ...." Ia mendongak untuk menatap wajah ibunya. "Boleh ya?" Bujuknya.
"Asal jangan macem-macem aja ...."
"Macem-macem apa sih Bu?"
Shanti tersenyum seraya meletakkan piring yang sudah dibilas. "Ya siapa tau ... sana kamu izin dulu sama ayah."
"Ibu aja deh yang bilang ...."
"Nanti malah nggak dikasih kalo ibu yang bilang."
Kanaya menghela pasrah. Salah satu hal yang berat untuk ia lakukan adalah meminta izin kepada ayahnya. Karena jika Kanaya melakukannya, ayahnya tidak akan sekedar memberikan izin begitu saja, tetapi ia juga akan menanyai hal detail layaknya wartawan.
"Nginep, nginep ... kayak nggak punya kamar sendiri aja."
See? Baru juga Kanaya berbicara, tapi sudah kena skak oleh ayahnya.
"Jugaan jarang-jarang ...." Kanaya duduk di sebelah ayahnya yang tengah memainkan handphone di teras depan. "Boleh ya, Yah??"
"Nggak usahlah." Djoko membenarkan letak kacamatanya.
"Yah ayah ...." Kanaya menggerutu kesal.
"Thea-nya aja suruh nginep di sini. Ngapain kamu yang harus ke sana? Biasanya juga dia 'kan yang nginep di sini?"
"Ya 'kan gantian Yah ... masa Thea terus yang nginep di sini."
"Gantian ... kayak apa aja."
Bibir Kanaya mengerucut, wajahnya sudah masam.
"Emang kamu mau ngapain di sana? Tumben-tumbenan banget nginep."
"Yaa mau quality time aja sama Thea. Jugaan kita jarang ketemu. Dia juga sibuk kerja. Mumpung weekend nanti dia libur juga 'kan?"
Djoko perlahan menghela napas. Ia terdiam sejenak. "Yaudah," katanya singkat padat dan jelas namun terasa seperti angin segar untuk Kanaya.
"Makasih ya, Yah!!" Kanaya langsung sumringah.
"Hm."
Anda Mungkin Juga Suka





